Perfect Boy

Perfect Boy
15. Pelukan Cinta



Ashe langsung rebahan di sofa begitu sampai rumah Dimas. Dimas hanya tersenyum melihat tingkah Ashe.


" Jangan tidur disitu, saya nggak mau ngangkat ! " tegur Dimas seraya meletakkan makanan dimeja.


" PD banget, siapa juga yang minta diangkat ma loe ! "


" Oya....! Liat saja ! " sahut Dimas sengit.


" Liat saja siapa yang tega ! " balas Ashe tak kalah sengit.


" Gena ! " ceplos Dimas.


" Apa hubungannya ? "


" Kan pacar Bubba ! " sahut Dimas.


Ashe menarik nafas.


" Jangan bicarakan Gena ! " ucap Ashe sambil duduk.


" Kenapa ? " tanya Dimas seraya keluar, mengambil belanjaan Ashe.


Sudah hampir jam 22 : 00 Wib, dan di luar nampak sepi. Ashe berdiri dan mengikuti Dimas. Membantu menurunkan belanjaannya.


" Aku punya banyak mantan, semua berkhianat ! " ucap Ashe seolah pada diri sendiri.


" Sudah. Saya yang tidak akan berkhianat ! "


Ashe termenung sebari membawa belanjaan masuk. Dimas menutup pintu dan menguncinya setelah semua belanjaan masuk. Ashe menata di kulkas Dimas dan juga di rak penyimpanan. Dimas masuk kamar mandi sebari menganti baju dengan yang lebih santai. Dimas duduk seraya menikmati acara televisi melepas penat. Ashe meletakkan cemilan dan minuman di meja. Kemudian ke kamar mandi dan berganti piyama.


" Niat banget Bu ! " seru Dimas liat Ashe sudah berganti baju.


" Lah terus aku tidurnya gimana ? Masak nggak ganti baju " Ashe duduk disamping Dimas.


Dimas tertawa.


" Di makan lagi ayamnya tuh Bu ! " kata Dimas.


" Aku masih kenyang. Nanti aku taruh kulkas aja " sahut Ashe.


Dimas mengangguk. Hpnya berbunyi. Ashe melirik layar Dimas. Nasrul, batin Ashe.


Dimas menggeser layar Hpnya.


***Dimas : Ya Rul ?


Nasrul : Maaf menganggu istirahatnya Pak !


Dimas : Iya nggak papa. Ada apa ?


Nasrul : Mau ngingetin untuk tiket Bapak !


Dimas : Iya, makasih Rul. Baik - baik saja semua di sana ?


Nasrul : Baik Pak. Bapak Fajar juga baik. Beliau menanyakan Bapak kapan kembali !


Dimas : Iya sudah. Nanti biar saya telepon.


Nasrul : Ya Pak***


Nasrul menutup teleponnya. Dimas meletakkan Hpnya.


" Kenapa Nasrul telepon kamu ? " Ashe tak bisa menutupi penasarannya.


" Nanyain tiket buat balik ! " sahut Dimas memperhatikan raut wajah Ashe.


" Ohh...! " sahut Ashe pelan.


Jujur dalam hati ia tak rela berpisah dari Dimas.


" Minggu depan, kalau Bubba mau saya balik lagi ! " kata Dimas menghibur Ashe.


" Gajimu habis buat bolak balik ! "


" Minta ganti Bubba lah "


" Apaaaa ? " Ashe melotot.


" Jangan peliiit " bujuk Dimas.


" Ya, terserah kamulah. Kirim no rekeningmu ! " Ashe mengalah.


Dimas tertawa.


" Saya bercanda Bu ! " kata Dimas.


Ashe tak menyahut.


" Mau kemana ? " tanya Dimas.


" Tidurr...! " Ashe berjalan ke kamar Dimas dengan muka yang sendu.


Dimas menyunggingkan senyum diujung bibir. Mematikan televisi dan lampu menyusul Ashe.


" Kalau kita suami istri, moment seperti ini sangat menyenangkan lho Bu ! " goda Dimas yang melihat Ashe udah menutup diri dengan selimut.


