
" Assalamualaikum... " Pak Fajar memasuki rumahnya diikuti Faisal yang berjalan di belakangnya membawakan tas Pak Fajar.
" Waalaikumsalam.... " Bu Fatimah, Dimas, Ashe , Rozi menoleh seraya menjawab bersamaan. Mereka tengah ngobrol diruang tamu.
" Eh, ada tamu... " kata Pak Fajar.
Pak Fajar menyalami satu persatu. Ashe dan Dimas membungkuk mencium tangan Pak Fajar. Rozi mengikuti dengan sedikit sungkan.
" Siapa ini ? " tanya Pak Fajar begitu Rozi mencium tangannya.
" Rozi Om... " sahut Rozi mengenalkan diri.
Pak Fajar menoleh pada Dimas yang tersenyum.
" Ini IT mu...? "
" Iyaa Pa... ! Itu adikku... "
" Hebaat lho IT mu... " Pak Fajar duduk disebelah Bu Fatimah.
" Hebaat Bang Dimas lah Om... " sela Rozi.
" Benarkah ? Baiklah. Selesaikan kuliahmu cepat. Dan bantu Abangmu... "
" Haaah....?? " Rozi kaget.
" Iyaalah. Mau apalagi kamu...? Nikah dulu. Nggak boleh...! Nanti saya yang carikan kamu istri... " kata Pak Fajar.
" Haaaah....?? " Rozi makin kaget.
" Nah lho...! Syukurin loe Ozzen... " cibir Ashe.
" Nggak papa sih Mbak...! Yang penting istrinya bener... " sahut Rozi nyengir.
" Biar rame rumah tante. Cepet punya anak. Tante pingin momong cucu.. "
" Bang Dimas sama Mbak Ashe dulu Tante... " elak Rozi.
" Ngeles mulu nih anak... " omel Dimas.
" Ya abisnya gue belum punya calon Bang. Masak sama si Muning yang dulu ngejar - ngejar Abang itu...? " sewot Rozi.
Ashe langsung menoleh pada Dimas. Dimas pura - pura buang muka sambil menahan senyum. Ashe kesal, menyenggol Dimas.
" Siapa Muning ? Mantanmu...? " delik Ashe.
" Bukaan. Itu anjing tetangga... " senyum Dimas menahan tangan Ashe untuk tak mencubitnya.
" Siapa Zen... ? " Ashe mendelik pada Rozi. " Jangan bilang anjing tetangga juga. Awas kamu...! "
" Hehehe...! Bang Dimas nggak punya pacar Mbak....! Dia emang suka sama Bang Dimas. Tapi Bang Dimas nggak mau... "
" Papa percaya ucapan Rozi... " sela Pak Fajar.
" Tuh...! Papa aja belain... " ucap Dimas mengangkat dua jarinya.
Pak Fajar tertawa.
" Sudah. Ayo kita makan. Mama sudah siapin...? " tanya Pak Fajar.
" Udah Pa. Ayo...! " sahut Bu Fatimah.
Mereka berjalan ke ruang makan.
" Dimas sama Rozi tidur sini aja ya ? " kata Pak Fajar disela - sela mereka makan.
" Kalau Rozi pulang aja Om. Kalau Bang Dimas terserah... " Rozi mulai tak takut dengan Pak Fajar.
" Berani sendiri ? " celetuk Dimas.
" Bang.... gue udah gede... "
" Udah gede kok makan aja harus tungguin abangnya ! " sindir Ashe.
Dimas dan Pak Fajar tertawa.
" Namanya juga kakak adik, wajar ya Zi. Pingin deket sama kakaknya ! " Bu Fatimah membela Rozi.
" Bener Tante... "
" Mau naik apa kamu pulang kampung Dim ? " tanya Pak Fajar.
" Rencananya naik mobil Pa "
Pak Fajar mengenyit. Ia ingat Dimas tak punya mobil disini dan memilih naik motor. Sementara ia malah membeli mobil untuk orang tuanya di kampung.
" Tapi Nasrul udah beli tiket pesawat, tadi Papa yang nyuruh. Daripada kamu ribet naik mobil. Mobilnya mana ? " tanya Pak Fajar.
" Beli Pa...! " kekeh Dimas.
" Kalau menurut Papa nih ya. Kamu pakai mobil Papa aja dulu. Nanti kalau kamu mau beli nggak papa...! " kata Pak Fajar.
Dimas menoleh pada Ashe minta saran. Ashe mengangguk.
" Baiklah. Nasrul yang mengurus semuanya kan. Termasuk intel kamu itu... " Pak Fajar menatap Rozi.
Rozi langsung ciut.
