Perfect Boy

Perfect Boy
46.Kamu atau Kamu ?



Dimas bangun lebih dulu. Ia ke kamar mandi untuk buang air kecil dan menyusul Ashe masuk di bawah selimut.


" Bieeee.... ??"


" Hmmmm..... " Dimas makin merapat pada Ashe. Hangat dan nyaman terasa hingga tulangnya.


" Hpmu berbunyi.... "


" Iyaaaa....! "


" Kenapa tak diangkat....? " Ashe mulai membuka mata. Pipinya dan pipi Dimas saling menempel, mereka berpelukan dalam selimut erat.


Dengan enggan, Dimas membuka mata. Ia melepas pelukannya dan beranjak dengan malas. Meraih Hpnya. Ini baru jam 05 : 00 pagi. Pak Fajar sibuk saja meneleponnya.


Pak Fajar : Dim, rapat direksi siang ini ya...!


Dimas : Ya Pa...! Semua sudah siap.


Pak Fajar : Ya sudah, nanti selesai sarapan. Kita bicara, bangunkan Ashe.


Dimas : Ya Pa. Papa udah tidur...!


Pak Fajar : Udaaaah. Habis diomeliiin Mama...!


Dimas : Kenapa ?


Pak Fajar : Biasaaa. Minta pijit...


Dimas : Papa minta pijitnya yang lain kan ? Minta tambah juga kan ?


Pak Fajar : Heeeeh.... mulutnya ya...! Habisnya Papa kalau nggak di pijitin


yang itu nggak bisa tidur...!


Dimas : Terus hubungannya curhat denganku apa ? Papa nggak sopan !


Pagi - pagi juga....! Udah tahu, aku belum nikah....!


Pak Fajar : Hahahhahaa....


Dimas : Ketawa aja terus Pa...!


Pak Fajar : Yaa udah. Papa mau lanjut minta pijit dulu ya...


Dimas : TERSERAAAAAHHHHH.....


Pak Fajar : Hahahhhahhahahaha....


Dimas meletakkan Hpnya dan terduduk di sofa dengan tersungut - sungut.


" Kenapa ? " tanya Ashe mengalungkan tangannya pada leher Dimas.


" Isssh... Papa nih. Pagi - pagi bikin pingin orang aja...! " Dimas mengacak rambutnya kasar.


" Hahhaaha....! Kamu mau minum kopi ? " tanya Ashe.


" Aku tidak bisa minum kopi ! " sahut Dimas sambil memegang kedua tangan Ashe.


" Oiya. Bikin teh aja ya..! " Ashe melepaskan tangannya. Dimas menahan tangan Ashe.


" Sarapan dulu...! " toleh Dimas.


Ashe mendekat dan mencium bibir Dimas.


" Kalau udah nikah, sarapanmu pasti lain...! " Ashe meronta.


" Kamu tahu aja Buu... " kekeh Dimas.


Ashe keluar kamar sebari meraih gelas Dimas semalam. Dimas beranjak dan kembali ke kasur Ashe. Masuk dalam selimut. Terlelap dalam waktu singkat.


****


Ashe masuk kembali ke kamar membawa segelas teh manis. Ia menggeleng kepala melihat Dimas kembali tidur. Ashe meletakkan gelas dimeja dan mengambil Hp. Ia berbaring di samping Dimas. Iseng memotretnya.


" Bieee...! Ayo bangun....! Tehnya keburu dingin.... " goncang Ashe.


Tak ada respon. Sengaja.


" Biee...! Kenapa kamu malah tidur lagi. Ayo buruan bangun....! " goncang Ashe lagi.


Dimas tak bergeming.


" Oiyaaaa....! " kata Ashe pura - pura menelepon.


" Oh ya Dit. Nanti kita jadi ketemu jam beraap.... "


Dimas langsung mengambil Hp Ashe dan menyembunyikannya. Kembali tidur.


Ashe tersungut karena Dimas membelakanginya.


" Ya udah. Kalau nggak bangun. Aku mandi, sarapan dan ketemu Adit deh... " Ashe berniat beranjak.


Dimas sigap menangkap tangan Ashe hingga Ashe jatuh ke pelukannya. Mencium bibir Ashe.


" Biee... rasanya bibirku ini ada tulisannya... " kata Ashe.


" Tulisan apa ? " tanya Dimas.


" Bibir Dimas.... "


" Hahhahaha.... ! Biarin aja...! "


" Udah, ayo bangun...! "


" Kamu nggak masak ? "


" Sudah ada yang masak di dapur...! "


" Aku ingin makan masakanmu....! "


" Kita pindah rumah.... "


Dimas berpikir sejenak.


" Tapi aku tak tega sama Mama dan Papa...! " kata Dimas.


" Ya udah. Aku ikut kamu aja. Buruan minum tehnya. Aku mau mandi " kata Ashe melepaskan diri.


