
" Kenapa lama ? " sambut Dimas menarik tangan Ashe.
Tak peduli para tamu yang mulai datang mulai memperhatikan mereka.
" Haiiisss....! Bawa sono laaah.... " sewot Bu Fatimah. Ia langsung menarik tangan Bu Izun dan menuju tempat suaminya.
Dimas tertawa.
" Kenapa Mama yang ngambeek....? " ungkap Dimas.
" Kamu posesif sekali...! Ingeeet, udah nggak muda... " celetuk Bu Izun.
" Heeeeh.... " Dimas mengerut kening. " Gue baru 25 tahun Makkk.... " gumam Dimas.
Ashe tertawa.
" Kamu sudaaah dewasa kaliiii..... " sahut Ashe.
"Dewasa pikiranku...! Wajahku masih imut - imut... " protes Dimas.
" Hisss.... " sungut Ashe.
Ia berlalu menuju pelaminan. Dimas terkekeh seraya berlari kecil mengimbangi langkah Ashe. Tangannya meraih tangan Ashe. Mereka menuju pelaminan.
" Main tinggal ajaaa sihhh Buuu.... "
" Yang penting aku nggak ninggalin kamuu.... "
" Haiiisss....! Bu Bos ngombal aja siiih.... "
Ashe hanya tersenyum menoleh pada Dimas.
Hari semakin siang, tamu undangan mulai banyak berdatangan. Tentu saja karyawan dan rekanan bisnis Pak Fajar dan Dimas. Tak hanya dari Jakarta saja. Dari Kalimantan dan Surabaya juga mulai hadir. Bahkan lebih berjubel dari acara resepsi di kampung.
" Bibirku capeeek.... " keluh Ashe mulai manyun meski terpaksa tersenyum.
Sumpaaah, tamu undangannya nggak kira - kira. Ashe mulai pegal berdiri. Apalagi bibirnya mulai terasa kaku karena banyak senyum dan berpose pada kamera.
" Nanti aku obatin.... " balas Dimas sebari pamer senyum.
Tangannya tak berhenti menyalami tamu undangan.
" Modussss.... " balas Ashe.
" Ya terima kasiih... " Moduuuss apa siiihhh....? " sahut Dimas sambil tetap menyalami tamu.
" Auuh aaahhh.... " sahut Ashe kesal tapi tetap pamer senyum ke tamu yang rasanya tak surut.
Dimas menatap miris istrinya yang sudah pasti kecapekan. Apalagi dia lupa ngasih sarapan gegara MUA tadi pagi. Pasti udah nahan laper ditambah capekk, aduuuuh...! Nyonyyaa macan ini pasti bentar lagi ngamuuuk...! Puasaaa deh malam ini... " gerutu Dimas panjang lebar dalam hati.
Dimas sendiri juga belum makan sampai sesiang ini.
" Sabar sayaang...! Kita minta istirahat makan siang ya...! " bujuk Dimas sebari melirik jam tangannya. Hampir setengah 12 siang.
" Istirahat gimana Bie ? Kamu nggak liat ituu yang datang... " ucap Ashe dengan ekspresi mukanya menunjuk ke arah depan.
Dimas menatap ke pintu masuk dan mengenyit dahi. Benar saja, tamu berdatangan menyerbu pintu masuk dan berbaris menuju arahnya. Dimas mengembangkan senyum melihat mereka.
" Dimaaasss....! Haii Brooo.... " sapa mereka begitu sampai di tempat Dimas.
" Haaaaiii juga....! Apa kabar semua... " Dimas langsung sumringah menyambut mereka.
Itu adalah teman - teman S2 Dimas di Surabaya. Dimas mengenalkan Ashe. Dan beberapa saat mereka menyita podium dengan candaan dan foto bersama sebelum turun dan menyantap sajian makan.
Tak sampai di situ, selang setengah jam teman - teman S1 Dimas datang dan membuat rusuh di podium. Tapi Ashe yang tadi Dimas pikir bakal kesel malah ikut menikmati moment dan tertawa mendengar candaan teman - teman Dimas.
Sementara itu, Nasrul masih setia berdiri tak jauh dari Ashe dan Dimas. Ia kini berganti status jadi bodyguard sehari. Faisal dan Lino tentu mengambil posisinya masing - masing.
Sejak awal Nasrul juga yang meladeni minum untuk dua bosnya di pelaminan. Sesekali menatap ke arah jam tangannya. Dia jelas khawatir karena ini sudah lewat jam makan siang. Namun tamu undangan belum juga surut.
