
" Bieeeee....! Ihhh... kamu yaa....! Dibuang kemana itu ? " Ashe kesal.
" Hehehe.... udah, besok nyarinya... " sahut Dimas sambil tangannya bekerja.
" Pelann Bieee.... " tahan Ashe karena Dimas terlalu kuat.
" Maaf...! Gemeees soalnyaaa.... " kata Dimas.
Tangan Ashe menepuk tangan Dimas. Ia bisa merasakan sesuatu bagian tubuh Dimas berubah.
" Tuh, " macan " nya bangun. Kamu mau ngasih makan apa ? " bisik Ashe yang entah kenapa membuat Dimas begitu merinding dan bergairah. Dimas hanya tersenyum. Ia mencium kening Ashe.
" Ya biar aja dulu kelaparan... "sahut Dimas pelan. Kini tangannya bermain sangat lembut.
" Kasih " makan " Bie... "
Dimas mengenyit dahi. Menghentikan aksinya. Ia menatap Ashe meski kamar agak gelap. Tapi cahaya luar cukup menerangi mereka.
" Dengan apa ? "
" Dengan " daging " yang enaklah... "
Dimas agak kebingungan.
" Bukannya " daging " nya belum mateng ya...? " kenyit Dimas.
Ashe tergelak mendengar jawaban Dimas namun langsung menutup mulutnya. Dimas penasaran, ia menarik tangan Ashe.
" Apa maksudnya coba...? "
" Isshhh....! Kamu itu nggak peka.... "
Dimas memutar - mutar kepalanya seolah berpikir. Ashe gemas dan menjambak rambut cepak Dimas. Dimas menurut saja rambutnya diacak - acak Ashe dan menempelkan kepalanya pada kepala Ashe.
" Kau tahu, aku itu menahannya berkali - kali Buu...."
" Sekarang kan nggak ada yang menyuruhmu menahannya... " sahut Ashe memancing.
Dimas menatap wajah Ashe dengan raut penuh tanda tanya dengan menjauhkan sedikit wajah Ashe. Ashe menunjukkan deretan giginya. Kesal karena suaminya ini nggak peka juga.
" Mana ada Pak Presdir harus dijelaskan detail.... " sindir Ashe, " harusnya pakai kode kedipan mata gerakan dikit aja udah tahu apa maksuuu... "
Dimas membungkam mulut Ashe dengan mencium bibir Ashe. Ashe terperangah tak bergerak. Dimas menikmati bibir.
" Siapa yang nggak pekaa....? " tatap Dimas sesaat setelah melepas ciumannya.
Ashe tersenyum. Dimas kembali mencium bibir Ashe dengan tuntutan meminta lebih.
" Kapan kamu selesai...? " tanya Dimas menatap wajah Ashe yang kini ada di bawah kungkungannya.
" Kemariiin... "
" Kok nggak bilang... ? "
" Kan kamu ngobrol lagi sama saudara kamuu... "
" Kan aku nyusul kamu tidurr... "
" Udahh lupaaakann ! Lanjut apa berhenti niiihh.... ? "sewot Ashe.
" Hahaha.... " Dimas mencium bibir Ashe lagi. Tapi kini tangannya sudah bekerja. Melepaskan baju atasan Ashe dan membuangnya sembarangan. Dimas berpindah area. Mulutnya berganti acara dan membuat Ashe tak karuan sambil menutup mulutnya.
" Udaaah nggak papa... " Dimas menarik tangan Ashe.
" Ini sepi Bieee.... "
" Aku lebih suka suara itu... "
Ashe menepuk lengan Dimas. Dimas melanjutkan aksinya. Bahkan kini tangannya bergerak kian ke bawah membuat Ashe makin bergerak tak karuan. Ini pertama kalinya untuk Ashe dan Dimas bergerak sangat lembut. Hawa dingin udara kampung semakin membuatnya merinding di tambah sensasi yang di buat Dimas. Tak butuh waktu lama, tangan Dimas telah berhasil membuat baju Ashe menghilang dari tempat seharusnya.
Ashe menutup mulutnya menikmati sentuhan Dimas. Dimas sendiri sudah tak mampu menahannya lagi. Bajunya pun bernasip sama dengan baju Ashe. Terlempar entah kemana. Perlahan Dimas bergerak. Ashe memegang dua lengan Dimas menahan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
" Tahan ya Buuu....! Nanti kalau sakit bilangg.... " bisik Dimas.
" Pelann yaaa... " pinta Ashe berbisik pula.
" Iyaa... " sahut Dimas sambil terus bekerja dengan sangat lembut. Ashe mencengkram lengan Dimas lebih kuat.
" Santai Buuu....! Kita udah pemanasan...! Nggak akan terlalu sakitt... " Dimas mulutnya memang lebih pandai merayu.
Ashe terlihat mengangguk. Ia berusaha rileks hingga Dimas terbenam seluruhnya.
" Sakiiittt....? " bisik Dimas.
Ashe menggeleng. Ia tak terlalu merasakan sakit hanya areanya saja yang terasa aneeh dan membesar.
