Perfect Boy

Perfect Boy
73. DC Dadakan



Sejam kemudian Dimas, Ashe, Nasrul dan Dema tiba di Jakarta.


" Kompleks JAE..! " kode Ashe saat mereka berjalan ke pintu keluar.


Dimas masih saja merangkul pinggangnya. Dimas menoleh, menatap Ashe. Ashe menyunggingkan senyum termanisnya.


" Ya ampunnn, kamu seolah meluluhkan hatiku... " gerutu Dimas.


Ashe tertawa tertahan. Dimas meraih Hpnya. Menelepon Nasrul yang tengah mengambil bagasi bersama Dema.


Dimas : Kompleks JAE....!


Nasrul : Sudaaah siap Bos... "


Begitu saja jawaban Nasrul. Dimas langsung mematikan Hpnya. Faisal tampak melambaikan tangan di gerbang penjemputan.


" Gimana ? " tatap Ashe.


" Buat Nyonya apa sih yang enggak....! " sahut Dimas memasukan kembali Hp ke sakunya.


Wajah Ashe berbinar senang.


" Senangnya punya suami tajir, eh salah, mafia... " ucap Ashe.


Dimas menatapnya penuh senyum.


" Kamu yang tajir kaliii... " sentil Dimas di hidung Ashe.


" Kan aku yang ngabisin uang di dompetmu... " senyum Ashe.


" Tenang aja...! Nanti aku isi lagi yang banyak... " senyum Dimas.


Mereka sampai di pintu keluar. Faisal yang tadi penuh senyum menyambut keduanya melengos.


" Kenapa loe Bang Isal... ? " sapa Dimas.


" Keseel.... " cemberut Faisal.


" Kenapa....? "


" Hatiku tercabik - cabik liat kalian...! Aku bahkan belum pulang dan ketemu istriku... " sungut Faisal.


Nasrul dan Dema tertawa di belakang.


" Habis mengantarku, pulanglah...! Nasrul suruh booking hotel terbaik... " perintah Dimas.


" Haaaah.... serius....? "


" Serius Bang... ! Makanya cepet anterin kita...! Abis itu puasin - puasin jenguk anak " ...! Pasti anaknya udah kangen... " sindir Dimas.


" " Jenguknya " yang lama... ! Biar puas... " tambah Nasrul meledek.


" Jomblo itu tahu apa sih ? " balas Faisal.


" Gue punya pacar Bang Isal.... " bantah Nasrul tak terima.


" Pacar loe kan di Jogja. Loe sendirian di sini, itu sama artinya loe jomblo... " ucap Faisal seraya membantu membawa bawaan Nasrul dan Dema.


" Bodo ' amat....! " sahut Nasrul.


Ia bergegas membukakan pintu untuk Dimas dan Ashe.


" Pak Bosku manja sekarang... " celetuk Nasrul.


Dimas menatap Nasrul dengan pandangan membunuh. Nasrul nyengir. Dimas menahan pintu dan menyingkirkan tangan Nasrul. Ia menutup pintu dengan keras.


" Gue cuma manja sama Bubba.... " Dimas membukakan pintu depan dan mengisyatkan Ashe masuk. Sementara Ashe menatap Dimas dengan menahan senyum. Seneng banget kalau ngerjain orang, gumam Ashe.


" Saya bercanda Pak... " Nasrul jadi agak takut.


Tapi Dimas malah tersenyum minta kunci mobil pada Faisal.


" Masukin barang - barangku dan Bu Ashe ke bagasi. Setelah itu kalian pulang dan istirahat...! Aku akan bawa mobil sendiri... " kata Dimas.


" Mas Dimas yakin...? " tanya Faisal.


" Yakiin....! "


Faisal menyerahkan kunci Mazda pada Dimas.


" Hati - hati Pak...! " pesan Nasrul.


" Iya. Nanti kalau aku butuh sesuatu aku akan hubungi kamu... " sahut Dimas.


" Siap Pak... " sahut Nasrul.


Dengan berlari kecil Dimas masuk ruang kemudi.


" Kamu seneng banget ngerjain orang sih Bie...! " sambut Ashe.


" Ada lagi yang paling aku seneng... "


" Apaaa....? "


" Ngerjain kamu.... " senyum Dimas.


Ashe melengos kesal.


" Kenapa ? Mau dikerjain di sini juga ...? " pancing Dimas.


" Isssh..... nggaaak.... "


Dimas tertawa sambil mengusap rambut Ashe dan mulai menjalankan mobilnya.


Sementara Nasrul, Faisal dan Dema naik taksi menuju rumah mereka masing - masing.


Ashe menatap keluar jendela.