Apalagi kini malah muncul jajaran direksi dan pimpinan cabang serta para pengusaha muda yang begitu akrab dengan Dimas. Ashe tak terlalu mengenal mereka, hanya sekedar tahu. Hingga pikiran Ashe dipenuhi banyak tanda tanya tentang suaminya ini.
Beruntung, setelah lewat jam 14 : 00 wib, tamu mulai agak mereda dan pembawa acara juga meminta untuk acara diistirahatkan sebentar. Nasrul memberanikan diri naik ke pelaminan dan menawarkan makan.
" Makan apaa ? " tatap Dimas mengenggam tangan Ashe.
" Promag... " cengir Ashe.
Ia merasa sedikit pening.
" Waduuuuh....! " Dimas langsung mendadak khawatir. Pasalnya Ashe pasti sudah merasakan tubuhnya tak kondusif.
" Beneran deh, itu dulu...! " rengek Ashe.
Dimas menatap Nasrul. Nasrul mengangguk mengerti dan pergi ke klinik hotel. Secepat mungkin dia kembali dengan dua botol air mineral dan tentu apa yang di minta Ashe. Pelayan hotel telah menyajikan makanan untuk Dimas dan Ashe.
Dimas mulai makan meski porsinya hanya sedikit, tak beda dengan Ashe. Ia juga makan dan menyudahinya secepat mungkin tamu mulai datang lagi.
*****
Acara selesai pukul 22 : 00 wib, itu pun masih ada tamu satu dua tamu yang datang.
Ashe hampir sudah tak kuat berdiri. Ia sudah duduk menyerah di kursinya. Orang tua dan mertuanya pun sama. Hanya Dimas yang terlihat masih enjoy. Ia sudah mulai kabur dari sisi Ashe dan mulai mengunyah makanan di temani Nasrul dan Faisal.
" Jar, aku ingin rebahan... " pamit Pak Kibul sebari memegang pinggangnya.
Pak Fajar tersenyum simpul.
" Kenapa kamu Bang...? " tanya Pak Fajar.
" Kamu ngatain aku satu provinsi ku undang, sekarang balas dendam kamu...? " sungut Pak Kibul.
" Hahahaha...! Ini kan acara pentingku seumur hidup sekalii... " sahut Pak Fajar bela diri.
" Tahu nih Papa, orang perjanjiannya cuma resepsi di kampung doang... " Ashe ikut tersungut.
" Hehehe...! Udah istirahat aja. Ini juga udah bubar kok... " seru Pak Fajar.
" Maaaa....! " rengek Ashe.
" Apaaa....? Mama juga mau istirahat. Drama kamu hari ini bikin Mama capek sekali...! Udaah yuk Mbak, ke kamar...! " Bu Fatimah menarik tangan Bu Izun.
" Heeeh, kenapa kamu malah bawa Mbak Izun....? " protes Pak Fajar.
" Habiss Papa nggak peka.... " Bu Fatimah ngeloyor pergi dengan Bu Izun yang mengacungkan tangan penuh kemenangan.
Pak Kibul tertawa terbahak sengaja sebari mengikuti istrinya. Pak Fajar merengut meski tak urung beranjak mengikuti mereka.
" Papa jadi sapi perah dulu She... " pamit Pak Fajar.
" Nggak salah ? Bucin tua kaliii... " ralat Ashe.
" Buncitttt..... " sahut Pak Fajar tambah kesal.
Ashe tertawa. Ia menatap kesana kemari mencari Dimas. Suaminya tega sekali meninggalkannya begitu saja.
" Santuuuyyy....! Aku tak akan kabuuur.... " mendadak Dimas menghempaskan pantatnya di sebelah Ashe.
" Astagfirullah, kamu dari mana sih... ? " Ashe melonjak kaget.
" Dari nyari ini.... " Dimas menunjukkan kotak kardus dan membuka isinya.
Apa coba, Ashe melonggo. Jajanan pasar yang lengkap dalam kardus itu. Semuanya menggoda mata dan perut Ashe.
" Haaaah, kamu dapet ini dari mana ? " Ashe menatap tak percaya suaminya.
" Dari catering hotel laah Bu... "
" Udaah basiii.... "
" Enak aja...! Ini hotel JAE Grup mana ada makanan basi... "
" Hahhahaha....! Lagian bisa - bisanya kamu dapet begituan sih...? Mempelai pria celamitan.... "
" Celamitan juga demi kamu kali Bu...! Aku tahu kamu suka semua ini kan ? " kerling Dimas.
Ashe mendengus kesal dan langsung mengambil kotak itu dari tangan Dimas.
" Aku kalau laper bisa makan apa saja... " jawab Ashe yang langsung menjejal makanan ke mulutnya. Tak peduli suaminya yang nggak tahu malu mendapatkan itu.
