Perfect Boy

Perfect Boy
60. Pasangan Sehati



Dimas membuka mata. Lengannya terasa pegal. Kepala Ashe menindihnya dan membuat tangannya kram. Ia merasakan sesuatu yang ganjil. Dimas mengangkat kepala. Di bawah selimut Dimas merasa tangan Ashe menyusup nyaman membuatnya tiba - tiba langsung pening. Dimas menghela nafas, tak berani menarik tangan Ashe dari sana. Dimas menatap wajah Ashe yang tepat di depan mukanya. Terasa begitu manis penuh kepolosan. Ashe tidur dengan sangat pulas. Dimas tersenyum dan mencium kening Ashe hingga Ashe mengeliat dan membuka mata pelan.


" Udah pagi Bie...? " tanya Ashe pelan.


" Sudah. Alarmmu sudah berbunyi terus dari tadi... " senyum Dimas.


Ashe malas membuka mata. Namun sesaat ia mengerjab kaget dan langsung menarik tangannya. Dimas terkekeh.


" Kenapa Buu ? " tanya Dimas pura - pura tak tahu.


" Nggak papa...! " sahut Ashe langsung memungungi Dimas. Wajahnya terasa panas menahan malu. Ashe menutup mukanya dengan selimut.


Dimas tersenyum dan setengah bangun. Menarik selimut Ashe.


" Kenapa ? Madep sini sih....! Kamu tanggung jawab lho..! " Dia " udah siap tempur... " tarik Dimas.


" Medan perangnya lagi banjir... " sahut Ashe terpaksa menghadap arah Dimas karena sang pacar menarik pundaknya memaksa menghadap Dimas.


" Terus kenapa bisa nyusup ke situu...? " tatap Dimas.


" Hehehe.... " Ashe nyengir.


" Udah tahu aku pingin...! Kamu malah tambah bikin godaan... "


" Hehehe... maaf...! Soalnya nggak bisa tidur..." Ashe menyingkap selimut dan bergegas bangun. Ke kamar mandi.


" Nyusup terus bisa tidur...? "


" Iyaaa.... "


" Heeeh... orang suruh tanggung jawab dulu... " senyum Dimas menggoda.


" Nanti di rapel 3 hari lagii... " sahut Ashe dari kamar mandi.


Ashe mandi tanpa ingat membawa apapun.


Dimas tertawa. Ia juga menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur. Berjalan ke jendela dan membuka penutup jendela. Mencharge Hpnya dan Ashe. Dimas kemudian membereskan meja dan menyiapkan beberapa keperluan yang akan dibawa.


Tok tok tokk


" Ya... " sahut Dimas yang tengah merapikan tempat tidur. Memang jiwa OB begitu mengalir di darahnya.


" Pak.... " seru Nasrul terdengar di luar.


Dimas berjalan ke pintu. Membuka pintu.


" Kita berangkat 07 : 30 wib Pak...! Cepatlah siap - siap... " Nasrul malah memerintah sang Bos.


" Iyaaa...! Rozi jemput di bandara ? "


" Iyaa...! Dema, Faisal ikut sekarang Pak...! Lino udah sampai sini lagi menjemput kita.. "


" Ya sudah...! Kamu juga siap - siap...! Siap - siap ketemu si cempreng di rumah... " ledek Dimas.


Nasrul tersenyum.


" Pindahin sini Pak... " bisik Nasrul.


Dimas melotot.


" Tunggu SMAnya kelar.... " kata Dimas.


" Lamaaaa...! Bapak mah enak...! Tidur udah ada yang ngelonin... " Nasrul berkata sambil ngeloyor pergi.


Dimas hanya tersungut sendiri.


" Punya assisten kok makin kurang ajar... " kesal Dimas sambil menutup pintu. Ia melanjutkan membereskan tempat tidur.


" Bieee...? " Ashe yang kini bersuara dari kamar mandi.


" Apaaaa sayaaang....! Mau disusul...? " mulut jail Dimas tak jauh dari menggoda Ashe.