" Tahuuuu ah....! " sahut Ashe sewot.


Dimas tertawa. Mengelar kasur lantainya. Ashe tiba - tiba melempar bantal dan selimut hingga mengenai Dimas. Dimas tertegun menahan senyum.


" Dendam pribadi memang cocok pelampiasannya saya ! " keluh Dimas.


" Tidur sajaa.... "


" Hahhahaaha.... iya Bu ! Besok mau di temani kemana ? "


" Jangan membujuk ! "


" Hahaaha... saya nggak mungkin bawa Bubba ke Kalimantan ! "


" Emang saya minta ikut ? "


" Enggak sih, tapi bahasa tubuhnya tak bisa dibohongi ! " Dimas rebahan.


Ashe terdiam, menerawang.


" Hanya tiga minggu Bu ! "


Ashe masih diam.


" Bubba nangis ?? "


" Enggak kok !! "


Dimas bangun dari rebahannya dan duduk menghadap Ashe yang berselimut.


" Kenapa ? Ada yang salah ? "


" Nggak tahu Dim. Cuma rasanya nyaman saja dekat kamu " sahut Ashe pelan. Dadanya bergetar mengakui itu.


" Saya kesana kerja. Ada Pak Fajar yang ngawasi saya langsung Bu ! Saya tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja " bujuk Dimas.


Hatinya juga tak ingin berpisah dari Ashe. Meskipun mereka tak punya hubungan spesial apapun. Tapi Dimas merasa berat dan tak ingin jauh dari Ashe.


" Apa sih ? " elak Ashe.


Dimas terkekeh.


" Saya perjuangkan Bubba dari Gena pokoknya ! " senyum Dimas menghibur.


" Merajuk saja kau itu ! "


" Siapa yang merajuk ? Bubba itu ! Mana ada cewek ngekor cowok tanpa. status apapun ? " gerutu Dimas.


" Biarin ! " sahut Ashe cuek.


" Terus kalau saya apa - apain gimana ?? "


" Kamu bilang papaku ngawasin kamu ?? "


Dimas terdiam tak berkutik.


" Sudahlah, saya ngaku kalah. Saya sudah tidak bisa lepas dari cengkraman putri mahkota JAE !! "


Ashe tertawa.


" Kenapa kesal begitu ? Harusnya loe seneng deket ma gue ! "


" Ngggaaaak !! " Dimas menutup tubuhnya dengan selimut.


" Seeeeriuuuus loeee.....? " teriak Ashe.


" Sttttt..... udah malem. Berisiiik !! "


" Dimmaaaaaaas.......!!! "


Dimas tak menyahut. Pura - pura mendengkur. Ashe pura - pura nangis.


" Udaaah sih Bu ! Ayo tiduur ! Besok minta kemana saya anterin ! "


Ashe berhenti pura - pura nangis.


" Selamat malam....! " seru Ashe.


" Selamat malam Bubba ! " sahut Dimas.


Ashe tersenyum. Memejamkan mata.


******


Dimas mengerutkan kening. Dalam tidurnya ia mencium arona wangi masakan. Dimas mengira - ira siapa yang masak. Lupa kalau Ashe bersamanya. Dimas membuka mata. Menoleh ke kasur, tak ada orang. Dimas bangkit dan keluar kamar, melihat Ashe yang sibuk masak.


" Masak apa Bu ? " tanya Dimas parau sambil mendekat.


Ashe menoleh.


" Ikan gurami goreng ! "


" Hmmmm....! " Dimas ngeloyor ke kamar mandi.


" Coba bawa baju kalau ke kamar mandi Dim ! " keluh Ashe.


" Kenapa ?? " langkah Dimas terhenti.


" Gue takut khilaf ! "


Dimas tertawa.


" Saya rela di - khilafin Bubba ! " senyum Dimas.


" Aiiiiissssh....!! "


" Kenapa ??? Toh saya yang yang bertanggung jawab ! " Dimas bertolak pinggang.


Bukan masuk kamar ganti baju, malah berbalik mendekati Ashe yang sibuk masak.