Dimas tertawa dan menyenderkan badannya ke sandaran kursi.
" Acara udah selesai...! Kita makan di kamar aja Bu... " seru Dimas.
" Ayooo....!! " Ashe langsung beranjak. Menyincing kain kebayanya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya menjepit kotak makanan erat.
Dimas tergelak melihat kelakuan istrinya dan buru - buru bangkit mengejar Ashe. Merebut kotak itu dan membantu membawanya. Sementara tangan satunya menuntun Ashe.
" Kamu sungguh OB penuh misteri.... " gerutu Ashe begitu masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya ke kasur yang sangat empuk dan nyaman. Alas kakinya sudah terlempar menyisakan Dimas yang menggeleng kepala memunggutnya. Meletakkannya di rak bersama sepatunya.
" Hahaha....! Aku juga nggak menduga tamunya sebanyak itu. Sini aku obatin bibirnya.... " Dimas langsung mengecup bibir Ashe yang rebahan hingga membuat Ashe terkesiap.
" Aku capeeek banget. Kamu jangan minta aneh - aneh Bie malam ini... " dorong Ashe pelan. Pasalnya Dimas mulai melepas jasnya.
" Orang aku mau mintanya besok pagi.... " senyum Dimas.
" Diiih, apaaan sih....? " wajah Ashe terasa merona panas.
" Ganti baju dulu...! Atau mau aku bikin nggak pakai baju...? " ancam Dimas sebari mengabrik koper.
" Mafia tukang ngancem... " gerutu Ashe seraya bangun dari rebahannya.
" Kamu kunci pintu nggak Bie ? " tatap Ashe.
" Ya kuncilah. Masak lagi makan daging tiba - tiba ada srigala lewat... " seloroh Dimas.
" Kamu itu srigala berambut hitam... " sungut Ashe sambil duduk dipinggir ranjang. Memperhatikan Dimas yang masuk ke kamar mandi.
" Buruan ganti baju Bu... " Dimas menggalungkan handuk di leher Ashe dengan muka beningnya.
" Hmmm.... " Ashe beranjak malas menuju kamar mandi.
" Piyamanya udah aku gantung di dalem... " terdengar Dimas bersuara dari luar kamar mandi.
Ashe menoleh. Benar saja, piyama lengkap sudah tergantung di sana.
" Kamu sengaja Bie....?" teriak Ashe.
" Apaaa ? " Dimas menyahut pura - pura tak tahu padahal senyumnya mrngembang.
Ashe menghela nafas.
" Yang kotor di taruh aja, jangan dipakai lagi.... " terdengar suara Dimas.
Ashe tak menyahut, sedang malas berdebat dengan suaminya yang memang suka sekali iseng.
Ashe segera membersihkan diri meski agak lama. Dia tentu tidak akan berani mandi di tengah malam seperti itu. Hanya mengganti bajunya saja tanpa daleman.
" Hmmm.... Bu...! Buruan makan sini...! Ayam bakar... " panggil Dimas begitu Ashe keluar kamar mandi.
Ashe menoleh ke arah Dimas dan segera menyelesaikan mengeringkan rambut.
" Kamu pesen ayam bakar Bie...? " tanya Ashe sambil duduk di samping Dimas.
Dimas tersenyum dengan siku sengaja menyenggol dada Ashe.
" Iya. Kita harus makan sebelum tidur...! " kerling Dimas nakal.
" Yang nganterin ke sini siapa ? "
" Pelayan hotellah... "
" Cowok apa cewek...? "
" Cowok....! Kenapa ? Jangan bilang cemburu ya... "
" Habisnya kamu pakai baju lengkap aja pada melotot, apalagi tampil " hot " kayak gitu... " sungut Ashe.
" Tenang aja sayang, aku cuma akan tampil " hot " di depanmu saja... ! " sentil Dimas ke hidung Ashe.
" Ayo makan....! " imbuh Dimas.
Ashe mencibir dan mulai ikut makan. Meski hanya ayam bakarnya saja. Ashe akhir - akhir ini nggak nafsu liat nasi.
" Kamu emang udah nggak doyan nasi Bu...? " tatap Dimas yang memperhatikan Ashe mencolek ayam ke. sambel.
" Aku eneg Bie lihat nasi. Lagian dari tadi aku juga udah nyemilin itu... " kode Ashe pada jajanan pasarnya.
Dimas melonggok, benar saja. Tak ada sisa.
" Jangan - jangan kamu mlendung ...? Terus nasinya siapa yang ngabisin...? " tanya Dimas.
"Mlendunnng ayaaam nih....! Ya kamulaah sayaaaang....! Aku udaaah ngantuk.... " Ashe menjejal mulutnya dengan muka sayu.
