Perfect Boy

Perfect Boy
81. Malam Kelam



Ashe mengucapkan salam sebari masuk rumah. Bu Fatimah menyahut dari dalam. Ashe memburu masuk dan mencium punggung tangan Bu Fatimah.


" Gimana kerjaanmu She ? "tanya Bu Fatimah.


" Ya biasa aja Ma. Meski capeknya berasa...! " sahut Ashe sambil duduk di sofa depan tv.


" Kasian amat, yang mijitin pergi lagi...! " laah, Bu Fatimah malah ngeledek.


Ashe langsung menoleh dengan tatapan miris ke arah mamanya.


" Kan Mama ngomongnya bener...? " cuek Bu Fatimah.


" Ya nanti aku minta pijit Mama...! "


" Nggak mau. Mama kan harus mijitin Papa...! "


" Hedeeeeeh.... " Ashe langsing beranjak dari duduknya dan menuju kamar karena kesal.


" Mandi She, terus makan...! " terdengar Bu Fatimah berteriak dari luar kamar.


" Iya Ma...! " sahut Ashe sambil menghempaskan diri ke sofa favorit di kamar.


Kesel sendiri, habisnya tiap Dimas pergi keluar. Kamar itu mendadak sunyi senyap.


" Ya ampunn...! " gerutu Ashe.


Padahal dia dulu sangat suka sendirian dengan aktivitas membaca.


Bie : Nggak usah galau...! Nanti kalau pulang dipuas - puasin..


Ashe langsung ambruk. Rasanya begitu meleleh karena cenayang ini suka sekali membaca apa yang dia pikirkan. Mendadak Dimas vc.


Bie : Belum jadi mandi Bu ?


Dimas udah bening aja di sana bikin Ashe makin meleleh. Ia nampak di sebuah kamar yang sama sekali tidak mewah untuk ukuran seorang Presdir.


Bu : Kamu di rumah siapa ?


Mendadak pikiran Ashe melalang buana membayangkan seperti yang di sinetron - sinetron yang sering ia tonton.


Bie : Astaga...! Ini kontrakan Bu...! Aku nggak tinggal di hotel, kamu jangan mikirnya di rumah istri kedua.....


Bu : Hehehehe... maaf ! Paranoid !


Bie : Astagfirullah Bu...! Nih liat...!


Dimas memutar kamera mengelilingi kamar, ia membuka pintu dan menunjuk sekeliling.


" Tuh Nasrul...! " Dimas menyorot kameranya pada Nasrul yang tengah duduk bersila di depan laptop. Nasrul mengangkat ibu jarinya dengan memamerkan senyum paling manis.


" Jangan pamer senyum ke istri gue...! " sentak Dimas posesif.


" Yaelaaah Pak...! Senyum doang...! Bu Ashe nggak bakal suka sama saya...! " manyun Nasrul.


" Tetep aja gue nggak suka...! " elak Dimas.


" Tahu ah...! Bapak kerjain aja ini sendiri sih...! " ambek Nasrul.


" Bercanda Rul...! Dari tadi manyun aja sih...! " goda Dimas.


" Belum liat muka ayang...! " sahut Nasrul.


" Dia selingkuh...! "


" Astagfirullah...! Abang nggak ada akhlak... " gerutu Nasrul.


" Hahahhaha.... "


Bu : Kamu demen banget ngerjain Nasrul...?


Bie : Ya abis, kita cuma berdua...! Dari tadi lagi ngeliatin laporan..


" Ini kan tugas Pak Dimas sebenernya. Kenapa jadi saya yang harus ribet Pak...! " protes Nasrul.


" Kamu siapa yang bayar ? "


" Pak Dimas... "


" Kamu kerja sama siapa ? "


" Pak Dimas... "


" Kamu pacarnya siapa ? "


" Adiknya Pak Dimas... "


" Jangan banyak protes... "


Nasrul memajukan bibirnya.


Bu : Kerjamu sekarang bertambah ya...! Jadi tukang intimidasi..!


