Perfect Boy

Perfect Boy
69. Sariawan Berjamaah



Ashe mendengus kesal menatap Dimas yang masih saja mengerlingkan matanya dengan nakal.


Ashe ke kamar dan merapikan rambutnya di depan cermin. Ia mengusap pelan bibirnya yang terasa sedikit perih. Ashe melihat ke arah jam. Sudah lewat jam tiga.


" Isssh... dasar OB mesum... " gumam Ashe di depan cermin. Ada sariawan kecil di bibirnya.


" Mesum tapi kamu suka kan ? "


" Astafirrulllah.... " Ashe melonjak memegang dadanya.


Menoleh ke arah suara. Dimas tersenyum sangat menawan. Hati Ashe langsung luluh lantah rasanya melihat OB pujaan hati dan jiwa raganya itu. Apalagi Dimas hanya berbalut handuk. Ashe langsung melotot.


" Heeeh...! Kamu mau pamer sama cewek - cewek KKN...? " pelotot Ashe dengan mata mengekor Dimas yang berjalan ke lemari.


" Tentu saja iya sayaaaang..... " goda Dimas dengan tangan membuka lemari.


Ashe melotot kesal memalingkan muka. Dimas tersenyum. Ia mengambil baju dan celana. Menutup pintu lemari kembali. Rasanya begitu senang menggoda Ashe.


" Kamu ini cemburu kelewatan.... " bisik Dimas sambil mencium Ashe di pipi dari samping. Tangannya langsung memeluk Ashe.


" Lagian.... "


" Apaaa ? Baru " ehem ehem " udah pamer ke orang lain gitu ? " terkah Dimas.


" Terus ngapain....? " lirik Ashe.


" Tadi aku bawa handuk dua sayaaang.... " elak Dimas.


Ashe menatap Dimas menyelidik. Tangannya bermain di udara. Penuh senyum maut. Dimas langsung siaga. Melepas pelukan Ashe dan menjauh.


" Awasss kalau tangannya sampai mendarat... " ancam Dimas terduduk di kasur.


" Salah siapa pamer dada ke cewek lain... " tangan Ashe tetap bermain di udara. Mengancam Dimas.


" Astaga Buu...! Lagi nggak ada orang... " jelas Dimas.


" Buruan....! Aku laperrr.... "


" Kamu mau makan ini lagi...? " diiih, Dimas nyleneh lagi penuh tatapan menggoda.


" Bos gilaaaa.... " umpat Ashe beranjak.


" Hahahhhahaaha.... " derai tawa Dimas membahana.


Ashe kesal dan keluar kamar. Ia menuju dapur. Dimas masih tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia bergegas memakai baju dan menyusul Ashe.


Ashe tak ada.


Kemana ?


Dimas celingukan. Ia melihat ke belakang. Ashe sibuk memetik cabe. Dimas mengenyit dahi berjalan menuju Ashe.


" Nyonya bisa metik cabe...? " tegur Dimas yang lebih tepatnya seolah menyindir Ashe.


Ashe menoleh, sengaja langsung membuang muka.


" Hahhaha...! Jangan banyak - banyak. Nanti mules..." petuah Dimas.


" Cabemu yang bikin mulesss... "


" Heeeeeh.... " Dimas langsung menatap " cabenya " . " Ngarang aja, ini cabe spesial tahu nggak...! Pedas mantap... "


" Ya masak itu aku ulek... " lirik Ashe berjalan melewati Dimas membawa segenggam cabe.


Lirikkannya jelas menunjuk sesuatu pada Dimas.


" Nggak papa...! Aku suka ulekanmu... " balas Dimas mengikuti Ashe.


Ashe nyengir. Ia mencuci cabe. Sementara Dimas mengambil telur. Tak tanggung. Lima butir sekaligus.


" Banyak amat Bie...! Cabenya cuma dikit... " ucap Ashe.


Bergegas Ashe kembali ke kebun. Memetik cabe lagi. Dimas tertawa tertahan melihat cepatnya Ashe.


