
Dimas berlenggang menuju room meeting di divisi Ashe. Dema mengantarnya. Nampak dua orang menunggu.
" Maaf saya terlambat...! " si cenayang ini bisa basa - basi juga.
Dua orang yang tengah duduk menunggu menoleh. Menatap dengan tanda tanya namun berdiri juga menyambut Dimas. Dimas menyalami seorang pria yang bertubuh tegap dengan penampilan yang jelas memikat semua orang.
" Dimas....! Saya mewakili Bu Ashe. Bu Ashe sedang ada agenda lain ...! " kata Dimas.
" Saya Aditya Fira...! " sambutnya.
Dimas tersenyum. Palsu. Ini karena memang dia agak cemburu dengan pria satu ini. Entah kenapa ? Dimas menyalami seorang perempuan yang berdiri di samping Adit.
" Gladisa Pak....! " sambutnya.
Dimas mengangguk.
" Mari, silahkan duduk...! " kata Dimas.
Adit dan Gladisa duduk berdampingan. Dimas juga duduk dengan Dema mendampinginya.
" Baiklah. Saya sudah lihat proposalnya. Tapi saya juga ingin liat sejauh apa propek yang kalian tawarkan. Apabila ini menguntungkan, tentu JAE akan senang bekerja sama dengan kalian...! " kata Dimas.
Adit menatap Dimas. Seolah tanda tanyanya tak pudar. Ia kemudian berdiri dan mempresentasikan proposalnya. Setengah jam, ia melakukan pemaparan.
" Pak Adit, apa motivasi anda mengajukan kontrak dengan JAE...? " tatap Dimas.
Adit agak gelagapan. Pertanyaan itu memang tentu sudah dalam prediksinya. Hanya saja orang yang menanyakan itu yang membuatnya grogi.
" Tentu saja karena reputasi JAE yang sudah tidak diragukan lagi...! Siapapun mengenal JAE...! Setiap peluang yang terbuka bagi publik, JAE bisa memberi perubahan yang memuaskan untuk kerja sama... " sahut Adit.
Dimas mengangkat alis dan mengangguk.
" Baiklah. Mari jalin kerja sama yang baik dan profesional...! " kata Dimas membuka lembar terakhir. Membubuhkan tanda tangan di sana. Ia kemudian berdiri dan menyalami Adit.
" Selamat bergabung Pak Adit...! " kata Dimas.
" Terima kasih Pak Dimas... " sambut Adit.
Dimas mengangguk.
" Maaf, saya permisi. Saya sudah ditunggu... " pamit Dimas.
" Baik. Terima kasih Pak.... " kata Adit.
Dimas meninggalkan ruangan itu. Dema masih membereskan berkas perjanjian untuk JAE.
" Maaf Bu Dema...! Boleh bertanya ? " Adit sedikit ragu.
" Ya Pak...! "
" Tadi itu siapa ya ? "
" Oh, Pak Dimas. Dia Presdir baru disini Pak...! Pengganti Pak Fajar " sahut Dema masih menutupi.
" Presdir baru ? Bukannya Pak Fajar anaknya hanya Bu Ashe ya...? Bagaimana dia bisa jadi Presdir ? " heran Adit.
" Saya kurang tahu Pak. Permisi...! " Dema tetap tak mau membocorkan fakta yang ada.
Dema membereskan berkas dan ikut keluar menyisakan tanda tanya pada Adit.
****
Dimas kembali ke tempat Ashe. Karyawan di divisi Ashe menoleh namun tak berani berkomentar. Mereka langsung menunduk begitu Dimas menyapu pandangannya pada karyawan.
Dimas membuka pintu ruangan Ashe. Ashe yang masih di tempat semula menoleh.
" Kenapa cepat sekali ? " tanya Ashe.
" Untuk apa lama - lama dengan mantanmu itu ? " Dimas balik tanya sebari duduk di kursi kebesaran Ashe. Sudah seperti Bos dan assistennya. Ashe sibuk membolak balik berkasnya dan sibuk membubuhkan tanda tangan.