" Kenapa Om bisa tahu sih ? " tanya Rozi.
" Makanya belajarlah banyak sama abang loe...! Dia itu cenayang kelas dewa... " sahut Pak Fajar.
Ashe langsung menutup mulutnya menahan tawa. Dimas pura - pura cemberut.
" Papa tahu dari mana sih ! " protes Dimas.
" Nooh....! Ada yang suka ngomel - ngomel berisikin Papa sama Mama... " tunjuk Pak Fajar pada Ashe dengan ekspresi mukanya.
Bu Fatimah tertawa melihat Ashe yang nyengir dan buru - buru menghabiskan makanannya. Dimas menggeleng. Mengacak rambut Ashe gemas.
" Jangan bikin drama di sini Bang... " nasihat Rozi.
Ia ingat kejadian tadi di food court.
" Drama apa Zi ? " pancing Pak Fajar.
" Biasa Om. Mereka ini keliatan alim, tapi tak bermoral... Auwwww..... " Rozi mengaduh karena Dimas menginjak kakinya dengan muka mengancam.
" Aduuh sakit Bang....!! "
Pak Fajar dan Ashe tertawa. Dimas cuek.
" Kalian ini udah gede masih juga berantem... " kata Bu Fatimah.
" Dia ini suka menganiaya Tante... " keluh Rozi.
Bu Fatimah terttawa. Mereka menghabiskan makanan masing - masing.
****
" Pa.... " Dimas mendekati Pak Fajar yang tengah duduk santai sendiri sebari memeriksa sesuatu di gawainya.
Ashe, Bu Fatimah dan Rozi tengah ngobrol di ruang keluarga.
" Kenapa Dim ? " Pak Fajar menoleh.
Pak Fajar menyuruh Dimas duduk di kursi sebelahnya.
" Papa nggak malu ya, punya mantu kayak saya... ? "
Pak Fajar mengenyit dahi.
" Kenapa memang ? Ada apa Dim ? "
" Saya kan cuma OB Pa... Saya nggak punya mobil, nggak punya rumah mewah kayak CEO lain... "
Pak Fajar terkekeh. Meletakkan gawainya.
" Dim... memangnya Papa kenal kamu udah berapa lama sih ? Kamu itu memang OB disini. Tapi di sisi lain, kamu itu tangan kanan Papa dari dulu...Kamu bahkan lebih milih rumah kecil kelas karyawan dari pada rumah mewah yang Papa tawarkan. Kamu juga yang lebih senang naik motor daripada mobil mewah yang Papa kasih. Bahkan kalaupun kamu ingin beli pulau, kapal pesiar atau apapun didunia ini juga kamu bisa. Tapi.... Papa menghargai pilihan kamu....! Kamu ingin hidup sederhana tanpa beban...! Papa sangat suka itu... "
Dimas tersenyum.
" Papa nggak malu kalau orang ngomongin macem - macem...? ".
" Kan yang tahu kamu seperti apa itu Papa...! "
" Hehehe.... "
" Papa jujur lebih senang kalau kamu mau di sini. Pakai apa yang Papa punya tanpa sungkan. Tapi kalau kamu mau , hidup mandiri. Papa nggak bisa melarang... "
" Ya Pa...! "
" Ok. Kamu masih meragukan kesetiaan pria tua ini padamu...?? "
" Hehehehehe....! Terima kasih Papa mertua terbaik.... "
" Mertua kok saya belum pernah ketemu besan... " sindir Pak Fajar.
Dimas cemberut. Mengeluarkan Hpnya. Pak Fajar menatapnya dengan menahan senyum.
Dimas : Hai Kiwil....! Dimana Bapak sama Mamak...?
Kiwil : Ada tuh Bang...!
Dimas : Ya udah sini aku mau ngomong...!
Dimas menunggu beberapa saat.
Bapak : Opo Dim ???
Dimas : Pak...! Lamarin pacarku to Pak...!
Bapak : Pacarmu endi ? Koe duwe pacar po ? Kok teko - teko kon nglamarke anake uwong. Ojo - ojo wes isi... "
Dimas : Ngawur....!
Bapak : Hahhaaha.... ya wes. Anaknya sopo ?
Bapak : Buang dalan wae cah siji kui...
Dimas : Ngopo sih....??
Bapak : Ngerjain Bapak mulu neng ngomah.
Dimas : Yo weslah. Seng akur to Pak. Salam go mamak.
Bapak : Yoh. Mamakmu cen wes pingin koe nikah. Nek ra nikah - nikah arep di kawino ro Muning kui lho...
Dimas : Wegaaah. Ya uwes ya...
Bapak : Ya.
