Perfect Boy

Perfect Boy
53.Jam Warisan, Pembawa Prahara



Ukur baju selesai, menentukan warna selesai. Dua keluarga itu duduk menikmati cemilan dan minum teh bersama setelah desainer mereka pergi. Berbeda dengan Dimas dan Ashe. Ashe kembali mandi dan ganti baju untuk pergi ke kantor. Dimas juga. Ia tengah menggenakan blazzernya begitu Ashe keluar kamar mandi dan sudah rapi.


" Kenapa dari kamar mandi sudah rapi ? " kenyit Dimas.


" Maumu kan aku cuma pakai handuk sebatas lutut kan ? " terkah Ashe.


" Itu Bu tahuuu... "


" Otak onaaaaarrrr.... " sungut Ashe membuat Dimas ingin tertawa.


" Sudah belum ? Ayo berangkat...! Kita harus pulang sore... " kata Dimas meraih smartphonenya dan tas Ashe.


" Iyaaa sayaaaang.... " sahut Ashe membuat Dimas shock.


Langsung terpana seraya memegang dadanya.


" Ya ampun...! Aku kena serangan jantung... " seru Dimas.


" Diiiih....! Nggak usah berlagak begitu...! Aku males bawa kamu ke rumah sakit... " sungut Ashe.


" Huuuh...! Pacar nggak romantis... " sahut Dimas membuka pintu kamar Ashe.


" Iyaa...! Aku emang nggak romantis... ! Tapi kamu tidak akan bisa tidur tanpaku... " kata Ashe Pede.


" Tentuuu saja...! Aku tidak bisa menyusup kalau tidur sendiri... " balas Dimas.


Ashe mencibir.


" Aku belum cium bibirmu Bu...! " Dimas menarik tangan Ashe masuk kamar Ashe lagi dan langsung menutup pintu.


Membawa Ashe ke dalam kungkungannya dan mencium bibir Ashe dalam. Ashe menahan dada Dimas. Dimas melepaskan ciumannya. Wajah Ashe merona.


" Kamu bisa - bisanya ya Bie... " keluh Ashe.


" Mau lagiii...! Ehh... enggak...! Nanti malem aja... " kata Dimas.


" Mau ngapain nanti malem...? "


" Rahasia... "


" Awas kalau macem - macem... " Ashe keluar dari belenggu Dimas.


" Satu macem aja Buuu... "


" Hiiis....! "Ashe membuka pintu dan keluar. Dimas tersenyum mengikuti Ashe.


Mereka pamit pada orang tua mereka dan pergi ke kantor di siang bolong. Nasrul penuh senyum membawa mobil Dimas. Lino duduk di kursi depan menemani Nasrul.


*****


Apa coba, toh Ashe dan Dimas ujungnya juga bertemu di kantor. Di ruang meeting. Hanya bedanya ada beberapa staf dan kepala divisi saja. Ashe bertingkah penuh wibawa. Apalagi Dimas. Diiih... sok coolnya menyiksa Ashe. Pertahanan Ashe hampir roboh tanpa ingat ia dimana. Rasanya ingin begitu mengelayut dan memeluk Dimas erat.


Rapat selesai setelah dua jam. Ashe pun menahan kerelaan hati mati - matian karena para wanita yang terus memandangi Dimas selama rapat.


Dimas menyenggol lengan Ashe dengan sikunya dengan penuh senyum. Tangannya dimasukkan kedalam saku seperti biasa. Mereka berjalan paling depan keluar ruang rapat.


" Buciiinmu tak tertahankan.... " bisik Dimas penuh senyum.


" Cenayangg oglekkk... " sahut Ashe berbisik pula.


" Taaak...! Aku liat dari sorot matamu... " sahut Dimas.


" Aku akan balasss nanti... " lirik Ashe.


Dimas memamerkan senyum semanis mungkin sebelum memisahkan diri dari Ashe karena ruangan mereka berbeda.


Ting...


Ashe baru saja duduk duduk di kursinya. Menoleh malas ke Hpnya. Mengintip pun dia sudah tahu siapa yang kirim chat. Dema masuk membawa berkas.


