Perfect Boy

Perfect Boy
11. Mata Genit.



Pak Fajar menikmati jalan - jalannya dengan Dimas. Dimas sudah mendapat apa yang dipesan Ashe. Mereka kini tengah duduk menikmati makan malam di warung tenda pinggir jalan.


" Bapak nggak masalah makan ditempat seperti ini ? " tanya Dimas, takut Bosnya merasa tak nyaman.


" Tenang aja Dim. Dulu Papa lebih susah dan tidak langsung sukses seperti ini ! " sahut Pak Fajar.


Dimas tercengang, Pak Fajar beneran ingin dia jadi mantunya.


" Baiklah. Saya takutnya Papa tak nyaman ! " sahut Dimas akhirnya memanggil Pak Fajar dengan sebutan Papa juga.


Pak Fajar tersenyum. Senang, Dimas mau memanggilnya Papa.


" Kalau Ashe minta macam - macam dan aneh - aneh jangan dituruti...! "


" Enggak sih Pa, selama ini mintanya juga masih logis kok ! "


Hp Dimas berbunyi. Pak Fajar menyuruh Dimas mengangkatnya. Dimas berbicara sebentar di telepon.


" Maaf Pak, adik saya telepon ! " kata Dimas setelah menutup teleponnya.


" Iya, nggak papa. Kamu selalu kirim uang ? " tanya Pak Fajar yang tak sengaja mendengar percakapan Dimas ditelepon.


" Iya Pak, adik saya dua. Mereka butuh biaya lebih untuk kuliah dan sekolah. Gaji bapak saya hanya pas - pasan "


" Kamu memang sangat bertanggung jawab ! "puji Pak Fajar.


Dimas tersenyum. Hpnya kembali berbunyi. Dimas mengangkatnya.


Ashe : Sedang apa kamu ?


Suara Ashe terdengar lebih pelan dan tak berteriak seperti biasa. Dimas tersenyum. Pak Fajar menatap ekspresi Dimas.


Dimas : Sedang makan, sudah makan belum ??


Ashe : Kenapa aku selalu tak tahan ingin telpon kamu dulu. Seperti perempuan gatel...


Ashe malah mengerutu. Dimas tertawa. Tak peduli Pak Fajar disampingnya.


Dimas : Bukan begitu ! Katanya minta dodol. Ini lagi dicariin..!


Pak Fajar tersenyum. Tahu siapa yang menelepon Dimas.


Ashe : Banyak nggak ?


Dimas : Banyak, nanti dibawaain lagi kalau balik !


Ashe : Duitnya habis ya !


Dimas : Kemarin udah ku kasih Yidi semua buat beli makan Ibu disana..


Ashe : Ya udah. Minta no rekeningmu...


Dimas : Nggak usah mikirin uang Bu. Ibu minta apa aku beliin..


Ashe : Songong banget loe ya, seberapa banyak duit loe ??


Dimas : Nggak banyak Bu...! Tapi insya allah cukup ! Jangan banyak pikiran. Ibu makan sana !


Ashe : Aku sudah makan


Dimas : Apaaa ??


Ashe : Mie...


Dimas : Heisss... ! Mie doang ?


Ashe : Nggak, pakai telur pakai bayam...


Dimas : Hahaaha... ya sudah. Itu porsi jumbo pasti. Sedang apa ?


Ashe : Ingin tidur. Capek. Asistenku menyebalkan. Tak bisa kerja.


Dimas : Tapi tak bisa tidur ??


Ashe : Iyaaa...


Dimas : Jangan pikirkan yang tidak memikirkan Ibu !


Ashe : Apa maksudmu ? Kamu beneran mafia atau cenayang ?


Dimas : Vicenzo cassano


Ashe : Hoeeek...


Dimas : Tidur saja sekarang, jangan nonton drakor lagi.


Ashe : Darimana kau tahu... ???


Dimas : Mata batin...


Dimas : OB macam mafia tadi sih !


Ashe : Nggak jelas...


Dimas : Saya paling jelas Bu daripada yang lain ! Sudah enakan pikirannya. Sekarang Ibu tidur. Saya mau makan dulu Bu.


Ashe. : Yaa..


Dimas menutup teleponnya. Kembali melanjutkan makan dengan perasaan berbunga - bunga. Pak Fajar yang dari tadi dicuekin tampak santai.


****


Ashe memejamkan mata begitu Dimas menutup teleponnya. Pikirannya yang tadi kalut tak jelas memikirkan Gena sirna. Ashe terlelap.