" Apa yang di luar lebih menarik ? " tanya Dimas dengan tetap fokus mengemudi.


" Aku tidak kuat menatapmu Bie... " toleh Ashe.


" Kenapa ? "


" Kamu begitu mempesona...! Rasanya aku hanya ingin mengurungmu di kamar... "


" Hhhahahahaha....! Aku siap di kurung...! Mau berapa lama...? "


" Selama - lamanya... "


" Waduuuh....! Berarti aku hanya bisa makan " paha, apem dan susu " dong.... " goda Dimas.


Ashe langsung mendelik karena otaknya langsung konek ke suatu hal.


" Maumuuu... ! " sungut Ashe.


" Jelas maulah Buuu....! Itu mengiurkan sekali tahu nggak... "


" Apaaa ? "


" " Apem " Hhahahaha.... "


" Hiiiisss....! "


Dimas masih tertawa. Ia memang sangat senang menggoda Ashe.


" Biee....!! "


" Apaaa sayang....? "


" Aku pingin soto mie Bogor.... " mata Ashe mengekor tukang soto mie yang membawa pikulan.


" Manaaa ? "


" Itu di belakang....! "


" Tunggu, aku cari tempat berhenti... "


Dimas memilih tempat agak longgar. Begitu mobil berhenti, Ashe langsung keluar. Dimas tersenyum tertahan melihat kelakuan istrinya. Dimas pun turun dan menyusul Ashe. Mereka sebenernya udah di depan kompleks JAE, Dimas tinggal menyeberang saja.


Dimas langsung membayar begitu Ashe menerima bungkusan plastik.


" Mau beli yang lain lagi...? " tanya Dimas usai membayar.


" Enggak...! Nanti saja pakai motor...! "


Dimas mengenyit. Lupa motornya di mana ! 😄. Ia mengikuti Ashe kembali ke mobil.


Mereka berbelok ke pintu masuk kompleks JAE. Agak lumayan jauh memang masuknya. Soalnya rumah Dimas hanya kelas karyawan biasa.


Dimas membelokkan mobil ke sebuah rumah yang masih sama meski telah tak di tinggalinnya beberapa bulan ini. Ashe tak langsung turun dan menatap sekeliling.


" Nggak mau turun ? " Dimas mengusap pipi Ashe.


" Ada yang tinggal disini ya...? " toleh Ashe.


" Sekarang nggak ada...! Kan Nyonya rumah mau pulang... " tatap Dimas lengkat.


" Haaaahhhh.... " Ashe jadi **n sendiri.


Dimas tersenyum tertahan menyentil hidung Ashe.


" Udah, ayo turun... " Dimas melepas sabuk pengamannya sendiri kemudian sigap melepas sabuk pengaman Ashe.


" Tunggu Bie...! " tahan Ashe menarik lengan Dimas yang hendak membuka pintu.


" Iya sayang....! Sabar dong, jangan disini...! "


" Hiiissh... apaan sih...? " tepuk Ashe.


Dimas tertawa, " kenapa Bu ? "


" Adakah yang kamu usir dari sini ? " tanya Ashe membuat Dimas tertawa. Ia tak jadi membuka pintu mobil.


" Kenapa kamu jadi sensitif... ? " senyum Dimas.


" Haiss Bie...! " sungut Ashe.


Dimas mendekat dan mencium bibir Ashe.


" Ada orangnya. Tapi udah diusir... " kata Dimas sesaat setelah melepas ciumannya.


Ashe melonggo tak percaya.


" Udaah, ayo turun. Kita lihat dan nikmati seperti apa rumahnya...! " ucap Dimas.


" Haaaah, memangnya apa yang bisa di nikmatin ? " Ashe masih saja bertanya.


" Tubuhmu... " kerling Dimas nakal membuat Ashe mendengus kesal. Dimas terkekeh pelan.


Ia turun dan membukakan pintu untuk Ashe. Ia menarik tangan Ashe dan menuntun ke teras. Sudah menjelang malam. Dimas mengambil kunci di bawah pot. Masih selalu ada di sana. Ia medorong bahu Ashe dan menyalakan lampu.


" Ada yang beda....? " tanya Dimas.


Ashe tersenyum merentangkan tangan menghirup udara segar di rumah itu dan duduk di sofa tamu. Dimas menyalakan semua lampu.


" Iya. Tapi sekarang pacar ini bisa ku " pakai ".... " ucap Dimas gatel tak menggoda Ashe.


" Memangnya aku baju...? " Ashe bangun lagi dan langsung menuju dapur. Ia melihat ada yang berbeda. Bangunan dapur telah di rehap dan tampak lebih luas dari sebelumnya. Perabotannya juga lengkap.


