
" Buuuu....! Berhentilah menatap layarmu itu... " ucap Dimas yang keluar kamar mandi hanya berbalut handuk sepinggang.
Ashe masih duduk disofa favorit bersila tanpa menoleh. Ia masih sibuk dengan sesuatu.
" Iya, bentar... " sahut Ashe tanpa peduli.
Dimas penasaran. Ia tak jadi mengambil baju tapi malah berjalan mendekati Ashe. Mengintip apa yang dilakukan Ashe.
" Hhhmmm... Aku lebih romantis dari A - Bin... " celetuk Dimas sambil berkacak pinggang.
" Benarkah...? " toleh Ashe dengan tangan iseng.
" Issssh.... " Dimas menepisnya.
Ashe terkekeh tanpa rasa bersalah.
" Ambilin bajuku... " kata Dimas memegang handuknya erat karena tangan Ashe iseng di udara menggoda Dimas.
Sasarannya yang jelas handuk Dimas.
" Buuuu.... jangan mulai deh...! "
" Hahhaha....Iya... " Ashe beranjak dari duduknya. Berjalan ke lemari, namun Dimas menarik tangan Ashe cepat dan langsung mencium bibir Ashe.
Ashe menutup mulutnya kaget. Ashe dapat merasakan tubuhnya menempel pada Dimas. Dimas menarik pinggang Ashe dan merapatkan tubuh Ashe erat.
" Lebih romantis mana aku atau A - bin...? " tatap Dimas.
" Kamuuuu... " sahut Ashe meronta.
Dimas tertawa.
" Lepaaaas Bie... atau ku buat kamu mandi lagi...? " ancam Ashe.
" Bagaimana caramu....? " tantang Dimas.
Ashe berjinjit dan mencium bibir Dimas, namun tangannya menjalar ke dada Dimas. Dimas kegelian. Ia langsung melepaskan diri dan mengacak rambutnya. Sewot dan berjalan ke kamar mandi.
" Hahhahaha.... " Ashe menutup mulut begitu lirikan Dimas membungkamnya.
" Liat aja naanti ya.... ! Ku buat kau tak berkutik " kata Dimas seraya masuk ke kamar mandi lagi. Menutup pintunya keras.
Sentuhan Ashe memporak porandakan jiwa lelakinya. Ashe terkekeh - kekeh seraya berjalan ke lemari. Menyiapkan baju Dimas.
Setengah jam kemudian Dimas keluar kamar mandi. Jelas saja dia mandi lagi. Ashe tersenyum menyambutnya tanpa rasa bersalah. Muka Dimas masih cemberut tapi terasa begitu tampan bagi Ashe.
" Kenapa kau tampan sekali...? " Ashe menangkupkan tangannya pada pipi Dimas.
" Jangan bikin ulaaah.... " Dimas menghindar.
Ashe terkekeh melepaskan tangannya dan mengambil handuk. Berjalan ke kamar mandi. Dimas menarik tangan Ashe.
" Aku kedinginan.... " kata Dimas.
" Nggaaak....! Kalau kau sentuh aku. Kamu akan mandi lagii... " ancam Ashe.
" Hhahahaha... " Dimas melepaskan tangannya. Meraih baju dan memakainya saat Ashe di dalam kamar mandi. Kemudian keluar kamar Ashe.
Hari sudah mulai malam. Pak Fajar dan Pak Kibul nampak ngobrol di ruang tivi. Bu Izun, Silia dan Bu Fatimah sibuk di dapur. Mereka menyiapkan makan malam. Rozi sibuk di depan laptopnya.
" Mana Ashe Dim ? " tanya Pak Fajar.
" Baru mandi Pa... " sahut Dimas sambil duduk.
" Ya ampun...! Dari tadi ngapain dia ? "
" Nonton...! " sahut Dimas. Ia mengeluarkan Hpnya.
" Bang, itu datanya udah ku kirim ya... " kata Rozi yang duduk bersila tak jauh dari Dimas.
" Iyaaa.... "
" Heeeh. Coba kamu berhenti dari menatap laptopmu itu ! Kamu ngapain sih ? " tanya Pak Fajar pada Rozi.
" Ngerjain tugas Papa.... " sahut Rozi.
" Sok sibuuuk.... " celetuk Pak Kibul.
" Bukan gitu Pak...! Bapak nggak liat, OB di sampingku ini sangat kejam....! "
" Kejam juga baik hati Ozeen... " sahut Ashe tiba - tiba.
" Kejam lagi Mbak Asheee.... " ucap Rozi membalas membuat Pak Fajar tertawa.
Ashe menuju dapur dan ikut membantu para ibu - ibu yang sibuk disana.
Tak lama mereka berkumpul dan makan malam bersama.