" Apa kamu membaca dokumen itu ? " tanya Dimas ingin tahu.
" Tentu saja. Bagaimana aku bisa tanda tangan tanpa tahu apa isinya...? " sahut Ashe.
" Terus kapan tanda tangan surat nikah ? "
" Nanti soreee.... " Ashe menengadah menatap Dimas. Kesal melihat Dimas yang cengegesan.
" Cepat selesaikan.... " kata Dimas seraya meraih Hpnya. Terlihat Pak Fajar meneleponnya.
Pak Fajar : Kamu dimana Dim ? Jangan bilang kamu lagi sama Ashe ?
Dimas mendesah. Belum juga menjawab.
Dimas : Iya Papaaa....
Ashe menengadah. Menatap Dimas. Ia bisa mendengar percakapan itu.
Pak Fajar : Ya udah. Ke Rom Hall sekarang ya...!
Dimas : Iya Pa. Aku kesana sekarang...!
Pak Fajar : Jangan lupa pasang trik tukang sapu...!
Dimas : Itu sudah khatam Pa. Jangan diingetin...
Pak Fajar : Hahahahahaha....
Dimas : Stttttttt....
Pak Fajar : Cepaaat....!
Dimas : Iyaaaa.....!
Dimas mematikan teleponnya. Ashe masih menatapnya.
" Buruan....! " tatap Dimas.
" Buruan gimana ? Ini belum berkurang. Bentar lagi Dema ke sini nambah lagi ! " sungut Ashe.
" Nanti aku bantuin. Tanda tanganku laku kok...! " kata Dimas.
Ashe mendesah kesal. Benar saja. Dema mengetuk pintu dan membawa setumpuk berkas.
" Pak Dimas, Bu Ashe, ini kontrak dengan ARASA...! " Dema menunjukkan sebuah map.
" Ok. Terima kasih Dema....! " sahut Ashe.
Dema mengiyakan dan pamit keluar. Dimas mengambil map kontrak itu dan memasukkannya ke laci Ashe.
" Kau bahkan tak membiarkanku membacanya...! " sungut Ashe.
" Aku tak mau kamu melihat tanda tangan Adit...! "
" Diiihhh... Bucin akuut loe ya...? "
" Iyaaa...! " sahut Dimas sambil berdiri dan menarik tangan Ashe.
" Kau bahkan tidak membuatkanku minum Bie... " keluh Ashe.
Dimas menoleh.
" Minum saja air rasa kasih sayangku... " goda Dimas.
" Apa sih...?? " Ashe menepuk Dimas keras.
Dimas mengaduh sambil meringis. Ashe meringis lagi. Ia meniup tangannya seolah menepuk benda keras. Dimas meraih tangan Ashe dan ganti meniupnya. Kemudian mengeluarkan sebotol minuman jeruk dari saku jasnya. Itu yang tadi di tepuk Ashe. Dimas membukakan botolnya.
" Nih, minum dulu...! Makannya nanti setelah rapat direksi ya...! " Dimas menyodorkan botol itu pada Ashe
Ashe menerima dan meminumnya. Langsung tandas. Dimas bersedekap tangan menggeleng. Ashe hanya nyengir sambil menyerahkan kembali botol kosong pada Dimas.
" Sudah ilang hausnya ? " tanya Dimas mrnerima botol kosong dan membuangnya ke tempat sampah.
"Hmmm.... " sahut Ashe.
" Mulutnya belepetan itu... " kata Dimas mendekat.
" Benarkah ? " Ashe hendak mengusap mulutnya tapi tangannya langsung di tahan Dimas. Dengan cepat mencium bibir Ashe hingga Ashe terkesiap. Tak menyangka Dimas melakukan itu di kantor. Dimas tersenyum.
" Manis sekaliii.... " kata Dimas.
" Apanyaaaa ? "
" Bibirmu....! " sahut Dimas santai sambil berjalan menarik Ashe.
