Perfect Boy

Perfect Boy
52. Si Tuan ribet, Si Nyonya Rempong.



Dimas membuka pintu kamar Ashe sambil tetap mengelus dahinya. Adiknya bener - bener kurang ajar. Masih terasa panas dahinya. Ashe menoleh ke arah Dimas yang sedang menutup pintu.


" Kenapa balik lagi ? " tanya Ashe. Ia juga tengah memangku laptop di atas tempat tidur.


" Nggak bisa tidur tanpa kamuu... " Dimas ngegombal.


" Modus beracun.... " sewot Ashe.


" Hehe...! Kamu ngapain ? " Dimas mendekat dan duduk di samping Ashe. Mengusap dahinya.


" Kenapa jidatnya ? " Ashe malah balik tanya sebari memeriksa dahi Dimas dengan menyingkirkan tangan Dimas.


" Si Ozeeeen kurang ajar... " sahut Dimas.


" Hahahhaha....! Syukuriin...! Salah siapa pikirannya travelonng nggak jelasss... " Ashe mengusap dahi Dimas.


" Kamu yang mancing. Udah gitu masih nggak ganti juga "


" Orang mau tidur ini Bie... "


" Ada yang nggak bisa tidur tahu nggak... ? "


" Issssshhhh.... " toyor Ashe membuat Dimas makin meringis. Namun ujungnya juga tersenyum. Mengeleyot ke bahu Ashe..


" Udah ganti baju dulu sana Bie.... " Ashe menggoyangkan badannya untuk menyingkirkan Dimas.


" Iyaaa. Kamu ngerjain apa ? "


" Laporan bulan ini... "


" Sama siapa laporannya ? "


" Sama Pak Presdir baru... "cengir Ashe menatap Dimas.


Dimas hanya manyun karena yang dimaksud itu adalah dia.


" Masih lama ? " tanya Dimas sambil beranjak dan membuka kaosnya. Pikirannya mulai jernih.


Ashe menatapnya jengah.


" Bajuku dimana Bu....? " tanya Dimas. Ia bahkan sudah punya dua lemari besar di kamar itu.


" Yang coklat itu Bie.. " kata Ashe.


Dimas meletakkan kaosnya dalam keranjang baju kotor. Ia membuka lemari dan mencari celana pendek dan kaos. Kemudian menuju kamar mandi. Tak lama, Dimas keluar dengan muka yang fres dengan penampilan yang ringan.


Dimas langsung menjatuhkan diri tengkurap di samping Ashe.


" Buu... ! Kita nikah siri aja dulu gimana ? " Dimas mulai.


Ashe menoleh pada Dimas di sampingnya.


" Kenapa sih kamu...? " kerut Ashe.


" Akuu nggak kuattt.... " keluh Dimas.


" Coba letaakkan apa yang nggak kuat itu...! "


Dimas pasang muka cemberut.


" Kalau aku letakkan ya ilang diambil ' wanita ' lain...! Bu kasian... Nggak dapeet apa - apa " modus Dimas.


" Ccckkk... apa sih Bie... ? "


Dimas mendadak bangun. Berjalan ke pintu keluar kamar Ashe.


' Mau kemana kamu...? " tanya Ashe.


" Mau ngomong sama Papa... "


" Ngomong apa ? " kerut Ashe.


" Suruh ngundang penghulu... " kilah Dimas.


" Buat apa ? "


" Nikah siri... " sahut Dimas sesaat kemudian dia menghilang.


Ashe mendesah kesal. Pintu kembali terbuka. Dimas muncul dan menutup pintu. Ashe menatapnya tak percaya.


" Kenapa balik lagi ? " tanya Ashe sebari mengekor Dimas hingga ambruk di sebelah Ashe.


" Nggak jadi... " sahut Dimas.


" Diiih.....si Tuan riibet loe ya Bieee.... " keluh Ashe menatap Dimas disampingnya.


" Kamu itu Nyonya rempong... " sahut Dimas.


" Rempong gimana ? " Ashe tak terima.


Dimas menutup laptop Ashe sengaja.


" Ihhh.... Ini tuh keluaran terbaru Bie... ! Rusak aja, awass loeeee.... " omel Ashe membuka laptopnya lagi.


