Perfect Boy

Perfect Boy
7. Kembali



Dimas mengemasi baju dan barang - barangnya di koper sebelum meninggalkan Surabaya. Pekerjaannya selesai. Masalah sudah bisa di atasi dan bisa di tangani direktur perusahaan. Sejak Dimas mengatakan makan malam dengan mertua, Ashe sama sekali tak merespon panggilan maupun chatnya. Dimas ingin tertawa, tapi tak enak. Bosnya ternyata beneran ngambek. Sore ini Dimas terbang ke Jakarta dan besok kembali menjadi OB.


Malam menjelang, Dimas sampai di kontrakannya di Jakarta. Sebuah rumah yang sederhana namun cukup luas untuk ditinggalinya. Meski itu kontrakan. Tapi masih ada halaman depan dan belakang yang cukup untuk sekedar memarkirkan mobil. Karena kontrakan itu memang di rancang oleh Pak Fajar. Hampir mirip sebuah kompleks perumahan memang, tapi tidak pernah sepi dan ramai anak - anak kecil bermain di lingkungan.


Dimas rebahan di kasur yang hampir sebulan lebih di tinggalnya. Dimas mengetik sesuatu.


Dimas : Buuuu, sudah tidur ?


Lama, tak ada balasan.


Dimas : 😪😪😪


Lamaaaa....


Mata Dimas terpejam karena lelah perjalanan.


Ting....


Pesan masuk....


Ashe : Apaaaaa ???


Dimas membuka mata, membaca chat dan tersenyum.


Dimas : Q pikir ibu marah terus !!!


Ashe : Kamu sudah menikah ??


Dimas : Undangan blm di ctak !


Ashe : Klau gtu jgn hub Q, hub sja clon istrimu !


*Dimas : Q sdng melakukannya Buuu !!! 😁😁***😁**


Ashe : Sy tdk bercanda Dim !


Dimas : Sya jg tdk ! Bgmna asisten baru bu ?


Ashe : Cari tahu sendri


Dimas : 😂😂😂 Bgmna dgn Pak Gena ?


Ashe : Cari tahu sendiri


Dimas : Ibu udah punya pacar tapi ngambekin sya mulu😭😭😭


Ashe : Hiburan


Dimas : 😤😤😤 Mank sya badut


Ashe : Badut lbih baik untuk mperbaiki suasana hati


Dimas : 🤔🤭🤭🤭 Baiklah, sya siap jd badut


Ashe : 😍😍😍😍


Dimas : Waaaawwww apaaa itu ???


Ashe : Slah kirim


Dimas : Brharap slah kirim trs sya.


Ashe : 🤮🤮🤮🤮🤮


Dimas : 👨‍⚕


Ashe : 😂😂😂😂


Dimas : Istrht Bu. Inisdh malam. Sy snang liat ibu😀😀


Ashe : Mksih Dim.


Dimas : Slmat mlm Bu !!


Ashe meletakkan Hpnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Hatinya menghangat. Saat Gena mulai membuatnya makin gerah dan tak nyaman, Dimas hadir menghibur hatinya.


Ashe tahu posisinya dan Dimas berbeda jauh. Tapi hati Ashe juga tidak bisa dibohongi. Ia merasa sangat nyaman dan merasa dilindungi oleh Dimas. Ashe sendiri kebingungan merasa gejolak hatinya. Meski punya pacar, tapi hati Ashe sama sekali tak rela Dimas jauh darinya.


Ting....


Dimas : Buuuu..... tdak usah berpikir ibu egois. Tdurlah yg nyenyak tnpa


beban mlm ini dan sterusnya. Berpikirlah yg positif. Spya ibu tdak


cpat tua dan jd tidak laku🤣🤣🤣


Ashe yang tadinya sudah memejamkan mata mengumpat kasar membaca pesan Dimas.


