
Ashe memilih tempat duduk yang agak jauh dari pengunjung lain. Ia menunggu Gena sebari memainkan gawainya. Tak lama, muncul Gena.
" Hai... apa kabar She...?? " senyum Gena dan duduk depan Ashe.
Ashe membalas dengan senyum paksa. Ingat kata - kata Dimas soal Gena yang sudah menikah. Sekaligus mengingat kejadian waktu itu. Meskipun hati Ashe bergetar menghadapi Gena, namun sebisa mungkin ia mengontrol diri.
" Hai juga, kabar baik Mas ? Mas sendiri gimana ? " Ashe mencoba tak mengumpat kasar.
" Baik, senang bisa ketemu denganmu lagi ! " sahut Gena.
Ashe hanya tersenyum.
" Sudah pesan minum atau makan ? " tanya Gena.
" Belum...! "
" Ok...! " Gena melambaikan tangan pada pelayan.
Ashe hanya memesan minum. Ia malas dengan menu yang tak mengenyangkan.
" Saya minta maaf soal waktu itu She..! Saya khilaf..."ucap Gena.
Ashe hanya mengangguk mengiyakan meski tak bisa melupakan. Ia menyeruput minumnya. Ingin cepat pergi dari tempat itu.
" Kenapa rasanya canggung seperti ini ? " ucap Gena.
Ashe hanya tersenyum simpul tanpa menyahut.
" Kenapa diam saja Ashe ? " tanya Gena.
" Bingung mau bilang apa mas "
" Memang kamu tidak kangen denganku She ? " tanya Gena.
Ashe merasa miris. Pertanyaan apa itu, suami orang di kangenin, batin Ashe.
" Kita ke sini untuk membicarakan kontrak mas ! "
" Tapi kamu ini pacar saya She. Saya juga merasa kangen denganmu ! " Gena berusaha mengengam tangan Ashe.
Namun Ashe menghindar.
" Maaf mas ! Aku rasa ada hal lain yang saya tidak tahu ! "
Gena menggeleng. Tak ingin mengakui.
" She... aku sangat sayang denganmuu... "
" Hentikan omong kosong itu maaas....! " Ashe tak tahan.
" Apa maksudmu....?? " Gena masih berkelit.
" Saya sudah tahu tentang pernikahan Mas Gena....! "
Gena menghela nafas.
" Pernikahan itu hanya formal saja She...! Tapi aku benar - benar mencintaimu... "
" Tidaaak ! Saya rasa cukup Mas. Hubungan kita cukup sampai sini saja ! Saya tidak mau berlarut - larut. Kontrak asli pembatalan kerja sama saya segera kirim ! " ucap Ashe.
" She... tolong berikan aku waktu untuk membuktikannya She. Ini hanya pernikahan karena orang tua ! "
" Saya tidak perlu bukti apapun Mas ! "
" Shee.... tolong. Aku benar - benar mencintaimu ! "
Ashe tak mengubris. Ia bangkit dan langsung pergi meninggalkan Gena. Gena sempat mencegahnya. Namun Ashe tak peduli. Ia pergi meninggalkan Gena. Pulang. Ke rumah Dimas menahan tangis.
******
Ashe memarkirkan mobil di depan rumah Dimas. Pikiran dan hatinya kalut. Di lingkungan masih tampak ramai, karena ini memang belum terlalu malam. Ashe keluar mobil. Berjongkok dan mengambil kunci rumah di bawah pot seperti biasa. Membuka pintu dan menyalakan lampu. Rumah Dimas tampak bersih dan rapi. Mungkin tadi ada ART yang datang. Ashe melempar tasnya ke sofa dan duduk. Berharap Dimas ada di rumah dan menyambutnya dengan pelukan hangat.
Ashe menutup wajah dengan telapak tangan. Menangis meluapkan emosinya. Hatinya kini malah dirutuki kangen bertubi - tubi pada Dimas.
****
Dimas merapikan semua berkas - berkasnya. Dengan bantuan orang lama yang telah dizalimi Gena Grup Dimas berhasil mengumpulkan beberapa bukti penting. Dimas merentangkan tubuhnya. Rasanya sangat pegal. Ditemani Lino dan Nasrul, Dimas kembali ke hotel.
Dimas duduk di king bednya. Melepas dasi dan kemejanya. Pikirannya menerawang jauh. Perasaan Dimas jadi tak karuan. Ashe seolah bermain dalam pikirannya. Tak seperti biasanya, Dimas gelisah. Ia meraih Hp, menelepon Ashe dengan sambungan vidio call. Namun, hingga berkali - kali Ashe tak mengangkatnya. Pikiran Dimas makin kalut.