" Nanti aku beliin lagi... ! Kamu mau beli berapa ? " Dimas kembali menutup laptop Ashe.


Ashe menepuk tangan Dimas keras. Dimas hanya meringis.


" Gue dianiaya melulu... " keluh Dimas.


Ashe membuka laptopnya lagi.


" Mau beli banyak juga mau buat apa ? " toleh Ashe.


Tangan Dimas mulai nakal. Menyusup dan merangkul pinggang Ashe dengan jari yang iseng. Ashe menepuk tangan Dimas keras.


" Jangan mulai deh... ! Atau tidur di sofa sana... " ucap Ashe.


" Galaak amat Nyonyaaa...! " sahut Dimas.


" Baru tahuu.... " sungut Ashe.


Dimas terkekeh. Ia merapat dan membenamkan wajahnya ke pinggang Ashe. Ashe mengangkat sikunya dan meletakkannya di kepala Dimas. Dimas memejamkan mata, meresapi aroma badan Ashe. Ashe membiarkannya.


" Tidurlah Buu..." kata Dimas.


" Bentar lagi Bie...! Ini sedikit lagii... "


" Kita mau nikah, kenapa kamu sibuk ngurusin kerjaan ? Ngurusin akunya kapan ? "


Ashe mengusap kepala Dimas.


" Nanti saatnya... " sahut Ashe.


" Kapaaan ? "


" Nanti setelah akad... "


" Apaaan ituuu.... " keluh Dimas.


" Hahaha...! Terus maunya kapan ? "


" Sekarang.... "


Ashe tersenyum. Menunduk dan mencium kepala Dimas.


" Sudaaahh ?? " kata Ashe.


" Gitu doang.... ? " tatap Dimas.


" Terus mau apa lagi...! Ribeet banget sih...! "


Dimas bergeser. Memindahkan laptop di pangkuan Ashe dan berganti posisi. Ashe terpana.


" Aku iri dengan laptop itu...! Biarkan dia menyingkir jauh - jauh... " sewot Dimas.


Ashe tertawa.


" Dasaaar si ribet loe ya Bie...! Laptop juga loe cemburuin...! Bucin akuuut... dasarrr.... " tabok Ashe dikening Dimas pelan.


" Biariiiin.... " sahut Dimas penuh senyum. Senyum yang membuat wanita meleleh apalagi Ashe.


" Ciummmm.... " pinta Dimas seperti anak kecil.


" Isssssh.... mulai ngelunjak ya...! "


" Ayolah...! Aku tak bisa tidurr.... " rengek Dimas.


" Hubungannya dengan tidur dan cium apa ? "


" Ya " obat tidur "... "


Aahe mendesah, tak ayal mendekat dan mencium kening Dimas.


" Kening doang... ? "


" Loe ya Bie.... !!! "


" Ayoollaaaaah... ! Aku tak bisa tidur Buuu... "


" Tidur itu matanya merem Bieee... "


" Masalahnya mataku nggak bisa merem Bu...! Masih pingin melihat kamuu... "


" Diiih... gombal sekali loe ya... "


" Kan cuma kamu doang yang aku gombalin...! Lainnya seolah sulit mengapaiku... "


" Emang kamu bintang di langitt...? "


" Bukaaan....! Bintang dihati kamu... "


Ashe tersipu menahan tawa. Tak kuasa dengan gombalan Dimas.


" Kamu tuh unik sekali sih Bieee... "


" Uniiiik... ? Emang aku makhluk langka....? "


" Iyaaa...! Pria langka... "


" Oiyaaaa....??? "


" Ayolah Bu...! "


" Apa sih Bie...? "


Dimas menunjukan bibirnya. Ashe tampak ragu. Dimas tak sabar. Tangan kanannya langsung meraih leher Ashe dan mencium bibir Ashe hingga Ashe gelagapan dan berontak melepaskan diri.


Mereka bertatapan. Ashe tersenyum dengan muka merona.


" Aku matiin dulu sebentar laptopnya Bie " kata Ashe secara halus menyuruh Dimas pindah dari pangkuannya.


" Iyaaa...! " Dimas pindah ke samping Ashe lagi. Masuk selimut.