" Kamu itu punya maag. Kenapa cabenya begitu banyak... ? " tanya Dimas saat Ashe kembali.


" Kan lagi nggak kambuhh... " cengir Ashe.


" Ngeyeeel.... "


" Bie... nggak pedes itu nggak enak... " Ashe semangat mengulek cabainya.


Dimas mencari pengorengan dan memanaskan minyak.


" Kamu bisa masak ? " nampaknya Dimas meragukan Ashe.


" Kamu itu hanya tahu aku bos yang harus di ladenin... "


" Terusss...? "


" Aku belum menunjukkan bakat terpendamku... "


" Ohhh, apa itu...? Marahin bawahan...? "


" Itu pekerjaan bos...! Bukan pekerjaan istri... "


" Memangnya apa pekerjaan istri... ? "


" Melayanimu di ranjang Tuan Presdir... " bisik Ashe.


" Baiklah...! Kalau begitu, layani aku sekarang... " balas Dimas berbisik pula.


" Aku tidak kuat melayanimu kalau kau tidak memberiku makan... " bisik Ashe lagi.


" Oke. Makanlah yang banyak...! Malam ini full service... " Dimas kembali berbisik.


" Aku tidak menyangka, suamiku di luar perkiraanku... " delik Ashe mulai kesal.


" Hahhahahaha.... " Dimas tak dapat menahan tawanya.


Ia memperhatikan Ashe yang memasukan ulekan cabai ke penggorengan. Ashe mengaduknya hingga Dimas bersin - bersin.


" Jangan bilang kamu alergi... " ketus Ashe.


" Wkwkwkwk...! Aku ingin liat kemampuanmu....! "


" Kemampuan apa ? "


" Kemampuanmu memasak " telur " dadar...! Kalau kemampuanmu di ranjang aku sudah lihat... " kerlip Dimas.


Ashe menoleh kesal.


" Cuma lihat saja...?? " Ashe memastikan.


" Ya merasakannya juga... " ralat Dimas.


" Ckkk.... " Ashe. menceplokan 3 butir telur diatas tumisan cabe ulek.


" Kamu dapet ilmu itu dari mana ? " heran Dimas.


Ia tahu Ashe beberapa tahun tinggal di luar negeri.


" Kamu melewatkan satu hal kayaknya... "


" Apa ituu...? "


" Heeeh cenanyang.... !!! "


" Hahahaha....! Aku tahu kamu dibuang negeri antah berantah kan ? "


" Mending... "


" Terus apa ? "


" Hutan rimba....! Mendaki gunung, melewati lembah, menyebrangi sungai... "


" Jangan - jangan kamu Tarzin...? "


" Hiiih...kamu nikah sama gadis rimba..." ledek Ashe sebari mematikan kompor dan mengambil nasi.


Ia memberikannya untuk Dimas.


" Makan piring doang sayee iniii....? "


Ashe menatap Dimas sekilas sebelum akhirnya mengambil alih piring Dimas. Mengisinya dengan nasi. Telur dadar pedas, semur ayam dan sayur.


Kemudian dia pun mengambil sendiri nasi untuknya. Meski memang licik, Ashe lebih memilah lauknya di piring sendiri. Nasinya hanya sedikit.


" Makan yang banyak...! Nanti malam kita siapkan senjata masing - masing... " goda Dimas.


Mereka kini sudah duduk ngampar di depan tivi dengan memegang piring masing - masing meski saling duduk berhadapan.


" Buat apaaa ? " sahut Ashe.


" Pertempuran.... "


" Aku mau gencatan senjata aja... "


" Kenapa ? "


" Amunisiku habis Bie... "


" Kan baru diisi amunisinya Bu.... " tunjuk Dimas pada piring Ashe.


Ashe mendelik kesal. Pasalnya Dimas menatapnya dengan senyum maut.


" Hissss.... ! Katanya mau ke Heha...? "


" Kan kita punya tenda sendiri... "


" Tetep aja deketan sama tenda lain... "


" Iya juga ya...! Suaramu kan kenceng.... " kerlip Dimas.


