
Ashe menyelesaikan makan siangnya yang berlebih. Bagaimana tidak, semua porsi yang tadi dibeli Yidi habis di lahabnya. Entahlah, Ashe tak pernah mengeluhkan berat badannya. Ia memang bisa makan apa saja tanpa bisa menaikkan berat badan. Ashe membereskan sisa makanannya. Membuang sampah - sampah di tempat sampah. Ucapan Dimas seolah hipnotis baginya.
Yidi masuk dan tercengang melihat meja Bu Ashe yang tampak rapi.
" Maaf Bu, saya mau ambil piring dan gelas kotor ! " kata Yidi penuh hormat.
" Ya.. " sahut Ashe seraya memperhatikan Yidi.
Rasanya kangen melihat Dimas beberapa waktu lalu yang belum lama dikenal Ashe. Biasanya Dimas tak pernah bertingkah seperti Yidi. Malah seperti OB yang salah tempat.
****
" Dema...! " Pak Argo memanggil Dema yang duduk dimejanya.
" Ya Pak...! " sahut Dema.
" Ikut saya sebentar ! " kata Pak Argo seraya berjalan ke ruangannya.
Dema beranjak dan mengikuti Pak Argo. Pak Argo menyilahkan Dema duduk dan kemudian menyodorkan sebuah berkas.
" Pak Dimas yang mengirim filenya tadi ! Ini hanya butuh tanda tangan Bu Ashe ! " kata Pak Argo.
Dema membukanya dan membacanya.
" Ini pemutusan kerja dengan Gena Line Pak. Tapi kita yang mengajukan proposal. Berarti kita harus ganti rugi dong ! " ucap Dema.
" Iya, saya nggak enak dengan Bu Ashe. Masalahnya itu perintah langsung dari Pak Fajar ! " sahut Pak Argo.
" Pak Fajar sepertinya tidak setuju Bu Ashe dengan Pak Gena ! " gumam Dema.
" Husssh....! Jangan ikut campur urusan orang ! " semprot Pak Argo.
" Hehe... maaf Pak. Masalahnya saya lebih setuju Bu Ashe dengan Pak Dimas ! "
" Sttt... itu rahasia kita berdua. Tidak ada yang boleh tahu siapa Pak Dimas ! "
" Iya Pak. Saya mengerti "
Dema bangkit dari duduknya dan pamit pada Pak Argo. Ia kemudian menuju ruang Bu Ashe.
Ashe tampak sedang mengirim pesan lewat gawainya. Hatinya tak berhenti penasaran apa yang dilakukan Gena. Gena masih membalas chatnya meski hanya sesekali.
" Maaf Mas atas sikapku waktu itu. Tapi aku harap mas mengerti. Aku juga punya sikap yang harus aku jaga. Aku minta maaf ! Kapan kembali ke Jakarta ? Kita harus bicara ! " tulis Ashe.
Centang dua, tapi belum biru.
***
Drttttt...
Hp Gena berbunyi di atas meja hotel. Pemiliknya tengah duduk di sofa dengan nafas memburu. Kedua tangannya memegang kemudi dengan gemas dan sesekali me*****nya. Kharisma tengah duduk berhadapan dengan Gena mengendalikan tuas preseneling Gena. Gena hampir tak kuat menahan gejolaknya. Kharisma semakin cepat dan tak terkendali. Ia menyiramkan oli hangat pada Gena hingga membanjiri tuas perseneling Gena. Gena dengan cepat mengambil alih kemudi. Membanting stirnya dan menanjak cepat. Cukup lama hingga Gena benar - benar mencapai tanjakannya. Oli tumpah dimana - mana. Gena ambruk menindih Kharisma. Entah ini untuk berapa kali bagi mereka dalam sehari ini. Seolah tak ada hentinya untuk Kharisma dan Gena.
Gena bangkit, meraih Hpnya dan membiarkan Kharisma membersihkan diri di kamar mandi. Gena membaca pesan Ashe. Entah apa yang ada di benak Gena. Hatinya bimbang. Awalnya ia hanya tertarik untuk memacari Ashe karena ia anak pewaris JAE. Namun, lama - kelaman tumbuh perasaan suka dengan Ashe. Sementara, Gena juga tak bisa menolak menikah dengan Kharisma karena ibunya sangat menyukai Kharisma. Dan Gena pun tidak mampu menolak pesona Kharisma yang membuat tuas pesenelingnya ketagihan untuk dipindahgigikan.
" Siapa Mas ? " tanya Kharisma muncul berbalut handuk yang seksi.
" Oh, ini. Asisten menanyakan pekerjaan ! " sahut Gena sekenanya.
Kharisma mendekat dan memeluk Gena yang masih polos. Gena mencium bibir Kharisma dalam. Membuat sesuatu bergerak dibawah sana.
