
Bie
*Bie : Aku yang mendadak kurus karena km nggak di samping**ku*..
Drtttttt....
Ashe menjingkat. Kaget mendadak dan buru - buru membuka mata.
" Astagfirullah...! " matanya membelalak menatap jam di layar Hpnya.
Ashe bangun kesiangan. Ia langsung membuka selimut dan berlari ke kamar mandi. Ashe bergegas mandi dan siap - siap berangkat. Ia menyambar Hpnya dan langsung berhenti mendadak. Tergesa - gesanya lupa. Toh, dia bosnya. Jadi nggak bakal ada yang protes saat dia terlambat. Ashe duduk di sofa melihat pesannya.
Bu : Lebaayyy....
Dimas tersenyum melirik Hpnya. Ia tengah di pantry kantor. Presdir ini kerjanya nggak jelas. Lebih seneng nyapu dan bikin minum daripada di belakang laptop kalau siang.
Dimas menekan simbol teleponnya.
Bie : Kamu kesiangan ya 😅😅😅 ?
Bu : Gara - gara kamu tahu nggak Bie ? Kamu tidur nyenyak, aku yang *k**elimpungan nggak bisa merem*...!
Bie : Hahaha... habisnya aku nggak bisa tidur tanpa melihatmu
Bu...!
Bu : Emangnya aku bisa tidur ?
Bie : Kan udah liat mukaku...
Bu : Mukamu itu bikin nafsu bukan bikin ngantuk Bie...
Bie : Hahhahahahha.....! Pikiranmu sekarang ya Bu...!
Bu : Itu kan gara - gara kamu...! Lebaaayyyy...
Bie : Ayang lebayyyy....
Bu : Kamu yang lebay...
Bie : Kamu udah sarapan belum Bu ?
Bu : Baru juga bangun, mandi...
Bie : Kenapa mandinya nggak ngajak aku...?
Bu : Nggak. Ntar nggak jadi mandi..
Bie : Jadinya apa emang ?
Bu : Bikin anak...
Bie : Hahhahhahahaha.... Kamu ini ya. Ini masih pagi lho...!
Bu : Emang kamu tahu pagi, siang dan malam ?
Bie : Enggak, aku kan tahunya cuma mencintai kamu...
" Hoeeeeek....! Dipanggil tuh Pak. Jangan ngombal mulu. Masih pagi...! " mendadak muncul Nasrul.
Dimas memandangnya kesal.
" Kamu ini sukanya ganggu moment aja...! " gerutu Dimas.
Ashe terdengar tertawa di seberang.
" Buruan Pak. Nanti Bapak di pecat lho...! " ancam Nasrul menyeduh kopi.
Bie : Bu, kamu sarapan dulu ya...! Nanti telpon lagi...!
Bu : Iya. Nanti kamu di pecat lho Pak Presdir...!
Bie : Nggak usah suka ngeledek deh...
Bu : Siapa yang suka ngeledek ? Orang aku sukanya kamu
kok....!
Bie : Waduuuuh ...Berat ini. Aku pesen tiket pulang aja ya...!
" Nggak ada tiket pulang. Semua tiket habis...! " celetuk Nasrul.
Dimas memandang Nasrul kesal. Assistennya bener - bener ngelebihi mulutnya sekarang. Ashe tertawa di seberang.
*Bu : Ya udah Bie. Selamat berantem. Kamu jangan lupa makan.
Jangan sampai kurus. J**angan ngelirik cewek lain. Dan*
jangan biarkan dirimu mempesona.
Bie : Tenang aja Bu. Aku cuma akan melirik kamu, dan aku hanya
mempesona untukmu
" Hoeek... hoeekk... hoeeeek... " Nasrul bener - bener. Dimas menyorotnya tajam.
" Kerja dulu Pak. Nanti pacarannya...! " ucap Nasrul tanpa dosa.