Ashe mendengus kesal. Lagi - lagi kecolongan.
" Aku ke kamar mandi dulu Bie. Aku kucel sekalii...! " tahan Ashe.
" Iya, aku tunggu. Atau aku temani...? "
" Ngggakkk....? "
" Kenapa ? "
" Kamu mesum....! "
Dimas terkekeh.
" Aku mesum yang menakjubkan...! " sahut Dimas.
" Ada mesum yang menakjubkan ? "
" Inii....! " tunjuk Dimas dengan telunjuknya dengan diri sendiri.
" Hedeeeeeh....! " sahut Ashe sebari membuka pintu. Keluar ruangannya diikuti Dimas.
Mereka berjalan depan belakang di ikuti tatapan para karyawan. Ashe menuju kamar mandi. Dimas yang kurang kerjaan ini menunggu pujaan hatinya di di depan pintu kamar mandi. Ashe mencuci muka dan membetulkan riasannya.
" Sudaah...! " sahut Ashe.
" Ayo. Kita ditunggu...! " kata Dimas dan menarik tangan Ashe. Mereka berjalan ke lift dan turun ke bawah. Hallrom tempat rapat dan meeting ada di lantai bawah. Ashe dan Dimas berjalan berdampingan diikuti tatapan terpesona dari karyawan wanita.
" Susah kalau jalan dengan orang tampan....! " sewot Ashe sebari berjalan mendahului Dimas.
Dimas terkekeh memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia berjalan cepat mengimbangi Ashe.
" Bau gosong cemburuu....! " sindir Dimas.
" Aku menantikan apa jabatanmu dan apa reaksimu...? " sahut Ashe.
" Kenapa kamu yang tak mau...? "
" Karena aku ingin jadi NYONYA yang menguasaimu...! Bukan perusahaan... "
" Baiklah...! Kalau begitu aku juga akan selalu menguasaimu setiap malam... " senyum Dimas.
Ashe mendelik menatap Dimas.
" Kamu masih bisa mesum ya...? " sungut Ashe.
" Kamu yang membuatku tak bisa berpikir jernih... " bisik Dimas.
" Hiiiiiissssh..... " lirik Ashe.
Dimas tertawa. Langsung mengandeng Ashe dan masuk Hallrom. Belum banyak dewan direksi yang hadir. Dimas dan Ashe mengangguk hormat dan mengambil posisi duduk berdampingan. Para Direksi menatap mereka penuh tanda tanya. Tak lama, Pak Fajar datang diikuti Anita dan Faisal. Ia juga langsung duduk di posisinya setelah melempar senyum penuh arti pada Dimas dan Ashe.
Tak lama, kursi penuh. Seluruh pemegang saham dan para Direksi berkumpul. Mereka sangat disiplin saat Pak Fajar mengundang mereka. Bagaimana tidak. Pak Fajar sangat disegani dan tegas kepada semua stakehorder yang berkerja sama dengannya.
Pembawa acara memulai sesuai intruksi Pak Fajar. Pak Fajar berdiri saat pembawa acara menyilahkannya.
" Baiklah, saya langsung saja. Kapasitas saya disini selaku Presiden Direksi ingin memberi beberapa keputusan terkait beberapa perkembangan isu yang terjadi beberapa waktu ini. Pertama, keterkaitan kasus pengelapan dana dan pelanggaran kontrak kerja dari pihak GG Line, maka sejak saat ini. Saham GG Line diambil alih 20 % oleh JAE Grup. Kedua, jabatan Presiden Direktur atau Pimpinan Direksi akan saya serahkan secara bertahan kepada anak menantu saya. Dimas Bagaskara, silahkan berdiri... " kata Pak Fajar.
Dimas berdiri dan mengangguk hormat pada semua yang hadir. Semua menatap ke arah Dimas, takjub. Dimas begitu muda dan rupawan. Seolah tanda tanya para direksi dan pemegang saham terjawab.