" Santuy Bu...! Saya loyal kok...! Pak Dimas itu memang begitu orangnya Bu...! Tapi dia itu super duper baik..! " celetuk Nasrul.


" Jangan comment terus...! " semprot Dimas.


" Orang dipuji kok malah galak... ! Makan dong Pak... ! " rengek Nasrul ngelunjak.


Dimas menatap Nasrul hingga tak urung tertawa.


Bu : Kasih makan Bie, itu anak orang lho..!


Bie : Ya kali dia anak drakula Bu...


" Terus aja Pak... "


" Hahhaha... "


Bie : Kamu mandi dulu Bu, terus makan ya. Aku mau keluar cari makanan ya...!


Bu : Iya. Bilang ke Nasrul. Jangan sampai ada yang ngeces


liatin kamu.


Bie : Hahhaha...! Yang suka ngeces itu kamu Bu...! Segitu jatuh cintanya ya sama aku...!


" Hoeeeeeek...! " Nasrul iseng aja.


Dimas menatapnya sewot. Nasrul cekikikan sendiri. Dimas mematikan vcnya dan mengantongi Hpnya.


" Buruan kita makan Rul...! " kata Dimas.


Selesai mandi ia memang berencana mengajak Nasrul keluar makan.


" Sekali - kali kita makan berdua Pak...! " ucap Nasrul mengikuti Dimas.


" Sering kali... " bantah Dimas.


" Hehe.. iya juga sih ! Ya nggak papalah. Itung - itung nyogok abangnya biar jalannya mulus kayak tol... "


" Aku maunya nyogok Bu Ashe... " jawab Dimas nyleneh hingga Nasrul melonggo.


" Nggak nyambung...! " sungut Nasrul.


" Ya di sambung lah... "


" Auuu ah Pak... " Nasrul kesel sendiri.


Baru juga sehari udah dibikin sentimen dengan Bosnya. Entahlah, mereka akan berapa lama disana. Dan dengan sangat terpaksa, Nasrul harus bertahan dengan uring - uringannya Dimas saat jauh dari Ashe. Apalagi Faisal dan Lino tak ikut. Nasrul harus bertahan dari gempuran kata - kata Dimas sendirian.


Nasrul menstater motor matic yang sengaja mereka pakai. Dimas membonceng saja. Mereka keluar area kontrakan dengan luas beberapa hektar itu. Entahlah, kadang Dimas heran. Mertuanya lebih demen bikin kontrakan ketimbang apartemen.


Nasrul dan Dimas berhenti di warung tenda. Mereka berbaur makan dengan pelanggan lain.


****


Ashe bergegas mandi dan ganti baju. Ia keluar kamar dan menuju meja makan. Ada tempe tumis cabe ijo, ayam fillet tepung dan mendoan. Ashe mendadak lapar.


" Ma, Papa mana ? " tanya Ashe sambil duduk.


Bu Fatimah sedang menyeduh kopi.


" Kenapa nyariin Papa ? " mendadak Pak Fajar muncul.


" Hehe, aku laper Pa...! Pingin makan...! "


" Ya udah makan She...! " ucap Bu Fatimah sambil ikut duduk.


Ashe mengambil bagiannya lebih dulu. Sementara Bu Fatimah mengambilkan untuk Pak Fajar.


" Tumben, kamu doyan nasi...? " tanya Pak Fajar sambil memperhatikan Ashe yang lahap makan dengan tangan.


" Aku masih orang Indonesia Pa...! "


" Ohhh, kirain udah jadi bule... "


" Bulepotan... " ceplos Bu Fatimah.


" Berhenti meledekku Ma...! " sungut Ashe.


Bu Fatimah dan Pak Fajar terkekeh. Meski saat SMA dan kuliah, Ashe tak bersama mereka. Tapi mereka tetap hangat dan suka saling meledek.


" Ma... " Ashe nemplok di samping Bu Fatimah yang tengah nonton tv bersama Pak Fajar.


Mereka sudah selesai makan setengah jam yang lalu.


Pak Fajar dan Bu Fatimah menoleh ke Ashe.