Ashe cekikikan di sana. Menertawakan suaminya yang suka di tempa Papanya di mana - mana.
Bu : Aku sarapan dulu Bie. Terus mau berangkat. Sumpah, aku
kesiangan.
Bie : Ok. Assalamualaikum.
Bu : Waalaikumsalam.
Ashe menutup teleponnya dan buru - buru menyambar tasnya. Ashe keluar kamar dan menuju meja makan.
" Kok baru keliatan...! Dari tadi Mama bangunin kamu nggak bangun - bangun She....! " tanya Bu Fatimah.
" Iya Ma. Tadi malem ada dukun nggak bisa tidur...! " sahut Ashe asal sambil mengambil sosis kecap pedas, tanpa nasi dan memakannya buru - buru.
" Dukun...? Dukun apaaan ? " kenyit Bu Fatimah.
" Dukun beranak...! "
" Heeeh...? Siapa sih ? Di sini nggak ada yang beranak lho ? Kamu aja belum hamil...! "
" Gimana mau hamil ? Orang yang mau ngamilin aja pergi melulu... "
" Bocah nih ya... ! Ditinggal suami sehari aja konslet nggak karuan...! " sungut Bu Fatimah.
Ashe hanya nyengir menjejelkan sosis ke mulutnya.
" Makan pelan - pelan...! " omel Bu Fatimah.
" Aku laper Ma, mana ini enak tapi panas lagi...! " sahut Ashe.
" Makannya pelan She...! Telat dikit juga nggak papa kan ? "
" Ada meeting... ! "
" Kamu dianter sopir aja. Udah buru - buru gimana mau bawa mobil ? "
" Heeeeggg...! " Ashe menenggak tandas minumnya.
Bu Fatimah menggeleng melihat kelakuan Ashe.
" Untung suamimu Dimas. Mau bertingkah kayak apa aja, malah di manjain kamu itu ! "
" Kan suamiku hasil tempaan yang tak tertandingi Ma...! " Ashe mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
" Cuci tangan She...! " geram Bu Fatimah.
Ashe cengegesan menuju dapur dan mencuci tangan. Ia menyalami Bu Fatimah dan pamit berangkat.
****
Ashe berpamitan dan keluar rumah. Faisal tersenyum menyambutnya.
" Katanya kamu libur Bang Sal...? " tanya Ashe begitu masuk mobil.
" Nggak jadilah Mbak. Kan Mas Dim, orangnya rese'. Nyuruh enggak, nyindir iya...! " sahut Faisal.
" Hahhaha...! Untung kamu nggak ikut ke Malang ! "
" Iya. Tiap hari pasti ngeri di sana...! "
" Kok bisa...? "
" Mbak Ashe nggak tahu ya, gimana kelimpungannya Mas Dim saat jauh dari Mbak Ashe ? Apalagi sekarang udah nikah. Dulu belum nikah aja kalau malem bikin orang nggak bisa tidur... " jelas Faisal.
Ashe mulutnya menahan tawa. Kelakuan Dimas emang diluar dugaan.
Tak lama mereka sampai kantor. Ashe segera naik ke ruangannya. Dema yang biasa membacakan jadwal harian Ashe mengikutinya masuk.
" Bu, ada pihak ARASA menunggu di ruang meeting...! " kata Dema.
Ashe mengenyit dahi.
" Adiit ? "
Dema mengangguk.
" Memangnya mereka tidak punya karyawan lain apa selain dia...! " sungut Ashe sambil beranjak.
Ia meraih Hp dan buku catatan seperti biasa.
" Kamu temani saya Dem...! " ucap Ashe sambil berjalan keluar ruangan.
Dema mengiyakan sambil mengikuti Ashe. Mereka menuju ruang meeting di divisi Ashe.
Ashe mendesah kesal begitu melihat Adit tengah duduk menunggunya.
" Sudah lama Pak Adit... ? " sapa Ashe basa basi.