" Hmmmpt.... apa asistenmu tidak tahu kita sedang bulan madu ? "
" Tahu..! Tapi, aku tidak bisa lama - lama. Aku harus kembali bekerja. Kamu sementara tinggal di Bandung dulu. Kamu temenin ibu dulu. Gimana ? " tanya Gena.
" Aku terserah Mas saja ! " sahut Kharisma dengan tangan menjalar kemana - mana.
Tujuannya hanya mempercepat agar ia bisa cepat hamil dan punya anak dari Gena. Dengan begitu, Kharisma akan jadi Nyonya besar di keluarga Grop Gena Line. Sesuai impiannya sejak dulu.
Gena pasrah, menikmati tangan Kharisma yang bermain lincah di tuasnya. Hingga tak tahan lagi bagi Gena. Langsung membanting stir dan menaiki tanjakannya kembali hingga keduanya sama - sama mencapai puncak dan tertidur karena kelelahan.
****
" Kenapa Papa memutuskan kontrak dengan Gena Line. Kita rugi Pa, kita harus bayar denda " protes Ashe di telepon.
Pak Fajar dan Dimas bertatapan.
" Sudah. Kamu tanda tangan saja. Itu sudah Papa pikirkan. Mereka yang membuat masalah di belakang kita ! " sahut Pak Fajar.
" Masalah apa ? masalah Papa tidak suka hubunganku dengan Gena ? "
" Itu salah satunya ! Tapi ada hal lain yang harus Papa kasih tahu ke kamu ! "
" Apaa ??? "
" Papa nih. Aku tidak mau tanda tangan ! "
" Terserah kamu ! Tanda tangan saja nanti setelah kamu tahu semuanya !"
" Apa sih Pa ? Kayaknya aku doang yang nggak tahu ! "
" Kamu itu CEO, harusnya kamu punya orang pinter di sekeliling kamu ! "
" Tahu *lah Pa !! "
" Nanti kamu akan tahu sendiri* ! "
Ashe menutup teleponnya kesal. Ashe menatap berkas pemutusan kontrak dengan Gena Line. Nilai dendanya nggak kira - kira, 1 M untuk pemutusan kontrak sepihak sebelum 6 bulan.
" Papa nih maunya apa sih ? " gerutu Ashe.
Ia memasukkan berkas itu dalam laci meja dan menguncinya. Ashe belum berniat menandatanganinya sebelum semua jelas. Ashe mengambil Hpnya dan menelepon Gena. Lama, tapi tak diangkat juga.
****
Dimas menyelesaikan presentasinya di depan semua direktur dan kepala divisi. Pak Fajar mengangguk puas. Mereka kemudian kembali ke hotel karena sudah terlalu sore.
" Pak...! " panggil Dimas saat mereka sampai di lobby hotel.
Pak Fajar menoleh.
" Ya, kenapa ?? "
" Besok, jumat sore saya ke Jakarta ya ? "
Pak Fajar mengenyit dahi.
" Ashe minta kamu kembali ?? " Pak Fajar seolah sudah tahu.
" Ehmm... hanya weekend ! "
Pak Fajar tersenyum.
" Ya, semoga berhasil Dim...! "
" Bapak nih, saya nggak mau jadi pelakor...!
" Hahahha...saya yang akan jadiin kamu pelakor sejati...! "
" Paaaak.... awas aja yaa...! "
Pak Fajar tertawa seraya melambaikan tangan pada Dimas menuju lift ke kamarnya. Dimas menyusul dibelakangnya. Pak Fajar menoleh tersenyum melihat Dimas yang tampak sumringah.
Dimas menuju kamarnya. Demikian juga Pak Fajar. Dimas menguyur tubuhnya menghilangkan penat seharian ini. Menjelang malam, Dimas mengetuk pintu kamar Pak Fajar. Faisal, ajudan Pak Fajarmembukakan pintu.
" Mau ketemu Bapak Mas ? " tanyanya.
" Iya...! " sahut Dimas.
Faisal menyuruh Dimas masuk. Pak Fajar tampak sedang membaca majalah dan minum teh.
" Pak...! " panggil Dimas.
" Ehh... kamu Dim ! Kenapa ? "
" Saya mau keluar cari oleh - oleh, Bapak mau ikut ? " tawar Dimas.
" Apa yang Ashe minta ? Aneh - aneh ya ? "
" Enggak Pak ! "
" Hahaha...! Cuma kamu kayaknya yang selalu nurutin manjanya Ashe ! "
" Daripada ngamuk...!! " cengir Dimas.
" Belum jadi suami udah diamuk mulu ya Dim...! " kekeh Pak Fajar.
" Biarin Pak...! "
" Ya udah, saya ikut. Tunggu saya ganti baju dulu ya ! "
Dimas mengiyakan. Duduk di sofa dan memeriksa Hpnya. Ada panggilan tidak terjawab dari Rozi, adiknya di kampung. Dimas membiarkannya tanpa berniat telepon balik karena dia harus pergi.
Tak lama, Pak Fajar muncul. Mereka keluar berdua saja tanpa asisten ataupun ajudan.