" Kenapa ? " tatap Bu Fatimah karena tumben sekali anaknya ini manja. Berasa anaknya masih perawan.


" Anterin ke alfa... " sahut Ashe.


" Ini jam berapa She ? Lagian dimana rumah Alfa... ? "


😲😲


" Astagfirullah Ma...! Alfamart... " kesal Ashe.


Pak Fajar tertawa.


" Sama Papa aja...! " usul Bu Fatimah.


" Mau beli apa ? " tanya Pak Fajar.


" Cemilan...! Aku laper..! Lagian aku ingin ngabisin duit suami... "


Bu Fatimah berbinar senang.


" Kalau gitu Mama ikut...! Ayo Pa...! " Bu Fatimah langsung beranjak. Ia pergi ke kamar.


Pak Fajar dan Ashe berpandangan bengong.


" Jangan lupa ATM Pa...! " teriak Bu Fatimah.


" Repot kalau udah berurusan dengan Nyonya rumah..! Padahal semua ATM dan keuangan di Mama kamu...! " sungut Pak Fajar.


" Hebat sekali Mama. Untung nggak nurun ke aku...! " bangga Ashe.


Pak Fajar menoyor kepala Ashe pelan.


" Untung suamimu Dimas. Coba Gena apa Adit..! Kamu yang di peras mereka..! " omel Pak Fajar.


" Kenapa jadi bawa - bawa mereka ? " Ashe tak terima.


" Ayo, jadi jalan nggak ? " mendadak Bu Fatimah muncul dengan menenteng dompet.


Pak Fajar menahan tawa namun beranjak juga. Ia menyetir mobil sendiri untuk mengantar anak dan istrinya.


****


" Lihat... gilanya istrimu...! " adu Pak Fajar lewat panggilan video call mengikuti Ashe dan Bu Fatimah dari belakang.


Mereka nggak jadi ke rumah alfa, jadinya ke rumah temennya yang lebih besar dan lengkap dan yang jelas bikin Ashe kalap belanja.


" Hahahha... udah. Biarin aja Pa. Ashe jarang belanja kok...! Dia juga jarang - jarang pakai ATM ku... " sahut Dimas di seberang sana.


" Frustasinya ngeri... "


" Hahhaha...! Nggak papa Pa. Seleranya standar kok... "


Benar juga sih, barang - barang yang di beli Ashe lebih banyak yang untuk urusan makanan.


" Dia belanja segitu banyak, siapa yang bakal makan ? " tanya Pak Fajar.


" Ntar sampai rumah nyesel dan nggak belanja lagi sampai itu semua habis... hehe... "


Pak Fajar menggeleng kepala.


" Ya udah, Papa matiin aja dulu ya..! Nanti di sambung lagi..! "


" Iya Pa...! "


Pak Fajar mematikan vcnya dan segera membuntuti istri dan anaknya. Lama - lama tangannya ikut gatel juga dengan mencomot belanjaan dan memasukkan ke troli.


Jam. 22 : 00 wib mereka sampai rumah. Dengan dibantu ART mereka memasukkan barang belanjaan.


Ashe langsung duduk di sofa depan tv. Melepas lelah dengan berselonjor kaki. Ashe iseng melihat struk belanjaannya.


" Ma... ini gajiku setengah bulan...! " pekik Ashe.


" Nanti minta suamimu... " sahut Bu Fatimah cuek.


Pak Fajar yang tengah duduk ngemil sambil menunggu istrinya beberes tersenyum. Raut wajah Ashe menunjukkan penyesalan.


" Suaminya tajir kok bingung...! " celetuk Pak Fajar.


" Ini duit kerja keras tahu nggak Pa. Melewati siang panjang dan malam kelam... " sahut Ashe membuat Bu Fatimah dan Pak Fajar tertawa terpingkal.


" Mama sering ditinggal Papa santai aja She...! "


" Papa sama Mama kan udah tua, udah terbiasa...! " sahut Ashe.


" Makanya ikuut sana...! "


" Nggak. Aku banyak kerjaan...! " Ashe berjalan dan memilih biskuit yang ingin dimakannya.