Ashe : Q TIDAK PERLU KHAWATIR CPAT TUA DAN TIDAK LAKU SELAMA


KM BLM JD SUAMI ORANG !!!!!!!!!!! 😤😤😤😤😤😠🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️


Dimas : 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Ashe melempar Hpnya. Meski kesal ia benar - benar merindukan Dimas. Ashe memejamkan mata. Tak peduli lagi cenayang yang tersenyum - senyum senang di ujung sana. Senang menggoda Bos mudanya itu. Jujur, Dimas memang menaruh hati pada Ashe sejak pertama melihatnya. Terlepas dari apa yang direncanakan Pak Fajar.


****


Malam makin larut, Dimas menikmati moment tidur nyenyaknya karena perjalanan jauh. Sayup, terdengar bunyi Hpnya ditengah alam bawah sadar Dimas. Dimas mengerjap. Meraih Hpnya.


Dimas : Yaaaaa ??


Pak Fajar : Dim, temani saya ke Kalimantan pagi ini. Penerbangan 05 : 30


wib. Nanti ada sopir yang akan menjemputmu.


Dimas : Ya Pak. Saya bangun dulu ya !


Pak Fajar : Iya, maaf ya. Kamu jadi repot.


Dimas : Nggak papa Pak !


Pak Fajar : Tahan dulu kangennya dengan Ashe ya, ha.. ha... ha...


Dimas : Bapak ini ya !


Pak Fajar tertawa di seberang, ia mematikan sambungan teleponnya. Dimas sudah sepenuhnya sadar. Ia bangun dan melihat jam di Hpnya. Sudah mau jam tiga pagi. Dimas mengeliat merenggangkan ototnya. Tadinya ia sudah senang pagi ini bisa ketemu dengan Ashe. Kali ini sirna karena calon mertuanya. Dimas menghela nafas. Beranjak dari tempat tidur dan ke kamar mandi. Menguyur tubuhnya di pagi yang dingin. Dimas kembali menatap baju dan keperluan lainnya di koper lain. Sementara koper yang tadi dibawanya belum sempat di bereskan. Benar saja, tak lama sebuah mobil membunyikan klakson di depan rumah Dimas. Dimas bergegas. Berangkat ke bandara.


*****""


Pagi hari, Ashe bersiap berangkat. Ia menyempatkan sarapan bersama Bu Fatimah.


" Papa kemana Ma ?" tany Ashe begitu duduk di meja makan.


" Ke Kalimantan. Tadi terbang jam 05 00 wib " sahut Bu Fatimah.


" Mendadak ? " kerut Ashe.


" Iyaa ! "


Ashe tak bertanya lagi. Papanya memang biasa pergi mendadak. Jadi tak heran baginya.


" Kok Gena nggak pernah kemari ? " tanya Bu Fatimah.


" Sibuk Ma ! " jawab Ashe singkat, menutupi apa yang terjadi.


Bu Fatimah hanya mengangguk.


Pagi ini Ashe diantar oleh sopir. Gena beberapa hari yang lalu keluar kota dan sulit dihubungi. Bahkan saat Ashe mengirim pesan pagi, Gena akan membalasntya sore atau malam hari dengan alasan sibuk kerja. Bahkan Gena hanya membalasnya dengan jawaban - jawaban singkat.


Ashe memasuki lobby perusahaan dengan tetap anggun. Tak ingin menunjukan apapun masalah yang dihadapinya. Beberapa karyawan yang berpapasan mengangguk hormat. Ashe membalas dengan senyum.Dema langsung mengikutinya begitu Ashe masuk ruangan dan langsung duduk di kursinya. Dema membacakan jadwal Ashe hari ini dan membawa setumpuk berkas seperti biasa. Kali ini seseorang mengikuti Dema berdiri menghadap Ashe.


Ashe yang sejak tadi sudah menduga hanya mengiyakan. Ashe melirik mejanya. Ada gelas teh besar dimejanya.


" Kamu yang ajarin dia apa yang harus dikerjakan. Saya capek ngajarin asisten terus ! " kata Ashe.