Dimas pun bangun.


" Tehnya nggak pakai susu Bu...? " Dimas mulai iseng seraya beranjak menuju meja.


Ashe yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi menoleh.


" Jangan ngelunjak Biee.... " sahut Ashe sewot.


" Diiih... apaa ? Pasti pikirannya udah aneh - aneh " sindir Dimas.


Ashe mendengus kesal dan langsung masuk kamar mandi. Dimas terkekeh. Ia minum teh bikinan Ashe dan berjalan ke lemari. Lemari baru yang baru dilihat Dimas. Dimas membuka pintu dan menyadari itu semua baju laki - laki. Penuh jas, celana hitam. Baju putih lengan panjang, lengan pendek, dasi lengkap. Tumpukan kaos santai, celana pendek, dan lengkap dengan dalemannya pula. Dimas tersenyum. Melihat ke rak samping lemari. Ada sepatu pantofel dan sepatu santai. Sendal dan kaos kaki. Dimas baru menyadarinya kali ini. Ini sudah disiapin.


Ashe keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Ashe kaget, demikian juga Dimas. Dimas langsung memalingkan wajah.


" Kau sungguh tega Bu.... " umpat Dimas.


Ashe terkekeh dan kembali sembunyi di balik pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.


" Aku ganti baju dulu. Kamu keluar Bie.... " kata Ashe.


" Tuan kamar di usir... " sahut Dimas berjalan keluar sambil tetap memalingkan muka.


" Nyonya kamar mau gantii.... " sahut Ashe.


" Kunci pintunya... " kata Dimas sambil menutup pintu.


Ia berjalan ke belakang. Pak Fajar dan Pak Kibul sedang sibuk dengan piaraan burung dan ayam bangkok Pak Fajar. Pak Jono, tukang kebun Pak Fajar nampak membantu. Ia memang yang biasa mengurus piaraan Pak Fajar.


" Kenapa Dim ? " sapa Pak Kibul.


Dimas duduk di kursi.


" Diusir Pak...! "


Pak Fajar yang tengah meloloh anak burung menoleh.


" Kamu minta pijit kalii.... " ledek Pak Fajar.


" Ngawuuuuur....! Emang Papa....! Pijit muuluuu.... "


" Tahuuu tuh. Bandeeel....! Untung Fatimah udah keball.... " imbuh Pak Kibul.


" Kebaaal apa Pak. Orang Papa takut sama Mama... " celetuk Dimas.


" Siapa yangbtakut ? " Pak Fajar tak terima.


" Papalah, siapa lagi ! " sahut Dimas.


" Bukan takut, tapi cintaaa.... " elak Pak Fajar.


" Weleeeeh.... " ledek Pak Kibul.


" Bapak juga iya aja kok...! " serang Dimas.


" Hahahhaaha.... " Pak Fajar tertawa dibuat - buat.


" Kayak kamu enggak...! " balas Pak Kibul.


" Hahahahha.... " Pak Fajar kembali tertawa dibuat - buat.


" Ternyata kita gerombolan takut istri.... " imbuh Pak Fajar.


" Bukan takut, tapi cinta... " sahut Dimas dan Pak Kibul bersamaan.


Otomatis mereka berpandangan dan tertawa tergelak.


******


" Bieeeeee.....!! "


" Tuuuh, siapa yang dipanggil istrinya....! " seru Pak Fajar.


" Anak mudaaa....! Yang tua mah, udah ga respek. Bodo' amatt.... " sahut Pak Kibul.


" Siapaa yang bilanggg...? " tanya Dimas.


" Paaaaa.... " terdengar Bu Fatimah berteriak.


" Tuuh....! Papa dipanggil Mama, mau dipijitin....! " ledek Dimas seraya beranjak.


" Anakkkk kurang ajar loeee.... " sungut Pak Fajar.


Dimas terkekeh sambil menuju kamar Ashe. Dimas membuka pintu. Tampak Ashe sudah rapi di depan cermin. Dimas menutup pintu dan mendekat. Mendekat sangat dekat hingga menempel pada Ashe. Ia dapat mencium aroma wangi dari Ashe.


" Kamu serius mau ketemu Adit ? " tanya Dimas.


" Tentu saja tidak hanya ketemu dia. Hari ini kerjaanku banyak Bie ? " Ashe menepuk pipi Dimas pelan.


" Kenapa ? Tumben kamu ? Kamu cemburu...? " tanya Ashe lagi.


Dimas nyengir seraya mengaruk kepalanya.


Ashe memutar tubuhnya. Memeluk perut Dimas dan menatap wajah Dimas.


" Tumben amat kamu...? Biasanya kamu lebih logis ...! " kata Ashe.


Dimas mendekat. Mencium kening Ashe.


" Siapa yang bisa di percaya ? " tanya Dimas.