" Ini Dimas Bagaskara, dia anak menantu saya. Saya akan meresmikan pernikahan Ashena Al Fajar dan Dimas dalam waktu dekat. Ia merupakan CEO Kacab Surabaya dan Kacab Kalimantan dalam 2 tahun terakhir ini. Dimas merupakan lulusan manajemen terbaik di salah satu universitas di Surabaya baik untuk Sarjana maupun Magisternya. Dan saya, sudah bersama dengan Dimas selama bertahun - tahun... "
Selamat
Para hadirin bertepuk tangan mengagumi kehebatan Dimas. Dimas hanya tersenyum mengangguk. Ashe menatap Dimas. Ia tak menyangka Dimas sudah menyelesaikan S2 - nya.
" Baiklah. Demikian yang perlu saya sampaikan. Saya mohon kerja sama yang baik dari kalian semua. Terima kasih. Mungkin ada pertanyaan ? Silahkan ! Setelah ini, saya minta semua perwakilan menyampaikan laporan terkait pekerjaan kita... " ucap Pak Fajar sambil kembali duduk.
Dimas pun ikut duduk kembali.
Seseorang mengacungkan tangan. Pak Fajar menyilahkan.
" Kenapa JAE Grup diserahkan kepada Pak Dimas yang notabene adalah menantu ? Kenapa tidak pada Bu Ashe yang anak kandung Pak Fajar...? " tanya seseorang.
Pak Fajar melirik Ashe.
Ashe sudah paham dan langsung berdiri.
" Terima kasih. Saya Ashena Al Fajar. Setelah menikah, saya tidak ingin terlalu banyak beban dan pikiran. Saya hanya ingin bekerja dan mengurus rumah tangga dengan nyaman.... " kata Ashe tetap cuek seperti biasa.
Dimas tersenyum.
" Apa Bu Ashe tidak takut, Pak Dimas mengambil alih semua harta dari JAE Grup ? " seorang lagi bertanya.
" Harta yang paling berharga saya pun sudah diambil Pak Dimas....! " sahut Ashe error.
Dimas menggerut kening. Pak Fajar menepuk jidat.
" Hati saya maksudnya...! " cengir Ashe.
Dimas menghela nafas lega.
" Tak ada yang perlu kalian khawatirkan. Pak Dimas juga sudah kebal dengan pelakor. Saya juga siap menyandera keluarganya... " Ashe duduk.
Dimas menyentil paha Ashe. Ashe nyengir.
" Apa JAE Grup mengambil semua saham GG Line ? Apakah ada bukti terkait peyelewengan dana proyek dan bisakah ini di bawa ke ranah hukum...? "
Pak Fajar menatap Dimas. Dimas sudah mengerti. Ia berdiri dan berbicara panjang lebar di depan semua dewan direksi dan pemegang saham. Hampir semua orang terkesima melihat keterampilan bicara Dimas. Termasuk Ashe, tadinya ia mulai mengantuk. Namun begitu Dimas berbicara, matanya seakan mendapat asupan. Hipnotis Dimas memang luar biasa. Hingga akhirnya rapat diisi oleh pelaporan semua direksi.
Hampir 3 jam lebih. Ashe mulai bosan dan menahan lapar. Dimas tersenyum menyenggolnya.
" Tak lama lagi Buuuu....! " bisik Dimas.
" Aku kelaparan ! " bisik. Ashe pula.
" Mau makan dimana ? "
" Padaaaang.... "
Dimas melotot, Ashe nyengir sebari menarik narik jas di lengan Dimas.
" Baiklah. Terima kasih untuk laporan dan kehadirannya untuk hari ini...! Selamat bekerja kembali....! " Pak Fajar menutup pertemuan.
Pak Fajar berdiri, diikuti Aahe dan Dimas. Secara bergantian mereka bersalaman.
" Selamat atas jabatan Presdir barunya dan selamat menempuh hidup barru. Kami menunggu undangannya... " salam para direksi pada Dimas dan Ashe.