Ashe meraih laptopnya dan mematikannya. Ia beranjak dan menletakkannya di meja. Ashe kembali ke tempat tidur. Menyusul Dimas dan mematikan lampu.


" Sinian Bu... " tarik Dimas hingga Ashe masuk dalam pelukannya.


" Nanti ada yang nggak bisa tidurr... " kata Ashe.


" Kamu yang harus menidurkannya... " Dimas merapatkan pelukannya sebari memejamkan mata.


Ashe tersenyum tipis. Meletakkan tangannya di dada Dimas dan ikut memejamkan mata.


" Selamat malam Bu... " Dimas mencium kening Ashe dengan mata tetap terpejam.


" Selamat malam juga Biee... " Ashe merapatkan pelukannya ke Dimas.


Itu kali pertama mereka tidur berpelukan. Semoga malam ini tak ada tragedi dan insiden ada yang tak bisa tidur.


*****


Ashe mengeliat. Alarm Hpnya berbunyi. Sangat susah untuknya bergerak dibawah pelukan Dimas. Ashe menepuk tangan Dimas yang kali ini lebih nakal menyusup ke balik baju Ashe dan entah sejak kapan nemplok disana.


" Tanganmu Bieee... " tepuk Ashe.


" Hmmm.... " Dimas malah makin erat.


Ashe menepuknya lebih keras.


" Apaaa ? "


" Kenapa tanganmu disini...? " tepuk Ashe protes meski jauh didalam hatinya menikmati itu. Sentuhan Dimas begitu menghangatkannya. Bahkan Dimas sudah bertelanjang dada tanpa Ashe sadari.


" Nyari yang hangat... " sahut Dimas tanpa membuka mata.


" Emang ini kompor...? "


" Iyaa. Kompor hidup... "


" Ehmmm... emang mau berangkat sekarang ? Bukannya kamu ada rapat bulanan...? "


" Ehhmmmm.... " Ashe malah memejamkan mata lagi menikmati tangan nakal Dimas.


Dimas tersenyum dan membuka mata.


" Sarapan dong Bu... " goda Dimas.


" Kamu sudah pegang sarapannya... "


" Boleeh " dimakan" nggak ? " Dimas makin menggoda.


" Isssh...! Nggak sekarang... " Ashe membuka mata dan duduk. Tangan Dimas pindah ke perut Ashe. Ashe memalingkan muka ke arah Dimas.


" Bajumu kemana ? "tepuk Ashe diperut Dimas pelan.


" Ilaaaangg... "


Ashe mendengus dan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Dimas memejamkan mata lagi. Sementara Ashe mandi dan berganti baju.


*****


" She...! Kita feeting baju sekarang aja ya...! Mumpung masih pagi..! Nanti sore, Bapak sama Mamak mau pulang... " kata Bu Fatimah saat Ashe muncul membantu menyiapkan sarapan.


" Laaah... sekarang ? Ibu mau pulang nanti ? " Ashe malah balik tanya.


" Iya Mbak...! Waktunya kan mepet...! Kalau nuruti Papa sama Bapak kamu nggak ada habisnya... " sahut Bu Izun.


" Hehe...! Iya Bu. Memang dua pria itu tak jelas... " sahut Ashe.


" Mbak Ashe aman ? " mendadak Rozi muncul dengan muka khas bangun tidur. Tangannya mencomot makanan yang di bawa Bu Fatimah dan langsung menjejal ke mulutnya.


Bu Fatimah menyodorkan lagi. Bu Izun geram. Menepuk lengan Rozi keras hingga Rozi mengaduh kesakitan mengkerut.


" Enggaaakkkk.... " sahut Ashe kesal.


Rozi terkekeh.


" Tidur yang cukup Ozeeen...! Kamu bawa mobil, atau mau naik pesawat...? " kata Ashe.


" Jangan Mbak...! Ibu takut nggak bisa turun... " sela Bu Izun.


" Katrok... " sindir Rozi.


Ashe menjitak kepala Rozi.


" Nggak sopann... " omelnya dibarengi ringisan Rozi.


" Tahu ini anak nggak punya sopan santun... " omel Bu Izun.


Rozi meringis diomelin dua orang wanita di depannya. Hanya Bu Fatimah yang suka membelanya.


" Maaammaaaa... " rengek Rozi minta pembelaan.