" Ya bu ! "


Dema mengajak Amel keluar menuju mejanya. Sementara Ashe mulai berkutat dengan banyaknya berkas di mejanya. Ashe mendadak memikirkan Dimas. Ashe meraih Hpnya.


Ashe : Km nggak kembali Dim ?


Centang satu.


Ashe meletakkan kembali Hpnya.


Apa yang dikerjakan Dimas di Surabaya ?, batin Ashe


Ashe mengusap mukanya. Seseorang mengetuk pintu.


" Yaa ! " kata Ashe.


Yidi muncul dan langsung menunduk hormat. Ashe menatapnya seraya mendesah berat. Kalau yang muncul Dimas, dia pasti menyapa dengan senyum, Yidi nih apa ? Ketakutan, gerutu Ashe dalam hati.


" Maaf Bu, mau cemilan apa ? " tanya Yidi.


" Dimas selalu nyuruh kamu ya ? " Ashe malah balik tanya.


Yidi mengangguk.


" Iya Bu. Saya harus pastikan Ibu makan ! " sahut Yidi.


" Memangnya saya anak kecil ? "


" Maaf Bu, tapi itu pesan pak Dimas ! "


" Pak Dimas ? " Ashe mengerutkan kening.


" Iyaa Bu, saya panggil dia pak ! " Yidi gelagapan.


Ashe terdiam.


" Ya udah, beliin saya gorengan. Campur ya ! " kata Ashe sambil mengambil dompet.


" Tidak usah Bu, Pak Dimas menitipkan saya uang ! " ucap Yidi.


Tangan Ashe terhenti, tak jadi mengambil uang dan menyuruh Yidi kembali cepat. Ashe kembali bekerja.


*****


Dimas berjalan di samping Pak Fajar menuju sebuah hotel. Seorang pegawai Pak Fajar membawakan koper mereka.


" Kamu istirahat dulu Dim. Nanti jam 10 : 00 kita ke lokasi perusahaan ! " kata Pak Fajar.


" Ya Pak ! " sahut Dimas tanpa perlawanan. Jujur ia memang sangat capek naik pesawat terus dalam sehari ini.


Seorang pegawai hotel mengantarkan Dimas ke kamarnya. Pak Fajar juga menuju kamarnya sendiri. Dimas langsung rebahan. Dalam hitungan menit, ia tertidur pulas karena kamar yang empuk. Sayang, hanya sepuluh menit kemudian Dimas terbangun. Tubuh Dimas terasa lebih segar. Ia bangun dan mandi. Berganti baju dan kembali mencari - cari Hpnya. Ia menyalakan kembali Hpnya. Tak lama Pak Fajar telepon dan mereka harus pergi meninjau lokasi. Mereka kembali selepas jam makan siang.


Dimas dan Pak Fajar duduk berhadapan menyantap sajian di restoran hotel tempat mereka menginap. Dimas melihat layar Hpnya.


Dimas : Nanti Bu !


Ting...


Hp Ashe berbunyi. Ia tengah makan dengan Dema di sebuah warteg.


Ashe : Ya, setelah kamu berhasil bikin istrimu bunting


Dimas tersenyum. Pak Fajar memperhatikan Dimas penuh tanda tanya.


" Siapa Dim ? " tanya Pak Fajar di sela makannya.


" Hehe... bu Ashe Pak ! " cengir Dimas.


Pak Fajar mengangguk - angguk seraya tersenyum.


" Rupanya ada jalan tikus juga ! " celetuk Pak Fajar.


Dimas tertawa.


" Saya OB kurang ajar yang suka diambekin bu Ashe Pak ! " kata Dimas.


" Iyalah, model kayak kamu jelas nggak masuk itungan OB di mata Ashe, terlalu perfect ! " kata Pak Fajar.


" Masak sih Pak ? "


" Nggak percaya kamu ! "


Dimas terkekeh.


