
Ashe melirik Dimas yang nampak menahan senyum. Ashe mencubit perut Dimas.
" Awwwwww.... isssssh Bu....! Coba jangan nyubit...! Cium aja kenapa ? " kata Dimas tanpa sungkan.
Para orang tua menatap pasangan itu.
" Apaaaa ? Nggak boleh cium juga ? " tatap Dimas mulai ngelunjak.
" Percumah ngelarang kalian....! " sahut Pak Fajar.
Ia berdiri.
" Siapa besok yang mau cuti ? " tatapnya pada Ashe dan Dimas.
" Tak adaaa.... " sahut Dimas dan Ashe bersamaan.
Dimas dan Ashe saling pandang.
" Kamu masih mau jadi OB...? " tanya Ashe.
" Iyaaalah Bu....! Aku itu memang OB, mau jadi apa lagi...? " Dimas balik tanya.
" Deeeh.... " seru Ashe.
" Sudaah. Papa yang cuti...! Ayo Bang... Ayo Zi...! Permainan dimulai... " lerai Pak Fajar.
Ia berjalan mengambil papan karambol yang terselip di sudut.
" Kenapa malah ngajak main sih ? Abang sama Mbak kan capek Pa...! " kata Bu Fatimah.
" Nggak papa Fat. Aku seminggu di sini. Biar nakalnya puuasss... " sahut Pak Kibul.
Rozi tertawa dibuat - buat. Pak Fajar menatapnya tajam. Rozi langsung menutup mulut.
" Ya udah. Mbak aku anterin ke kamar yuk...! Istirahat duluu... " tarik Bu Fatimah. " Ayo Silia... " ajak Bu Fatimah pada Silia yang sejak tadi sibuk berselancar di sosmed.
Silia mengangguk. Ia mengikuti Mamak dan Bu Fatimah. Menuju kamar tamu.
****
Dimas menyenggol Ashe. Ashe menoleh. Dimas membetulkan rambut di kening Ashe.
" Bu mau tidur ? " tanya Dimas.
" Beluuum malem.... " senyum Ashe.
" Terus mau ngapain...? "tanya Dimas.
" Kamu mau ngapain ? " Ashe balik tanya.
Dimas menatap sekeliling. Nampak Pak Fajar, Pak Kibul dan Rozi sudah duduk di atas gelaran tikar. Faisal, Ramzi, Lino dan Nasrul ikut bergabung. Suara mereka mulai riuh. Tak ada batasan antara atasan dan bawahan.
" Bantuin bikin laporan mau ? " tanya Dimas.
Ashe mengangguk.
" Nanti aku pijitin... " bisik Dimas genit.
Ashe menatap Dimas jengah.
" Jangan menatap seperti itu...! Aku jadi ingin mencium matamu... " kata Dimas.
" Tadi udaahh.... " sahut Ashe.
" Mas Dimas nggak ikut main....? " tanya Faisal setengah berteriak.
" Enggak.... " sahut Dimas sambil tersenyum.
" Biarkan saja dia. Dia mau pacaran...! Dua hari nggak ketemu... " sela Pak Fajar.
Dimas terkekeh. Ia berdiri mengikuti Ashe ke kamar Ashe. Dimas menutup pintu.
" Berasa masuk kamar suami..." sindir Ashe.
Dimas menoyor pelan kepala Ashe dari belakang. Ashe terkekeh. Dimas memegang kedua bahu Ashe dengan dua tangannya kemudian merangkul Ashe dari belakang.
" Ini rumah kamu, kamar kamu...! Selamanya juga tetep jadi kamar kamu...! " Dimas menempelkan pipinya pada pipi Ashe.
Ashe tersenyum.
" Terima kasih ! " sahut Ashe.
" Untuk ? "
" Semuanya...! "
" Kalau kamu ingin punya rumah sendiri setelah nikah tidak apa - apa ! Katakan saja apa yang kamu inginkan Bu...! "
" Aku ikut nyamannya kamu ajaa...! "
" Aku nyaman dimana saja...! Asal sama Bu...! "
Ashe tersenyum sambil menoleh dan menepuk pipi Dimas Dimas mencium bibir Ashe.