****
"' Baiklah, Pak Fajar ! Aku kesini karena memang ada tujuan tertentu. Jadi langsung saja ya. Aku bermaksud melamar anakmu Ashe untuk anakku yang pertama Dimas.... " kata Pak Kibul saat mereka berkumpul setelah makan malam.
" Ehhmm... tuh, sekarang dilamarnya resmi tuh... " celetuk Dimas sambil menyenggol lengan Ashe yang duduk disebelahnya.
" Di jawab She...! Diterima atau tidak lamarannya...? " tatap Pak Fajar.
" Pokoknya harus diterima... " kata Dimas.
Ashe menoleh.
" Kamu melamar atau memaksa ? " tatap Ashe.
" Memaksa menerima lamaran ! " sahut Dimas.
Ashe mendengus kesal. Masih saja Dimas menggodanya.
" Ayo jawab Bu....! " desak Dimas.
Pal Kibul tersenyum.
" Gimana Mbak Ashe ? Diterima atau tidak ? " tanya Pak Kibul.
Ashe tersenyum.
" Iyaaa Pak... " sahut Ashe.
" Iyaaa apaaa ? " senggol Dimas.
" Iyaa. Diterima...! " ucap Ashe.
" Terima apaa ?? " cecar Dimas.
" Isssh.... "sewot Ashe.
" Hmmmpttt.... " Ashe membungkam mulut Dimas. Dimas menahan tawanya.
" Asheee.... kamu ini ya...! " kata Bu Fatimah.
Ashe melepas tangannya. Dimas tertawa namun merangkul pundak Ashe.
" Cuma, saya punya satu permintaan " kata Ashe.
" Apa itu Mbak ? " tanya Pak Kibul.
" Aku maunya nikah di kampung aja Pak. Di sini nggak usah ngadain resepsi...! " kata Ashe.
" Kamu serius ? " tanya Pak Fajar.
" Iyaa Pa... " sahut Ashe.
" Ya sudah. Bang Kibul cari hari ya...! Kita adain acara pernikahan mereka di kampung saja...! " kata Pak Fajar.
" Baiklah. Kalian beneran mau nikahannya di kampung ? " tanya Pak Kibul pada Ashe dan Dimas.
" Aku mau saja. Dimana saja, asal nikahnya sama Bubba... " tatap Dimas.
Ashe tak menjawab dan hanya membalas tatapan Dimas.
" Kenapa ? Kamu nggak mau nikah sama akuu...? " tanya Dimas.
" Terus gue suruh nikah sama siapa ? Ngacau aja...! "Ashe mencubit perut Dimas.
Dimas menahan tangan Ashe.
" Mau Ashe gimana ? Beneran nggak mau ngadain resepsi juga di sini...? " tanya Bu Fatimah.
" Nggak usah Ma. Jadi satu aja di kampung...! " sahut Ashe.
" Beneran, kamu nggak ingin nikahan yang mewah...? Di gedung ?" tanya Dimas.
" Enggak. Aku mau yang sederhana saja. Nggak ribettt... " sahut Ashe.
" Ya sudah...! Deal ya...? " tegas Pak Fajar.
" Iya Pa...! " sahut Ashe.
" Terima kasih Bang... " toleh Pak Fajar.
Pak Kibul tersenyum.
" Sama - sama....! Terima kasih juga kalian sudah menjaga Dimas....! " kata Pak Kibul.
" Aku seneng Fat...! Kita jadi keluarga sekarang. Kita besanan... " kata Bu Izun.
" Iyaa Mbak. Aku juga seneng. Aku punya besan sekarang.. " ucap Bu Fatimah.
" Nggak nyangka, keinginanku mau jodohin Mbak Ashe ternyata dikabuliin...! " sahut Bu Izun.
" Kita bakal punya cucu Mbak.... " nah, Bu Fatimah mulai halu.
" Iyaa. Satu kampung bakal geger saat aku punya cucu. Cowok yang ganteng... " sahut Bu Izun.
" Nggak bisa. Bapak maunya cewek Mak. Gantengnya bisa nyaingin Bapak kalau cowok...! " sela Pak Kibul.
" Nah lho, Pak Dukuh dan Bu Dukuh mulai halu.... " ucap Rozi jengah melihat kelakuan orang tuanya.
Pak Fajar dan Bu Fatimah hanya tertawa. Dimas hanya nyengir.
" Yang mau nikah aja santai aja kok. Situ yang pada ribut punya cucu... " celetuk Dimas.
" Apaaa ? Emang iya Bu. Coba aja. Ntar mereka juga minta anak kembar, yang satu taruh kampung, satu taruh sini...! " kata Dimas.
" Nah, itu kamu tahu inginnya Mama...! Biar kita nggak rebutan.... " sahut Bu Fatimah.
