
Ashe meletakkan Hpnya setelah Dimas mematikan sambungan teleponnya. Ashe kembali fokus pada pekerjaannya. Selang sejam terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.
" Buuuu..... " Dimas membuka pintu. Tak ada sahutan.
Dimas masuk dan menutup pintu kembali. Tak ada Ashe di ruang tamu. Dimas melonggok ke kamar. Benar saja. Ashe tergeletak tak berdaya di atas kasur. Sesaat, Dimas di selimuti perasaan khawatir. Ia memperhatikan gerak nafas Ashe dan bernafas lega. Naik turun nafas Ashe terlihat teratur. Dimas tersenyum. Ia meletakkan plastik kresek yang dibawanya dan kemudian mendekati Ashe. Duduk memperhatikan Ashe dan mencium kening Ashe. Ashe mengeliat, membuka mata perlahan.
" Kamu udah pulang Bie ? "
" Eheeem....! Perasaan baru telpon...? "
" Heeh.. aku ngantuk banget...! " senyum Ashe memikat.
" Laptop nggak di matiin. Pintu depan nggak di kunci...! "
" Maaf...! Mana Hokbennya...? " todong Ashe sambil bangun.
Dimas tertawa.
" Kamu yang diinget hokben... " toyor Dimas pelan karena gemas.
" Kan aku laperr. Masak makan kamu.... "
" Bolehlah, mau makan yang mana boleh milih... " kedip Dimas nakal.
" Huuuu.... maumu.... "
" Mau kamu juga kalii...! Kalau nggak mau bagaimana bisa minta nambah terus... "
Ashe melotot kesal.
" Kamu yang nambah mulu...! " Ashe tak terima.
" Kan kamu juga mau ditambah... ! Malah dengan senang hati menerima siraman kenikmatan... "
"Apaan sihh....? " Ashe tersipu dengan wajah memerah. Ia langsung bangun dari kasur menghindari Dimas. Namun Dimas sigap menangkap tangan Ashe hingga Ashe malah ambruk lagi di kasur. Tepat di depan Dimas. Dimas tertawa senang dan langsung membungkam mulut Ashe dengan bibirnya.
" Eehhmmm.... manis sekali... " ucap Dimas penuh senyum hipnotis.
Wajah Ashe benar - benar panas. Jantungnya berdebar - debar tak karuan. Ashe memegangi dadanya.
" Kenapa ? " wajah Dimas berubah panik dan mengenggam tangan Ashe.
" Hatiku meleleh melihat senyummu... " ceplos Ashe sebari menyembunyikan mukanya dengan berguling ke samping.
Dimas tak bisa menyembunyikan tawanya.
" Kita suami istri...! Kamu bebas melampiaskan nafsu... " bisik Dimas nakal di telinga Ashe.
" Auu aahh... " kesal Ashe dan langsung kabur dari cengkraman Dimas saat Dimas lengah.
Ashe menyambar kantong plastik bawaan Dimas dan kabur ke depan. Dimas tertawa dan melepas blazzernya.
" Istri durhaka ya, suaminya bukan dilayanin duluu.... " gerutu Dimas bercanda tapi masih terdengar oleh Ashe.
Mendadak Ashe sudah berdiri di depan Dimas. Tangannya langsung meraih kancing kemeja Dimas. Dimas tersentak kaget.
" Mau ngapain Bu ? " belalak Dimas.
" Perkosa kamu... " Ashe nyleneh sambil terus melucuti baju Dimas.
Dimas tertawa tertahan. Ia memegangi kedua lengan Ashe. Menarik Ashe dan mencium keningnya.
" Maaf tadi bercanda...! Tapi perkosanya boleh serius kok... " ucap Dimas.