Sementara Gena sendiri tengah menemani Kharisma belanja di mall dengan membeli barang - barang mewah. Penampilan Kharisma yang seksi mencerminkan struk belanjanya. Gena sendiri tak masalah kalau hanya dengan uang. Ia bisa membelikan apapun yang Kharisma inginkan.


***


Jumat malam, Dimas mendarat di Jakarta. Tangannya menarik koper yang ditumpangi kotak karton berisi pesanan Ashe menuju pintu keluar. Dimas sengaja pulang sendiri tanpa Nasrul maupun Lino. Itu untuk menghindari kecurigaan Ashe. Benar saja, Ashe menelepon Dimas dan ngotot menjemputnya di bandara. Dimas terpaksa mengalah dan membiarkan Ashe menjemputnya. Awalnya Dimas tak enak dengan Pak Fajar. Tapi untungnya Pak Fajar sudah paham kebiasaan Ashe. Jadi Dimas merasa tenang membiarkan Ashe menyetir sendiri di malam hari.


Ashe menunggu di ruang tunggu sebari memainkan Hpnya. Sudah hampir setengah jam ia di sana. Biasanya dia akan mengeluh dan menyemprot semua orang ketika menunggu lama. Namun, kali ini ia hanya sibuk memainkan Hp. Mencoba menghubungi Gena, tapi pesan maupun telepon tak ada balasan.


Ashe celingukan, menatap sekeliling yang ramai orang. Matanya menangkap seseorang berjalan ke arahnya. Tampilannya sangat maskulin dan modis. Mengenakan sepatu bermerk, blazzer, kacamata hitam dan mengenakan jam tangan. Ashe merasa familiar, tapi kemudian cuek karena dia pikir bukan Dimas.


" Sudah lama Bu ? " sapanya seraya melepas kacamata dan berdiri di depan Ashe.


Ashe mendongak. Memekik kegirangan dan langsung melonjak memeluk Dimas. Dimas kaget melihat refleksnya Ashe. Ashe sesaat sadar. Dan langsung melepaskan Dimas yang tersenyum.


" Ibu beneran kangen saya ya ? " goda Dimas.


Wajah Ashe memerah, salah tingkah.


" Apa sih..??? " elak Ashe.


Ashe berjalan mendahui Dimas menahan malu. Dimas hanya tersenyum melihat Ashe salah tingkah.


" Nggak usah cepet - cepet Bu, ntar kesandung lho..! " sindir Dimas.


Ashe malah mempercepat jalannya. Dimas terkekeh.


" Bu... itu salah jalan. Ibu mau naik pesawat ! " peringat Dimas.


Karena Ashe malah tak menuju pintu keluar. Ashe mendesah. Dimas tertawa. Ia meraih tangan Ashe dan mengandengnya.


" Apaan sih kamu...?? "


" Sudah.. entar ilang ! " tarik Dimas.


Mereka berjalan keluar bandara.


" Dimana mobilnya ? " tanya Dimas.


" Di parkiranlah ! " Ashe masih salah tingkah.


" Sini kuncinya. Ibu jangan kemana - mana. Tungguin kopernya ! " pesan Dimas yang langsung mengambil kunci mobil dari tangan Ashe.


Ashe mengerutu karena perintah Dimas. Namun, ia menurut saja. Tak lama, Dimas muncul dengan mobil Ashe. Dimas turun dan membukakan pintu untuk Ashe. Kemudian ia memasukkan kopernya ke bagasi.


" Saya antar Ibu pulang dulu ya...! " kata Dimas saat mereka dalam mobil.


Sedari tadi Dimas risih karena Ashe terus menatapnya.


" Nggak mau... gue mau ikut lo ! "


" Heeeh...! "


" Gue mau ikut loe pulang..! "


Dimas menggaruk tekuknya yang tak gatal.


" Ya sudah. Tapi menataplah ke depan. Mata genit Ibu itu membuatku tak kuat...! "


" Haaaah....! "


" Jangan menatap saya teruss Bu...! "


" Hanya ingin menjawab otakku yang penuh tanda tanya ! "elak Ashe.


Padahal ia mengagumi Dimas. Mata dan hatinya tak pernah setertarik itu pada cowok. Meskipun mantan Ashe juga ganteng - ganteng. Tapi pesona Dimas memberi chemistry sendiri pada Ashe.


Dimas tertawa.


" Jangan - jangan Ibu sudah menyiapkan acara Q & A buat saya ! "


" Emaaaang....! "