" Apaaa Mama...? Mamanya siapa emang... ? Dimas muncul dan menjitak kepala Rozi.


Rozi meringis lagi.


" Sudaaaah.... ! Kasian Rozi...! Nanti dia amnesia...Ayo, semua sarapan... " bela Bu Fatimah membuat Rozi tersenyum.


Rozi kembali ke kamar untuk mandi. Bu Izun dan Bu Fatimah berjalan ke belakang melihat apa ysng dilakukan Pak Fajar dan Pak Kibul.


Dimas membetulkan jam tangannya. Ashe mengambilkannya nasi.


" Dua kepala keluarga ini pada kemana Bu...? " tanya Dimas sambil duduk. Ia tampak begitu ribet. Biasanya Dimas lebih cekatan dari Ashe. Tapi pagi ini, ia nampak sangat ribet. Jam tangannya dari tadi susah di kancingkan.


" Di belakang noh...! Lagi sibuk sama ayam dan burung... " Ashe meletakkan piring dan membantu Dimas.


" Kamu biasanya paling cekatan... " kata Ashe.


" Ini lagi nggak biasa...! "


Ashe membetulkan kerah baju Dimas. Kemeja putih lengan panjangnya begitu pas di pakai Dimas.


" Kita feeting baju hari ini Bie... " kata Ashe.


" Heeeh...? Aku makan dululah...! Ada laporan yang harus aku periksa soalnya...! "


Ashe menyodorkan piring berisi nasi lengkap dengan lauknya. Ashe ikut duduk dan makan.


" Hmmm...! Ada masalah ? " tanya Ashe.


" Antisipasi tiap celahhh... "


" Ya udah makan dulu... "


" Tapi celahmu yang selalu aku nantikan... " goda Dimas penuh senyum.


Ashe menoleh geram. Menepuk lengan Dimas keras.


" Hahhahaha...! "


" Jangan makan sambil bicara ! " maki Ashe.


Dimas menyuap nasinya penuh senyum dan melirik Ashe.


" OB ini sekarang ada yang ngeladenin ya... " goda Dimas.


" Maunya aku juga duduk manis, diladenin...! Secara aku itu Nyonya... " sahut Ashe tak mau kalah.


" Baiklah...! Aku akan meladenimu sampai puas... " sindir Dimas. berbisik.


Ashe melotot tajam ke arah Dimas.


" Otakmu mulai gesrek Bie... "


" Itu gara - gara tidur denganmu... "


" Sebelumnya juga udah gesrek... "


" Itu karena aku tiap pagi sarapan belahan dada... " kata Dimas mulai vulgar.


Ashe mendesah berat. Menyenggol lengan Dimas.


" Bisa tidak jangan membicarakan itu...? "


" Kenapa ? "


" Aku malu kalau inget itu... "


" Kenapa musti malu...! Kan cuma aku yang liat...! "


Muncul Silia dari depan.


" Dari mana kamu ? " tanya Dimas heran.


" Dari ngiterin rumah..! " sahut Silia sambil duduk.


Dimas menatap adik perempuannya yang mulai beranjak dewasa dengan tubuh bongsornya itu yang tampak sumringah.


" Sama siapa ? " tanya Dimas.


Ashe menyenggol lagi lengan Dimas.


" Tadi ditemani Bang Nasrul... " sahut Silia.


" Ohh...! " sahut Dimas lega. Ia meneruskan lagi makannya. Tak lama, Rozi bergabung. Demikian juga Pak Fajar, Pak Kibul, Bu Fatimah dan Bu Izun. Mereka sarapan bersama, hingga tak lama desainer baju datang untuk feeting baju untuk acara pernikahan Ashe dan Dimas.


*****


" Pak.... " Nasrul mendekat di sela mereka tengah feeting.


Dimas yang sibuk didepan laptop sambil menunggu menoleh sekilas.


" Kenapa kamu manggil aku Pak... ? " kali ini Dimas protes.


Nasrul agak takut kali ini. Ia bisa menerka mengapa Dimas bertanya seperti itu.


" Duduk sini... " Dimas menepuk bangku di sampingnya.


Nasrul agak ragu. Dimas menatap Nasrul dengan wajah cerah. Pasalnya bagaimana pun, Dimas adalah bosnya.


