Perfect Boy

Perfect Boy
33.Tak Berkutik.



Benar saja, sore itu Ashe menghabiskan waktu di kamar Ashe. Heeeis... tunggu. Ashe memutar drakornya yang membuat Dimas bergeming tak percaya.


" Ini kode apaaan ?? " sewot Dimas melihat adengan ciuman di layar N*****knya.


Ashe menoleh nyengir. Dimas betul - betul gemas melihat Ashe yang kini sudah tak pakai pakaian kantor lagi. Dimas menarik pinggang Ashe dan langsung mencium bibir Ashe hingga Ashe gelagapan.


" Hmmm... Biee... "


Dimas melepas ciumannya dan menatap Ashe tersenyum.


" Udah nggak nyolong kan ? Dan rasanya sama seperti yang Bu tonton ! "


" Oya...! "


" Iyaaa... " Dimas mencium kening Ashe dan Ashe malah memeluk Dimas.


" Jangan lama - lama. Pertahananku mulai tipis Bu... " bisik Dimas.


Ashe buru - buru mendorong tubuh Dimas dan sedikit bergeser menjauhi Dimas. Dimas tertawa melihat tingkah Ashe.


" Just kinding... " goda Dimas.


Ashe menyentil perut Dimas hingga membuat Dimas terkekeh. Ia merangkul pundak Ashe dan mereka duduk di sofa berangkulan. Menikmati tontonan korea yang bikin uwuu hati mereka. Apalagi Ashe. Tiap adengan ciuman, Dimas kayak anak umur 3 tahun. Menirunya dengan tak segan. Ashe yang tadinya senang jadi kesel karena jantungnya tak berhenti berdebar dengan kencang.


" Piyamamu yang belum ku taklukan Bu.. " bisik Dimas menggoda.


Ashe mendelik dengan tatapan membunuh.


" Bisanya loe ngomong begitu..." Ashe langsung menjauh dan memeluk lututnya.


" Hahhaha... kenapa sih ? Bu habis liat setan ? " Dimas makin menggoda, mencolek lutut Ashe.


" Setan mesuuuum.... "


" Hahhahaha.... saya kan bukan Gena atau Adit. Disuguhi apem langsung nyosor... "


Ashe mendelik tak percaya.


" Apaaa maksudnya apemmm ? " kenyit Ashe.


Dimas tak menyahut, hanya mengangkat kedua alisnya genit.


" Ckk... laki - laki sama saja " umpat Ashe.


" Aku berbeda.... "


Ashe tersenyum dan buru - buru memeluk leher Dimas. Menempelkan pipinya pada pipi Dimas.


" Yaa ampunn....? Kenapa coba...? " tanya Dimas.


" Terima kasih.... "


" Untuuuk.... "


" Tak tergoda apem tadi.... " Ashe langsung menutup mulutnya.


Dimas tertawa.


" Akan aku makan nanti saat kelaparan tengah malam.... " sahut Dimas yang langsung membuat Ashe mencium pipi Dimas. Saking kesalnya digoda terus.


" Baiklah... saat sarapan juga... "


Ashe kali ini memegang kepala Dimas dan mencium kening Dimas.


" Saat makan siang juga.... "


Hidung Dimas kena sasaran sekarang.


" Saat subuh itu yang paling enak. Masih hangaat... "


Bibir Dimas diembat Ashe yang mulai frustasi dikerjain Dimas. Ashe langsung duduk menjauh dengan wajah merona dan jantung berdebar.


Bagaimana tidak, dia tidak pernah mencium cowok sebelumnya meskipun mantan Ashe banyak.


" Nggak usah salting gitu... " colek Dimas pada dagu Ashe.


Ashe sendiri menutup muka dengan kedua tangannya saking malunya. Dimas menarik tangan Ashe.


" Kenapa bisa malu. Biasanya kerjaannya malu - maluin.. " sindir Dimas.


Masih saja.


" Ihhh... "


Dimas mendekat dan mencium kening Ashe. Melanjutkan drama mereka atau malah mereka yang bikin drama.


****


Di sisi lain, Rozi ternyata tak tidur siang. Dia kini tengah berada di sebuah warung kecil disekitaran kontrakan warga. Sudah berjam - jam ia disana mengorek informasi. Ia membuntuti Roni hingga ke kontrakan di gang kecil itu. Sementara dua orang teman Rozi yang merupakan intel kepolisian mengintai dari titik lain yang berbeda. Entah bagaimana Rozi bisa bergerak bersama intel itu. Memang tak bisa di pungkiri, otak IT Rozi mendukung semuanya.


