Perfect Boy

Perfect Boy
65. Lirikanmu meresahkan



Bu Fatimah dan Bu Izun puas belanja buah dan sayur. Dua bagasi mobil penuh. Pak Kibul dan Pak Fajar hanya berpandangan. Membiarkan dua wanita itu menghabiskan uang mereka.


" Koe rasah lirak lirik Pak. Iki yo duit e anakmu lanang kok... " celetuk Bu Izun melihat Pak Kibul menatapnya nanar.


Pak Fajar menahan tawa.


" Koe ki senengan e menjatuhkan harga diriku kok Mak " sahut Pak Kibul.


" Harga dirimu ki wes ra payu Pak, wong wes tak tuku... "


" Hahhhahahhahhaha.... " Pak Fajar tak bisa menahan tawa lagi.


Pak Kibul hanya nyengir.


" Katanya itu suami tersayang. Kok di ceng in mulu " senggol Bu Fatimah.


" Suami kalau nggak diajak berantem tuh nggak seru... "


Heeh, Bu Fatimah melongo, berusaha tak tertawa. Keluarganya benar - benar unik. Pak Fajar terpingkal merangkul pundak Pak Kibul.


" Sabar ya Bang....! Istriku juga begitu... Hhhh... " ucap Pak Fajar yang langsung di lirik Bu Fatimah.


Pak Kibul tersenyum melihat Pak Fajar juga nggak jauh beda darinya.


" Yo wes, ditekke duit e...! Engko tak tukoke meneh... " kata Pak Kibul.


" Heeeh, beli duitnya dimana ? " toleh Pak Fajar heran.


" Neng Rozi noh....! Dia kan atm berjalan... "


" Hahahha...! " derai tawa Pak Fajar.


" Kui jenenge suami pengertian Pak... " ucap Bu Izun.


" Aku ki kurang pengertian piye ro koe Mak... " sahut Pak Kibul.


Bu Fatimah dan Pak Fajar tertawa. Melihat sahabat dan besan mereka yang tak pernah berubah dari dulu.


" Seneng nggak besanan sama aku Bang...? " Pak Fajar mengalihkan pembicaraan.


" Ya senenglah. Kan besanku tajir melintir... " sahut Pak Kibul dengan roman menggoda.


" Hahhahha....! Kan mantuku juga tajir melintir...! "


" Tajir opo ? Liatin ae kae, wes do koyo gelandangan... " celetuk Bu Izun.


Para orang tua itu melihat ke arah Ashe dan Dimas yang duduk sembarangan makan jagung bakar. Bahkan tak peduli penampilan. Persis seperti gelandangan kelaparan.


" Entahlah, keluar kantor udah bukan CEO lagi mereka itu. Dua bayi gede... " ucap Bu Fatimah.


" Titip anakku lanang yo Fat, nek nakal jewer wae... " sahut Bu Izun.


" Apaaa...? Anakmu itu yang dibelain ketimbang aku kok... " sela Pak Fajar.


" Ngalah... wes tuo... " senggol Pak Kibul.


Pak Fajar terkekeh. Ia menyuruh Bu Fatimah dan Bu Izun kembali belanja apa yang mereka inginkan. Sementara ia dan Pak Kibul berjalan - jalan di sekitar menikmati suasana.


*****


Dimas menyeka mulut Ashe yang belepotan dengan tangannya.


" Terus mau dilap kemana itu ? " lirik Ashe.


" Celana... " senyum Dimas.


" Jorok banget sih Bie... "


" Tadinya mau aku lap pakai bibirku, tapi ini di tempat terbuka, cuaca dingin... " bisik Dimas sambil benar - benar mengelap tangannya ke celana.


Ashe menatapnya nanar. Tak percaya laki - laki yang selalu menghipnotis dirinya dengan penuh pesona itu punya sisi jorok juga.


" Kenapa kamu itu bisa jadi Presdir ? " Ashe masih belum berkedip menatap tangan Dimas.


Dimas tertawa tertahan.


" Nanti dicuci sayang...! " sahut Dimas, " Kita cari hotel aja yuk..."


" Heeeehh....????" Ashe tambah bengong.


Dimas mengedip - ngedipkan sebelah matanya.


" Itung - itung honeymoon... " bisik Dimas.


" Honemoon kok rame - rame... ? "


" Kamu maunya sepi melulu sih...! " kerling Dimas.