" Sana sih ih Dim...! " usir Ashe.


Dimas hanya tertawa.


" Saya berasa punya istri ! " ucap Dimas.


Ashe mendelik sebal.


" Apaaan sih ? " muka Ashe merona. Dadanya berdegup setiap dekat Dimas. Apalagi tampilan Dimas.


" Bubba nih, pagi - pagi pinter sekali merayu saya ! " goda Dimas.


" Siapa yang merayu ? " delik Ashe.


Dimas mencibir seolah tak terima elakan Ashe.


" Liat sajaaaa. Rayuan apa yang mempan sama saya ! "


" Gue nggak ngerayu Dimaaaaas Bagaskaraaa....! " sewot Ashe.


Dimas mencibir mengangguk - angguk.


" Saya nggak percaya sama Bubbba..! "


" Terserah loe lah Dim !! Sana pakai baju...! Gue nggak mau handuk loe melorot dan bikin gue syok ! "


" Syook atau minta syuuk !! " goda Dimas.


Ashe benar - benar geram. Dimas tertawa berjalan ke kamar.


" Saya polosan lho Bu ! "


" Tahu aaaahhhhh.....! "


" Haahhahaha......! " Dimas menutup pintu kamar. Berganti baju.


Ashe menata masakannya di meja makan. Ia kemudian membereskan dapur. Dimas keluar kamar. Duduk di meja makan menyeruput kopinya. Dimas mengangguk - angguk. Kopi buatan Ashe pas di lidahnya


" Saya mau di layani tiap hari lho Bu ! " goda Dimas menghentikan langkah Ashe menuju kamar Dimas mengambil ganti baju.


Ashe mendelik.


" Tumaaaaaan !!!! "


" Haiiiiih.....! "


" Ya, lahiriah dicukupi, batiniah juga dituntun ntar ! "


" Hmmmmmpttttt ....! " Dimas menahan tawanya.


Ashe berlalu. Mengambil baju ganti dan pergi mandi. Dlmas menunggunya. Mereka sarapan bersama.


" Mau pergi kemana hari ini ? " tanya Dimas.


" Kenapa kamu datang seolah menghiburkan ? " sahut Ashe pelan.


Dimas menghela nafas.


" Saya tulus Bu ! " sahut Dimas.


Ashe terdiam.


" Mari selesaikan masalah kita dulu ! " ucap Dimas.


Ashe mengiyakan. Dimas menyelesaikan makannya. Ashe sendiri masih nyemilin ayam gorenv yang dibeli tadi malem. Dimas tersenyum.


" Bubba banyak makan, tapi nggak pernah gemuk. Nutrisinya hilang kemana ? "


" Dimakan cacing ! " Ashe asal nyaut.


Dimas terkekeh.


" Habiskan itu ayamnya ! " suruh Dimas.


" Kamu nggak mau ? " tanya Ashe.


" Sini cobaain..! "


Ashe bukan mengulurkan ayam goreng tapi malah menyuapi Dimas.


" Enaaaak !!! " kata Dimas.


" Enaaaklah. Aku tuh sayang makanan. Jadi nggak baik makanan dibuang - buang ! "


" Sama saya nggak sayaang ??? " cibir Dimas.


Ashe buang muka. Dimas geram. Menoyor kepala Ashe.


" Di tanya malah buang muka ! " gerutu Dimas.


Ashe hanya nyengir. Mereka menyelesaikan makan. Kini Dimas yang berinisiatif membereskan meja makan. Ashe menghabiskan ayam gorengnya tak peduli Dimas.


Hari itu Ashe mengajak Dimas ke taman. Entahlah, Ashe malah bermain ayunan dan tak mau kalah dengan anak - anak kecil di sana. Membeli es krim, membeli cilok, membeli somay, es doger. Dimas hanya menahan tawa. Ashe banyak makan dan selalu menjejal mulut Dimas dengan makanan tiap tak mau ditawari Ashe. Dimas yang tadinya tak mau buka mulut pun akhirnya ketularan Ashe. Selalu mencicip setiap Ashe membawa makanan.