" Handuuuuuuk..... "


" Nggaaaaak ada handuuuuuuk..... "


" Bieeeeeeee.... "


" Keluar aja polosaaan.... "


" Tolong dong Bieee....! Aku lupaaaa....! "


" Lupa apaaa ? Lupa nggak bawa aku kan ? " masih aja Dimas.


" Bieeee....! Handuuk. Nanti kita ketinggalan pesawat lhoo... "


" Tenang aja...! Kamu bisa naik aku... " senyum Dimas.


" Bieeeee.... "


" Apa sih sayaaang....? Buka pintunya.... " Dimas mendekat ke pintu kamar mandi dan membawa handuk. Ashe membuka sedikit dan hanya terjulur tangannya saja.


" Kamu keluar dulu Bie...! Aku mau ganti baju... ! " seru Ashe.


" Nyonya rempong...! Diliat suaminya aja aja nggak mau... "


" Bukan nggak mau...! Takut " macan " langsung nerkam... "


" Hahhahaaa.... ! Iya...! Kunci pintunya ya....! " pesan Dimas sebelum keluar.


Ashe mengiyakan dan ia langsung keluar begitu terdengar pintu di tutup. Sekilas Ashe melihat sekeliling yang sudah rapi. Ashe tersenyum. Tergesa menganti baju. Tak lama, Ashe keluar kamar dan menemukan Dimas duduk di sofa depan Tv. Begitu melihat Ashe, Dimas beranjak dan masuk kamar. Ashe mengikutinya dan menyiapkan baju ganti. Hari itu mereka begitu sibuk. Bersiap untuk pergi ke bandara. Selesai sarapan, mereka berangkat karena Dema dan Faisal sudah standby sejak tadi.


****


" Sadarkah kau ku sayangii


Sadarkah untukmu ' ku bernyanyi


Terbacakah niat tulus ini


Degup jantung kian berbisikk "


Ashe menatap jengah Dimas. Pria tampan yang duduk disampingnya itu masih saja bersenandung tanpa peduli mereka dimana. Nasrul dan Faisal yang duduk dibelakang mereka terkekeh dengan mulut mulai menggoda Bosnya. Pak Fajar dan Bu Fatimah menoleh penuh senyum.


" Kadang kata tak berarti


Kalau hanya ' kan sakiti


Diam bukanlah tak ingin


Degup jantung kian berbisik


Tanda cinta yang bersemi "


" Jatuh cintanya belum kelar itu ? " ejek Pak Fajar.


" Belum Pak...! Lagi menggebu - gebu...! Orang mau jadi nganten... " Nasrul yang gatel nyahut.


Faisal, Lino, Dema, dan Bu Fatimah terkekeh. Ashe menyenggol lengan Dimas yang pura - pura cuek. Mereka itu sedang jadi pusat perhatian penumpang lain.


" Jangan nyanyi di pesawat... " larang Ashe.


" Kenapa ?? " kerut Dimas.


" Gue nggak mau ada pramugari yang jatuh cinta sama kamuu... " sungut Ashe.


" Cie... ada yang cemburuu.... " goda Faisal.


" Bu Ashe nggak tahu sih...! Pak Dimas nggak bisa pasang muka jutekk... " timpal Nasrul.


" Dimas itu punya muka pelet...! Semua cewek klepek - klepek sama dia.. " Pak Fajar juga ikut iseng.


" Apaaa...? Lele emang di pelet... " sungut Dimas membuat Pak Fajar terkekeh.


" Kesel kalau jalan sama kamu Bie...! Cewek semua ngelirik kamu...! Aku udah kayak nenek lampir yang harus mereka singkirkan... " Ashe ikut tersulut mereka.


" Hahhahhaahahha.... " Nasrul dan Faisal tertawa keras.


Dimas menoleh hendak menjitak kepala kedua assisten koplaknya itu.


" Tapi kan Pak Dimas hanya cinta dengan Bu Ashe... " sela Dema.