" Apaaa sih Ma...? " kata Ashe.
" Papa nggak request sekalian...? " tanya Dimas.
" Papa reques Rozi aja. Kasian kamu banyak di requestnya...! " sahut Pak Fajar.
" Jangan macem - macem Pa. Aku bisa dibunuh mereka berdua... " lirik Rozi pada Dimas dan Ashe.
Dimas dan Ashe terkekeh.
" Dia udah punya inceran Pa. Tenang aja. Ozeeen nggak bakal lari kemana !! " kata Ashe.
" Stttt... diem dong...! Pdkt aja belum. Baru ngelirik doang... " ucap Dimas.
" Benarkah Zi...? Siapa perempuan itu. Papa bantu dapetin... " kata Pak Fajar.
" Nggak usah Pa. Biar dia usaha sendiri... " sela Dimas.
" Apaaa sih Bang....! Loe aja di bantuin Papa buat dapetin Mbak Asheee..... " sengat Rozi.
" Enaaaaaak ajaa.....! Papa hanya ngebantu 1 %, sisanya Bu yang ngelirikkk... " sahut Dimas tak terima.
" Apaaa sih....? Kenapa gue dilibatin juga...! Itu gara - gara teh dalam gelas besarmu itu dan selipan kertas kecil itu.... " Ashe ikut tak terima.
" Naaahhh.... tuh. Abang ngasih jampi - jampi ya ? Abang ke dukun ya...? Pakai selipan apa ituuu ? " tuduh Rozi.
" Heeeeh... ucapanmu itu lebih tajam daripada pedang samurai, tahuuu takkk....?? " balas Dimas.
Pak Fajar, Bu Fatimah, Pak Kibul dan Bu Izun menatap anak - anak mereka heran.
" Heehhhh....! Pappa pingin Q & A, Ashe dan Dimas ! Jawab yang benerr....! " sela Pak Fajar menghentikan perdebatan mereka.
" Dimas sama Ashe, siapa yang suka duluan...! Tunjuuuukkkk.... "
Dimas dan Ashe saling lirik. Tapi menunjuk diri mereka sendiri. Para orang tua tertawa tertahan. Rozi dan Silia ikut terkekeh melihat kakak mereka bak anak SMA tertangkap basah pacaran.
" Dimass.... liat Ashe pertama dimana ? "
" Pas peresmian gedung baru di Surabaya...! Dua tahun yang lalu " jawab Dimas.
" Tapi aku nggak liat kamu... " kata Ashe.
" Karena aku nggak mau naik podium. Kakiku kesleo pas persiapan peresmian... "
" Kenapa kamu bisa tahu aku anaknya Papa....? Papa nggak ngenalin kamu lho... ? " heran Ashe.
" Feeeliiing.... " sahut Dimas seraya tersenyum.
" Heeeh... yang Q & A itu Papaa.... " sela Pak Fajar, " Ashe... liat Dimas pertama dimana ? "
" Di kantor...! Hari pertama kerja. Dibawaain teh pakai cangkir kecil... " sahut Ashe.
" Dan kamu melirikku kan ? Hayo ngebatin apa kamu ?? " ucap Dimas menyentil Ashe.
" Apaa sihh...? " wajah Ashe memerah.
" Kamu memujiku kan. Aku tampan, rapi dan maskulin... heeeeee... dengan muka jutek pulaa..." terkah Dimas.
" Diiiiih.... " Ashe melototi Dimas. Itu memang kata pertama dan sangat berkesan saat melihat Dimas.
" Cenayang loe belum sembuhhh.... ? " sewot Ashe.
Dimas terbahak.
Bu Izun dan Bu Fatimah tertawa.
" Berarti Dimas duluaaan yang sukaaa..... " kata Bu Fatimah.
" Iyaaa dong Maa...! Dua tahun baru ketemu lagiii....! Disuruh jadi OB seminggu, terus balik ke Surabaya. Aku udah feeling, Papa punya niat terselubung, makanya aku gerak cepat... " sahut Dimas.
Pak Kibul dan Pak Fajar tertawa.
" Siapa yang kangen duluan....? " tanya Pak Fajar lagi.
Dimas tersenyum langsung menunjuk Ashe yang masih berpikir untuk menjawab. Ashe menoleh.
" Benarkan ? Kamu punya pacar tapi selalu kangen aku...? " senyum Dimas..
" Dieeem...! " sewot Ashe membuat Dimas terbahak - bahak.
Semua tertawa melihat Ashe cemberut.
" Siapa yang bucin....? " tanya Pak Fajar lagi.
Dimas menunjuk Ashe.
" Apaaa buktinya ? " tanya Ashe memandang Dimas.