" Nggak mau... "
" Kenapa ? "
" Aku belum makan Bie...! Masak kamu mau makan aku terus.. "
" Haha...! Ya udah, sana makan dulu. Aku mau mandi, habis ini kita pulang ya... eet nggak. Aku makan kamu dulu ya... "
" Enggakk... "
" Hahhahha.... "
" Kamu udah makan...? "
" Belumlah Bu, kan aku nggak mungkin makan kalau kamu belum makan... "
" So sweeet banget kamu Bie.... " Ashe tiba - tiba mencium dada telanjang Dimas hingga Dimas terkesiap kaget melihat tingkah Ashe.
Ashe langsung kabur dengan senyum tipis di bibirnya. Dimas menatap Ashe penuh senyum.
Dimas meraih handuk dan berjalan ke kamar mandi. Ashe terlihat sedang membuat teh di dapur.
" Kamu beneran nggak keluar rumah Bu ? " tanya Dimas.
" Enggak....! "
" Kenapa ? " Dimas kepo aja di depan pintu kamar mandi.
" Maleees menghadapi hal tak terduga... "
" Hahaha....! Biasanya kamu nomor satu untuk urusan itu... "
" Udaaah sana mandi. Kelamaan aku bisa khilaf... " senggol Ashe.
" Haisss, aku suka khilafmu... " senyum Dimas pasang badan.
Bukan masuk ke kamar mandi, tapi Dimas malah menghadang Ashe. Membawa Ashe dalam pelukannya.
" Aku bawa teh panas Tuan, nanti ada yang ketetesan repot lho.."
" Kalau yang ketetesan punya kamu enak ya... ? " kerling Dimas.
" Tahu aaahhh.... " Ashe menggerakkan bahunya agar lepas dari cengkraman Dimas.
Dimas tertawa saja dan masuk kamar mandi.
" Sabunnya jangan disalahgunakan Bie... " kata Ashe setengah berteriak. Iseng.
" Haaaah.... " Dimas menganga di kamar mandi.
Tak menyangka istrinya mengatakan itu.
" Kamu pikir aku jomblo yang nggak punya buat tampungan...? " kesal Dimas saat ia keluar kamar mandi dan di dapati Ashe tengah membuka hokbennya.
Ashe hanya terkekeh - kekeh.
" Awas aja loe ya... " Dimas berlalu ke kamar.
" Nggak usah sok ngancam kayak ibu - ibu kompleks... " sahut Ashe.
Dimas tertawa dibuat - buat di dalam kamar.
" Pakaiin baju dong Bu.... " rengek Dimas iseng.
" Nggak mau, aku maunya dipakai sama kamu... "
😅
" Haaaah.... apaaaa ? " longok Dimas pura - pura nggak denger.
" Enggak.... "ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Dimas tersenyum nakal.
" Kamu baru di tinggal bentar doang udah berani godain mulu ya... " ucap Dimas sambil mengancingkan kemejanya.
Ia duduk di samping Ashe dan menyeruput teh bikinan Ashe.
" Kamu bisa bikin teh ! Berarti bisa masak juga dong Bu.." toleh Dimas saat Ashe menyodorkan hokben miliknya.
" Kalau nggak bisa ya percumah aku jadi CEO... "
" Hubungannya....? "
" Ya masak doang kok diragukan... !
" Aku nggak pernah liat kamu masak. Bibik mulu yang masak... "
" Aku akan pecat Bibik.... "
" Ya jangan dong...! "
" Katanya aku suruh masak... "
" Ya kita tinggal di sini...! "
" Oke, baiklah.... "
" Tapi kita pulang aja ke rumah.... "
" Laaah kenapa ? "
" Kamu itu punya sisi yang mengejutkan... "
" Mengejutkan gimana...? "
" Tak terduga... "
" Tak tahulaaah... " kesal Ashe karena Dimas plin plan.
Dimas tersenyum menghabiskan suapan terakhirnya setelah memastikan Ashe tak minta makanannya.
" Kamu suka aku gemuk atau kurus...? " tanya Dimas sebari membereskan bekas makannya.