" Eeeh, belum kok Bu Ashe...! " sahut Adit geragapan sambil bangun dan hendak menyalami Ashe.
Tapi Ashe hanya mengangguk dan mengisyaratkan Adit duduk. Adit jadi sungkan sendiri dan kemudian duduk kembali di kursinya.
" Bagaimana proggresmu ? " Ashe to the point.
" Kamu sepertinya tetap mengikuti perkembangan perusahaan ya...! Aku dengar, semua di alihkan ke suamimu yang OB itu ! Kemana dia ? Apa dia sudah kabur tak tahan dengan sikapmu yang cuek ? Atau karena tidak kamu layanin...! "
Ashe menghela nafas. Dema memperhatikan raut wajah Ashe tak enak.
" Kamu kalau ke sini cuma mau menghina suamiku. Lebih baik kamu keluar saja atau kita putuskan kerjasama kita sampai sini...! " ucap Ashe tenang.
" Kamu tetep galak seperti dulu ya She ! Bahkan kalau suamimu meninggalkanmu pun, aku siap mengantikannya...! "
" Dit, kamu ke sini mau membicarakan kerja sama atau yang lain...? " hela Ashe.
" Baiklah, baiklah. Aku hanya ingin minta maaf She. Setidaknya itu memperbaiki hubungan kita...! "
" Dit. Berhenti untuk mengharap yang bukan lagi jadi harapan. Kita bekerja secara profesional saja...! "
" Baiklah She. Ini adalah laporan kemajuan dari ARASA...! Aku harap kamu puas dengan kerja kami...! " Adit menyodorkan mapnya. Ashe mengisyatkan Dema untuk mengambil.
" Lain kali kirimkan orang lain...! Kamu tidak perlu datang sendiri...! " ketus Ashe.
" Aku hanya ingin melihatmu bahagia She...! " kilah Adit.
" Aku tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak membahagiakanku... " Ashe tetap ketus.
" Untuk ke depannya, masalah pekerjaan kamu bisa berhubungan dengan Pak Argo atau assistenku...! Maaf Dit, aku ada keperluan lain...! " Ashe beranjak dari kursinya.
" She, kamu harus pertimbangan kembali pernikahanmu dengan OB itu. Aku rasa dia hanya memanfaatkan kekayaanmu...! " kata Adit.
Ashe yang sudah berjalan ke arah pintu berbalik.
" Aku tidak peduli dia OB. Bahkan aku sangat siap menyerahkan semua hartaku untuknya...! " sentak Ashe kesal.
" Kamu bodoh sekali She...! "
" Memang. Aku memang sangat bodoh ! Kamu puas...? " Ashe menatap Adit kesal.
Sangat kesal tepatnya. Ashe langsung pergi meninggalkan Adit yang tak berhenti menatapnya dan kembali ke ruangannya. Ashe sungguh kesal. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Kembali menyibukan diri dengan semua berkas yang ada di mejanya.
****
Dimas mengulum senyum sebari mengelap kaca. Nasrul sejak tadi memperhatikan bosnya itu.
" Pak, biar aku aja yang kerjakan...! " kata Nasrul pelan.
Senyum Dimas menghilang.
" Udaaah nggak papa...! Kamu lanjut saja...! " sahut Dimas.
" Terus kenapa Pak Dimas kenapa senyum - senyum sendiri...? "
" Menurutmu ? "
" Pak Dimas konslet...! " cengir Nasrul.
Dimas menghela nafas kesal.
" Justru aku dalam mode normal tahu nggak ? " sahut Dimas.
" Aku rasa Pak Dimas punya indra keenam...! "
" Nggaklaah...! "
" Saya nggak percaya...! "
" Saya nggak nyuruh kamu percaya saya kampreeeeeet....! " sewot Dimas hingga membuat Nasrul menahan tawanya.
" Heeei, kalian berdua....! "
Dimas dan Nasrul menoleh.