" Honemoon itu ya di tempat sepi ! "


" Dimana itu ? " goda Dimas.


" Hutaaan.... " kekeh Ashe.


" Bagaimana kalau kita diatas gunung itu ? " goda Dimas sambil menunjuk puncak Merapi dengan tangan satunya memutar kepala Ashe.


" Aku punya " gunung" sendirii... " ceplos Ashe membuat Dimas menatap tak percaya hingga Dimas tertawa.


" "Gunung" itu khusus untukku... " bisik Dimas.


Wajah Ashe terasa panas. Ashe menutup muka dengan dua tangannya. Dimas tertawa mengacak rambut Ashe.


" Ini dingin lho Bu... " bisik Dimas sambil merangkul pundak Ashe.


" Hubungannya apa ? " lirik Ashe.


" Ih, masih nanya... ! Kita kan penganten baru, dingin begini kan enaknya pelukan di kasur yang besar dengan selimut tebal tak pakai baju di kamar hotel dengan aroma terapi cocok untuk bikin anak.. "


Ashe melirik Dimas tajam.


" Jangan melirikku seperti itu...! Lirikanmu itu meresahkan tahuu nggak...? "


" Bie, aku kasih tahu... "


" Kasih tahu apa ? "


" Kita kan penganten baru, dingin begini kan enaknya pelukan di kasur yang kecil tanpa selimut tak pakai baju di kamar hotel dengan aroma terapi cocok untuk bikin anak... "


" Haahhahha... hmffppppttt..... " Dimas tak urung tergelak juga.


Ashe meliriknya aneh. Apalagi pengunjung lain di sekitar. Mereka menatap Dimas dan Ashe dengan pandangan aneh. Meski Ashe dan Dimas hanya berkata pelan dan hampir berbisik, tapi tawa Dimas membuat semua orang menatap jijik ke arah mereka.


" Sudah, ayo pergi...! Kita seperti orang norak disini... " bisik Ashe.


Dimas masih menahan tawanya.


" Bayar Bie... " senggol Ashe.


" Iya sayangg.... " Dimas masih ingin tertawa sebari meraih dompetnya. Membayar jagung bakar mereka dan mengikuti tarikan tangan Ashe untuk segera meninggalkan tempat itu.


" Kemana kita Bu...? " tanya Dimas sambil mengandeng tangan Ashe.


" Katanya mau ke hotel...? " toleh Ashe.


Dimas langsung syok menatap ke arah Ashe.


" Jadi nggak ? " Ashe mengedip - ngedipkan alisnya.


Dimas tertawa tertahan. Dirinya begitu gemas melihat Ashe. Ia mendekat dan ingin sekali mengecup bibir Ashe yang nagih itu. Namun sayang, sebuah teriakan menghentikan aksinya. Teriakan yang membuat telinga Dimas sakit.


" Pak Dimas, Bu Ashee.... "


Ashe tersenyum melihat Dimas yang gagal dan langsung cemberut.


" Makanya sadar tempat Jurangan... " celetuk Ashe. Dimas memanyunkan bibirnya.


Nasrul mendekat.


" Saya sudah beli tiket bioskop Pak, ayo nonton....! " kata Nasrul.


" Bioskop ? Nonton aapa ? " tanya Dimas.


" Nonton sejarah meletusnya gunung api... " cengir Nasrul.


Ashe terkekeh.


" Heh... kenapa nggak nonton film romantis ? " Dimas ngeyel.


" Pak, ini bioskopnya Ketep Pass ! Nggak ada film romantis. Adanya film gunung meletus... "


" Nggak ahhh...! Orang aku mau nyari hotel... "


Krik kriik krik


Ashe menabok lengan Dimas. Dimas tersenyum merayu. Nasrul langsung bengong.


" Udaaah, ayo ikut Nasrul... " tarik Ashe. " Dimana teaternya Rul...? " imbuh Ashe.


Nasrul menunjuk dengan telunjuknya. Ashe menyeret Dimas mengikuti Nasrul. Ternyata, semua sudah ada di dalam. Dimas menyuruh Ashe mengambil kursi paling belakang, paling pojok, paling gelap😱. Modus setan mengelayuti otak Dimas.


****


Ashe menepuk tangan Dimas saat terlalu keras.