" Aku ke kamar Ma, Pa...! " pamit Ashe memboyong makanan pilihannya.


" Mau ngapain..? " iseng Pak Fajar.


" Nyari lampu... " Ashe konslet.


" Buat apa ? " kenyit Bu Fatimah.


" Buat nerangi malamku yang gelap ditinggal suami yang sukanya nurut sama mertua... " sahut Ashe ngeloyor aja.


Bu Fatimah dan Pak Fajar berpandangan sebelum akhirnya tertawa terbahak - bahak.


****


Ashe meletakkan boyongan makanannya di meja kamar beserta dompet dan Hpnya. Ia ke kamar mandi menunaikan hajat serta berganti piyama. Selesai, ia keluar kamar dan mulai beberes kamar. Ashe menghela nafas kesal. Biasanya sudah ada Dimas yang mulutnya ngompreng kemana - mana menggoda Ashe.


Kini benar - benar sunyi senyap. Tak ada candaan, tak ada tangan nakal, tak ada bibir yang tiba - tiba nemplok apalagi pelukan hangat saat malam. Hp Ashe juga tumben diem aja.


Ashe mengambil Hp dan mematikan lampu. Mulutnya nggak jadi mood untuk ngemil. Ashe menarik selimut dan memejamkan mata. Mengusir sepinya tidur sendiri. Saking lelah serta nyamannya kasur Ashe, sedetik kemudian. Ia terlelap.


****


Nasrul menyeruput kopinya sebari menatap Dimas yang berjalan mondar - mandir persis orang bingung. Tangannya tak lepas dari Hp. Nasrul melihat jam tangannya. Sudah hampir jam 23 : 00 wib.


Nasrul menghela nafas. Ia udah ngeri duluan melihat Dimas. Baru juga malam pertama menginap di Malang. Dimas benar - benar kelimpungan.


" Bang, tidur. Udah malem... ! Istrinya belum mau lahiran..." kata Nasrul pelan.


" Masalahnya aku nggak bisa tidur Rul...! Lagian juga mau dibikin anaknya...! Udah kabur - kaburan aja gue.." sahut Dimas gelisah melihat ke arah Hpnya.


Nasrul menahan tawa tapi tak diutarakan.


" Ya nanti kalau udah pulang di gempur habis - habisan. Itu Bu Ashe udah tidur Bang... "


Dimas menatap Nasrul kesal. Ada benarnya juga sih, batin Dimas. Nasrul kembali menghela nafas ngeri. Sendirian menghadapi Dimas yang galau membuatnya was was.


" Ya udah, kamu sana tidur...! " perintah Dimas.


" Iya...! " Nasrul cari aman. Ia membawa cangkir kopi menuju kamarnya sendiri.


" Kamarnya jangan dikunci, nanti kalau aku butuh kamu gampang dicari... " imbuh Dimas.


" Iya Pak...! " flat Nasrul. Benar - benar cari aman.


Dimas duduk di sofa. Sejak tadi chat dan panggilannya seolah cinta bertepuk sebelah tangan.


" Ya ampun Bu...! Aku tuh kangen berat tahu nggak...! Kamu malah nyenyak banget tidurnya...! " gumam Dimas frustasi.


Dimas memejamkan mata. Membayangkan wajah manis dan gemasnya melihat Ashe yang tidur menggenakan piyama. Pikiran Dimas udah traveling kemana - mana. Dia biasa tidur nyelip dan nyaman, kini hanya sendirian. Dimas mengacak rambutnya gemas.


Dimas beranjak ke kamar.


Braaaak...


Nasrul mengelus dada kaget.


" Ya ampun, punya Bos kurang belaian gini amat sih...! " ucap Nasrul sendiri. " Baru satu malam, coba sebulan...! Aku langsung kurus kering dihantam badai bos jablay... "


" Berisik tahu nggak Rul ? Jangan ngomongin gue...! " teriak Dimas dari kamar sebelah yang membuat Nasrul terperangah.