" Haissss....! Suara siapa sih...? " Ashe mengacungkan tangannya kesal. Mukanya terasa panas diledek Dimas terus.


Dimas menahan tawa.


" Ya udah, nanti kita perangnya pelan aja.... " kata Dimas.


" Perang apa yang pelan....? "


" Perangti lunak... "


" Konslet kamu Biee.... " kesal Ashe.


Dimas tertawa.


" Kita nyusul atau enggak nih ke Heha...? " tanya Dimas.


" Ya udah nyusul aja. Daripada aku jadi medan perang....! Hahhaha.... " Ashe beranjak.


Ia menyelesaikan makannya lebih cepat daripada Dimas. Dimas melonggo menatap istrinya. Banyak makan tapi tak bisa gemuk.


" Cepetan Bie...! Keburu sore.... ! " teriak. Ashe dari dapur.


" Orang aku nunggu maleemmm.... "


" Bieeeeeee.... "


" Astaga...! Iya Nyonyaaa..... " Dimas bangkit dan menuju dapur. Mereka mencuci piring kotor sebentar dan bersiap menuju Heha. Dimas dan Ashe mengendarai motor dan menikmati suasana jalanan. Berbaur tanpa ada yang memandang status sosial mereka.


*****


Dimas dan Ashe sampai saat senja tiba. Hampir 2 jam mereka baru sampai. Dimas memarkirkan motornya.


" Aku laperr Bie.... " keluh Ashe begitu turun motor. Pandangan Ashe bahkan sudah menjelajah sekeliling.


" Sabaaar sayang....! Kamu sudah lihat apa sih ? " Dimas mematikan mototnya dan melepas helm.


Ia kemudian menarik tangan Ashe dan melepas helm Ashe.


" Aku tidak yakin enak.... " keluh Ashe.


" Saat lapar, semua itu enak Buu... "


" Kamu juga enak... " Ashe nyleneh.


" Kamu mau makan aku sekarang ? " kerling Dimas menggoda.


Ia membetulkan rambutnya. Ashe mendengus kesal.


" Sudaaah. Ayo makan duluu...! Aku nggak mau kamu tengah malem kerasukan di sini... " tarik Dimas.


" Nggak papa, asal kerasukan kamu... "


Heeei... Dimas menoleh ke arah Ashe. Menghentikan langkahnya sebentar.


" Haaah, kamu nggak akan inget aku saat kerasukan setan laper " sahut Dimas.


" Wkwkkwkwkwk.... " Ashe menutup mulutnya untuk menahan tawa.


" Kamu menuhin memori Hpku... " keluh Ashe melihat hasil jepretan mereka.


" Yang penting aku bisa memenuhi perutmu... " sahut Dimas.


Ashe mengenyit dahi.


" Dengan bayiiii... "bisik Dimas membuat Ashe kesal. Ia menepuk lengan Dimas.


" Kamu pikir bayinya bisa lahir dalam semalam... ? " sahut Ashe.


" Yang penting kan prosesnya... "


" Itu sih maunya kamu... "


" Emangnya kamu nggak mau ? " kenyit Dimas.


" Asal sama kamu ya mauuu... " jawab Ashe malu - malu.


Dimas tersenyum mengacak rambut Ashe.


" Ayo kita cari Tuan Besar, dia pasti booking satu area... " tarik Dimas.


Dimas hafal betul tabiat mertuanya. Untung nggak begitu nurun dengan sang putri.


Benar saja, panggilan telepon masuk di Hp Dimas.


Dimas : Bulan ini kamu minta gaji sama Bapak Fajar HNU...


Langsung semprot saja sang Bos.


Nasrul : Bereeesss....! Bahkan gajiku naik 3 x lipat..


Dibalas juga semprotannya.


Dimas : Bagusss sekali kamu yaaa....


Nasrul : Hahhaha....! Buruan toleh sini Pak...


Dimas : Ogaaah....! Gue bukan pacar loe yang harus noleh dan


langsung slow motion...