" Apa yang kamu dapat soal Gena ? "


" Mengecewakan Pak ! "


" Ashe biasa di kecewakan. Tapi dia tidak mau kalau kamu yang mengecewakannya ! "


" Saya memang menyukai bu Ashe Pak ! Tapi saya tidak mau instan. Biar berjalan apa adanya saja ! "


Dimas menjelaskan kalau Gena sedang di Bandung. Di rumah keluarganya. Menurut informan Dimas, Gena dinikahkan oleh pihak keluarganya dengan wanita pilihan orang tua Gena. Orang yang tak lain adalah mantan pacar Gena. Dan Gena pun menyetujui dan melangsungkan pernikahan beberapa hari lalu.


Pak Fajar mengangguk dengan raut marah. Dimas menepuk pundak Pak Fajar.


" Saya tahu Bapak tidak pernah mencampuri urusan bu Ashe. Tapi bu Ashe sangat dewasa menanggapi berbagai hal "


" Dia berkali - kali di kecewakan Dim ! "


" Saya tahu Pak ! Saya yakin Bu Ashe baik - baik saja ! "


" Tolong jaga dia Dim. Saya hanya percaya denganmu. Bagaimanapun caranya, kamu harus membuatnya jatuh cinta padamu ! "


" Bapak maksa banget sih punya mantu saya ! "


Pak Fajar menoleh dengan pandangan tajam. Tangannya menoyor jidat Dimas.


" Kamu kali yang ngarep jadi mantu saya ! "


Dimas dan Pak Fajar berpandangan. Kemudian tertawa terbahak - bahak.


Mereka menyelesaikan makan siang. Kemudian melanjutkan meninjau kantor baru Pak Fajar. Dan kembali sore harinya.


Dimas menguyur tubuhnya yang terasa lengket karena kegiatan seharian ini. Mereka rencananya akan berada di Kalimantan selama sebulan. Dimas menghela nafas. Hatinya merinduksn Ashe, namun harus ditahan karena pekerjaannya.


****


Di sisi lain, Gena tengah mengayuh becaknya secepat mungkin. Tanjakan sudah mulai terasa. Hingga Gena mempercepat kayuhannya. Tangannya meremas kuat setang begitu Gena berhasil melewati tanjakan pertama. Ia mengerang penuh kepuasan. Peluh menetes mengalahkan AC dalam ruang kamar itu. Gena ambruk. Becak yang di kayuhnya ikut terhempas.


Hanya selang beberapa saat kemudian tubuh Gena kembali diguyur keringat. Tanjakan kedua tampak mendesak ingin mencapai puncaknya. Kayuhan yang Gena rasakan semakin kuat. Tubuh Gena bergetar. Oli pada pedalnya terasa hangat dan membanjiri. Gena tak tahan. Tanjakan kedua pun berhasil ia lalui dengan peluh yang mengucur.


" Terima kasih sayang ! " sebuah kecupan mendarat di bibir Gena.


" Kamu sangat hebat. " pujinya seraya memeluk Gena.


Gena tersenyum.


" Kamu juga masih sama seperti dulu. Selalu membuatku tak bisa berkutik " ucap Gena membalas ciuman.


Gena menarik selimut. Menutupi tubuh mereka berdua. Memeluk Kharisma, istri Gena yang sekaligus mantan pacarnya. Mereka terlelap setelah kepuasan yang mereka capai.


******


Ashe membolak - balikan badan di tempat tidur. Berbagai posisi tak juga membuatnya nyaman dan segera terlelap. Pikirannya menerawang. Hatinya tak tenang. Gena beberapa hari ini sama sekali tak bisa di hubungi. Pikiran Ashe seolah menebak apa yang terjadi. Tapi ia mencoba menepisnya. Ashe memang berkali - kali di khianati pacarnya. Tapi itu pun juga bukan tanpa alasan. Ashe bukan wanita murahan, ia selalu punya prinsip dalam sebuah hubungan. Dan menjauhnya Gena sudah pasti jadi tebakan Ashe.