Perfect Boy

Perfect Boy
31.Pelukan Cinta



Ashe kembali setelah mengantar Rozi ke rumah Dimas. Ia benar - benar merasa mengantuk. Berhari - hari kurang tidur karena ketagihan nonton Drakor hingga efek kekenyangan makan. Bahkan ia hanya menyapa Pak Fajar dan Bu Fatimah yang tengah santai di ruang keluarga. Mereka sudah kembali.


" She, kalau di sini ada anak kecil, Papa sama Mama pasti nggak kesepian " tegur Pak Fajar.


Bahkan tak peduli Ashe yang berjalan limbung karena segala rasa bertumpuk jadi satu.


" Iyaa. Nanti dipikirin kalau udah nikah ! " sahut Ashe asal.


" Kapan ?? Emang udah di lamar ?? " Bu Fatimah halu.


" Udaah Mama. Nunggu orangnya balik baru ngelamar sama Mama dan Papa " sahut Ashe kesal.


Pak Fajar dan Bu Fatimah bertatapan sambil tersenyum.


Ashe terus berjalan ke kamar. Melempar tas dan bergegas mandi. Selesai mandi dan mengenakan baju tidur Ashe langsung ambruk di kasurnya. Tak sadarkan diri lagi. Tertidur pulas.


Entah hanya mimpi atau tidak. Ashe merasa seseorang mencium keningnya. Ashe di ambang sadar dan tidak. Ia seolah melihat Dimas tersenyum padanya malam itu. Kemudian mencium kening , bibir Ashe dan menyelimuti tubuh Ashe. Ashe ingin membuka mata. Tapi tak bisa. Matanya benar - benar seperti di lem. Lengket dan tak bisa terbuka.


****


Pagi menjelang. Ashe membuka mata. Mencoba mengingat kejadian semalam. Ia yakin kalau malam itu adalah Dimas. Ashe menghela nafas karena itu tak mungkin dan meyakinkan diri kalau itu hanya mimpi. Ashe memeriksa gawainya. Tak ada pesan atau panggilan dari Dimas. Tumben, batin Ashe.


Ashe menyingkap selimut dan pergi ke kamar mandi. Ia ingin mandi terlebih dahulu. Agak lama, karena Ashe masih ogah - ogahan. Selesai mandi dan berpakaian. Ashe keluar dan menuju meja makan. Papa dan. Mamanya tengah sarapan. Ashe langsung duduk dan mengambil nasi tanpa menyapa kedua orang tuanya.


" Kenapa kamu She ? " tanya Pak Fajar.


" Ngantuk Pa "


" Bergadang mulu sih " celetuk Bu Fatimah.


" Nggak bisa tidur Ma. Ini udah level ngantuk berat. Rasanya nggak pingin ke kantor " sahut Ashe.


" Hari ini banyak kerjaan ? " tanya Pak Fajar.


Ashe mengangguk seraya mengunyah makanannya. Masih kepikiran yang tadi malem. Namun Ashe enggan bertanya. Ia menghabiskan makanannya. Pak Fajar berangkat di antar sopirnya. Kali ini Ashe ikut karena merasa mengantuk dan tak konsen nyetir. Benar saja, selama perjalanan ke kantor Ashe terlelap di dalam mobil. Pak Fajar hanya tersenyum seraya menggeleng kepala.


" She, udah sampai. Papa mau meeting di luar kantor " Pak Fajar mengoyang - goyangkan pundak Ashe.


Ashe membuka mata dan menatap sekeliling. Ia kemudian merapikan rambutnya dan mencium tangan Pak Fajar.


" Aku duluan Pa "


" Ya udah. Nanti kalau ngantuk pulang aja ya "


Ashe mengangguk. Turun dari mobil Papanya dan berjalan ke dalam gedung dengan tergesa. Security mengangguk hormat begitu Ashe melewatinya. Demikian juga karyawan yang berpapasan dengan Ashe. Ashe tersenyum dengan wajah sendu. Sungguh mengantuk. Ashe bergegas ke kamar mandi. Memcuci muka. Ia kemudian menaiki lift menuju lantai tempatnya bekerja. Semua pegawai mengangguk hormat begitu melihat Ashe. Dema langsung mengikutinya. Ashe menatap ruangannya heran. Di mejanya ada segelas besar teh. Mejanya juga rapi.


" Yidi masuk Dem ?? "


Dema tak menyahut. Hanya tersenyum sebari meletakkan setumpuk berkas di meja Ashe.


" Ini ditunggu ya Bu... "


Ashe menatap Dema yang penuh senyum dengan pandangan pura - pura kesal.


" Kamu ini selalu.... " gerutu Ashe.


" Kan hanya tanda tangan Bu Ashe yang berlaku " sahut Ashe.