" Kalian bantu bawa barang ke gudang...! "
" Ya Pak...! " sahut Nasrul dan Dimas bersamaan. Mereka segera menuju ke arah gudang dikuti manager gudang yang memanggil mereka tadi.
Dimas dan Nasrul membuka mobil boks dan mulai mengangkut barang ke gudang. Dimas melongo.
Ia melihat gudang begitu berantakan dan barang bercampur jadi satu. Ia merasa begitu kecolongan karena sejak datang baru managerial saja yang dilihatnya.
" Heeey, kamu kenapa bengong aja ? Udah, lemparin aja biar cepet ! " bentak Manager Gudang pada Dimas.
Nasrul yang sudah jalan duluan menoleh pada Dimas. Merasa begitu tidak terima Bosnya di bentak. Dengan cepat Nasrul meletakkan bawaannya dan bergegas mengambil barang di tangan Dimas.
" Biar saja aja Pak...! " ucap Nasrul.
" Heeh, kamu sok mau jadi pahlawan... ? " sorot Manager Gudang tajam.
" Iya. Saya emang mau jadi pahlawan di sini...! " balas Nasrul tak mau kalah.
Dimas menepuk pundak Nasrul dan menggeleng pelan. Nasrul mendesah kesal.
" Maaf Pak...! Temen saya emang agak darah tinggi..! " Dimas merendah.
" Ya udah. Buruan kerja sana. OB aja kok belagu...! " umpatnya menunjuk Nasrul.
Nasrul hampir saja memuncak emosinya. Namun Dimas segera menariknya.
" Pokoknya saya nggak mau tahu. Selesaikan ini cepat...! " perintahnya.
Dimas mengiyakan.
" Sabar bentar adik iparku tersayang... ! Kita libas dari akarnya... " bisik Dimas.
" Tapi Pak..... ! " cemberut Nasrul.
Rasanya begitu tak terima Bosnya di suruh - suruh.
" Kerjain aja... ! " isyarat Dimas.
Nasrul mendesah kesal namun menurut saja. Mereka meneruskan mengangkut barang. Dimas dan Nasrul bekerja sambil memperhatikan kondisi gudang yang amburadul. Selama ini, laporan ke pihak pusat tampak baik - baik saja. Tapi bukan Pak Fajar namanya kalau tidak jeli. Karena setiap ke cabang Malang, semua tampak tertata rapi penuh dengan settinggan.
" Bagaimana kita mulai Pak...? " tanya Nasrul di sela istirahat mereka.
" Aku sedang memikirkannya Rul...! Otakku penuh dengan Nyonyamu sih...! Aku jadi susah berpikir...! " dengus Dimas.
" Hahhaaha...! Coba telpon Bu Ashe sih Pak...! Pak Dimas kan lebih peka...! Saya jaga kalau ada orang...! "
Dimas mengangguk dan mengambil Hp di sakunya.
Drrrttttt....
Ashe melirik Hpnya. Ia masih di balik meja dan belum beranjak sejak tadi. Bahkan tidak pergi makan siang.
Bie : Assalamualaikumm Bu...
Bu : Waalaikumussalam Bie...
Bie : Kamu dimana ?
Bu : Aku di kantor ! Kamu kenapa ? Lemes amat...?
Bie : Kan belum dapet jatah vitamin dari kamu...
Nasrul memutar bola matanya malas. Berurusan dengan Bu Ashe, Dimas bukan bicara serius malah nyleneh ke urusan jiwa raga, lahir dan batin.
Bu : Ya nantilah Bie ! Kamu udah makan belum ?
Bie : Nanti itu kapan Bu ? Orang aku maunya makan kamu. Jiwaku sudah meronta - ronta !
" Ya kali di borgol, meronta - ronta... " celetuk Nasrul yang langsung dapat lirikan dari Dimas.
Bu : Nasrul suruh jadi pawang dulu..
Bie : Ogaah...! Nggak asyik...! Orang aku maunya kamu...!