" Bu, aku kesulitan menata jadwal Ibu... " keluh Dema.


" Nanti aku panggilkan Rozi untuk membantumu... " celetuk Ashe.


Dema tersenyum.


" Saya belum siap Bu... "


" Heeeh...! Apanya yang belum siap ! Emang aku mau nikahin kamu sama Rozi...? " heran Ashe.


" Heeeeh... bukan... ! Jadi pacarnya maksudnya..... " Dema menutup mulut. Keceplosan


Ashe menatap Dema jengah.


" Kapan kamu PDKT...? " selidik Ashe.


" Hehe... baru penjajakan Bu... " cengir Ashe.


" Haisss....! Mana jadwalku...? " tanya Ashe.


Dema menyodorkan berkas di tangannya. Itu jadwal Ashe seminggu ke depan. Ashe menghela nafas. Dema memadatkan jadwalnya sebelum pernikahannya.


" Coba ini dialihkan ke Pak Presdir kenapa ? " protes Ashe.


Dema nyengir.


" Itu bahkan harus di konfirmasi dengan Pak Nasrul Bu... " sahut Dema.


" Pak Nasrul bahkan di kirim pulang kampung Dem... " sungut Ashe.


" Kalau gitu, Ibu yang bilang sama Pak Dimas aja Bu... " usul Dema.


Ashe mendesah. Banyaknya map yang perlu di tandatangi membuatnya kesal. Dema duduk di depan Ashe membantu menata berkas di meja Ashe.


Ting,


Ashe menatap layar Hpnya kembali Cenayang itu rupanya beraksi kembali.


Bie : Bekerjalah seperti kamu sedang memelukku...πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—


Ashe mendengus.


Bu : Memelukmu itu sensasinya berbedaaa... 😜


Bie : Ohhh... Ya ampunnn !! Benarkah itu ?? Aku jadi ingin di pelukk... 🀩🀩


Bu : Di peluk sekali minta yang lain kamu ituuu...


Bie : Soalnya enakkk...


Bu : Apanya yang enakkk...? 🀨🀨


Bie : Pelukannmu lah....! Yang lain belum kokk... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Bu : 😱😱😱😱


Bie : Aku juga mau yang lain.... 😘😘😘😘


Bu : Apaaa ?


Bie : πŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘Ά


Bu : Wooo... tuyul siapa itu ? "😱😱


Bie : Tuyul yang lahir darimuuuu....!


Bu : Tapi aku maunya πŸ‘¦πŸ‘¦πŸ‘¦, nggak yang πŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘Ά


Bie : Siap pokokknya....😘😘😘😘😘


Bu : 😀😀😀😀😀


Bie : Kenapa ?


Bu : Aku jadi mikir kejauhan gara - gara otak mesummu ituu...


Bie : Itu nggak mesum dan nggak kejauhan....


Bu : Laaaaa....


Bie : Bahkan kita bisa membuatnya sekarang.... 😁😁😁


Bu : πŸ‘ΉπŸ‘ΉπŸ‘ΉπŸ‘ΉπŸ‘ΉπŸ‘Ή


Bie : 🀣🀣🀣🀣🀣🀣 Selesain dulu depanmu itu, nanti aku jemput GOMBEEEELLL....🀭


Bu : ☠️☠️☠️


Bie: 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘


Ashe meletakkan Hpnya kesal. Dimas selalu membuat hatinya porak poranda. Penuh kekesalan tapi juga membuatnya bahagia. Dema menatap bosnya yang seperti orang sinting. Kesal tapi senyum - senyum sendiri.


" Semoga aku tidak ketularan Bu Ashe... " gerutu Dema.


" Kita liat saja nanti... " sanggah Ashe mulai memeriksa berkasnya.


Dema tersenyum kecut.


" Jangan takut melangkah dan membuka hati Dem...! Kamu tahu berapa mantanku kan ? " kata Ashe.


" Iyaa. Banyak Bu... ! Hehehe... " kekeh Dema.


" Kan aku banyak penggemarnya... " pamer Ashe.


" Ujungnya Pak Dimas juga... "


" Harusnyaaa....??? "


" Harusnya Bu Ashe pacaran sama Pak. Dimas dari dulu... " Dema malah menasehati.