" Akuuu....! sahut Ashe.


Dimas tersenyum.


" Aku percaya, Bu... " kata Dimas.


" Aku mandi dulu ya. Kita di tunggu Papa di ruang kerjanya nanti habis sarapan ! " imbuh Dimas.


" Kamu mau jadi apa hari ini...? " tanya Ashe.


" OB....! " kekeh Dimas.


" Mana bisa...? "


" Kenapa ? " kenyit Dimas.


" Mana seragamnya ? " Ashe balik tanya.


" Pakai yang kemarin..! "


" Jorok banget sih...? Udah ku cuci... ! "


" Kapan nyucinya...? "


" Tadi barusan...! "


" Terus aku pakai apa ? "


" Nggak pakai baju... " ledek Ashe dengan senyum menggoda.


Dimas menatap Ashe dengan senyum cerah dan genit.


" Baiklahh....! Kamu pasti lebih senang aku tak pakai baju... " bisik Dimas.


" Deeeeh....! Udah mandi sana....! " Ashe mendorong perut Dimas pelan. Tapi yang di dorong makin lengket. Memaksa Ashe berdiri dan memeluk pinggang Ashe. Dimas mencium bibir Ashe.


" Sudaaaah. Ntar kebablasaan....! " dorong Ashe lagi.


" Kamu itu yang selalu berusaha meruntuhkan pertahananku... " toyor Dimas pelan pada kening Ashe.


" Makanya jaga mataaa... " kata Ashe melepaskan diri.


" Aku bisa jaga mata dari wanita lain. Tapi tidak darimu Bu... " sahut Dimas sambil melepas kaosnya.


" Kamu mau ngapain ? " Ashe kaget.


" Tak pakai baju.... " sahut Dimas santai.


" Hiiih....! Aku keluar dulu...! " kata Ashe.


" Nggak bisa ! Siapin bajuku. Jangan lupa ****** ******** juga... " tarik Dimas pada tangan Ashe.


" Sudaaah Tuaaan....! " Ashe menunjuk dengan mimik wajahnya ke arah tempat tidur. Dimas menoleh. Benar saja, bajunya sudah siap disana. Dimas tersenyum.


" Terima kasih. Berasa punya istri beneran...! " senyum Dimas.


" Deeeeh....! " lengos Ashe.


" Cuma masih belum bener - bener berasa istri.... " ucap Dimas menggantung.


" Apaaaa ? " kenyit Ashe.


" Belum iciiip.... "


" Apaaaan ?? Kamu icip muluuuu.... "


" Baru dikitt.... "


" Icip itu dikit. Kalau banyak ya makan namanya.... "


" Ya itu, makanya nggak kenyang - kenyang. Orang belum makan...! " goda Dimas.


" Pergilah mandi Bie. Jangan ngombal meluluuu... "


" Tunggu ya...! "


" Iyaaa. Cepet. Aku tunggu...! "


" Dimana nunggunya ? "


" Di meja makan...! " sahut Ashe.


" Tunggu sini aja. Pakaiin bajukuh....! " manja Dimas.


Ashe mendesah.


" Bieeee....! Kamu itu udah tua...! " sahut Ashe.


" Beluuum. Aku belum genap 25...! "


" Oiyaaa....! " Ashe mendekat dan mencium pipi Dimas. Cara yang paling ampuh menghentikan debat dengan Dimas.


Dimas tersenyum.


" Baiklah, aku mandi duluu....! " kata Dimas sambil beranjak ke kamar mandi.


Ashe menunggunya sambil mengerjakan sesuatu di tabletnya. Tak lama, Dimas keluar kamar mandi dengan handuk sepinggang. Ashe hanya meliriknya. Pesona Dimas sungguh membuat Ashe meleleh.


" Tetap liat tabmu...! Nanti nolehnya setelah aku pakai celana " celetuk Dimas.


Ashe mendesah dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


" Aku keluar saja Bie. Aku tidak kuatt...! " Ashe berdiri tetap sambil menutup mata. Berjalan ke pintu dan menutupnya cepat.


Dimas tersenyum. Bergegas memakai baju.


*****


Dimas keluar mengenakan baju putih lengan panjang, celana hitam dan sepatu pantofel. Lengkap dengan dasinya. Ashe, Silia, Bu Fatimah dan Bu Izun tengah menyiapkan sarapan.


" OB apa kamu Dim...! OB kok ganteng sekali kamu... " seru Bu Izun.


Bu Fatimah tersenyum menatap Dimas.


" Tumben, Mamak muji aku...! " sahut Dimas.


" Tiap hari dipuji juga kamu nggak denger... " sahut Bu Izun.


Ashe hanya mencuri pandang. Dimas mendekat, menyenggol lengan Ashe.


" Jangan lirik - lirik melulu.... " goda Dimas di telinga Ashe.