Nasrul : Saya nggak nyuruh begitu Abaaaang gantenggg...


Dimas : Kamu ngerayu saya...?


Ashe menatap Dimas seraya menggeleng kepala. Drama mereka ada saja adengannya.


Nasrul : Iyaaa dong....!


Ashe mengambil Hp Dimas.


Ashe : Kamu sudah pesan makan Rul....?


Nasrul : Sudah Bu Ashe...


Nasrul cari aman dengan memanggil " Bu Ashe ". Kalau salah sebut pantatnya bakal langsung jadi bola tendang sang Bos aslinya.


Ashe : Kamu di mana ? Kamu pesen apa ? "


Nasrul : Bu Ashe sama Pak Dimas noleh sini belakang...


Ashe refleks menoleh meski tangan Dimas menghalanginya.


" Isssh.... " keluh Ashe.


Dimas hanya terkekeh. Nampak Nasrul melambaikan tangan. Ashe mematikan Hpnya dan memberikan pada Dimas. Ashe berjalan ke arah Nasrul. Dimas mengikuti dengan memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana.


Aissssh, kode... batin Nasrul.


Nasrul langsung bersikap sopan. Ashe melirik Dimas.


" Jangan deket - deket. Dia lagi kambuh Rul... " ucap Ashe.


Nasrul menahan tawanya. Apalagi Dimas langsung melewatinya dengan sok wibawanya.


" Bapak nggak dapet jatah ya...? " bisik Nasrul berjalan mengikuti di belakang Dimas.


Dimas langsung berhenti mendadak. Menatap Nasrul. Nasrul langsung mengkerut. Penampilan awal bosnya kembali ke semula.


" Sekarang masih dapet, seminggu lagi pasti puasa sebulan " ternyata Dimas tak marah.


" Kenapa ? " Nasrul heran.


" Dinas luar kota... " kata Dimas pelan.


Nasrul menghela nafas.


" Kenapa kamu yang terlihat loyo ? "


" Bapak mah pulang langsung ada yang nyambut, saya.... " Nasrul cemberut.


Dimas tertawa. Ia kembali berjalan menyusul Ashe yang jauh di depan. Bahkan sudah ikut nimbrung bersama keluarga yang lain.


*****


Malam itu mereka menginap di Glamping Heha. Semua dapat tenda masing - masing sesuai pasangannya. Kecuali Nasrul, Lino, Faisal dan Rozi. Mereka di asingkan di ujung. Apalagi pasangan nganten baru itu. Milih tenda ngacak paling jauh paling tengah. 😁😁😁😁


Bagaimana bisa ? Bisalah, Nasrul booking semua tenda yang ada sesuai perintah Pak Fajar.


" Jangan bikin maksiat... " Dimas mengetok kepala Rozi dan Nasrul.


" Abang kali yang maksiat... " manyun Rozi.


" Salaaah loe....! Mereka udah ibadah.... " bela Nasrul yang malah ikutan menjitak kepala Rozi.


Rozi meringis.


" Gue bakal nikah siri aja secepatnya...... " ucap Rozi.


" Gue juga lahhh.... " Nasrul mengangguk - angguk.


Mereka berdua ngeloyor pergi. Dimas menatapnya kesal melihat dua orang itu pergi.


" Kalian itu nggak inget surat izin dari gue ? " ucap Dimas seraya bersedekap.


Rozi dan Nasrul menoleh. Rozi balik lagi.


" Bagi duit Bangg.... " todong Rozi nyleneh. Menengadahkan tangannya seperti anak kecil.


Dimas membelalak mata. Nasrul menggeleng heran.


" Katanya mau nikah, kok minta duit masih sama gue... " kenyit Dimas.


" Abang kolot banget siih... " ini anak minta duit nggak ada sopannya.


Dimas merogoh dompetnya. Mengeluarkan 5 lembar ratusan.


" Nanti kalau kurang, aku telepon Abang... " serunya seraya berbalik pergi ke arah Nasrul.


" Dasaaar nggak ada akhlak loe.... " umpat Dimas.