Mereka pulang ketika hampir tengah hari. Itu pun setelah lembaran merah di dompet Dimas habis karena Ashe mampir ke minimarket. Memborong cemilan.


Ashe pun belum mau pulang ke rumah. Ia masih duduk melihat Dimas packing dengan muka yang terlihat sendu. Dimas sesekali meliriknya.


Ashe menyadari.Pura - pura main Hp. Dimas hanya tersenyum kecil.


" Nggak usah pura - pura Bu ! Kalau sedih ya sedih aja ! " kata Dimas.


" Siapa yang sedih ? " elak Ashe tanpa mengalihkan pandangannya dari Hp.


Dimas tertawa.


" Bubba lah, sedih ditinggal saya ! "


" Pernyataan palsu....! "


" Hahahaha.....! Rumah ini berasa hidup ada Bubba disini ! "


" Emang biasanya di sini tempat orang mati ??? "


Dimas menoyor kepala Ashe.


" Sudah malem. Ayo makan Bu ! Nanti naik taksi aja ya! Biar pulangnya Bubba nggak sendirian ! "


" Gue masih bisa nyetir !! "


" Seriusaaan ! "


" Iyaaa....! " sahut Ashe beranjak keluar kamar Dimas menyiapkan makanan.


Tadi Ashe sempat masak walau hanya menu simpel dan cukup untuk mereka berdua.


Selesai makan dan beberes, Dimas memasukkan koper ke bagasi mobil. Mereka siap berangkat ke bandara. Ashe duduk diam di kursi penumpang. Sesekali Dimas meliriknya. Tak ada pembicaraan selama mereka dalam perjalanan.


******


Dimas menengok jam tangannya. Waktunya untuk pergi. Ashe memainkan poker dengan pikiran galau. Dimas hanya tersenyum melirik Ashe yang sejak tadi kalah terus. Ashe tak banyak bicara.


" Buuu.... saya berangkat ya ! " ucap Dimas seraya berdiri.


Ashe menghentikan mainnya. Mengeluarkan gamenya dan memasukkan Hp ke dalam tasnya. Ashe berdiri menghadap Dimas.


" Iyaa ! " sahut Ashe pelan.


" Nanti bawa mobilnya jangan ngebut - ngebut ya ! Kalau tidur di rumah, jangan lupa kunci pintu ! " pesan Dimas.


Ashe mengangguk.


" Hati - hati Dim ! "


Dimas mengangguk, menatap Ashe yang menunduk tak ingin berpisah dengannya.


" Ya sudah, saya pamit ya ! "


Ashe mengangguk. Lidahnya kelu untuk sekedar mengiyakan. Dimas menarik kopernya dan berjalan menuju pintu masuk. Ashe menatap punggung Dimas. Mendadak, Dimas berbalik dan langsung berjalan cepat ke arah Ashe. Memeluk erat Ashe hingga Ashe kaget. Bahkan mungkin kini Dimas bisa merasakan degupan jantung Ashe yang tak beraturan.


" Ini pelukan cinta saya untuk Bubba. Semoga saya bisa memeluk Bubba lagi dengan status yang berbeda ! " bisik Dimas.


Hati Ashe menghangat, tak mampu berkata apapun. Ia menikmati pelukan Dimas. Tak peduli orang di sekeliling mereka. Tak terasa air mata Ashe menetes. Dimas melepas pelukannya. Tersenyum ke arah Ashe dan mengusap air mata di pipi Ashe.


" Jangan menangis ! Tidak baik !! " senyum Dimas.


Ashe terkekeh,


" Aku nggak nangis kok ! "


" Ya deh ! "


" Sudah sana. Saya tak berharap kamu ketinggalan pesawat dan nggak jadi pergi ! " usir Ashe.


Dimas tertawa.


" Jangan mampir - mampirr pulangnya ! " pesan Dimas galak.


" Iyaaaa ! "


Dimas mengambil kopernya kembali dan melambaikan tangan dengan senyuman. Ashe membalas lambaian tangan Dimas.