" Maaf, hanya bisa cium bibir doang ! " kata Dimas setelah melepas ciumannya. Menatap wajah Ashe yang tampak memerah.
" Memangnya mau apa lagii...?"
" Banyaaklah... " goda Dimas.
" Isssh....! Pikiranmu udah hijrah kemana - mana " Ashe meronta dari pelukan Dimas.
Dimas terkekeh.
Ashe menuju sofa favoritnya. Dimas menyusul sebari mengeleyot Ashe sejenak. Kemudian menyalakan laptop dan mulai memeriksa laporan untuk rapat direksi yang sudah dikerjakan Nasrul.
Ashe menyusupkan tangan kanannya di lengan Dimas. Sementara tangan kirinya memainkan gawai. Sesekali Dimas melirik.
" Kamu itu selain liat Bin Bin nggak ada yang lain ? " protes Dimas.
" Aku suka liat couple mereka...." sahut Ashe.
" Kita juga couple kali. Aku lebih romantis dari Bin Bin....! "
" Mereka terlihat sangat natural..."
" Memangnya aku pura - pura...! Nonton saja, jangan ngefans....!" peringat Dimas.
" Iyaaa. Ntar nonton kamu mulu bikin *****..."
Dimas menoleh dan menatap Ashe. Tangannya terhenti di udara. Merasa begitu gerah.
" Aku seperti habis minum obat...!" Dimas mengibas - gibas tangannya seolah kegerahan.
" Obaaat apa ?" Ashe pura - pura goblok.
Dimas mendesah kesal.
" Sudah, lepaskan tanganku. Ini sudah malam....! " sewot Dimas menarik diri dari Ashe.
" Hehehehe.... " Ashe nemplok lagi.
" Nanti efek obatnya juga ilang...! " kata Ashe cuek.
" Bagaimana bisa ilang. Kamu menambahnya lagi.... " sewot Dimas bercanda.
" Baiklah, aku akan meleleh dengan A Bin saja... " kata Ashe hendak beranjak.
Dimas sigap mengambil Hp Ashe dan meletakkan di kanan Dimas. Ashe bersedekap tangan masih berdiri.
" Aku tak mengizinkanmu menatap pria lain... ! "
" Pria lain itu tidak mungkin ku miliki... " sahut Ashe.
" Tidaaaak. Cuti semalem saja tidak melihat pria tampan... "
" Kau itu terlalu tampan. Bagaimana aku bisa cuti... "
Dimas menatap Ashe yang tampak berkedip - kedip menggodanya. Dimas meleleh. Tak dipungkiri, Dimas juga penggemar A Bin diam - diam. Ia suka menonton itu dan belajar dari A Bin.
" Jangan menatapku seperti itu... " Dimas salah tingkah.
" Tungguuuu....! Kau juga begitu perhatian seperti A Bin... "
" Stttt....! Pacar itu memang harus perhatian.... " potong Dimas.
Ashe mendengus kesal dan duduk kembali.
" Mana Hpku... " pinta Ashe.
Dimas mengulurkan Hpnya sendiri.
" Apa kodenya ? "
" 4545 "
Ashe mengenyit dahi.
" Kenapa memilih angka itu ? " tanya Ashe. Ia nampak familiar dengan angka itu. Bagaimana tidak. Itu sandi Hpnya sendiri.
Dimas tak menjawab. Ia mendekat dan mencium bibir Ashe. Lagii. Kemudian beralih pada laptopnya lagi. Ashe terperangah. Ia terdiam. Ciuman yang berulang kali, tapi Ashe tetap merasakan sensasinya menjalar ke sekujur tubuhnya.
" Bieeeeeeee.... " keluh Ashe.
" Apa lagi sayaaang ? "
" Kamu belum jawab pertanyaanku... "
" Feeling.... " sahut Dimas asal.
Ashe kesal dan menepuk bahu Dimas. Dimas hanya terkekeh menoleh sambil mengusap bahunya.
Ashe membuka Hp Dimas. Pertama yang nampak jelas foto dia. Ashe tersenyum. Tangannya iseng membuka galeri sambil mengeleyot pada lengan Dimas.
" Bie...! Aku ambil makanan ya...! Kamu mau minum apa ? "
" Teh panas aja...! " sahut Dimas.