Nasrul menutup mulutnya menahan tawa.


" Asli Bos gue emang keren...! "


" Nggak usah muji...! " sewot Dimas.


" Hahhaha...! " Nasrul tertawa terbahak - bahak dari kamarnya.


Dimas tersungut. Menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan memeluk guling.


" Nasib kalau istri nggak mau di bawa gini amat sih...! Galau merana...! " gerutu Dimas sendiri.


" Kalau Bu Ashe dibawa saya lebih merana lagi Pak...! "


" BERISIIIIIIIIIKKKKK..... "


Nasrul menahan tawa.


Dimas mengetik sesuatu, berharap keajaiban.


Bie : BU.... AKU KANGEEEEEEEEN 😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗🤗


Tetap senyap.


Tak ada balasan. Dimas menghela nafas. Yang peka cuma dirinya, istrinya nggak. Dimas berusaha memejamkan mata. Tapi justru malah tak bisa tidur. Udah dua jam Dimas hanya bolak balik frustasi.


Ia meraih Hpnya kembali. Tanda centang duanya masih belum biru. Sekali lagi, Dimas mencoba vc.


" Sayang... bangun bentar kek. Kamu nggak tahu, aku nggak bisa tidur apa ? " gumam Dimas.


Drtttttt...


Dimas tersenyum.


Bu : Bie, jam berapa ini ?


Hanya suara Ashe setengah berteriak. Yang terlihat justru membuat Dimas menelan salivanya.


Bie : Jangan nyiksa dong Sayang.... !


Di sebelah kamar, Nasrul menutup telinganya dengan headfree dan memutar musik dengan volume cukup kencang. Kalau sudah malem, pembicaraan bosnya sudah membuat jiwa perjakanya ikut tak waras.


Bu : Biarin kamu nggak betah di sana...! Ini jam berapa Bie ?


Bie : Heheh, jam 02 : 00 wib an...


Bu : Terus kenapa ?


Bie : Aku nggak bisa tidur...


Bu : Merem Bie...! Jangan ngerengek mulu..


Bie : Aku udah merem dua jam. Tapi nggak bisa tidur. Ingetnya


kamu sayang...! Dan coba pindahkan arah kameranya dong


*K**amu nggak tahu aapa ? Aku udah " clegukan " nih*..


Bu : Hehe...! Emang apa yang dilihat.. ?


Bie : Masih nanya lagi..! Orang macannya puasa malah kamu


iming - imingin begitu sih..


Bu : Ya udah, nih kameranya udah pindah..


Bie : Hefffppttt....


Bu : Laah kenapa ?


Bie : Bibirmu terlalu menggodaku...


Bu : Terus aku harus arahkan kameranya kemana sayaang....?


Bie : Aduuuh, aku melting...


Bu : Aku lebih melting lagi Bie...


Ashe sudah membuka mata sepenuhnya dan mulai jelas melihat wajah Dimas di seberang yang meski acak - acakan namun tetap bening dan sungguh menggoda Ashe.


Bie : Kenapa bisa begitu ?


Bu : Kamu itu kenapa selalu bening dalam keadaan apapun..!


Bie : Bahkan tanpa baju...?


Bu : Apalagi itu...


Bie : Hahhhahha....! Sabar ya Sayang...! Meski aku sebenernya


yang nggak sabar...!


Bu : Nggak sabar kenapa ?


Bie : Pingin tidur sama kamu. Apalagi nidurin kamu...


Bu : Hisssss....


Bie : Jangan dimatiin telponnya ya ! Aku pingin tidur di temenin


kamu sayang...!


Dimas mulai menguap. Hatinya sedikit plong dan jiwanya mulai bisa dikondisikan saat melihat pawangnya. Mereka ngobrol ngalor ngidul nggak jelas hingga Dimas terlihat tertidur pulas. Ashe tersenyum. Wajah Dimas begitu mempesonanya. Cukup lama, hingga Dimas lelap. Giliran Ashe yang kelimpungan nggak bisa tidur â˜šī¸đŸ˜ â˜šī¸