" Pak Dimas hanya bisa bertekuk lutut pada Bu Ashe... " ledek Nasrul.


Pak Fajar dan Bu Fatimah tertawa.


" Kalian ini...! Diliatin banyak orang tuh... " kata Bu Fatimah.


" Mereka ini koplak sih Ma... " geram Dimas.


" Tapi kita ini setia dengan Pak Dimas...! " seru Faisal.


Nasrul mencibir bibirnya mengejek Bosnya. Dimas geram dan ingin beranjak menendang Nasrul yang bertingkah mengejeknya. Namun urung, Ashe melotot ke arah Dimas. Dimas tersenyum kecewa mengurungkan niatnya. Nasrul bersorak kegirangan merasa dibela.


" Aku rasa kamu akan punya Rozi dua... " sungut Ashe.


" Gue jitakin kalian berdua... " ancam Dimas.


" Mau jadi manten kok bertingkah begitu... " seru Faisal.


" Presdir apa ini yang ku pilih..? " Pak Fajar ikut menimpali.


" Presdir ganteng... " kumat narsisnya Dimas membuat Ashe ikut mencibir juga.


" Jangan tunjukan bibirmu ituu Buuuu....! " keluh Dimas.


" Kenapa emang Pak Bos....! Nggak nahan ya...? " mulut Nasrul beneran udah nggak bisa di rem.


Dimas berdiri dan berkacak pinggang.


" Heeeeh.... kamu pikir kamu sudah dapeet restu...? " petenteng Dimas yang anehnya malah membuat mereka semua terkekeh. Apalagi Nasrul.


" Iyaaa....! Maaf Abang ganteng.... " Nasrul memamerkan barisan giginya.


" Kalian di Kalimantan juga begitu...? " cerca Ashe melihat assiten dan bosnya ini makin nggak karuan.


Pak Fajar berdiri dan memijat pundak menantunya.


" Papa lagi baik hatii... " kata Pak Fajar penuh senyum. Dimas tertawa.


" Kan Abang tersayang yang nyuruh... " kekeh Nasrul.


" Iblis emang loe Rul... " sungut Dimas.


" Bosnya iblis mana ? " Faisal pura - pura bego.


Dimas langsung menatapnya kesal. Pak Fajar tertawa seraya menoyor kepala Dimas.


" Udahh ayooo....! Pesawatnya udah mau berangkat tuh... " kata Pak Fajar.


" Lino....! Iket mereka berdua... " perintah Dimas sambil menunjuk Faisal dan Nasrul pada sang ajudan.


" Abang Dimas mau bawa koper sendiri sekarang ? " tanya Nasrul penuh kemenangan.


" Udaaah...! Jangan berantem mulu...! Entar jatuh cinta lho... ! " seru Bu Fatimah.


" Ogaah Ma...! Aku udah sehati dengan Bubba... " gombal Dimas menunjukan senyum termanis pada Ashe. Ashe terkekeh. Nasrul dan Faisal berjalan lebih dulu membawa koper dan diikuti Pak Fajar dan Bu Fatimah. Disusul Dema dan Lino. Sementara Dimas dan Ashe berjalan paling belakang bergandengan tangan.


" Foto dulu Bu.... " kata Dimas sambil mengeluarkan Hpnya dengan penuh senyum dan menarik tangan Ashe hingga mereka saling menempel.


" Udah Bie...! Kita ngalangin jalan orang tahuu... " tarik Ashe.


Pasalnya Dimas malah asyik ngambil foto mereka. Mereka pun tertinggal jauh di belakang dari rombongan.


Nasrul dan Faisal hanya menoleh tersenyum tapi tak mau menunggu. Terus berjalan dibelakang Pak Fajar, Bu Fatimah dan Dema.


Sementara Lino terpaksa berdiri menyisih menunggu Bosnya yang asyik gandengan tak tahu tempat. Giliran Dimas dan Ashe lewat, mereka malah nyuekin Lino. Pura - pura nggak kenal.