" Aku pacaran sekarang aja uteknya udah nggak waras kok... " gerutu Ashe.


Dema tersenyum.


" Bu, ini proposal proyek ... " kata Dema memilah beberapa map.


" Aturkan jadwalnya untuk membahas dengan Klien Dem... " sahut Ashe.


Dema mengiyakan dan ia permisi keluar. Ashe menyelesaikan berkas di mejanya.


****


Dimas selesai dengan beberapa berkas yang dibawa Nasrul. Nasrul keluar ruangan, muncul Faisal dengan senyum hormatnya.


" Seneng amat Bang Faisaaal .. " goda Dimas begitu Faisal menutup pintu.


" Iyalah Mas... ! Anakku sebentar lagi lahir dan cowok... " sahut Faisal.


" Oiya...! Selamat ya... " kata Dimas.


" Terima kasih. Kita keluar sekarang Mas... ? " tanya Faisal.


Ia meninggalkan blazzernya di kursi dan hanya mengenakan baju putih lengan panjang yang membuatnya tampak begitu mempesona. Faisal tersenyum. Dia meraih blazzer Dimas dan membawakannya. Menantu bosnya memang penuh pesona dan kharisma. Dan kini bahkan ia berhasil membuat Faisal merangkap assistennya. Assisten Pak Fajar sekaligus Dimas.


Faisal menekankan tombol lift untuk Dimas. Pasalnya Dimas memasukkan bajunya.


" Heissss tunggu...! " kata Dimas.


" Kenapa ? " heran Dimas.


" Aku ke kamar mandi dulu... " kata Dimas berbalik.


Bukan menuju ruang kerjanya kembali, namun ke kamar mandi di lantai itu. Faisal tercengang melihat cepatnya Dimas. Dimas telah menghilang di balik belokan. Faisal terpaksa menunggu sebari mengeluarkan Hpnya.


Lima belas menit berlalu. Muncul Dimas dengan muka lebih fres. Tetap memasukkan kedua tangannya di saku penuh pesona. Faisal masih setia membawakan blazzernya sebari bermain Hp hingga tak menyadari Dimas datang.


" Ayo Bang Isal... " Dimas menyadarkan Faisal yang masih bersandar di tembok. Pintu lift telah terbuka. Faisal terperangah. Dimas tersenyum.


" Maaf Pakkk... " senyum Faisal mengikuti di belakang Dimas.


" Ngelamun aja... " seru Dimas sambil menekan pintu lift kembali.


" Enggak... ! Tadi di wa istri... " sahut Faisal.


" Iya, percaya...! Calon bapak... " goda Dimas.


" Mas Dimas bentar lagi juga jadi bapak... " Faisal sindir balik.


" Kapaan....? Belum bikin juga... " dengus Dimas.


" Hahahahahaha....! Sabarrr Bosss... "


" Hmmmm... "


Faisal terkekeh dibelakang Dimas. Tak lama pintu lift terbuka. Mereka keluar dan berjalan melewati lobby. Dimas tetap mempesona dengan tampilan coolnya. Membuat semua orang menoleh dan memandang kagum pria tampan satu itu. Apalagi para wanita. Dimas hanya melempar senyum makin membuat wanita meleleh.


" Jangan sampai Mbak Ashe tahu Pak Boss... " bisik Faisal seraya mendahului Dimas. Membukakan pintu mobil yang telah tersedia di depan pintu lobby. Nasrul di belakang kemudi melempar senyum.


" Jangan buka muluttt... " kata Dimas sambil duduk di bangku penumpang.


Faisal hanya tersenyum. Ia duduk di depan di samping Nasrul.


" Bos kita sungguh mempesona Pak Faisal...! Kita bahkan leleh di depannya... " sindir Nasrul sambil menjalankan mobilnya.


" Benaaar Pak Nasrulll...! Aku tak berkutik begitu Pak Dimas minta Pak Nasrul digantiin sementara.... " sahut Faisal.


" Kita meeltiiing.... "


" Heeeeh....! Kalian pikir gue arwah di sini...? " sungut Dimas sebari menjitak Nasrul dan Faisal bersamaan.