" Aku tidak marah. Tak usah merasa punya jarak Rul.... " kata Dimas.


" Bapak tahu sesuatu ya...? " tanya Nasrul.


" Aku bilang.... mulai sekarang jangan panggil Bapak...! Kamu serius enggak...? Adikku masih SMA.. " Dimas to the point bagai tusukan pedang buat Nasrul.


" Aku tahu Pak... eh Bang....! Tapi baru kali ini aku ketemu cewek yang nyaman di hati dan nyaman diajak bicara.... " ucap Nasrul pelan.


Ia duduk bangku di samping Dimas. Menatap ke arah para wanita yang sibuk menentukan warna.


" Iya...! Aku tahu...! Mana jadwalku hari ini...? " tanya Dimas.


Nasrul. mengeluarkan tablet dari tas yang biasa dia bawa.


" Aku sudah meng - cancel beberapa jadwal Pak...! Bu Ashe tadi bilang feetingnya dadakan... " cengir Nasrul.


Dimas tertawa pelan.


" Aku pun shock Rul...! Ashe bahkan lembur bikin laporan tadi malem... "


" Ini jadwalnya Pak... " kata Nasrul sambil membacakan jadwal Dimas.


" Kamu ikut pulang kampung lagi ya...! Urusin acara di sana ! " kata Dimas.


" Yesss....! Ikut pulang kampung lagi... " pekik Nasrul membuat Dimas menatapnya.


Nasrul langsung menyimpan senyumnya.


" Bapak gimana ? Nggak ribet ? " Nasrul memastikan. Karena hampir semua keperluan Dimas dan segala sesuatu di urus olehnya.


" Aku mantan OB profesional Rul... "


Nasrul mencibir.


" Apaaaa ? Dikit - dikit teriak juga... "


" Sttt....! Diem aja... "


" Hahaha....! Ya udah...! Saya siapkan berkasnya semua sebelum saya ikut pulang ke camer... " kata Nasrul.


" Selesaikan kerjaan. Baru pacaran...! Awas ya, jangan macem - macem loe... " ancam Dimas.


" Siap Pak Bos....! "


Dimas mendecih seraya menatap Nasrul yang beranjak meninggalkannya. Dimas kembali memeriksa laporan lewat laptopnya.


" Bieee....! Kamu mau warna apa bajunya...? " teriak Ashe.


" Biruuu Bu.... " sahut Dimas.


" Tapi aku maunya akad nikah pakai warna putih... " kata Ashe sambil mendekat.


Dimas menengadah menatap Ashe. Katanya nggak mau ribet, maunya simpel, tapi ujungnya kebawa suasana juga, batin Dimas.


" Bieee.... " sentak Ashe.


" Resepsinya mau pakai warna apa ? " tanya Dimas.


" Putih juga... "


Dimas menghela nafas.


" Ya udah, aku pakai jas pas akadnya, kamu pakai kebaya putih. Nanti pas resepsi baru putih semua... " tengahi Dimas.


" Tapi putihnya marun ya....? " tawar Ashe.


Dimas geram. Ingin mencium bibir Ashe karena kesal.


" Iya Nyonya remponggggggg..... Aku ikut kamu aja. Yang penting kamu nikah sama aku.... " tegas Dimas sebari menarik tangan Ashe mendekat ke arah Dimas.


Ashe nyengir.


" Undangan udah belum....? " tanya Ashe.


" Di kampung nggak perlu pakai undangan Nyonya...! "


" Kok bisa...? "


" Adatnya begitu sayang...! Tenang aja...! Tamunya lubeerr... " senyum Dimas.


" Hoiii....Jangan pacaran muluuu... " teriak Pak Fajar menggoda membuat Dimas dan Ashe menoleh, tersenyum.


" Aapa sih ? Papa berisik... " sahut Dimas.


Pak Fajar bertingkah tak jelas di sana sambil diukur. Pak Kibul menjitak kepala Pak Fajar. Ujungnya dua orang tua itu malah ribut sendiri bak anak kecil yang tak jelas membuat para istri mereka jadi kesal sendiri. Dimas dan Ashe hanya tertawa. Rozi nampak ikut geram melihat Bapak dan Papanya bertingkah tak karuan.