Hampir putus asa. Lalu lalang warga seolah menunjukkan tak terjadi apa - apa. Rozi menahan lapar. Ingin berteriak dan mengumpat abangnya. Tapi bagaimana lagi, abangnya yang menghidupi dan mencukupi kebutuhannya. Meski dia di warung, sedari tadi hanya makan roti dan mie rebus. Rozi ingin makan nasi. Tak tak ingin buruan kakapnya kabur, jadi ia pun menahan laparnya.


Di tengah keputusasaan dan kelaparannya, sebuah sepeda motor yang dinaiki seseorang memasuki gang sempit itu. Rozi jelas mengenal perawakan itu. Ia menghubungi dua intel yang berada di tempat berbeda. Tak sampai setengah jam, Roni telah dibekuk oleh dua intel itu. Rozi menghela nafas puas. Ia hanya bisa memandang Roni yang tak berkutik dibawa dengan sebuah mobil. Kemana lagi kalau tak menuju kantor polisi.


****


Drtttt....


Hp Dimas berbunyi. Tapi Dimas masih asyik dengan tontonannya bersama Ashe dan meributkan berbagai hal.


Ozzeen : Bang....!!


Entah sejak kapan nama Rozi berganti di layar Dimas.


Rozi menunggu jawaban Dimas kesal. Saat lama menjawab pesan. " Apa yang dilakukan manusia satu ini ? " gerutu Rozi.


Ozzzen : Mbak... Abang sama situ ?


Samaan namanya di dinding chat.


Terpaksa Rozi mengirim pesan pada Ashe. Ashe yang melihat layarnya hidup menoleh.


" Bieee... Ozen nyariin kamu ! " Ashe meraih gawainya dan menyodorkan pada Dimas. Dimas mengambil dan membalas pesan Rozi.


Ashe : Kenapa Ozzzeeeeen...??


Ozzen : Dimana loe ? Roni dah ketangkep ! Bersiaplah pulang !


Ashe : Ya...! Q lagi kerja !


Ozzen : Kerja apa ? Kok


pakai Hp mbak Ashe ??


Ashe : Kepooo...


Ozzen : Suka - suka gue....


Ashe :Makan belum ??


Ozzen : Beluuum....


Ashe : Ayo makan. Dimana ?


Ozzen : Terserah Abang... 😘😘


Ashe : 🤮🤮🤮🤮


Ozzen : 🤣🤣🤣🤣


Dimas kembali menyerahkan gawai pada Ashe.


" Roni ketangkep..."


" Benarkah ?? "


" Iyaa. Aku mau pulang kampung memberi klarifikasi pada kepolisian. Bu mau ikut...?? "


Ashe berpikir sejenak.


" Sehari doang paling Bu... "


" Nggaaak... "


" Hahhaha.... Papa ngijinin sehari doang "


" Alasannya...?? "


" Nanti Bu liat sendiri... "


" Issh... nggak usah bikin penasaran... " cemberut Ashe.


Dimas tertawa sambil mengacak rambut Ashe.


" Ozen minta makan Bu. Mau ikut nggak ?? "kerling Dimas.


Ashe berbinar.


" Kamu matiin itu... " Ashe menunjuk laptopnya. " Aku ganti baju... "


Dimas menunjuk pipinya. Mengkode sesuatu. Ashe kesal. Namun menurutinya juga. Ia mendekat dan mencium pipi Dimas. Tak tanggung, kiri dan kanan, kening , hidung, dan terakhir bibir Dimas. Ashe melakukannya cepat dan langsung kabur ke kamar mandi. Menetralkan wajahnya yang terasa panas dan degup jantungnya yang tak beraturan.


Dimas tersenyum melihat tingkah Ashe yang langsung kabur. Tapi pun menuruti perintah Ashe. Bahkan membereskan kamar Ashe.


Mereka pergi menemui Rozi dan ketemu di sebuah food court. Rozi langsung sumringah melihat keduanya. Ia menghampiri Dimas dan Ashe.


Mencium punggung tangan keduanya bergantian. Dimas menyuruh Rozi pesan makanan. Sementara ia dan Ashe hanya pesan minum dan cemilan saja.


" Zi... memangnya duitmu itu kemana ? Ampe makan aja nggak punya duit " celetuk Ashe saat Rozi menikmati makanannya.


Dimas hanya menatap Rozi, penasaran juga apa jawaban anak itu.


" Punya sih Mbak. Cuma pingin makan aja sama Abang... " jawab Rozi sebari nyengir.


" Wooo.... nggak jelas loe.... " umpat Dimas.