" Kuruslaah...! Jadi aku tidak terlalu berat saat kamu tindih... "
" Haaaahhh..... " Dimas melongo tak percaya. " Hahahaha.....! Makannya sudah selesai, ayo buat aku kurus... " bisik Dimas di sela tawanya.
" Nanti malaam... " sahut Ashe penuh penekanan.
Ia berdiri dan membuang sampah di dapur. Ashe masuk kamar mengambil handuk dan pergi mandi. Dimas hanya memperhatikannya penuh senyum.
****
Ashe keluar rumah lebih dulu. Di warung tampak ibu - ibu rame seperti biasa. Mengawasi anak bermain dan ghibah seperti biasa.
Begitu pintu rumah Dimas terbuka ibu - ibu kompleks langsung menatap ke arah rumah Dimas. Apalagi kalau bukan bisik - bisik.
Sengaja, Ashe berjalan menuju warung. Otaknya iseng pingin ngerjain ibu - ibu.
" Selamat sore ibu - ibu... " sapa Ashe basa basi.
Padahal hatinya kesel dikatain waktu itu.
" Ehh, selamat sore ! Ini kayaknya perempuan yang waktu itu ya...? " sahut seorang ibu.
" Iya kenapa ? " Ashe berlaku sok cantik. Padahal aslinya emang cantik. Ashe mulai lenjeh.
" Bang, beli ini dong... " pinta Ashe sambil mengangkat cemilan dan menunjukkan pada abang tukang warung. Memberikan uang dan mengucapkan terima kasih.
" Eh Neng, situ emang siapanya Pak Dimas...? " tanya salah seorang ibu.
" Kenapa Bu ? "
" Situ istrinya Pak Dimas bukan sih ? " tanya ibu yang lain.
" Menurut Ibu gimana ? "
"Katanya Pak Dimas punya istri di kampung. Situ penampilannya kok nggak kayak orang kampung...! " kata ibu lain.
🙄 Ashe menghela nafas.
" Tapi Pak Dimas itu pacar saya Bu. Ibu tahu dari mana Pak Dimas sudah punya istri...? " pancing Ashe.
" Pak Dimas saat kita tanya waktu itu bilang sudah punya istri, tapi di kampung... " sahut ibu lain.
" Ihh Neng, situ pakai pelet ya. Jangan jadi perusak rumah tangga orang dong... "
" Ih ya gimana ya Bu, habis Pak Dimas ganteng sih orangnya. Duitnya juga banyak... " kompor Ashe.
" Ihhh, situ matre banget sih Neng...? Emang sih, Eneng cakep ! Tapi emang Eneng nggak mikirin gimana perasaan istri Pak Dimas di kampung... ? "
" Asal nggak ketahuan emang kenapa ? "
" Buuuuuuuu......! " geram Dimas bersedekap tangan. Udah feeling Ashe ngerjain ibu - ibu kompleks.
Ashe langsung menoleh nyengir. Ibu - ibu menatap ke arah Dimas dan tersenyum manis menyapa Dimas yang datang mendekat.
" Sore Pak.... " sapa mereka ramah membuat Ashe mendelik kesal.
" Sore juga Bu. Maaf ya, istri saya ini emang suka bikin onar. Kebiasaan di kampung... " Dimas menarik Ashe dan membuat ibu - ibu kompleks melongo kaget.
" Emang ini istri Pak Dimas yang dari kampung ya ? "
" Iya Bu, istri saya kan cuma satu... ! Emangnya ibu - ibu tahu saya punya istri berapa ? "
" Nggak kok Pak. Tapi kok istrinya nggak kayak orang kampung ya...? "
" Nggak Buk, cuma kampungan aja... " cengir Dimas diikuti lirikan Ashe tajam. Dimas tersenyum.
" Oh, nggak papa kok Pak. Kita ini juga lagi kenalan... " elak mereka.
" Baguslah kalau gitu Bu. Istri saya biar kenal sama ibu - ibu di sini.. ! " sahut Dimas sambil melirik Ashe seraya tersenyum.