" Enak aja....! Mentang - mentang aku yang punya telur "
" Telur juga nggak bisa netes " cibir Ashe.
Dimas memanyunkan bibirnya. Sangat ingin dia mencium bibir Ashe yang terus mengunyah itu.
" Udaah, tidur dulu sana Bu.... " Dimas mengelap pinggir bibir Ashe dengan punggung tangannya.
" Siapa yang beresin....? "
" Akuuu.... "
" Beneran....? "
" Iyaa sayanggg.... "
Ashe tersenyum, berisut menuju kamar mandi lagi, mencuci tangan dan menggosok gigi.
Ia langsung ambruk di kasur dan terlelap dengan cepat. Dimas tersenyum menoleh ke kasur. Ashe seperti orang pingsan. Tidur begitu cepat.
Dimas beberes. Ia kemudian ke kamar mandi juga. Sesaat, dirinya sudah menyusul Ashe setelah mematikan lampu.
Dimas membetulkan rambut di kening Ashe. Ia mengecup sekilas dengan penuh senyum. Beralih ke bibir Ashe sebelum akhirnya menarik selimut dan memeluk Ashe. Ia ikut terlelap dengan tangan menyusup mencari kehangatan.
****
Pagi menjelang, Ashe yang sudah berganti memeluk guling dan memunggungi Dimas berisut perlahan membuka mata. Membalik badan dan menemukan Dimas masih terlelap dengan nyamannya.
Ashe perlahan turun dari kasur.
" Kemana Bu ? " suara Dimas menghentikan langkah Ashe.
" Pipis.... " lanjut Ashe.
Dimas membuka mata dan ikut bangun. Suara air terdengar dari kamar mandi.
" Kamu pagi - pagi yang di cari Hp... " sindir Ashe.
Dimas menenggadah dan meletakkan kembali Hpnya ke nakas dan kembali membanting badannya ke kasur.
" Aku capeeeek sekalii.... " keluh Dimas.
" Samaaa.... " sahut Ashe sambil membongkar kopernya.
Mencari baju yang bisa ia pakai.
" Sini aku pijitin....! " tawar Dimas nakal.
Ia langsung bangun dan memeluk Ashe dari belakang secara tiba - tiba hingga Ashe terjengkang.
" Astagfirullaaaaaah Bie...... "
" Hahhahha....! " Dimas hanya tertawa - tawa saja sambil menciumi tekuk Ashe.
" Kamu mau ngapain ? " tanya Dimas.
" Mandilah... mau pulang... " sungut Ashe.
" Nggak boleh pulang.... " kekep Dimas paksa. Sibuk menciumi tekuk Ashe hingga Ashe bergidik ngeri.
" Terus mau ngapain....? " Ashe menepuk - nepuk pipi Dimas.
" Makaaan.... " bisik Dimas.
" Pesenlah...! Suruh anter ke kamar... "
" Orang makanannya udah di kamar... "
" Apaaaa ? " pelotot Ashe.
Dimas langsung mengerling nakal dan membopong Ashe ke kasur cepat hingga Ashe hampir saja menjerit histeris. Namun dengan cepat Dimas menjatuhkan bobot tubuh Ashe ke kasur dan membungkamnya dengan bibir Dimas.
****
" Kamu itu sungguh penuh misteri Bie.... " keluh Ashe sambil. mengeratkan pelukannya di bawah selimut.
Dimas tersenyum mengecup kening Ashe.
" Mister D yang penuh pesona kalii Bu.... "
" Terus kapan kita makannya...? Ini udah jam berapa sih ? "
" Haha... kamu udah laper ya...? Aduuuh, maaf. Aku banyak khilafnya. Lebih seneng makan kamu daripada ngasih makan kamu... "
" Hiiiis.... " tangan Ashe bersarang di dada Dimas.
" Aduuuuh.... " Dimas pura - pura mengaduh.
" Ya udah, pakai baju. Kamu ini seneng sekali buang - buang baju...! Weiiiiissss.... " Dimas langsung berusaha mengendalikan tangan Ashe yang bergerak mencubit dua tanda hitam di dada Dimas.
" Aduuuuuh....! Ini penganiayaan... " Dimas memegangi kepala Ashe yang karena Ashe gemas sendiri menciumi ketiak Dimas.
" Syukurin.... " sungut Ashe sambil berusaha duduk.
Dimas langsung menyambar tubuh Ashe dengan tangan nakal.
" Hiiiisss.... pelaan siiih.... " tepuk Ashe.
Ia kegelian karena Dimas malah mengedus tekuknya dengan tangan nakal menjalar kemana - mana.