Ashe berdiri dan menyusup lewat depan Dimas.
" Isssh.... berani pegang ya....! " toleh Ashe sambil menutup pantatnya dengan tangan. Pura - pura marah.
" Salaahmu...! Capeerrrrr muluuu.... " senyum Dimas.
Ashe mendengus pura - pura keaal. Ia keluar kamar dan menutup pintu. Di luar riuh bermain karambol. Ashe menuju dapur. Bu Fatimah malah nampak ngobrol sambil rebahan di depan tivi bersama Bu Izun. Silia tampak asyik dengan gawainya ikut bersantai di sofa menemani Bu Fatimah dan Bu Izun.
" Kamu belum tidur She ? " tanya Bu Fatimah.
" Belum Ma. Ini mana yang boleh dimakan ? " tanya Ashe dari dapur.
" Itu semua dibawa buat kamu Mbak. Jadi kamu boleh makan semua... " sahut Bu Izun.
Aahe tersenyum.
" Terima kasih ya Bu... " sahut Ashe.
" Sama - sama Mbak...! "
" Silia... tidur di kamarku yuk...! " ajak Ashe.
" Aku tidur sama Mamak aja Mbak...! Ada Bang Dimas...! " sahut Silia.
" Kamu nggak berencana ngusir dia ? " tanya Ashe.
" Bang Dimas kalem Mbak. Aku takut sama dia... " sahut Silia.
Ashe terkekeh. Ia selesai membuat teh dengan gelas besar. Hanya satu. Membawanya ke kamar sebari menenteng plastik berisi makanan yang tadi dia pilih.
Dimas menoleh saat Ashe membuka pintu. Ia langsung sigap berdiri dan membantu Ashe yang nampak kesulitan dengan mengambil gelas dari tangan Ashe.
" Ini panas Buuu....! " kata Dimas seraya meletakkan tehnya di meja.
" Kamu mintanya dingin atau panas sih...? " tanya Ashe sebari menutup pintu.
" Kalau malam tentu saja enaak yang panas.... " sahut Dimas.
" Apaaanya....? " sahut Ashe sebari duduk di samping Dimas.
" Teeehnya....! Kamu pikir apa sih ? " ucap Dimas.
" Ohhh....! "
Dimas menatap Ashe tersenyum. Menyonor pelan kening Ashe.
" Pikiranmu pasti yang lain ya...? "
" Enggak....! " elak Ashe seraya membuka kantong plastik dan mengeluarkan makanan hingga Dimas harus menggeser laptopnya.
" Banyak amaat.... " ucap Dimas menggeleng kepala. Namun justru Ashe menjejal makanan pada mulut Dimas.
" Enaaak nggak Bie... "
" Akuu tester... ? "
" Eheeeeem.... "
" Enak kan...? Suapin lagi dong...! "
Ashe menyuapi Dimas sebari memperhatikan lekuk wajah sempurna Dimas.
" Kenapa Buuuu ? "
" Apaa dulu pas kuliah ada yang suka denganmu ? " tanya Ashe.
Dimas menoleh.
" Adaaaa....! Tapi aku tak menanggapinya...! "
" Kenapa ? "
" Tidak tahuu. Cuma ngikut kata hati...! "
" Masa'...? "
" Iyaa. Meski kadang hati juga meronta ingin punya pacar...! "
" Ohhh...." Ashe tetap menatap Dimas.
Dimas menoleh dengan wajah cerah dan mendekatkan wajahnya. Menarik leher Ashe dan mengecup kening Ashe.
" Aku tak peduli berapa banyak mantanmu... " bisik Dimas membuat Ashe mendelik kesal dan memukul bahu Dimas.
Ashe salah tingkah dan kembali mengunyah makanan. Raut wajahnya jelas saja sewot. Dimas hanya tersenyum.
" Nggak papa Bu...! Aku akan tunjukan seleramu yang turun drastis pada para mantanmu itu... " goda Dimas.
Ashe melirik kesal dengan mulut tetap mengunyah.
" Kenapa kau tidak buka praktek aja ? " sungut Ashe.