" Kita tuh beneran kayak abg pacaran tahu nggak Bie... " tatap Ashe berbisik.


" Biarin aja sih...! Salah siapa kamu itu meresahkan... ? " Dimas tak menyurutkan tangannya bermain.


Ashe menahannya saat Dimas terlalu gemas. Melirik Dimas kesal.


" Nggak usah lirak lirik Bu... "


" Udaah deh, kita pergi cari hotel aja... " sewot Ashe.


" Kenapa ? Kamu beneran udah nggak tahan ya...? " senyum Dimas menggoda.


Ashe mendelik kesal. Gimana bisa bertahan, orang tanganmu sibuk merayu terus.. batin Ashe.


" Aku tidak merayu, aku juga menginginkanmu... " ceplos Dimas berhasil membuat Ashe tertawa tertahan.


" Cenayangmu itu tak pernah hilang ternyata... " kata Ashe.


" Tentu saja tidak sayang... " Dimas menghentikan tangannya dan merapikan baju Ashe. Ia kemudian mengenggam erat tangan Ashe.


" Tahaan Bie...! Sampai nanti malam... " bisik Ashe.


Dimas menoleh penuh senyum. Mencium kening Ashe dan kemudian beralih mengecup bibir Ashe.


" Kemarin - kemarin bisa bertahan. Tapi setelah kamu jadi millikku seutuhnya rasanya tiap saat ingin " nyaplok " kamu tahu nggak Bu...! Aku rasa kita perlu honeymoon Bu... "


" Kalau kamu ngajak jauh - jauh terus ujungnya aku di kurung di kamar ya percuma Biee... "


" Terus maunya gimana ? "


" Di rumah juga bisa... "


" Emangnya kamu mau, baru nanjak terus Mama teriak dari luar kamar...? "


" Heeeeh.... ??? "


" Yang deket aja Bu...!" bujuk rayu Dimas.


Mereka berdua bener - bener nggak nonton sama sekali. Malah sibuk membahas soal nanjak menanjak.


Ashe menoleh tersenyum. Ia menangkupkan tangannya pada pipi Dimas.


" Baiklaah... " ucap Ashe.


Dimas tersenyum. Ia mengecup bibir Ashe lagi.


" Udah sih, ntar kebablasan...! " dorong Ashe pelan.


Dimas bener - bener seperti lalat kena perangkap. Lengkep terus pada Ashe.


" Hehehe... ! Kebablasan juga nggak papa...! " senyum Dimas.


" Terus mau disini juga....? " tatap Ashe.


" Boleeeh... "


" Nggak mau... "


" Kenapa ? "


" Ntar pinggangku encok... " sindir Ashe.


Dimas tertawa tertahan menatap Ashe.


" Nyidir muluuu... " toyor Dimas pelan.


Ashe memamerkan giginya. Tak terasa film telah selesai. Ashe dan Dimas keluar mengikuti keluarga mereka.


" Laaaah..... " semua orang melonggo begitu keluar gedung teater.


Pasarnya hujan turun sangat deras. Ashe yang mengandeng tangan Dimas menyenggol - nyenggol bahu Dimas. Menatap penuh kenakalan.


" Apaaa ? " senyum Dimas malah merangkul Ashe mesra.


" Tidak mau mengatakan sesuatu ? " sindir Ashe.


" Nggak...! Nanti di rumah saja... " kerling Dimas nakal.


Ashe melirik Dimas.


" Auuuh ah, nggak jelass.... " sungut Ashe.


Dimas hanya tersenyum mengecup kening Ashe tanpa permisi. Emang dasar tukang nyosor.


Nasrul, Lino dan Faisal tampak sibuk mondar mandir memayungi para tuan mereka. Terakhir Ashe dan Dimas.


" Kenapa kamu malah ngeliatin kita ? " tanya Dimas karena Nasrul malah memandang Ashe dan Dimas ragu.


" Takut ditendang Pak Dimas kalau saya mayungi Bu Ashe... " lolos Nasrul begitu saja.


Entahlah, sopan santunnya mulai luntur sejak Dimas menjadi atasannya.


" Emang kamu mau nikung Nyonya kamu...? "


" Adiknya aja belum kelar kok urusannya.... " gerutu Nasrul membuat Ashe tersenyum.