" Kan moment langka Bang.... "


" Ckk... memangnya Abang loe ini nggak pernah pulang...? "


" Jarang Mbak...! Lebaran juga sebentar doang... "


" Namanya juga berjuang Zi. Kalau nggak gitu gimana kamu bisa kuliah.. Kan hutangku banyak... "


" Iya juga sih. Kamu kan juga korban penipuan Bang.... " kekeh Rozi.


" Bersyukur juga ditipu Ozeeen.... " sahut Dimas.


" Hahhahaaha... iya. Loe nggak bakal sampai Surabaya kalau nggak ditipu manusia satu itu. Duit loe nggak bakal banyak kayak sekarang Bang... "


" Sok tahu loe Zi... " celetuk Ashe membuat Dimas tertawa.


" Banyak duitnya dia Zeen. Baik - baik loe sama kakak ipar loe. Ntar kalau dia nggak punya duit loe digadein... " sindir Dimas.


" Enak aja... "


" Kalau digadein masih mending Bang. Orang gue mau dijadiin lauk juga... " cengir Rozi membuat Ashe menahan tawa.


" Kayaknya daging loe enak buat rendang Zi... " kekeh Ashe.


" Enak aja sih Mbak...! Sekate - kate aje loe Mbak... " sahut Rozi.


Ashe tertawa.


" Sadis bener Bu... " sindir Dimas.


" Emang..." Ashe cuek sebari meneguk minumnya.


Tiba - tiba Dimas mengambil minum dari tangan Ashe dan meminumnya juga. Ashe menatap Dimas dengan raut kesal. Dimas nampak cuek namun mendadak langsung mendekat dan mencium bibir Ashe.


Rozi langsung membanting sendoknya. Untungnya tidak terlalu banyak pelanggan.


" Kalian ini yaaa.... " sewot Rozi yang langsung berpaling.


Dimas tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya menggoda Ashe. Sementara Ashe mendelik kesal, pura - pura marah dan mencubit perut Dimas.


" Udah puass belum.... " Rozi masih membelakangi mereka.


" Beluuum.... " Dimas jail.


" Nasib jomblo.... " umpat Rozi yang langsung membuat Ashe dan Dimas tertawa.


" Heeeeh... cepat habiskan makanmu. Kamu diundang makan malam sama Papanya Ashe... " kata Dimas.


" Heeeiii.... terus kenapa sekarang aku dikasih makan ? " Rozi membalik badan dan meneruskan makannya.


" Biar kamu nggak meleyott... " sahut Ashe.


" Haaaah.... " Rozi melongo. " Kenapa aku gemetaran ya.... ? " imbuhnya.


" Kenapa...? Emang loe mau dikuliti ?" ejek Dimas.


" Siapa tahu Papanya Mbak Ashe lebih sadis dari anaknya "sahut Rozi.


" Gue aja santai Zen... "


" Ya kan situ udah biasa...! Camernya jugaa... "


" Dimana - mana , yang gemetaran itu kalau ketemu camer. Loe kan cuma ketemu Papa gue. Kenapa loe yang gemetaran ? " sela Ashe.


" Wooo... berarti Mbak Ashe juga bakal grogi ketemu Bapak sama Mamak Bang Dimas... " ejek Rozi.


" Nggaaaak.... " sahut Ashe membuat Dimas tersenyum.


" Udah belum. Ayo kita ditungguin makan malem.... " kata Dimas membuat Rozi mendelik sebal.


Ashe terkekeh. Ia tahu Dimas ngerjain Rozi.


" Kira - kira loe sih Bang.. " Rozi menjejel sisa makanan ke dalam mulutnya.


Dimas memanggil pelayan dan meminta tagihan pembayaran. Selesai membayar, ia langsung menarik tangan Ashe dan bergandengan keluar dari tempat itu. Rozi hanya berjalan lemas dibelakang mereka dengan muka memelas.


" Cepat cari pacar... " nasehat Ashe seraya menoleh ke belakang.


" Nanti gue dibunuh sama yang disamping Mbak itu...! " sahut Rozi lemas.


Ashe tertawa mendengar sahutan Rozi sambil terus mengeleyot Dimas.


" Loe ta.... "


" Iyeee. Gue tahu Bang...! Gue terima nasib dulu... " potong Rozi saat Dimas ingin bicara. Benar - benar tak berkutik saat Abangnya mengeluarkan satu kata saja.


Dimas mengacungkan jempolnya pada Rozi dan melempar kunci mobil Ashe.


Rozi udah tahu maksudnya.


" Jangan pacaran dibelakang. Gue pingin muntah...!! " pesan Rozi kesal.


Ashe tersenyum menyenggol lengan Dimas. Mereka berpandangan dan tak mampu menyembunyikan senyum mereka.