Dimas mematikan Hpnya. Pak Fajar tertawa. Dimas menatapnya pura - pura sewot.
" Bahkan, kalau Papa nyuruh saya terbang ke Kalimantan sekarang juga, aku pasti berangkat... " umpat Dimas seraya meninggalkan Pak Fajar.
Pak Fajar makin tergelak.
" Nanti kalau ditanya. ' Ini mobil siapa Dim ? ' ' Mobil mertua ' " masih saja Dimas ngomel.
Pak Fajar makin keras tawanya hingga membuat Ashe , Bu Fatimah dan Rozi menatap mereka berdua heran. Bu Fatimah tak kaget. Pak Fajar dan Dimas memang biasa begitu.
Dimas duduk disamping Ashe.
" Domino Dim... " teriak Pak Fajar.
" Nggaaak adaaaa... " Ashe mengambil Hp dari tangan Dimas.
Dimas mengangkat tangan. Pak Fajar kembali tertawa.
" Sini Hp Papa...! Pijitin Mama dong.... " kali ini Bu Fatimah yang bereaksi.
Ia tahu saat suaminya dan Dimas main game. Ia dan Ashe bakal dicuekin.
" Dua wanita pencemburu " gerutu Pak Fajar seraya berjalan mendekati istrinya. Menyerahkan Hpnya.
Rozi hanya bisa nyengir. Berasa obat nyamuk ditengah mereka.
" Sabar ya Ozzen " kata Ashe seolah tahu Rozi merasa dicuekin.
" Gue pingin tidur Mbak. Gue sendiri yang jomblo... " Rozi cemberut seraya beranjak menuju kamar tamu. Niatnya mau pulang ke rumah Dimas nggak jadi. Mereka akan berangkat pagi - pagi soalnya.
Pak Fajar dan Bu Fatimah tertawa.
" Kamu masih muda kok kalah sama Om...! " celetuk Pak Fajar.
Rozi mendecih kesal diledekin terus. Pak Fajar tertawa senang. Ia mengajak istrinya ke kamar.
" Dim... Papa pijitin Mama dulu ya... " kata Pak Fajar.
" Selain mijitin juga boleh kok Pa... " goda Dimas menahan senyum.
Pak Fajar melempar bantal ke muka Dimas sebelum mengikuti Bu Fatimah ke kamar. Dimas terkekeh. Tinggal ia dan Ashe.
" Bu mau kupijitin juga ? " toleh Dimas dengan tatapan aneh dan penuh arti bagi Ashe.
" Kenapa sekarang kamu jadi kayak Jae Eon ? " tatap Ashe dengan segala keberaniannya.
Jujur saja, jantung Ashe selalu bergetar setiap melihat wajah tampan didepannya itu. Dimas memang berpostur atletis dengan tampilan yang selalu rapi.
Dimas mengenyit dahi.
" Masalahnya dimana ? " Dimas mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Ashe.
Meski sudah berulang kali, tetap saja Ashe merasa wajahnya panas.
" Issh... kamu ini nyosor sana... nyosor sini...! Banting sana... banting sini... "
" Nyosor udah. Bantingnya belum Bu... " ralat Dimas dengan senyum menggoda.
" Tahuuu ahhh.... " sewot Ashe.
" Hahhaha... kamu sih mancing - mancing...! " gerutu Dimas.
" Mancing gimana ? "
" Lahh itu. Tiap dirumah yang ditonton drakor mulu. Udah gitu , adengannya ciuman sama tidur bareng....! Aku kapaaan donnggg.... " Dimas malah merajuk.
Ashe menatapnya kesal.
" Jangan mulai deh Bie... " Ashe beranjak. Berjalan ke kamarnya. Dimas mengikuti dibelakang Ashe.
" Kamu mau kemana ? " sentak Ashe.
" Ikut kamulah Bu. Aku tidur mana..?" rajuk Dimas.
" Diiih... CEO macam apa kamu ini ? Tidur aja bingung mau dimana " Ashe kembali berjalan menuju kamarnya. Dimas mengekor di belakangnya.
" Macam OBlah Bu. Mana mungkin OB sanggup beli rumah mewah... "
" Gue jitak loe Bie... " ancam Ashe.
" Laaah.... " Dimas menutup pintu kamar Ashe.
" Kamu tuh panggil Nasrul aja semua terwujud... " Ashe masuk kamar mandi.
Dimas duduk disofa tempat biasa mereka nonton.
" Emang loe pikir Nasrul jin dalam teko... " umpat Dimas membuat Ashe tertawa di kamar mandi.