Yang dijitak terkekeh kesenangan. Bos mereka satu itu memang sangat humble dan jarang marah meski memang benar - benar disegani.


" Bukaan Bos...! Pujaan hati tertampan... " sahut Nasrul sebari membelokkan mobilnya ke gudang.


Dimas monitoring tanpa sepengetahuan Ashe. Hampir sejam Dimas di sana bikin bengek semua karyawan. Bukan takut, tapi terhipnotis pada ketampanan sang Bos muda itu.


" Pak Bos, mari pergi dari sini...! Aku enek...? " bisik Nasrul.


" Kenapa kamu ? Hamiiil ? " toleh Dimas sengak.


Faisal hanya tersenyum.


" Adikmu bahkan belum bisa ku taklukkan ! Bagaimana bisa membuatnya hamil ? " sahut Nasrul pelan. Lebih berani dari biasanya.


Faisal terperangah. Dimas memandang Nasrul dengan tatapan membunuh. Sang asisten ini mulai luntur takutnya, hanya nyengir.


" Gue tendang pantat loe Rul.... " pelotot Dimas sebari menaruh tumpukan map berisi berkas pada Nasrul dengan kasar.


Nasrul tersenyum penuh kemenangan. Kemenangan membuat bosnya sewot. Faisal tertawa mengikuti Dimas.


" Ohhh, jadi kalian berdua sedang membangun keluarga...? " ejek Faisal.


Dimas dan Nasrul langsung menatap Faisal. Faisal hanya tersenyum dan mengangkat dua jarinya. Membukakan pintu mobil untuk Dimas.


" Jam tanganku kemana Rul ? " toleh Dimas nggak jadi masuk mobil.


Nasrul bengong. Ia bahkan tak menyadari jam tangan Dimas tak ada.


" Laaah, saya nggak tahu Pak... " sahut Nasrul. Merasa bersalah. Ia yang selalu menyiapkan keperluan Dimas. Hanya beberapa hari ini saja. Semua hal di serahkan pada Ashe.


" Tadi waktu di kantor masih ada " timpal Faisal. Langsung kembali ke dalam gudang. Tak lama kembali dan menggeleng pelan.


Dimas mendesah. Masuk mobil.


" Bapak mau beli jam baru ? " tanya Nasrul saat mereka dam perjalanan kembali ke kantor. Nasrul tak pernah melihat Bosnya gelisah. Dimas selalu tenang menghadapi situasi apa pun. Tapi beda kali ini.


" Bucin muda kita sepertinya... " sindir Faisal.


" Ngawurrr....! Itu yang ngasih Papa waktu aku masih mulung Isal... " timpal Dimas.


" Oh, kirain dari Bu Ashe... "


" Aku tidak akan minta jam tangan kalau dari Bu Ashe... " kata Dimas.


" Terus minta apa ? " pancing Faisal.


" Anaaaak...... "


" Hahahahahha.... " mereka bertiga tertawa. Mulai gila dan tak ada jarak mana Bos, mana assisten.


" Nanti saya cari di kantor Pak... " kata Faisal.


Dimas hanya mengiyakan. Nasrul melajukan mobil mereka kembali ke kantor.


*****


Nasrul dan Faisal ngubek - ubek ruangan Dimas. Dimas juga iya. Jiwa OB melekat di pikirannya. Ia tak segan turun tangan walau cuma gara - gara jam.


" Tadi Bapak pergi kemana aja sih ? Ke tempat Bu Ashe nggak ? " cecar Nasrul.


" Lupaaaa.... " sahut Dimas.


" Laaah... ke tempat istrinya lupa... " ucap Faisal.


" Coba telepon Bu Ashe...! Siapa tahu Bu Ashe liat...! " kata Nasrul menyarankan.


Dimas mengeluarkan Hpnya.


Bie : Buu, kamu liat jam ku nggak ?


Bu : Liattt...


Bie : Dimana ?


Bu : Tadi kamu pakai....


Bie : Diiih.... tadi iya....! Pas di kamar mandi aku lepas...! Lupa sekarang ?