Lino menatap kedua Bosnya penuh senyum sebari mengikuti mereka berdua.


*****


Hanya 45 menit mereka sudah landing. Tetap saja Dimas dan Ashe memisahkan diri. Bergandengan mesra mengalahkan abg yang jatuh cinta. Sampai - sampai rombongan mereka menunggu di ruang tunggu cukup lama. Hingga Nasrul dan Faisal kembali mengambil bagasi, pasangan absurd itu belum muncul juga.


" Pak Dimas mana Pak ? " tanya Nasrul heran.


Rozi dan Pak Kibul malah yang udah sama mereka. Dema menatap malu - malu pada Rozi yang kini berani mengandeng tangan Dema.


" Masih di pesawat kali Mas...! " sahut Rozi ngasal.


" Beneran nih ya...! Bucin sejati...! Demen banget bikin keki orang... " gerutu Faisal. " tambah lagi satuuu... " sindir Faisal melirik Dema dan Rozi.


Rozi nampak cuek sementara Dema tertunduk malu.


" Di sini juga ada yang nggak sabar ketemu pacarnya.... " sahut Rozi menyindir Nasrul. Semua orang menoleh ke arah Nasrul yang pura - pura nggak denger.


" Itu Pak Dimas dan Bu Ashe... " kata Nasrul mengalihkan perhatian.


" Kamu ini suka mengalihkan pembicaraan... " ucap Faisal.


Mereka menoleh ke arah pintu keluar, Dimas dan Ashe muncul. Bergandeng tangan tanpa rasa bersalah.


" Assalamualaikummm.... " sapa Dimas penuh senyum.


Rombongannya menatap kesal pasangan itu.


" Kalian chek in dulu...? " petenteng Rozi kesal.


" Iya kenapa ? " sahut Dimas cuek sambil mencium tangan Pak Kibul. Ashe mengikutinya dengan pandangan kesal pada Dimas. Dari tadi Dimas sibuk hanya mencari moment foto. Meski hanya dapet 1 atau 2 yang sreg. Yang lain sudah langsung dihapus.


" Udah, ayok. Mobil e wes ngenteni... " lerai Pak Kibul.


Pak Fajar, Bu Fatimah, dan Pak Kibul berjalan lebih dulu sambil ngobrol. Nasrul , Faisal, Lino menyusul dibelakang. Rozi berjalan mengikuti sambil mengandeng Dema. Dimas dan Ashe tentu paling belakang.


Pak Kibul membawa mobil sendiri. Rozi juga. Ia beli mobil baru. Duduk didepan berdampingan dengan Dema. Dimas dan Ashe tersenyum melihat mereka berdua.


" Ada yang mau nyusul kita Buu...." senyum Dimas.


" Kasih lampu hijau Biee...." sahut Ashe.


Rozi tersenyum, Dema tertunduk malu.


" Kayaknya nggak perlu lampu hijau Bu, mereka lebih milih gandengan di trotoar kok..." sahut Dimas.


Rozi hanya nyengir. Spesial, Rozi menjadi sopir Ashe dan Dimas.


" Aku kan udah gede Bang... " sahut Rozi.


" Oiyaaa.... ?? Mobil siapa ini ? " tanya Dimas saat Rozi menjalankan mobil menuju pulang.


" Mobil Abanglah.... " sahut Rozi.


Ashe tersenyum. Sementara Dimas mengenyit dahi.


" Kapan aku ngirim duit buat beli mobil lagi...? " kenyit Dimas.


" Mbak Ashe yang ngirim... " ceplos Rozi seraya nyengir.


Ashe langsung menjitak Rozi dari belakang. Dimas menoleh dengan lirikan nakal ke arah Ashe.


" Emang mulut cewek loe ya... " semprot Ashe yang langsung membuat Rozi cekikikan. Dema tersenyum.


Dimas menarik lengan Ashe minta penjelasan.


" Siapa yang beli...? " tanya Dimas.