" Praktek apa ? "
" Perdukunan loe itu... "
" Aku tidak suka mendukuni orang lain. Aku hanya suka mendukunimu saja...! " masih saja Dimas menggoda.
Ashe melirik kesal.
" Mafia mana yang jadi cenayang... ? "
" Mafiaaa yang ini... " tunjuk Dimas pada dirinya sendiri dengan gaya anehnya.
" Diiih....! Kau sekarang pegang laptop. Tapi di kerjaan pegang pel dan sapu...! "
" Nggak masalah. Yang penting hatiku tetap berpegang teguh pada Bu...! "
Ashe mencibir.
" Kau mau tidur mana Bieee ? " tanya Ashe.
" Tidur dikamarku.... " sahut Dimas.
Mulutnya tetap bisa menggoda Ashe meski tangan dan pikirannya fokus pada laptop.
Ashe menoleh dengan lirikan mata tajam. Dimas menahan tawa. Namun pertahanannya juga roboh. Ia menoleh dan mencium bibir Ashe. Lagi.
" Kalau kamu sudah ngantuk, tidur saja dulu...! Aku belum bisa menidurimu... " bisik Dimas.
Ashe memukul lengan Dimas keras saking keselnya.
" Kau ituu.... " sewot Ashe.
Dimas terbahak melihat wajah Ashe yang merona sebari mengusap lengannya. Ashe beranjak.
" Kamu mau kemana Buuu ? "
" Menghindari ciuman maut loe.... "
" Hahahhahhaaa.... hmmfffp.... "
" Nanti ku peluk saat tidurr.... "
" Main karambol aja sonoooo.... "
" Nggak mau...! Aku main sama Bu.... "
" Main apaaa ? "
" " Main satu ranjang " "
Ashe mendengus. Menutup diri dengan selimut.
" Pakaiaa piyamaa.... " seru Dimas.
" Nggak mau.... " sahut Ashe.
" Terus ini siapa yang mau beresin....? " tanya Dimas.
Ashe membuka selimutnya lagi dengan sewot. Dimas terkekeh. Ashe mendekat dan membereskan meja dan cemilan. Dimas menyeruput tehnya. Meraih dagu Ashe dan menyodorkan gelas agar Ashe minum.
" Kamu belum minum... " kata Dimas.
Ashe meminum teh Dimas. Dimas tersenyum.
" Manis ga ? " tanya Dimas.
" Lebih manis kamuuu.... " gantian Ashe yang menggoda.
Dimas meleleh. Ia terperangah tak bisa bicara.
" Kenapa aku jadi baperan gini... ? " keluh Dimas sebari meletakkan gelasnya.
Ashe tersenyum dan mendekat. Mencium pipi Dimas.
" Biar tambah baperrr.... " kata Ashe seraya mengambil Hpnya. Ia tak akan bangun tanpa alarm.
Dimas ambruk di punggung sofa saking saltingnya. Ashe kembali meninggalkan Dimas dan menuju tempat tidur.
" Buuuu.... kamu kebanyakan memberiku " makan malam ". Aku tak kuat lagiiii.... " kata Dimas. Ia mematikan laptopnya. Sementara Ashe menutup diri dibawah selimut.
" Kamu tidur di luar.... " teriak Ashe di balik selimutnya.
Tapi ternyata Dimas bukan keluar kamar. Langsung menindih Ashe.
" Kamu belum peluk aku.... " kata Dimas.
Ashe membuka selimutnya. Mengeluarkan dua tangannya dan memeluk leher Dimas. Dimas mencium hidung Ashe dan kening Ashe. Mereka bertatapan. Tersenyum malu.
" Selamat malam Bu... " Dimas kembali mencium kening Ashe dan berguling ke samping Ashe.
Ashe menoleh pada Dimas. Dimas juga menoleh pada Ashe.
" Tidurlaah...! Aku akan tidur di sofa... " kata Dimas sebelum beranjak.
Ashe tampak mengangguk. Dimas beranjak dan pindah ke sofa. Ashe terlelap. Dimas menutup gelas minumnya dengan selembar kertas. Ia mematikan lampu kamar sebelum berbaring di sofa. Tak lama dengkuran halus terdengar. Mereka terlelap di tengah bisingnya suara di luar yang sedang bermain karambol.