Bu : Teruuuus....??
Bie : Vc....! Bentar doang...! Pingin lihat wajahmu Bu..
Dimas berganti menekan tanda kamera dan muncul wajah yang sangat dirindukannya.
Bie : Kamu habis ngamukk ya Bu...?
Bu : Iya. Ngamuk Adit....!
Bie : Weisssssh....! Baru kerja dua hari udah jadi Nyonya Julid
di sana...!
Bu : Hmmm...! Aku kan nggak kayak kamu. Karyawan yang kamu
tatap langsung mengkerut. Kalau aku kan emang terkenal
galak...
Bie : Iyaaa. Tapi cantik dan aku suka...
Bu : Kamu kalau gombal dengan wajah begitu kenapa ?
Bie : Panjang ceritanya...
Bu : Aku nggak butuh cerita yang panjang. Tapi yang manis..
Bie : Idiiiih....! Sekarang jago ngombal juga ya...
Bu : Iyaaalah...! Semangat Bie. Kamu itu kesayangan Papa
yang bisa menyelesaikan semuanya.
Bie : Diiih, kamu sekarang dah ketularan jadi cenayang ya..
Bu : Kan kamu yang dukunin...
Bie : Iya. Dukun beranak... Hahhaha....! Meski belum jebol...
Bu : Tiap malam juga kamu jebol...
Bie : Hmmmppfttt... jangan kenceng - kenceng. Kuping Nasrul
udah berasep tuhhh....!
Dimas menunjukkan arah kamera pada Nasrul yang hanya cengir tak karuan. Obrolan dua bosnya sungguh membuatnya membayangkan hal tak terduga.
" Lihat istri, topiknya jadi beda...! " ucap Nasrul sengaja cukup keras.
Dimas hanya terkekeh.
Bu : Topik apa yang mau dibahas Bie... ?
Bie : Topik bagaimana cara menaklukan bibirmu yang seksi itu !
" PAK DIMAAAAAAAAASSSSSSSS.......! " Nasrul begitu kesal dengan bosnya itu.
Dimas menahan tawa. Demikian juga Ashe.
Bu : Kamu itu emang nggak tahu malu sih Bie. Kasian Nasrul...
Bie : Biarin...! Dia udah biasa....!
" Saya udah biasa mengelus dada dan menutup kuping Bu...! " celetuk Nasrul.
Bie : Tuuuh, denger sendiri kan... ?
Bu : Iyalah, orang kamu intimidasi...!
Bie : Hehehe....! Kamu udah makan belum sih Bu ?
Bu : Heee... belum !
Bie : Makanlah. Aku tutup dulu ya...! Nanti malem aku telpon lagi
ya !
Bu : Iya. Kamu hati - hati ya...!
Dimas mengiyakan dan mengucapkan salam. Buru - buru memasukkan kembali Hp ke sakunya. Dimas melihat sekelebatan orang kantor.
Dimas langsung mengkode Nasrul. Nasrul mengerti dan langsung melanjutkan pekerjaan mereka.
" Bagaimana kita masuk ini Pak...? " bisik. Nasrul.
" Udah, sana. Jangan deket - deket gue mulu. Ntar orang curiga lagi...! "
" Huuuuuh....! Orang saya khawatir Pak Dimas kenapa - kenapa kok...! "
" Hehehe....! Kamu tenang aja. Kita saring dulu orang - orangnya. Papa udah kirim semua data, kita lihat dulu selisihnya...! "
Nasrul mengangguk mengiyakan. Mulai hari itu mereka berdua mulai diam - diam memperhatikan karakter semua karyawan. Dari atasan hingga bawahan. Diam - diam pula Dimas dan Nasrul menyelinap mengambil dari manajemen dan gudang saat mereka lengah. Apalagi dari bagian Humas yang ternyata selama ini sangat banyak komplain dari pihak costumer yang tidak di tangani sama sekali.