Perfect Boy

Perfect Boy
64 " Anjing Tetangga " yang jinak



Dimas mengangkat pelan tangan Ashe yang melingkar di lehernya. Perlahan bangun dan kembali menyelimuti Ashe yang tertidur lelap. Cahaya terang mulai menerobos lewat angin - angin jendela kamar Dimas. Dimas meraih Hpnya. Sudah jam 06 : 00 lewat. Di luar juga masih sangat sepi.


Dimas membuka dan menutup pintu kamar pelan. Rozi masih tengkurap berselimut sarung bersama Nasrul. Faisal tampak mencuci mobil dengan Lino. Pak Fajar dan Pak Kibul duduk di teras menikmati suasana pagi sambil ngobrol dan ngeteh.


Dimas berjalan ke kamar mandi melewati dapur. Bu Fatimah dan Bu Izun tengah masak.


" Dim, Ashe mana ? " tanya Bu Fatimah begitu melihat Dimas.


" Masih tidur Ma... " sahut Dimas.


" Udaaah, biarin Mbak...! Ashe pasti kecapekan... " sela Bu Izun.


" Tetep aja sih Mbak...! Orang di rumah mertua kok bangunnya seenakknya...! "


" Udah sih...! Kan kita mertua melenial. Emang kita berdua... ? Tunduk patuh pada mertua..."


Bu Izun dan Bu Fatimah bertatapan. Kemudian mereka tertawa bersamaan. Dimas mengaruk tekuknya. Heran dengan Mama dan Mamaknya. Dimas berlalu ke kamar mandi.


" Emang kamu sering diomelin mertua ? " bisik Bu Fatimah pada Bu Izun.


" Apaaa...? Kalau nggak Mas Ibul sungguh perhatian, aku sudah minggat dari sini... " bisik Bu Izun pula.


Laaah....! Mereka malah gosip.


" Hehe... sama...! Untung gaji Mas Fajar full buat aku...! Saat strees aku liatin aja jumlah nominal di rekening aku... "


" Hahhhahhahaha.... " mereka berdua ABG kelewat tua.


" Kalian ngomongin apa sih ? " tatap Pak Kibul mendadak muncul di ambang pintu dapur.


Bu Izun dan Bu Fatimah langsung menghentikan tawa mereka.


" Rapopo...! Ngopo to...? " dihh, Bu Izun malah nyengir sadis.


" Heeeh...! Wong ditakoni ayang beb e kok gono to... ? " sahut Pak Kibul.


" Eheeem.... eheeem....! Dah aku juga mau nyari ayang beb ku dulu... " sela Bu Fatimah penuh godaan.


" Opo to koe ki...? " kekeh Pak Kibul. " Wes mateng rung Fat...? " imbuh Pak Kibul.


Bu Fatimah balik lagi, nggak jadi ke depan. Pasalnya penggorengan sedang penuh dengan adonan tempe mendoan. Pak Kibul tertawa.


" Kae Mak, goleki besan gagalmu... " kata Pak Kibul.


" Ngawur wae nek ngomong.... " sungut Bu Izun.


" Ben ngawurr, seng penting, cintaku padamu tidak ngawurrr... "


" Hoeeeek.... " ledek Bu Fatimah membuat Bu Izun tersipu malu.


" Pantesan Dimas raja gomball.... " senyum Bu Fatimah.


" Siapa dulu bapaknya Fat... " sahut Pak Kibul.


" Bentar ya Fat...! " kata Bu Izun.


" Iya, sana temuin dulu... " sahut Bu Fatimah sambil mengangkat gorengannya.


Bu Izun berjalan keluar diikuti Pak Kibul.


" Sendirian Ma ? " tanya Dimas dari arah belakang. Ia tampak lebih fres setelah mandi.


" Iya Dim, mamak kamu lagi ketemu besan gagalnya... " senyum Bu Fatimah.


Dimas mengenyit dahi. Ia membantu membalik gorengan dalam wajan. Bu Fatimah tampak menyiapkan piring ke meja makan.


" Kamu bangunin Ashe sana Dim...! Ini udah siang lho... " titah Bu Fatimah.


" Biarin aja dulu Ma.... " Dimas mulai meracik sambal kecap.


Ia begitu suka merendam gorengan dalam sambal kecapnya.


" Kamu malah manjain Ashe ngelebihin Mama sama Papa... "


" Dia cuma bisa manja sama aku Ma... " senyum Dimas pamer gigi dengan sang ibu mertua.


" Dasar kamuu yaaa... !


Dimas tersenyum. Ia memotong bawang merah, cabe rawit dan tomat dalam porsi banyak. Menuangkan kecap dan menambah sedikit air.


" Ayamnya masih banyak ya Ma... ? " tanya Dimas melihat pengorengan penuh ayam yang dibumbu semur. Lihaat ini Ashe nggak bakal nengok sama aku, batin Dimas.


" Iyaaa...! "


" Ya udah....! Pas untuk sambalnya... " Dimas mengambil mangkok dan menyisihkan sambal kecap.


" Buat siapa Dim ? " tanya Bu Fatimah.


" Buat Ashe Ma, takut ntar nggak kebagian... "


" Ya ampunn...! Dia nggak mungkin merengek cuma buat sambel doang... "


" Kan Mama nggak tahu model regekan dia "


" Ohhh.... " Bu Fatimah membulatkan mata. Sungguh tak percaya Ashe semanja itu.