" Besok pakai elektronik aja... "


" Sebagian nggak bisa bu !! "


Ashe menghela nafas. Meminum tehnya.


" Siapa yang bikin ini Dem ? " Ashe jadi penasaran.


" OB lah Bu. Saya kan nggak bikin teh " sahut Dema.


" Tahuu ah, jawabanmu nggak memberi jawaban " umpat Ashe.


Dema hanya tersenyum dan minta izin kembali ke mejanya.


***


Ashe menyelesaikan berkasnya cepat. Ia sungguh bosan dan mengantuk. Ia keluar ruangan dan mencari Dema. Mencari Dema untuk pergi ke kantin.


" Jam makan siang sebentar lagi Bu ! Saya nggak enak sama yang lain. Ntar kelamaan di kantin "elak Dema.


" Yang ngajak kamu siapa ?? " Ashe balik tanya.


Dema nyengir. Tapi tetap mengikuti Ashe ke kantin. Ashe memesan minum dan cemilan. Demikian juga Dema, mau tak mau juga mengikuti Ashe. Tak lama kantin mulai dipenuhi pegawai di kantor Ashe karena jam makan siang udah mulai.


****


Seorang perempuan sosialita dengan pakaian anggun dan berkaca mata hitam berjalan melewati lobby menuju resepsionist. Dengan angkuh ia menghampiri cs di sana.


" Hei kamu tahu dimana ruangan Ashena ? " tanyanya tanpa basa basi.


" Maaf. Apa yang anda maksud Bu Ashe ? " tanya cs itu dengan sopan.


" Ya mungkin. Memangnya ada berapa Ashe disini ?? " sahutnya tetap angkuh.


Cs itu kemudian menelepon ke bagian divisi Ashe. Dan kemudian memberitahu.


" Bu Ashe sedang di kantin makan siang... "


" Dimana kantin ? " potongnya.


Cs menunjukkan arah kantin. Wanita itu langsung pergi dengan angkuh.


Melihat sekeliling kantin yang dipenuhi karyawan.


" Mohon perhatian, disini siapakah yang bernama Ashena ?? " ucap wanita itu lantang hingga membuat semua orang menoleh. Termasuk Ashe dan Dema.


Dema memandang Ashe yang kembali cuek.


" Bu, itu siapa ? " tanya Dema berbisik.


" Istrinya Gena ! " sahut Ashe.


" Hello, apakah tidak ada yang dengar saya ?? " tanyanya lagi.


Seseorang menunjuk pada bangku Ashe dengan takut. Dimas yang memakai masker berseragam OB memperhatikan dari jauh. Ia tahu itu istri Gena.


Kharisma berjalan ke arah meja Ashe dan langsung menarik rambut Ashe keras. Ashe langsung memegang tangan Kharisma untuk mengurangi rasa sakit. Dema ingin melerai tapi malah ketakutan sendiri.


" Heeeh... loe ya !! " pelotot Kharisma.


Ashe menginjak kaki Kharisma dengan keras hingga Kharisma melepas tangannya dari kepala Ashe dan berganti mengadu keras. Kharisma merasa sangat terhina dan melayangkan tamparan pada Ashe.


Ashe pun membalasnya dengan keras.


Karyawan Ashe hanya berani nonton sambil bisik - bisik.


" Heeei...kurang ajar loe ya ! Loe beraninya ngerebut suami gue ?? " umpat Kharisma marah.


" Siapa yang ngerebut suami loe ? Gue nggak punya hubungan apa - apa sama suami loe " Ashe tak kalah sewot.


Jiwa macan betinanya tersulut.


" B*******k loe...! Dasar wanita murahan ! Gue peringatin loe ! Jangan deketin suami gue lagi.... !!! "


" Loe itu salah alamat ! Peringatin suami loe sono...! " teriak Ashe. " Dan gue bukan wanita murahan kayak loe yang cuma ngincer harta "


" Plaaaak..... " Ashe membalasnya.


Kharisma kembali melayangkan tangan ingin menampar dan menjambat Ashe. Namun, Dimas langsung menarik tangan Ashe hingga jatuh ke pelukannya. Kharisma langsung di pegang oleh dua orang security.


" Sialaaan loe....! B*******k Loee... ! Awas aja loe...! Loe bikin gue malu... "


teriak Kharisma yang langsung diseret keluar kantin oleh security.


" Loe yang b*******k.... " Ashe meronta dalam dekapan Dimas tanpa sadar siapa yang memeluknya.


Dimas memandang Ashe dengan senyum di sudut bibirnya sambil menggeleng kepala melihat tingkah Ashe.


" Sudaaaah... " ucap Dimas menyadarkan Ashe.


Ashe menatap Dimas tak percaya.


" Hmmm... bau macan betina " ledek Dimas membuat pipi Ashe merona.