Faisal dan Nasrul berpandangan. Langsung berpencar ke kamar mandi di ruangan Dimas dan keluar ke kamar mandi di lantai itu.


Bu : Kamar mandi mana ? Tadi kamu berangkat masih makai...!


Bie : Coba aku cari dulu...! Udah selesai belum ? Mau pulang kam berapa ?


Bu : Bentar laggi ya...


Bie : Iyaaa...


Dimas menoleh. Nasrul dan Faisal kembali.


" Tak ada Pak... " kata Nasrul.


" Di kamar mandi luar juga nggak ada... " imbuh Faisal.


" Ya udah gpp...! Aku evaluasi dulu aja...! Kalian bisa keluar dulu...! " kata Dimas sebari duduk di kursinya.


Faisal dan Nasrul keluar ruangan Dimas, kembali ke meja mereka. Dimas evaluasi laporan dari cabang Surabaya dan juga Kalimantan. Tak lama dan tak sampai selesai, Dimas menutup laptopnya. Memanggil Nasrul untuk beberes serta menyuruh menunggu di lobby. Dimas ke divisi Ashe.


Karyawan Ashe mengangguk penuh hormat dan terpesona. Dimas membalas dengan sikap coolnya.


" Pekerjaannya sudah ada yang selesai...? " tanya Dimas.


" Sudah Pak... " jawab seseorang.


" Kenapa tak pulang ? " tanya Dimas lagi.


" Bu Ashe belum keluar... " jawabnya.


Dimas mengenyit dahi.


" Yang sudah selesai boleh pulang...! Yang ada keperluan juga boleh pulaang... " kata Dimas, " Kecuali Dema pastinya... " imbuh Dimas.


Dema tersipu di balik meja sekretarisnya. Ia malu bertemu calon abang iparnya yang begitu tampan. Meski Rozi juga tak kalah tampan dari Dimas.


" Iya Pak... " sahut Dema menunduk.


Dimas mengangguk masuk ke ruang Ashe. Ashe masih membereskan berkasnya meski tinggal sedikit. Menengadah menatap ke arah Dimas.


" Jamnya ketemu Bie ? " tanya Ashe.


" Enggak... " sahut Dimas sambil duduk di meja, di depan Ashe. Sengaja, menutupi pandangan Ashe dari berkasnya.


" Isssh Bieee....! " senggol Ashe terlihat ribet.


Dimas tersenyum.


" Sudaah, ayo pulang... " kata Dimas lesu tapi tangannya bekerja. Membereskan meja Ashe dengan sigap hingga Ashe tercengang. Tak sampai 5 menit, mejanya bersih. Sebersih pikiran Ashe tak bisa memahami Dimas saat itu. Ashe tertawa. Melihat Dimas mematikan laptop dan membereskan tas Ashe. Bahkan Dimas melepas blazzernya dan memakaikannya pada Ashe.


Dimas menarik Ashe dari kursinya. Ashe menahan tawa tapi mengikuti Dimas juga.


" Dem, kamu ikut ke rumah saya ya...! Eh, ke rumah Bu Ashe... " Dimas menyerahkan tas laptop pada Dema.


" Saya beres - beres dulu Pak... " kata Dema.


" Nanti Faisal akan menunggumu di lobby ya... " pesan Dimas.


Ashe hanya tersenyum.


" Rozi mau pulang kampung... " bisik Ashe. Ia sengaja agar karyawan lain yang masih menyelesaikan pekerjaan tak mendengar.


Dema tersipu malu.


" Apaaan sih Bu...? " elak Dema.


" Buruan Dem....! Semuanya, saya duluan yaa... " kata Dimas pamit pada karyawan Ashe yang tersisa.


Tadi Ashe sempat bingung. Karyawannya tinggal sedikit, pasti si cenayang ini yang bubarin, batin Ashe.


" Ya Pak, Bu... " karyawan Ashe melambaikan tangan membalas lambaian Dimas.


Dimas menekan lift menuju lobby dengan mengandeng tangan Ashe dan membuat karyawan lain menyingkir dan pasang muka iri pada Ashe. Ashe cuek mengeratkan gandengan tangannya pada Dimas.