" Diiih. Ntar mata gue juling... " sahut Ashe gantian menyenggol Dimas.


" Juling menggodaaa.... " senyum Dimas sambil memegang kedua bahu Ashe.


" Udaah, duduk ayo makan dulu.... " sahut Ashe sambil mengambilkan nasi lengkap dengan lauknya.


" Semua pada kemana Ma ? " tanya Dimas.


" Lagi siap - siap Papa...! " sahut Bu Fatimah.


Benar saja, tak saja. Tak lama Pak Fajar muncul. Pak Kibul juga. Kemudian Rozi. Mereka mengambil makanan dan mencari tempat nyaman masing - masing. Mereka sarapan bersama sebari ngobrol.


****


" Duduk Dim, She....! " kata Pak Fajar begitu mereka telah selesai sarapan. Dimas dan Ashe langsung mengikuti Pak Fajar ke ruang kerjanya.


Ashe dan Dimas duduk di kursi di depan Pak Fajar.


" Kalian pasti tahu kenapa Papa ingin bicara ? " tanya Pak Fajar.


" Iya Pa...! " sahut Dimas.


" Baiklah. Karena Dimas nggak ingin Papa pensiun dini dan jadi bahan omelan Mama. Papa akan tetap jadi pimpinan perusahaan. Tapi berhubung hari ini rapat direksi dan pemegang saham. Papa tetap akan menunjuk kalian jadi pengganti Papa....! " kata Pak Fajar.


" Siapa yang mau gantiin Papa ? Kamu Dim ? Atau kamu She... ? " tanya Fajar.


Ashe langsung menunjuk Dimas yang duduk disampingnya. Dimas menoleh tercengang.


" Kenapa aku ? Kamu yang anak kandungnya...! " kata Dimas.


" Memangnya kamu kenapa ? " Ashe balik tanya.


" Bu, ini perusahaanmu...! Kamu yang harus meneruskannya....! " kata Dimas.


" Aku tak mau. Aku ingin hidup simpel saja...! Kamu yang bekerja dan aku yang leha - leha.... " sahut Ashe.


" Toh, kalau aku ingin bekerja. Aku ingin bekerja yang tanpa beban Bie...! " imbuh Ashe.


" Sungguh berat mencintaimu itu... " keluh Dimas.


" Kamu tidak mau....? "


" Bagaimana bisa aku tidak mau ? Itu perintah dari Nyonya Dimas... ! Tentu saja aku harus menjalankannya... " sahut Dimas.


Pak Fajar tersenyum menatap Dimas dan Ashe yang sibuk berdebat.


" 20 % saham dari Gena untuk Ashe gimana Dim ? " senyum Pak Fajar.


" Nggak papa Pa. Apaapun yang aku punya, bahkan nyawaku pun untuk Ashe....! " sahut Dimas.


" Enak aja. Buat apa nyawamu....? Orang aku ingin hidup sama kamu...! Aku nggak butuh saham... " sungut Ashe.


Dimas terkekeh.


" Tenang aja. Semua nafkahmu aku jamin Bu...! " bisik Dimas.


Ashe menepuk lengan Dimas. Pak Fajar tersenyum.


" Baiklah. Rapat jam 10 : 00 Wib ya. Semua bukti sudah ditangan Papa...! Papa tentu saja akan bertemu dengan Pak Andana jam 09 : 00 wib "


" Ya udah, aku temenin Pa...! " kata Dimas.


" Kamu tak mau mrnemaniku ketemu Adit ? " tanya Ashe.


Dimas menarik kursi Ashe hingga mereka berhadapan. Dimas mengenggam tangan Ashe.


" Kamu juga nggak bakal oleng gegara Adit doang. Pak Andana harus diwaspadai Sayaaang. Termasuk Gena. Mereka tentu tidak akan dengan mudah melepas saham mereka begitu saja. 20 % itu lebih banyak dari 3 M yang kamu bayarkan waktu itu... " kata Dimas.


Pak Fajar hanya tersenyum. Seolah dia hanya patung tak bermakna disitu.


" Bagaimana aku bisa oleng. Kamu terlalu melelehkan hatiku... " sahut Ashe.


Dimas tersenyum. Makin menarik kursi Ashe.


" Deeeh.... Inget....! Ada pria tua disini....! " Pak Fajar berdiri dari kursinya dengan jengah. Bener - bener tak ada artinya dia disitu.


Dimas dan Ashe tertunduk menahan senyum. Tangan mereka tetap saling mengenggam. Pak Fajar menutup pintu meninggalkan mereka berdua. Dimas dan Ashe menatap pintu dengan senyum. Melanjutkan aksinya yang tertunda. Mencium bibir Ashe. Mereka berpandangan, tersenyum. Hingga Dimas menarik tangan Ashe dan keluar ruang kerja Pak Fajar.