Ashe memukul dada Dimas dan tak peduli semua karyawan memandangnya dan saling berbisik. Bagaimana tidak, pimpinan mereka kini malah nyaman di pelukan OB. Breaking news kantor JAE sepertinya.


" Nggak malu tuh, dilihatin.... " peringat Dimas seraya tersenyum.


Ashe langsung menjauhkan diri dari Dimas. Dimas terkekeh. Ashe buru - buru mengambil dompet dan mengajak Dema kembali meninggalkan kantin. Dimas tersenyum mengikuti mereka.


" Kenapa kamu pakai baju OB ?? " semprot Ashe begitu Dimas menutup pintu ruangan Ashe.


" Ya kan saya memang OB di sini ! "


Ashe menghela nafas kesal. Dimas tersenyum mendekati Ashe. Membantu merapikan rambut Ashe dan mengelus pipi Ashe yang tampak merah.


" Sakit yaa....? " tanya Dimas.


" Sakit Bie...!! "


" Mau nangis nggak ?? "


" Nggaaaakkk "


Dimas tertawa.


" Kapan kamu pulang ? " cecar Ashe.


" Tadi malem....! "


Ashe mengenyit dahi. Mengingat mimpinya semalem.


" Kenapa pulang ? "Ashe jadi sewot seolah tahu tadi malam itu bukan mimpi.


Dimas yang duduk di meja kerja dan berhadapan dengan Ashe melotot tak percaya.


" Jadi nggak seneng saya pulang nih ? "


" Nggaaak ! Nyium kok nyolong.... ! Mana enaknya ??? " Ashe malah tambah sewot.


Dimas mengerti apa masalahnya. Ia tertawa tertahan sebari menarik tangan dan pinggang Ashe hingga sangat dekat dengannya.


" Ooh... jadi karena semalem ? " bisik Dimas.


Ia pun mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Ashe hingga Ashe gelagapan dan memukul bahu Dimas.


" Ntar ada yang masuuk Bie... "


" Salah siapa semalem dibangunin nggak bisa...? "


Ashe nyengir.


" Aku capek sekali...! "


" Baiklaaah. Siniii.... " Dimas menarik Ashe dalam pelukannya. Melepas semua kerinduan hatinya. Mereka sudah tak bertemu seminggu lebih.


Ashe membalas pelukan Dimas. Ia juga sangat merindukan OB tampan yang kini ada di depannya itu.


" Senang bisa memeluk Bu dengan pelukan ini "


" Pelukan apaaa ? "


" Pelukan cinta " tatap Dimas.


Ashe terkekeh.


" Kita gosip baru di kantor ini, kuping kamu kebal di - ceng - in ? "


" Aku yang harusnya bertanya gitu ? Situ yang habis bertengkar terus pelukan sama OB. Kuping dan hatinya kuat ?? "


" Tenang aja. Mukaku terbuat dari tembok. Udah biasa didamprat "


" Hmptttt.... " Dimas tertawa tertahan.


Mereka masih berpelukan. Dimas kembali membantu merapikan rambut Ashe.


Mendadak pintu ruangan Ashe terbuka. Dimas dan Ashe menoleh kaget tapi tak melepas pelukan mereka. Dema yang membuka pintu malah jadi salah tingkah melihat atasannya.


" Maaf Bu Ashe, Pak Dimas " Dema hendak menutup pintu kembali.


" Tunggu, kenapa Dem ? " cegah Ashe.


" Pak Fajar menelepon... "


" Ya, terima kasih Dema " Dimas yang menyahut.


Dema pamit dan menutup pintu karena rikuh.


" Bieee.... udah ! Lepas... malu tahu " Ashe meronta.


Dimas terkekeh dan melepas pelukannya pada pinggang Ashe.


" Biar aku yang kesana Bu...! " kata Dimas.


" Aku ikut !! " sahut Ashe.


Dimas mengiyakan dan menarik tangan Ashe keluar. Tentu saja itu pemandangan aneh bagi pegawai di divisi Ashe. Bagaimana tidak, seorang OB bergandengan tangan dengan CEO mereka. Tapi Ashe dan Dimas cuek. Mereka menuju lift.


" Kamu perlu ganti kostum " bisik Ashe.


" Nggak....!! Biar orang ngira Bu rabun. Yang dilirik OB " ledek Dimas.


Ashe mendengus kesal.


" Biar Gena hangus kebakaran " ucap Dimas.


" Ccckkk....! Nggak usah bawa - bawa dia. Tamparan istrinya masih berasa " umpat Ashe.


Dimas tertawa seraya menatap Ashe yang tersungut. Ia pun mengelus pipi Ashe.


" Maaf, telat melerai... " kekeh Dimas.


" Njirrr..... "


" Hehhehehe.... "


*****