" Ya sudah ya ibu - ibu. Saya mau ke rumah mertua dulu.... " imbuh Dimas.
" Ke kampung Pak ? "
" Enggak...! Ke Kompleks HNU... "
" Haaah, emang mertuanya tinggal di situ ? "
" Lah iya Bu. Ini istri saya anaknya Pak Fajar HNU... ! Cuma anak perempuannya ini di buang di kampung. Suka bikin kisruh soalnya... "
😱😱😱😱
Ibu - ibu langsung bengong.
" Apaan sihh...? " senggol Ashe. Ia berjalan menuju rumah lebih dulu.
Dimas tersenyum dan pamit ke ibu - ibu yang masih sibuk berpikir.
****
" Kamu ini... " ucap Dimas sambil masuk ke mobil. Ashe lebih dulu masuk.
Ashe hanya menunjukan barisan giginya.
" Mereka yang mulai Babieee.... "
" Kamu juga kenapa ngeladeni Babbbuuuuu.... " sahut Dimas tak mau kalah. Ia mulai menjalankan mobilnya.
" Mulutku gatel... "
" Tukang ghibah... "
" Biarin.... "
" Ku cium itu bibir... "
" Bibir mana ? " pancing Ashe.
Dimas melotot tak percaya.
" Bibir mana aja aku juga suka... " sindir Dimas.
" Sekarang....? "
" Kenapa kamu jadi nggak sabaran ? "
" Hehe... ! Habisnya kamu itu nggak nguatin sih Bie... " genit Ashe membuat tak pelak Dimas menoleh sekilas menahan senyum.
" Dasaaar buciiin.... "
" Biariiiin... ! Bucin juga sama suami sendiri... " kata Ashe tak berpaling dari Dimas.
Rasanya Ashe begitu jatuh cinta pada lelaki yang berstatus suaminya itu.
" Jangan menatapku kayak gitu... " ucap Dimas yang tengah fokus ke jalan
" Kenapa kamu begitu tampan Bie...? "
😱
" Kenapa kamu begitu sempurna...? "
😱
" Aku bahkan tidak percaya kalau kamu nggak pernah pacaran dengan wajah setampan itu...? "
Ciiiiiiitttt...
" Aduuuh Bieeee.... "
Dimas langsung melepas sabuk pengamannya dan menarik tekuk Ashe. Mencium bibir Ashe. Tak tahu tempat emang. Ashe terhenyak tapi tak menolak. Ia bahkan menikmati ciuman Dimas yang terasa hangat dan lembut.
Dimas melepas ciumannya dan menatap Ashe.
" Itu jawabanku... " senyum Dimas sambil mengusap kepala Ashe.
Ashe merona tak bisa berkata - kata.
Tiiiin tinn tiiin....
Dimas kesal. Mobil dan motor di belakangnya begitu berisik. Salah Dimas juga sih, berhenti tak tahu tempat. Ashe tertawa tertahan.
Dimas merenggut kesal dan kembali memasang sabuk pengaman dan menjalankan mobilnya.
" Berasa jadi pelakor sungguhan... " celetuk Ashe.
" Cobalah jangan comment terus... " sahut Dimas.
" Kan kena virus kamu... " Ashe tak mau kalah.
" Buu, kamu akan aku cium... "
" Kamu cuma ingin cium saja... " pancing Ashe membuat Dimas menghela nafas panjang.
" Kamu emang cepat belajar... "
" Belajar apaaa ? "
" Belajar jadi istri mafia.... hahha... "
" Tahu ahhh.... " sungut Ashe.
Dimas terkekeh membelokkan mobil ke sebuah gapura besar. Satpam mengangguk hormat. Dimas mengambil lajur kiri menuju rumah Ashe. Rumah asli Dimas sebenarnya.
Dimas memasukkan mobil pada sebuah rumah yang cukup besar dan mewah.