" Bie....? " panggil Ashe seraya mengambil piring.


" Kenapa Bu ? " Dimas tampak keluar dari kamar setelah menyalakan lampu kamar.


" Siapa yang menempati rumah ini....? " Ashe kembali lagi ke ruang tamu dan duduk.


Dimas ikut duduk di samping Ashe.


" Sebenernya emang mau ditempati orang. Udah di beli orang dan baru selesai rehap. Rencana awal mereka akan pindah ke sini besok pagi, taapppiiii.... berhubung si Nyonya mau rumah ini, jadi Nasrul sejam pun bisa berubah jadi DC dadakan yang bisa ngusir orang yang tak punya utang sekalipun.... " jelas Dimas seraya menatap Ashe.


Ashe langsung terkesima dan refleks memeluk Dimas.


" Ahhhh, aku berasa jadi tersanjung... " sahuf Ashe penuh kebahagiaan.


Dimas tersenyum menyambut pelukan Ashe dan mengusap. rambut Ashe.


" Eisssst... itu tidak gratis lho....! " Dimas berbisik di telinga Ashe penuh godaan.


Ashe melonggarkan pelukannya.


" Kamu mau apa ? Aku turutin...! " kata Ashe mantap menatap wajah Dimas.


Dimas tersenyum menatap Ashe.


" Yakinnn....? " tatap Dimas balik.


Ashe mengangguk.


" Full service.... " goda Dimas membuat Ashe tersipu dan menghindar dari hadapan Dimas. Namun Dimas menarik pinggangnya dan menatapnya lagi.


" Ihh, nantiii....! Aku belum mandiin...! " elak Ashe.


" Nggak usah mandi, nanti aku mandiin... " goda Dimas.


" Aku pingin makan dulu.... "


" Tapi aku pingin makan kamu... " masih saja Dimas menggoda.


Ashe cemberut karena kesal. Dimas tertawa tertahan. Ia mencium kening Ashe.


" Maaf merepotkanmu... " kata Ashe.


" Tidak, katakan saja apa yang kamu mau Bu, aku akan menuruti semuanya. Terutama kalau kamu ingin anak.... " kedip Dimas.


Ashe menepuk Dimas malu.


" Kenapa kamu itu mesum sekali. Pikirannya tidak lain selain " itu " ya... " Ashe menatap kesal.


Dimas tertawa pelan menatap Ashe. Ia membetulkan rambut di kening Ashe.


" Cepet makan sotomu...! " titah Dimas.


Ashe mengiyakan dan membuka bungkusan plastiknya. Dimas membantu menuangkannya.


Ashe berbinar senang sesaat, namun mendadak suram lagi.


" Kenapa ? " Dimas ini sangat peka.


" Ini tidak akan kenyang... "


" Hahhahaha....! Ya sudah, kamu makan punyaku juga... " usap Dimas dipundak Ashe.


Ia menyodorkan piringnya. Ashe menatap Dimas.


" Makan dulu, baru bilang kenyang atau tidak.... " ucap Dimas mengambil sendok dan menyuapi Ashe.


Ashe membuka mulut. Ia mengangguk - angguk.


" Enak Bie... " kata Ashe.


" Ya udah, kamu makan dulu. Aku bawa masuk barang - barangnya... " Dimas beranjak keluar.


****


" Pak Dimas yaaa.... ? " sapa seseorang dari jalanan.


Dimas menatapnya.


" Iya. Ini saya Pak. Patroli ya Pak ? " sapa Dimas balik.


" Iya. Bapak pindah sini lagi...? " tanyanya lagi.


" Iya Pak. Istri saya maunya di sini...! " sahut Dimas.


" Oh, gitu ya...! Baiklah, selamat malam Pak... " salamnya kemudian berlalu.


Dimas meniyakan dan membuka bagasi. Menurunkan koper dan tas Ashe. Ia kemudian masuk lagi dan membawanya ke kamar.


" Siapa Bie ? " tanya Ashe.


" Mantanmu.... " Dimas duduk dan melihat Ashe menghabiskan soto di piringnya.


" Heeeeh.... " mata Ashe membulat kesal.


Dimas terkekeh.


" Di makan Bie...! Aku nggak rakus - rakus amat kok... "


" Iyaaa....! " Dimas mengambil sendok Ashe dan mulai makan.


Ashe beranjak mengambil minum. Tapi bingung sendiri di depan kulkas.


Dimas tertawa.


" Kenapa Bu....? " Dimas tak bisa menahan tawa melihat istrinya kebingungan.


" Ini kulkasnya rusaaaak....? " cecar Ashe.