" Aku mulai ya....? " kata Dimas lagi.
Ashe kembali mengangguk hingga Dimas bergerak perlahan dan lembut. Ashe awalnya yang agak tegang lama kelamaan mulai terbawa suasana. Ia bisa menikmati permainan Dimas dan mulai bisa mengimbanginya. Selang setengah jam, Dimas mulai merasakan puncaknya dan bergerak lebih cepat. Ashe mencengkeram lengan Dimas dan mengigit bibirnya. Ia merasakan sesuatu di luar sensasinya. Dimas selesai dan ambruk menindih Ashe. Mengatur nafasnya. Ashe menepuk punggung Dimas. Dimas bergerak ke samping dan terlentang.
Ia menoleh penuh senyum ke arah Ashe yang menarik selimut menutupi tubuh mereka.
Dimas menarik kepala Ashe dan mencium kening Ashe.
" Terima kasih sayaaangg.... " bisik Dimas.
" Sama - sama Bieee...! Maaf selalu menunggu lama ya...! " Ashe meringsek dan memeluk tubuh Dimas.
" Nggak papa...! Berarti lanjut lagi kan ini...? " senyum Dimas penuh godaan.
Ashe mendelik tajam.
" Kan bajunya ilanggg.... " kata Dimas.
" Kan kamu yang ngilangin...! Kamu tanggung jawablaaah.... "
" Iyaa.... " Dimas menarik Ashe dan mencium bibir Ashe lagi dengan tangan yang bergerilya nakal.
" Satu kali lagiii.... " pinta Dimas berbisik.
Ashe membelalak mata tapi tak bisa menolak pesona Dimas. Benar saja, Dimas menjalankan aksinya sekali lagi.
*****
Malam semakin larut. Ashe dan Dimas tertidur dalam posisi berpelukan setelah menikmati moment mereka. Ashe perlahan membuka mata, Dimas terdengar mendengkur halus di sampingnya. Selimut tebal membungkus mereka berdua. Ashe lamat - lamat mendengar sesuatu.
" Srok... srok... srokkk.... " perlahan suaranya makin jelas. Ashe menajamkan pendengarannya dan membuka lebar matanya di tengah gelapnya kamar. Otaknya menganalisa suara yang cukup jelas. Ashe tambah memeluk Dimas.
Dimas yang kadang nggak peka ini merasakan pelukan erat Ashe, sadar dari mimpinya. Ia membuka mata sekilas. Terpejam lagi.
" Kenapa Bu ? " bisik Dimas meraih tangan Ashe dan meletakkannya di dadanya.
" Mati lampu ya Bie ? " tanya Ashe pelan.
" Ehemmm..... " sahut Dimas tanpa membuka mata.
" Kamu denger suara nggak ? " bisik Ashe lagi.
Dimas mengenyit dahi. Membuka mata perlahan dan menajamkan pendengarannya. Yang terdengar Dimas hanya suara jangkrik dan suara binatang malam. Suasana sangat gelap.
" Suara apa ? " tanya Dimas.
" Kayak suara orang nyapu.... " bisik Ashe.
Dimas kembali mengenyit dahi. Ia menyitipkan mata menatap Ashe.
" Udaaah....! Nggak usah di peduliin.... " tarik Dimas. Memeluk Ashe rapat.
" Suara apa itu sih ? " Ashe berkata sangat pelan karena takut dan penasaran.
" Itu perkenalan... "
" Perkenalan...? Perkenalan apa ? Kamu denger nggak sih Bie..? "
" Enggak denger apa - apa aku Buu... " Dimas mengeratkan pelukannya. Mana ada orang nyapu tengah malam kalau nggak hal lain.
Ashe mengela nafas. Pasalnya ia mendengar jelas.
" Sudah, biarkan saja. Nanti juga pergi sendiri.... " kata Dimas.
Ashe mengenyit dahi. Otaknya sudah berpikir yang bukan - bukan.
" Aku nggak bisa nafas Bie kalau gelap banget gini... " ucap Ashe.
Dimas yang sudah memejamkan mata tersadar lagi. Dia sungguh pria yang siaga dan yang jelas jauh dari kata nggak peka. Meski matanya sungguh mengantuk dan badannya sangat lelah.
" Aku cari lilin dan korek dulu... " Dimas berusaha bangun.
" Aku ikuuut.... " tahan Ashe mengelayut lengan Dimas.
Dimas tersenyum.
" Iyaaa....! "
" Bajunya mana ? "
" Coba nyalakan senter... "
Ashe meraba - raba sisi meja. Tapi Dimas menemukan Hpnya lebih dulu dan menyalakan senter. Menerangi sekeliling mencari baju yang tadi di lempar sembarang arah oleh Dimas.
" Ambilin....! Aku takut Bie...! "
" Iyaa.... " Dimas membuka selimut. Berjalan polos memunguti baju dan celana mereka. Ashe mengenakannya. Begitu juga Dimas. Sambil menyalakan senter, Dimas membuka pintu seraya menuntun Ashe. Dimas menemukan korek dan lilin di laci dapur. Ia menyalakan di ruang tengah dan membawanya ke kamar. Ia kembali mengunci pintu. Ashe lebih dulu naik tempat tidur.