" Pak Dimas ??? " panggil Nasrul di ujung pintu membuat Dimas menoleh tanpa ekspresi.
Masih berdiri memegang Hp bertelanjang dada. Ekspresi Dimas menanyakan ada apa pada Nasrul.
" Mau makan tidak ? " Nasrul tampak bingung dengan raut wajah Dimas.
" Bapak disini... " imbuhnya.
Belum selesai Nasrul bicara Pak Fajar menyeruak masuk. Langsung duduk di king bed Dimas. Dimas masih tak bergeming dari tempatnya.
" Ada apa dengan mukamu itu ?? Kenapa Ashe ?? " tanya Pak Fajar seolah bisa membaca semua dari mimik Dimas.
" Tak bisa dihubungi... "
" Masih di jalan mungkin....! "
Dimas mengaruk tengkuknya. Duduk di samping Pak Fajar.
" Hati saya mendadak nggak tenang Pak ! "
Pak Fajar tersenyum.
" Baru pisah bentar doang ! Ayo makan dulu ! Nanti di telpon lagi ! "
" Saya mandi dulu Pa " kata Dimas.
Pak Fajar mengiyakan sebari berjalan keluar kamar Dimas dan menunggu di ruang tamu. Dimas bergegas mandi. Berganti pakaian dan menyusul Pak Fajar.
" Itu lebih mempesona Ashe ! " sindir Pak Fajar.
" Salaaah...!! Ashe lebih terpesona penampilan saya tadi ! " Dimas tak mau kalah.
Pak Fajar menoyor kepala Dimas.
" Pikiranmu dewasa !! " umpatnya.
" Laki - laki normal Pak ! "sahut Dimas.
Pak Fajar mencibir dan berjalan mendahului Dimas. Mereka keluar dan makan malam.
****
Ashe merasa suasana hatinya lebih tenang setelah mandi. Sambil mengeringkan rambut, Ashe duduk di kasur dan meraih Hpnya. Terkejut, missed call memenuhi layar Hpnya. Dimas yang paling banyak. Disusul Gena dan Bu Fatimah. Ashe tersenyum. Menggeser tombol hijau dan menelepon Dimas.
Dimas yang tengah menikmati makannya berhenti mengunyah. Meraih Hpnya. Ashe, Dimas menggeser tombol hijaunya.
Ashe : Dimana Dim ??
Dimas : Makaaan !!!
Ashe : Apaaaa???
Dimas menjauhkan Hp dari telinganya sambil nyengir. Pak Fajar tertawa melihatnya. Dimas mematikan sambungan teleponnya. Mengganti dengan vc. Seksinya Ashe tampak diujung sana.
Dimas : Bajunya nggak ada yang lebih seksi...???
Dimas menyindir Ashe tanpa peduli Pak Fajar.Ashe tampak cuek diujung sana.
Dimas : Bu menggoda saya atau nyuruh saya pulang....??
Ashe : Aku belum makan....!
Dimas menghela nafas. Pak Fajar menahan tawa.
Dimas : Makaan Bu ! Makan melulu aja nggak gemuk, terus gimana kalau
nggak makan ?
Ashe : Males masak...!
Dimas paham kode Ashe.
Dimas : Ya udah. Tunggu, saya pesenin makanan !
Dimas : Sama mertua...
Raut wajah Ashe nampak berubah cemberut. Dimas menahan tawa.
Dimas : Mau lihat nggak mertua saya ?
Ashe : Nggak ???
Dimas tertawa dan langsung mengarahkan kamera ke arah Pak Fajar. Pak Fajar melambaikan tangan pada Ashe yang tampak terkejut.
Ashe : Paapaaa ???
Pak Fajar : Apaaaa !!!!
Ashe : Ngapain Papa disitu ??
Pak Fajar : Makanlah...
Ashe mencibir.
Dimas : Puaaaaas....???
Dimas kembali mengarahkan kamera ke arahnya lagi. Ashe tersenyum manja.
Ashe : Hehehehe....!
Pak Fajar : Nikah saja sama Dimas kalau bajunya udah seksi gitu !
Pak Fajar nyletuk aja sambil tetap makan. Dimas mengarahkan kembali kameranya ke Pak Fajar seraya menahan tawa. Ashe mendelik.
Pak Fajar : Kenapa ?? Nggak mau nikah sama Dimas ? Mau sama Gena ??
Jadi istri kedua ??
Pak Fajar nyerocos aja.
Ashe : Sekarang nikahnya ??
Pak Fajar : Maunya kapan ? Sebelum Dimas disamber orang !
Ashe : Dia udah ku samber duluan kali Pa !