" Buktinya kamu mau jalan dengan orang yang bukan pacar kamuu.... ! Ngeleyot tak jelas. Kamu bisa tidur setelah ngomel - ngomell sama aku kan ? " sahut Dimas.
" Ngawuuuur....! Itu aku udaaaah putusss....! "Ashe ngotot.
" Beluuuuum....! Aku yang membantumu putusss.... " kekeh Dimas.
Ashe menghela nafas kalah. Ingat ia selalu dikhianati dan tak bisa tidur kalau belum ngocehin Dimas.
" Pokoknya mau tidak mau, Bu harus menikah denganku... " rangkul Dimas tanpa rasa sungkan.
" Kamu ini ngajak nikah kenapa maksa...? Modusmuu itu melekat sekali yaaa....? "
" Iyaaa dong....! "
" Aku dilamar...! Terus tanganku tetap kosong tuhhh.... " pancing Ashe seraya mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari - jarinya.
Dimas tersenyum.
" Kan aku bilang, aku lebih peka dari A - Bin...! Apaann A- Bin....? Lewaaaat dia mah....! " kata Dimas sambil mengambil sesuatu di kantongnya. Menunjukkan sebuah cincin.
" Ayo pakaiin Dim. Itu tanda pengikat lho... " kata Bu Izun.
" Iyaa. Ayo fotoin Zi... " kata Pak Kibul.
" Iya Pak... " kali ini Rozi nurut.
Dimas memasangkan cincin di jari manis Ashe.
" Cuma satu doang...? " Ashe menglunjak.
" Tentu saja tidaak...! " Dimas mengambil sesuatu lagi di kantongnya. Satu cincin lagi dan memberikannya pada Ashe dan mengulurkan tangan kirinya.
Ashe tersenyum.
" Dimas sekarang calon suami kamu She, bukan ajudan... " sindir Bu Fatimah.
Ashe melirik tajam mamanya yang tampak terkekeh. Dimas tertawa.
" Sampai kapanpun juga bakal jadi ajudan Ma...! Ajudan cintaa.... " sela Dimas menggoda Ashe.
Ashe tak menjawab karena terpojok. Ia tertunduk malu dengan menahan senyum senangnya. Ia memang jatuh cinta begitu melihat Dimas dibalik seragam OBnya.
Dimas tersenyum melihat sikap Ashe. Ia menarik tangan Ashe dan memeluknya. Semua bersorak menggoda mereka berdua.
" Heeeeh.... sadarrr....! Di sini ada jombloo dan anak dibawah umuuuuur.... " sindir Rozi setengah berteriak.
Dimas melepas pelukan Ashe.
" Bodo amaat.... " sahut Dimas.
Ashe hanya tertunduk malu menahan senyum bahagianya. Dimas merengkuh bahu Ashe.
" Nggak usah malu Bu, Ozeen itu lebih malu - maluin.... " kata Dimas.
" Biarinn aja. Yang penting gue loyal sama loe Bang...! " sahut Ozen.
Mulut dia tak berhenti mengunyah.
" Heeeeh.... mamak itu beli buat Mbak Ashe...? Kenapa kamu yang doyan banget...? " semprot Bu Izun.
Rozi mendelik sebal. Bu Fatimah terkekeh.
" Udaah, biarin aja sih Mbak. Orang makanan banyak ini...! " kata Bu Fatimah.
" Iya sih Mak. Biar dia gemuk, biar dia nggak laku... " timpal Pak Kibul.
" Baapak ini, coba nggak musuhan sama aku sehari aja...! " keluh Rozi.
" Muluuut Bapak gatel kalau nggak ngatain kamu..." sahut Pak Kibul.
" Abang aja nohhh.... "
" Abangmu nggak bisa diceng - in sih. Dia terlalu kalem... " kata Pak Kibul.
Pak Fajar tertawa. Ashe melirik Dimas yang nampak santai.
" Jangaaan salah Bang...! Dimas itu raja nge - ceng - in orang. Abang aja yang terlalu lama pisah sama dia. Jadi Rozi jadi tumbalnya... " kata Pak. Fajar.
Rozi nyengir. Tetap mengunyah.
" Malam ini kita mau main apa ? " tanya Pak Fajar.
" Gapleee atau karambol...? " Rozi malah balik tanya.
" Karambol aja... " sahut Pak Kibul.
" Dimas mau ikutan....? " tanya Pak Fajar.
" Nggak Pa...! Aku mau nyelesain laporan rapat dulu... " sahut Dimas.
" Bilang aja, Bang Dimas mau berduaan sama Mbak Ashe.... " sela Rozi.
" Iyaaalah....! Besok dia akan berduaan sama utusan ARASA.... " sindir Dimas.