Nasrul terkekeh pelan.


" Saya siap kapan saja Pak... " kata Nasrul.


" Iyaa... "


Dimas berbalik menuju tendanya. Rozi dan Nasrul sudah nggak jelas hilangnya kemana. Pastinya mengajak pacar masing - masing.


****


" Buuuuu.... " Dimas masuk tendanya.


Ashe yang tampak rebahan nonton video menoleh. Dimas duduk dan melepas sepatunya.


" Kamu dari mana ? " tanya Ashe.


" Jitakin dua manusia jomblo itu... " Dimas melepas kaosnya dan celana panjangnya menyisakan celana pendek. Masih sore Bosss.. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„.


Dimas mengambil dompet dan Hpnya, menyerahkannya pada Ashe. Ashe menerimanya.


" Mereka udah punya pacar... " ralat Ashe.


" Kan belum punya istri.... " eyel Dimas mendekat. Mencium bibir Ashe. Tidaaak, lebih tepatnya menggigit.


" Diiiih.... " Ashe menahan Dimas kesal.


Dimas melepaskan ciumannya dengan terkekeh.


" Kamu bukan nyium, tapi gigit ini.... " keluh Ashe mengusap bibirnya yang udah ada luka sedikit.


" Coba liat...? Digigit siapa itu ? " Dimas melihat bibir Ashe.


" Srigala... "


" Srigalanya tampan kan...? " Dimas rebahan.


" Tampan berekor... "


" Ekornya di depan... "


" Monyet dong kalau di belakang... "


" Seneng yang di depan apa yang di belakang... ? " tarik Dimas hingga Ashe jatuh menimpa badan Dimas.


Ashe langsung memeluk Dimas. Mencium ketiak Dimas. Dimas kegelian.


" Menurutmu...??? " sahut Ashe.


" Menurutku.. dimana pun kamu seneng... "


" Kok bisa....? "


" Kamu akan lengket denganku setelah mencium ketiakku.... "


" Ada peletnya...? "


" Ada dong... "


" Terus sekarang kita mau tidur....? "


" Maumu...?? "


" Masih sore... "


" Tentu saja aku tidak menunggu malam untuk dapet obat tidur... "


Ashe menatap Dimas. Dimas juga menatap Ashe dengan senyum cerah. Kemudian mencium kening Ashe.


" Ayo keluar jalan - jalan...! Tapi nanti jangan lupa... " kata Dimas.


" Apaaaaa ? "


" Obat tidurrr.... " bisik Dimas sambil memeluk erat Ashe.


" Kita jalan - jalan kemana kalau kayak gini... ? "


" Ke tenda cinta... " kekeh Dimas.


Ia melonggarkan pelukkannya. Ashe bangun diikuti Dimas. Dimas kembali menggenakan baju dan celananya.


" Tadi kenapa copot baju... ? " heran Ashe sambil menyisir rambut.


" Kirain mau gerak cepat... " goda Dimas.


Ashe mendengus kesal sambil menyodorkan Hp dan dompet Dimas. Mereka keluar lagi dan menikmati suasana malam sambil berangkulan. Suasana sepi. Heha sudah di booking full Pak FajarπŸ€¦β€β™‚οΈπŸ€¦β€β™‚οΈ.


Ashe menyenggol Dimas.


" Apaaa ? " toleh Dimas sambil mengikuti telunjuk Ashe.


Sepasang kekasih tampak ditempat remang. Dimas kembali menatap Ashe penuh senyum. Ia malah meniru kelakuan sepadang kekasih itu.


" Hisss ... ya ampun. Besok sariawan berjamaah ini... " keluh Ashe.


Di sudut lain matanya ia juga melihat sepasang kekasih sedang berciuman. Dimas tertawa.


" Itu Nasrul dan Kiwil.... " tunjuk Dimas di salah satu sisi.


Ashe tertawa tertahan


" Itu Rozi dan Dema... " tunjuk Dimas di sudut yang lain.


" Kamu paraaah.... " sungut Ashe.


Dimas tertawa.