" Hahahahaha.... iya....! " sahut Dimas.


Pasalnya tak ada apa pun di kulkas sama sekali.


" Aku minum apaaaa ? "


" Minum air kasih sayangkuuu.... " goda Dimas.


Ia beranjak ke dapur dan membuka kardus air mineral. Ashe melongo menatapnya.


" Berasa sepasang suami istri yang baru diusir dan penuh ujian.... "


" Hahahaha....! Jaga kredibilitasmu makannya.... " sodor Dimas setelah membuka tutup botol untuk Ashe.


" Enaaak aja. Kredibilitasku selalu baik...! " Ashe kembali duduk dan menunggu Dimas menyelesaikan makan.


Kemudian Ashe mencuci piring. Sementara Dimas ke kamar mandi bersih - bersih tubuh meski tak mandi. Ia keluar dan hanya berbalut handuk.


Ashe tengah memasukkan baju kembali ke lemari yang kosong. Yang sempat dikosongkan Dimas.


" S****k dong Bu.... " pinta Dimas.


Ashe menoleh kaget. Masih saja terpesona dengan penampilan Dimas.


Dimas tersenyum dan mendekat.


" Oh iyaaa, nggak usah Bu....! " dekap Dimas yang langsung menempel pada tubuh Ashe dari belakang.


" Bieee.... "


" Sabaaar dong....! " Dimas meringsek mengendus leher Ashe.


" Biee, geli tahuu ahh.... "


" Enak kaliii...! " masih saja Dimas mengendus.


" Kenapa kamu itu suka sekali mengendus...! " kesal Ashe.


Suaminya bak kucing piaraan yang suka ngusel majikan.


" Kamu ingin drakormu....? " Dimas malah memberi tebakan.


" Haaaah....? "


" Haah heeeh haaah heeeh.... " Dimas masih aja mengendus leher Ashe, bahkan tangannya sibuk mencari mainan di atas.


Ashe menepuk tangan Dimas yang masuk di bajunya.


" Apaan sih Bie...? Drakor apa ? Drakorku banyak...! "


Dimas tak menyahut dan tangannya makin nakal. Sudah pindah tempat. Apapun alibi Ashe tak dapat menghentikan aksi Dimas.


Dimas mengatur nafasnya dan duduk dikasurnya yang cuma muat berdua. Ashe menarik selimut menutupi badannya. Badannya langsung lemes dan matanya begitu mengantuk. Dimas menoleh tersenyum.


" Itu baru satu ronde Bu...! " kerlip Dimas nakal.


" Tahhuuu ah.... " Ashe membulatkan mata tak percaya.


" Satu ronde lagi ya...! " Dimas ngelunjak.


" Bie... satu rondemu itu 2 jam... " Ashe memiringkan tubuhnya menghadap Dimas.


Bokongnya terasa ngilu. Dimas terlalu antusias. Iyalah, pengantin baru... 😂.


Dimas mengambil handuk yang tadi di lemparnya dan kembali membelitkan di pinggangnya.


" Mau ke kamar mandi nggak ? "


" Yuukkk.... " Dimas mengulurkan tangan dan menarik Ashe yang bertingkah tak punya tulang. Begitu lemas.


" Bajuku mana ? " tanya Ashe manja.


" Nggak usah pakai baju.... " tarik Dimas sedikit memaksa.


Ashe memanyunkan bibirnya. Dimas memburunya cepat. Mencium bibir Ashe dan menyingkap selimut. Mengangkat tubuh Ashe cepat. Ashe merasa wajahnya panas dan langsung menyembunyikannya di dada Dimas. Tangannya mengalung di leher Dimas. Dimas tersenyum sebari mengangkat Ashe.


" Nggak usah maluuu....! Tiap malam aku menjamahnya... " kedip Dimas dengan mata nakal menunjuk sesuatu yang begitu menggodanya.


Dimas susah payah menelan salivanya. " Macan " nya bangun lagi.


Dimas berjalan cepat. Dengan kakinya ia membuka pintu dan menurunkan Ashe perlahan. Ashe tak berani menatap Dimas. Tapi bukan Dimas kalau tak bisa mencairkan suasana. Tangannya iseng menyentuh " mouse " Ashe hingga Ashe menoleh dengan tatapan membunuh. Dimas tertawa senang.


" Jangan jail Bie....! Ntar " macan" mu bangun... " keluh Ashe seraya membersihkan tubuh meski tak mandi.


" Memang udah bangun....! " sahut Dimas dengan tangan jail meski lembut.


" Dia minta makan lhoo.... " imbuh Dimas melepas handuknya.


Ashe tersenyum tertahan. Rasanya Dimas makin lama makin modus.