" Udah, sini payungnya. Kamu dijemput Faisal aja...! " ucap Dimas mengambil payung dari tangan Nasrul dan langsung menarik Ashe menuju mobil.


Nasrul bengong tak percaya. Namun ujungnya Dimas yang berbalik dan menjemput Nasrul.


Mereka meninggalkan Ketep Pass dan menuju Ambarawa. Pak Fajar mulai kecanduan selfi. Mereka hanya sebentar dan melaju pulang.


*****


Mereka tiba di Mahaloka residence setelah Nasrul booking tadi pagi. Mereka berkeliling sebentar hanya untuk selfi. Kemudian melipir ke Banyu Bening, Dadap Sumilir dan akhir hari saat matahari terbenam dan lampu hias sudah menyala. Mereka menikmati minum dan makan di Kopi Ampirono.


Ashe rasanya udah tak tahan. Badannya terasa begitu lelah. Pak Fajar yang jadi komando malah masih enerjik. Sibuk meminta Lino, Nasrul, atau Faisal untuk foto - foto. Bu Fatimah apalagi. Itu pun langsung nular ke sang besan.


Dimas menggeleng kepala melihat kelakuan keluarganya. Mereka memisahkan diri dengan pasangan masing - masing dan memesan meja masing - masing. 🤦‍♀️


Dimas berulang kali menatap Ashe yang nampak mulai bete namun tetap menyelesaikan makannya. Hampir setengah 9 malam mereka beranjak pulang. Ashe benar - benar menahan kantuknya sampai rumah. Ia sudah tak banyak bicara dan hanya mengeleyot lengan Dimas sambil memainkan smartphonenya.


Dimas sendiri juga sudah mulai capek. Tapi mulutnya tak pernah bisa diam.


"



Ashe menyandarkan kepalanya dibahu Dimas. Mulut Dimas tetap bersenandung hingga sampai rumah.


Ashe langsung melangkah gontai masuk dalam rumah diikuti Dema dan Silia. Sementara para lelaki menurunkan semua muatan dari bagasi.


" Mbak Ashe mau mandi dulu nggak ? " tanya Silia.


" Enggak Sil. Mbak cuci kaki aja entar. Ini dingin banget... " sahut Silia.


" Iya Bu, aku juga ngerasa ac di sini sungguh dingin... " celetuk Dema.


" Ac buatan alam soalnya Dem... " sahut Ashe sambil melangkah ke kamar.


Sementara Dema dan Silia ke kamar mandi lebih dulu.


Ashe meletakkan tasnya dan langsung rebahan. Ah, rasanya nyaman banget, gumam Ashe. Ia merasa pinggangnya begitu sakit dan kakinya terasa ngilu akibat terlalu banyak jalan. Tak lama Dimas masuk dan menutup pintu kamar. Meletakkan Hp dan dompetnya kemudian duduk di sebelah Ashe.


" Kenapa kamu Bu... ? " tanya Dimas sambil mengusap kening Ashe.


" Capeeeek.... " Ashe pasang muka melas dan memeluk pinggang Dimas.


" Kamu nggak mandi ? "


" Enggak...! Dingiiin... "


" Ganti baju yuk...! Cuci kaki, cuci tangan, cuci muka...! Ntar keburu tidur... " ucap Dimas lembut dan sungguh itu yang membuat Ashe meleleh sejak pertama. Dimas super perhatian.


Ashe malah tersenyum - senyum sendiri.


" Diajak ngomong kok malah senyum - senyum sendiri sih ? " tatap Dimas yang kemudian mencium kening Ashe yang nyelip di bawah ketiaknya.


" Inget dulu saat kamu nawarin minum...! Sumpah, itu aku halu banget pingin punya pacar yang super perhatian kayak kamu... " sahut Ashe.


" Sekarang kesampean kan ? Nggak cuma jadi pacar... "


Ashe terkekeh.


" Udah ayo bangun dulu. Buang air kecil dulu. Ntar ngompol lho... "


" Diiiih....! Emang gue bayi.... ? "


" Bayi yang bisa bikin bayi....! "


" Bayi apa ? " sungut Ashe sambil bangun.


" Bayi gede... " tarik Dimas.


Ashe bangun dan mencari baju ganti untuknya dan Dimas. Kemudian mereka ke kamar mandi. Malam terasa larut. Suasana begitu sunyi hanya terdengar suara binatang malam khas di kampung Dimas.