" Masih denger nggak suaranya ? " tanya Dimas ikut berisut di bawah selimut.
" Enggak.... "
" Nanti kalau denger lagi, lempar aja tuh pakai sendal... "
" Enak ajaa....! Sendalku mahal.... "
" Heeeeh....! Itu cuma sendal jepitt.... "
" Sendal jepit juga dibeli pakai duit Biee...! Dia nggak butuh itu...! Aku yang lebih butuh.... "
" Kok jadi medit sekarangg....? "
" Lahh dia bukan bangsa kita... "
" Bangsa mana ? "
" Finlandia.... "
" Nokia donggg.... "
" Bangkruuut Bieee.... "
" Tapi mencintaimu itu tak pernah membuatku bangkrut tuhh.... "
" Isssh.... gomballl....! "
" Serius.... "
" Secara... kamu itu kan OB tajir melintir.... "
" Hahhahha...! Apaaa....! Ngggaklahhh....! Orang istriku yang tajir melintirr.... melintir sekali sampai enaak bangeettt.... "
" Haaaah.... apaanya....? "
" Yang dipelintir tadiii... "
" Auuuh ah Bieee....! Pikiranmu nih jadi beneran slewah.... "
" Slewahku kan tanda cinta untuukmu.... "
" Kamu ODGJ.... ? "
" Iyaaaa....! ODGJ kan nggak harus gilaaa.... "
" Teruuusss....? "
Dimas mendekat dan mencium bibir Ashe.
" Ini salah satu bentuk ODGJ...! Aku gangguan jiwa tiap melihat bibirmuu.... "
Ashe tersipu. Wajahnya terasa panas mendengar ucapan Dimas. Dimas memang selalu bisa menghipnotisnya. Menatap. wajah Dimas pun, Ashe rasanya sudah klepek - klepek.
" Udaaah....! Ntar kebablasan... " dorong Ashe pada dada Dimas.
" Nggak papa...! Kan aku sudah bilang akan bekerja keras tiap malam... " kerling Dimas meringsek memeluk pinggang Ashe erat. Tingkahnya tak beda jauh dari kucing yang super manja pada majikannya. Ngendus mulu kerjaannya.
Cuma bedanya Dimas nggak cuma ngendus, tapi menghabiskan semua santapannya malam itu.
" Bieee....! Dingin banget sih...! Bajuku kamu buang kemana lagi coba... " Ashe sewot karena membuat Ashe hanya bisa mengenakan bajunya beberapa saat saja.
Dimas terkekeh. Ia bangun dan meraih baju Ashe. Lampu sudah kembali menyala. Ini sudah mrnjelang pagi. Dua manusia itu belum tidur lagi sejak tadi pertama terbangun.
Dimas menatap Ashe yang sibuk merapikan baju.
" Kenapa Bie...? "
" " Macan " nya lebih seneng kamu nggak pakai baju lhoo... " goda Dimas.
Ashe melirik tajam Dimas yang bertelanjang dada. Dimas hanya memamerkan giginya.
" Suruh tidur " macan " nya itu. Dagingnya udah habis...! " sahut Ashe. " Anterin ke kamar mandi.. " geleyot manja Ashe.
" Sendiri nggak berani...? " elak Dimas sambil ambruk ke tempat tidur.
Entahlah mereka ini ribet sekali. Dimas merasa begitu lelah setelah benar - benar " lembur".
" Ya udaah...! Aku bangunin Nasrul aja ya.... " ucap Ashe memancing. Ia hendak beranjak. Dimas menarik tangannya.
" Suamimu Nasrul apa aku ? " tatap Dimas.
" Kalau suamiku nggak bisa, yang aku upret asistennya... " sahut Ashe.
" Liatin aja lho...! Ntar yang nyapu tadi malem tiba - tiba nongol depan kamar mandi. Nasrul itu penakuttt... " iseng Dimas bangun.
Ashe mencibik bibirnya. Dimas tersenyum mendekat dan mencium bibir Ashe yang langsung terpaku di tempat.
" Jadi ke kamar mandi nggak ? " toleh Dimas yang malah lebih dulu turun dari tempat tidur.
Ashe tersenyum manja mengulurkan dua tangannya. Dimas menarik tangan Ashe.
" Bu Bos ini manja sekali sihhh...! " gerutu Dimas.
" Kan cuma si OB cenayang ini yang selalu manjain aku... ! Yang lain nggak mauuu.... " cengir Ashe.
Dimas terkekeh. Ia menarik tangan Ashe dan mengantarnya ke kamar mandi. Suasana masih gelap. Belum ada orang yang bangun karena capeknya masing - masing.
Mereka berdua kembali ke kamar dan malah menarik selimut dan tidur berpelukan. Sungguh, Ashe merasa pagi merupakan saat tidur paling nyenyak dan nyaman. Apalagi di peluk Dimas. Udaaah, Ashe rasanya sungguh malas bangun.
****