" Mau turun atau melanjutkan aksi pelakormu dulu. ..? " tawar Dimas mengejek.
" Di kamar lah lanjutnya...! Masak di mobil...! Nggak modal banget... " sahut Ashe sambil membuka pintu mobil dan turun.
" Haha... hffffppmmmm.... " Dimas tak dapat menahan tawanya dan ikut turun. Matanya terus mengikuti Ashe yang lebih dulu masuk rumah.
Seorang lelaki tengah baya datang penuh hormat.
" Mas Dimas , mau saya parkirkan mobilnya..? " tanyanya ramah.
" Oh iya Pak. Terima kasih ya...! Tuan sudah pulang ? " Dimas balik tanya.
" Belum Mas, nanti jam 20 : 00 wib saya baru jemput ke bandara... "
Dimas mengangguk mengiyakan dan menyerahkan kunci mobilnya.
" Terima kasih Pak... " angguk Dimas sopan.
Sang sopir mengiyakan. Ia begitu kagum dengan menantu di keluarga itu. Sungguh sangat baik dan sopan.
*****
Dimas masuk rumah dengan mengucapkan salam meski Ashe juga yang menjawabnya. Ashe tersenyum menunjukkan gelas teh besar.
" Manis nggak ? " tanya Dimas mendekat.
" Manis aku... " malu Ashe.
Dimas tersenyum mencibir.
" Aku akan makan lagi kalau manis.... " goda Dimas.
" Kelebihan ntar diabetes.... " Ashe menyodorkan teh panasnya.
Dimas menerimanya.
" Kamu nggak bikin diabetes kali...! Bikin ketagihan iyaaa... " sahut Dimas penuh godaan.
" Apaaan sihhh ? " Ashe berjalan ke kamar.
Dimas mengikutinya dan menutup pintu. Meletakkan gelas di meja beserta Hp dan dompetnya. Dimas duduk di sofa favorit mereka. Sementara Ashe tampak masuk ke kamar mandi.
Dimas menyalakan TV dan mulai menonton. Ashe membuka pintu perlahan dengan berbalut handuk dan langsung menyelinap di lorong lemari mereka. Ia ganti baju.
" Bie... mandilaaah.... " kata Ashe.
" Kamu udaaah ? " Dimas menoleh dari tempat rebahan favorit Ashe yang kini jadi tempat favoritnya juga.
" Udaah dong... "
" Kenapa nggak ngajak aku...? " Dimas melepas kancing kemejanya dan berjalan ke arah Ashe.
" Aku butuh tempat yang hangat, nyaman dan empuk...! Tidak di bak mandi.... " sahut Ashe menutupi dadanya dengan handuk.
Belum kelar pakai baju. Dimas berkerling nakal dengan bertelanjang dada.
" Kamu sungguh menggoda. Sini handuuknya.... "
" Nggak. Ambil yang lain.... "
" Itu sekalian yang udah dipakai... "
" Nggak usah maksa sih Bie...! Aku belum pakai baju... "
" Aku lebih seneng kamu nggak pakai baju...! Ini malam Jumat... " bisik Dimas menarik ujung handuk Ashe. Ashe mempertahankannya.
" Hubungannya apa ? "
" Hiiiisss....! Nggak usah pura - pura....! Sunah Rasul.... "
" Ckkk... itu nafsu....! " sungut Ashe yang masih mempertahankan handuknya.
" Liat kamu itu " macan " nya langsung semangat 45..." kedip Dimas.
Ashe melotot kesal.
" Balik badan dulu sih... "
Tanpa perdebatan Dimas balik badan. Ashe melepas handuk yang menutup dadanya. Belum sempat berbalik. Dimas lebih cepat membalik badan menyambar Ashe dan membawa ke pelukannya. Ashe membelalak kaget.
" Ya ampuuun....! Rasanya begini amat sih.... " ekspresi Dimas sulit diartikan. Memeluk erat Ashe. 🤣🤣🤣