" Orang itu beli buat Bapak...! Rozi aja yang ngakalin... " sungut Ashe menatap Dimas.


Dimas terkekeh seraya mengusap rambut Ashe.


" Baru tahu kamu kalau Rozi begituu... " kata Dimas. " Inget itu Dem... "


" Tapi Ozeen baik kok Pak... " bela Dema membuat Rozi terkekeh penuh kemenangan.


Dimas dan Ashe tertawa.


" Buciin kamu nular Bieee... " kata Ashe.


" Kenapa tidak ada tagihan Bu ? " tanya Dimas.


Ashe hanya tersenyum pada Dimas.


" Kamu Buuu....! " seru Dimas. Ia tahu yang dipakai pasti uang Ashe.


" Itu atm dan cardnya dipakai...! Bukan buat simpenan di dompettt.... " toyor Dimas.


Rozi mengintip dari kaca spion penuh senyum.


" Apaaa siih Bieee....! "Ashe kesal mengusap dahinya. " Aku mau lihat pemandangan tahu nggak...! Udah lama aku nggak kesini... " sungut Ashe.


" Coba aku yang dipegangi cardnya...! " seloroh Rozi.


" Buat apa kamu....? Kerja ! Biar cepet nikah...! " semprot Dimas membuat Rozi manyun.


" Katanya suruh selesain kuliah dulu....! Kalau nggak aku bakal digantung....?" sanggah Rozi.


" Tenang Ozeeen. Aku siap nungguin kamuu.... " ceplos Dema.


" Cie... cieee... " goda Ashe membuat Dema merona.


" Dengeeer tuuhh Ozeeeeennn..... " kata Dimas.


" Iyaaa Banggg.... ! " sahut Rozi mengalah. Ia membelokkan mobilnya masuk sebuah gapura. Ashe mengenyit dahi. Mengingat sesuatu, tapi ingatannya tak di temukan dalam memori otaknya.


" Jangan ngeliat keluar melulu...! " seru Dimas yang tak di gubris Ashe. Mata Ashe sibuk bermanja ria melihat keluar jendela. Suasana kampung begitu terasa. Sepanjang jalan penuh pohon dan rumah sangat jarang.


" Kenapa sih ? " tanya Ashe tanpa menoleh.


" Liat aku ajaa.... " kata Dimas.


" Boseeeen liat kamu.... "


" Diiiihhhh..... " sungut Dimas.


Rozi tertawa dibuat - buat.


" Kenapa ada janur melengkung di sini Bie ? " tanya Ashe begitu mereka masuk gang lagi. Jalannya bagus meaki hanya pas untuk satu mobil.


" Ya kan kamu mau nikah " sahut Dimas.


Ashe mengerut.


" Hubungannya....? " tanya Ashe.


" Hubungannya kamu dan aku Buuu.... " Dimas nyleneh.


" Yaelaaah.... satu nutupin nylenehnya pasangannya... " celetuk Rozi.


" Bilang aja kamu ngiri... " sahut Dimas.


" Saya yang ngiri Pak...! Ozen itu emang nggak romantis... " pancing Dema.


" Enak ajaa.... " Rozi tak terima. " Kamu belum tahu aja, Emooo... "


" Cieeee....! Ternyata udah punya panggilan sayang... " ledek Ashe.


" Emang Mbak Ashe doang.... " sungut Rozi.


Ashe tak menyahut. Pasalnya Rozi membelokkan mobil ke sebuah rumah yang sudah terpasang tenda. Ashe langsung tahu itu rumah Dimas.


Rozi menghentikan mobilnya.


" Ada " anjing tetangga " di sini Bie....? " tanya Ashe yang langsung membuat Dimas, Rozi dan Dema menoleh. Menatap heran pada Ashe.


" Apa sih Mbak....? " kenyit Rozi.


Dimas tertawa.


" Ada...! Jangan jauh - jauh dariku...! Nanti kamu digigit. Emaknya galak sekali... " kata Dimas.