Pak Fajar : Owwwwh....Ternyata Papa kalah start !
Ashe : Iyalah. Mataku kan jeli liat yang glowing !
Pak Fajar : Adit glowing, tapi selingkuh ! Gena glowing, tapi diem - diem
nikah !
Ashe : Papaaaa.....!
Pak Fajar : Apaaa ?? Dimas udah tahu semua...
Ashe : Iyaa... orang Papa ember...!
Pak Fajar : Enggak ! Dia tahu sendiri...
Ashe : Nggak heran ! Mafia... Mafia kelas eksekutif !
Pak Fajar : Udah ah, Papa mau makan ! Mama kemana ?
Ashe : Nggak tahu. Aku di rumah Dimas...
Pak Fajar : Nggak jelass...
Dimas menahan tawanya sambil tetap mengarahkan kamera agar anak bapak itu nyaman bicara.
Dimas : Saya pesen makan ya Bu ! Mau apa ?
Ashe : Apa seleramu !
Pak Fajar mendehem. Dimas terkekeh.
Dimas : Ok. Matiin dulu ya !
Ashe mengiyakan. Dimas mematikan teleponnya dan memesan makanan lewat aplikasinya. Pak Fajar memperhatikannya sebari tetap makan.
" Nggak ada karyawan yang seberani itu kencan dengan anak bosnya, kecuali kamu ! " seloroh Pak Fajar.
" Kesempataan....! " sahut Dimas.
Pak Fajar mencibir.
" Liat saja berapa lama kamu betah di sini ? Papa pingin liat siapa yang bucin duluan ! "
" Saya kayaknya ! Hahahaha....! "
" Liat dompetmu....! " Pak Fajar mengulurkan tangan.
Dimas mengambil dompetnya dan menyerahkan pada Pak Fajar. Pak Fajar membukanya. Hanya lembaran receh yang tersisa. Pak Fajar mengembalikan dompet Dimas.
" Apaa itu ?? CEO kok dompetnya kosong !! "
Dimas nyengir menerima dompetnya.
" Jangan tanya uang setelah saya sama Ashe ! " celetuk Dimas.
" Hahhahahhahaha....! Ya... saya tahu siapa yang bucin !!! " gelak Pak Fajar.
Dimas tertawa.
" Ashe tidak akan berhenti sebelum lembaran merah saya habis ! "sungut Dimas.
Gelak tawa Pak Fajar makin jadi.
***
Ashe bergelut di kasur Dimas di bawah selimut. Ia menghubungi Bu Fatimah dan mengatakan tidur di rumah Dimas. Sementara itu, pesan dan panggilan telepon Gena beberapa kali masuk. Namun Ashe membiarkannya. Rasanya muak dengan semua penjelasan Gena.
Sementara itu, Dimas menyelasaikan makan malam dan kembali ke kamar hotelnya.
Dimas : Pakai baju yang bener saat keluar menerima pesanan !
Dimas mengirim pesan pada Ashe. Ashe tersenyum membacanya. Pikiran dan hatinya yang tadi gundah perlahan menghangat. Ia hanya butuh Dimas.
Ashe : Iyaa....!
Dimas : Setelah makan saya vc ya !! Pakai baju se - seksi mungkin. Kunci
pintu depan. Kunci kamar !
Ashe : 😱😱😱😱
MESUUUUUUM.....!!!
Dimas : Bu menggoda saya...!
Ashe : 😤😤😤
Dimas : 😘😘
Wajah Ashe menghangat membaca pesan Dimas. Hatinya berasa berbunga - bunga. Terdengar pintu di ketuk. Ashe mengambil jaket Dimas yang tergantung di pintu. Ashe mengenakannya dan keluar. Ternyata kurir makanan. Ashe membayarnya dan kembali mengunci pintu. Ia membuka paket makannya. Isinya sate lengkap dengan lontongnya. Ashe tersenyum.
Ia melepas jaket Dimas dan memotret makanannya. Mengirim pada Dimas. Ashe kemudian makan. setelah selesai ia membereskan sampah dan pergi ke kamar mandi.
Ashe rebahan di kasur Dimas. Tak lama, Dimas vc membuat hati Ashe kembali berbunga - bunga. Menggeser tombol vcnya. Ashe memekik menutup mata. Dimas hanya tersenyum menyunggingkan bibir.
Ashe : Bajumu kemana ???
Ashe setengah berteriak.
Dimas : Hahhaaha.... !! Lagi di cuci...!!
Dimas menyahut asal. Pasalnya ia hanya bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek. Duduk menyilangkan kaki di sofa seperti biasa.
Ashe : Bohhooong....!!
Dimas tertawa.