Dimas dan Ashe mengucapkan terima kasih. Para Direksi dan pemegang saham satu persatu meninggalkan ruangan. Hanya beberapa yang nampak ngobrol dengan Pak Fajar.
Ashe menarik jas lengan Dimas seperti anak kecil. Dimas tersenyum menoleh pada Ashe.
" Kamu suka bercanda ternyata... " bisik Dimas.
" Baru tahu... " pelotot Ashe.
Dimas terkekeh dan merangkul pundak Ashe.
" Mari makan Nyonya...! Sepertinya anak kita sudah sangat lapar... " kata Dimas sebari mengusap perut Ashe. Menggoda dengan mata genit.
Ashe menepuk keras tangan Dimas.
" Apaaa ? Belum bikin juga....! " sewot Ashe.
" Mari kita bikiinnn.... " tarik Dimas pada leher Ashe.
" Kau ini sangat mesum. Sudah jadi Presdir masih belum normal pikirannya....!"
" Itu pikiran normal pria dewasa bertemu wanita idaman..." kata Dimas mengelak.
Ashe mendengus kesal dan Dimas membawanya keluar Hallrom. Menuju lobby dengan sikap yang tetap sama namun lebih manis. Menggandeng tangan Ashe mesra hingga membuat semua orang iri dan menatap pasangan itu. Dimas cuek, apalagi Ashe. Ia sudah dalam kondisi darurat. Kelaparan.
" Maagku akan segera kambuh... " keluh Ashe saat di pintu lobby.
Dimas tersenyum.
" Iyaaa...! "
Nasrul muncul dengan mobil Ashe. Mereka segera naik mobil.
" Mau kemana Pak...? " tanya Nasrul.
" Padaang.... " sela Ashe.
Nasrul mengenyit.
" Ada tugas luar Bu ? " tanya Nasrul bingung.
" Restoran padang maksudku Rul... " sewot Ashe.
Dimas tertawa.
" Hati - hati Rul. Kalau restoran padang tak ketemu, kamu yang akan dicincang jadi rendang...! " sindir Dimas.
Nasrul terkekeh.
Ashe melirik dengan tatapan tajam pada Dimas. Dimas tertawa puas. Ashe menyodok Dimas dengan sikunya. Dimas mengaduh pura - pura. Tak lama, mereka sampai di rumah makan padang. Ashe turun dengan antusias. Dimas mengikuti dibelakang Ashe.
" Nasrul, ayo kamu ikut makan...! " pekik Ashe.
" Tapi Bu....! " Nasrul ragu.
" Sudaah, ayo Rul. Nanti Nyonya kamu itu ngamuk...! Dia lagi kelaparan hebat..." Dimas merangkul Nasrul. Layaknya teman.
Nasrul tertawa.
" Bapak terlihat begitu senang sejak bersama Ibu... " kata Nasrul.
" Itulah yang namanya cinta pada pandangan pertama Rul.... " sahut Dimas sambil masuk ke dalam resto.
Ashe tampak tengah memilih lauk dengan jarinya menunjuk semua lauk. Dimas menggeleng. Nasrul hanya tersenyum.
" Nasinya 3 ya. Lauknya itu semua... " kata Ashe yang kemudian mencari tempat duduk. Nasrul mencari kursi lain.
" Kenapa duduk disitu...? " tanya Ashe.
" Takut Bu Ashe khilaf ingin nambah lauk... "
" Ckkk.....! Apaaan sih...! " kata Ashe.
Muncul Dimas membawa teh panas.
" Minum dulu Bu. Kamu makannya baru tadi pagi...! " sodor Dimas sambil duduk.
Ashe meminumnya.
" Pelan minumnya dan jangan langsung dihabisin. Nanti perutnya sakit... " peringat Dimas.
Nasrul tersenyum melihat perhatian Dimas ke Ashe. Ia tahu atasannya itu menyukai Ashe sejak lama. Nanti tak pernah terburu - buru mengambil keputusan hingga posisinya sekarang.