Dimas mengambil laptopnya dari dalam tas yang tadi diambil Nasrul. Mulai membuka dan memeriksa sesuatu. Ashe keluar kamar mandi dan duduk disamping Dimas. Memperhatikan lekuk sempurna wajah Dimas.
" Apaa ? Bu baru sadar kalau aku terlalu tampan ya... " goda Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
" Iyaaa.... " seolah kata - kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ashe.
Dimas tersenyum seraya menoleh pada Ashe dan menatap lekat bola mata Ashe.
.
" Pasti ingin sesuatu.... " terkah Dimas.
Jleb, Ashe langsung salah tingkah dan beralih ke laptop Dimas. Dimas tersenyum.
" Mau apa Bu ? " senggol Dimas.
" Tadinya aku mau ikut kamu ke kampung. Tapi aku ada meeting. Udah dua kali ku tunda..! Ntar kliennya ngamuk lagi... " sahut Ashe.
" Lain kali...! Ok...? " Dimas merengkuh pundak Ashe dan membawa dalam dekapannya.
" Kita cuma pisah sehari doang. Kemarin aja ampe sebulan lebih... ! Nggak usah sedih gitu. Tenang aja. Hatiku selalu untuk Bu... "
" Hoeeeeekk.... ! Moga anjing tetangga itu nggak gigit... " Ashe menepis tangan Dimas dan berdiri, berjalan menuju kasurnya. Dimas terkekeh mendengar ' anjing tetangga '.
" Kamu mau tidur sofa atau dikasur Bie ? " imbuh Ashe bertanya.
" Disini aja. Kalau di kasur takut khilaf... " senyum Dimas.
" Gue nggak pakai piyama... "
" Aku bukan spesialis piyama Bu. Segala jenis baju bisa kutaklukkan... " goda Dimas.
Ashe mendelik kesal karena Dimas tak berhenti menngodanya. Dimas tertawa menatap Ashe.
" Tiduuuur....! Jangan nonton drakor lagi...! Pertahannku juga bakal runtuh kalau Bu ngajakin nonton itu terus... " omel Dimas.
" Diiih... urusin tuh kerjaanmu Pak CEO... " umpat Ashe seraya mengambil bantal dan selimut. Ashe meletakannya di samping Dimas.
" Aku tidur dulu ya Bie...! Selamat malam... " Ashe membalik menuju kasurnya.
" Tungguuu Bu.... " Dimas menarik tangan Ashe.
" Apaaa ? " Ashe kembali mendekat. Mereka dibatasi punggung sofa.
" Berikan aku " makan malam "...! Bagaimana aku bisa tidur tanpa " makan malam " ? "
Ashe langsung paham maksud Dimas. Mereka tetap terhalang punggung sofa dan Ashe sudah lelah menghadapi godaan Dimas. Lebih milih jalan damai. Ashe mendekat. Memberi " makan malam " alias ciuman bibir untuk Dimas. Dimas menarik Ashe hingga jatuh menimpa Dimas dengan kaki diatas. Badan Ashe menghimpit badan Dimas. Wajah mereka saling menempel.
" Eeeeee.... "
" Ya ampun Bie...! Niatnya mau romantis kenapa jadi dramatis begini... " keluh Ashe.
Dimas tertawa. Membantu Ashe hingga Ashe bisa duduk disampingnya.
" Hahaha... maaff Bu. Saking semangatnya... " Dimas masih tak bisa berhenti tertawa.
Dimas membantu merapikan rambut Ashe.
" Sudaaah cantiik... " puji Dimas.
" Gombaaaal.... "
" Ya udaaah... jeleeeek "
Ashe cemberut. Dimas terkekeh. Membelai rambut Ashe. Mengecup kening Ashe.
" Bangunkan aku besok... "
Dimas mengangguk mengiyakan. Ashe berdiri meski tangannya masih bertautan dengan Dimas.
" Bieeee.... "
" Heeeeheehe.... iya " Dimas melepaskan tangan Ashe. Mengekor dengan matanya hingga Ashe naik ke tempat tidur.
" Jangan pura - pura tidur berjalan loe ya...! " tunjuk Ashe masih saja bisa mengancam Dimas.
" Hahaha... iya sayaaaang...! "
Ashe menyelimuti tubuhnya. Dimas mematikan laptopnya. Ia beranjak ke kamar mandi di kamar Ashe menganti baju dengan kaos yang lebih santai. Nasrul sudah menyiapkan semuanya tadi.
Dimas keluar dan mendekati Ashe. Membetulkan selimut dan kembali mencium kening Ashe.Dimas mematikan lampu di kamar Ashe hingga menyisakan lampu tidur. Dimas menuju sofa dan berbaring. Sesaat ia terlelap.