" Berarti Mama sama Papa nggak salah pilih dong... " senyum Bu Fatimah.


" Enggaklah...! Kan pilihannya cuma a, b, dan c ! Mama sama Papa bener nyilangnya...! "


" Apaan sih kamuu ? Emang pilihan ganda ? "


" Pilihan apaan itu ? " mendadak Ashe muncul dengan muka bantal.


Dimas dan Bu Fatimah menoleh ke arah suara.


" Pilihan jadi suami kamu sayaaang....! " Dimas mendekat dan mencium kening Ashe membuat Bu Fatimah mendehem.


Dimas cuek aja.


" Udah jadi istri orang kok jam segini baru bangun...! " omel Bu Fatimah.


" Yang ngomong aku istri bukan orang siapa ? Lagian aku nggak bisa tidur Ma... " bukan Ashe kalau nggak nyaut.


Dimas terkekeh.


" Udaah sana mandiii... " ucap Dimas mendorong pundak Ashe ke kamar mandi.


" Aku belum bawa handuk... " Ashe berusaha menahan diri.


" Nanti aku ambiliiinn.... " dorong Dimas lagi.


" Ya ampuuun. Buruan She, rejekinya keburu di patok ayam... " imbuh Bu Fatimah.


" Ayamnya udah dipotong Ma... " Dimas yang menyahut sebari nyengir.


Bu Fatimah melongo. Berasa menghadapi dua balita dalam ukuran jumbo.


*****


Mereka sekeluarga selesai sarapan. Ashe duduk bersila berhadapan dengan Dimas. Sementara yang lain ambil posisi enak mereka masing - masing. Rumah Dimas memang punya meja makan, tapi namanya sudah turun temurun. Mereka lebih senang ngamprak kemana - mana.


" Assalamualaikum... " tiba - tiba terdengar salam dari depan rumah.


Rozi langsung menatap Dimas yang pura - pura cuek hingga Rozi rasanya ingin menendang abangnya saat itu juga. Rozi jelas mengenal siapa yang datang.


" Waalaikumsalam... " sahut Bu Izun.


Ia yang beranjak keluar.


" Eeeeh.... Muning....! Ono opo Ning ? " terdengar Bu Izun.


Ashe langsung menatap Dimas. Dimas langsung konek.


" Apaaa....? " tatap Dimas balik.


" Itu " ehem ehem " ( anjing tetangga )... ? " kode Ashe.


" Eheeem ehem ( iya bener ).. ehem ehemmm ( kenapa ? kamu cemburu )? " sahut Dimas.


" Eheeem ( Enggak )... "


" Eheeem eheeem ( yang bener ?) .... " ucap Dimas.


" Kalian itu emang pasangan serasi dan cocok...! Sama - sama gendeng ( gila ) " Rozi malah yang kesal sendiri.


Pak Fajar dan Pak Kibul ngakak. Sementara Nasrul dan Faisal cekikikan. Dema dan Silia hanya tersenyum - senyum. Sementara Bu Fatimah hanya menggeleng kepala.


" Loe itu sirikkk.... "sungut Dimas menatap adiknya.


" Hhh.... Pak Bos sama Bu Bos kayaknya lagi casting iklan oreo... " celetuk Nasrul.


Dimas menoleh tajam ke assistennya itu. Nasrul hanya nyengir.


" Loe juga adik iparrr k****t.... " omel Dimas.


" Heeeeh... mulutnya yaaaa.... " pelotot Ashe.


" Hehe... " Dimas langsung tunduk di bawah istrinya.


Bu Izun tampak masih mengobrol dengan Muning. Tak lama, ia masuk dan melanjutkan lagi makan. Ternyata Muning hanya mengembalikan peralatan makan seperti ibunya tadi pagi.


Ashe kembali ke kamar setelah membantu membereskan meja makan, dan dapur. Merasa sangat lelah dan mengantuk. Tapi Ashe tidak ingin tidur di pagi hari. Ia hanya duduk di pinggir kasur memainkan Hpnya.


Ashe menoleh saat Dimas muncul dari balik pintu penuh senyum. Dimas menutup pintu dan duduk di samping Ashe dengan sebelah kaki menyila.


" Ayo jalan - jalan.... " ajak Dimas.


" Haaah.... kemana ? "


" Ayolah...! Di sini banyak tempat wisata alam yang bagus... "


" Wisata alam...? "


"He' em... "


" Ujungnya kakiku gempor Bie... "


" Tenang aja, nanti malam aku pijitin... " kerling Dimas.


Ia meringsek dan memeluk pinggang Ashe.


Ashe menatap Dimas tersipu.


" Aku letih, lemah dan lesuu... " keluh Ashe beralasan dengan muka dimelas - melasin.


" Haha...! Ya udah kalau nggak mau jalan - jalan... ! Bu tidur aja... " Dimas beranjak. Ingin meninggalkan Ashe namun matanya masih melirik reaksi Ashe.


Ashe tampak cemberut.


" Terus kamu mau kemana ? " tanya Ashe pelan.


" Mau jalan - jalan sama Muning... " goda Dimas.


" Aisssh....! Loe berani jalan sama " anjing tetangga " itu ya ? " Ashe berdiri berkacak pinggang.


Dimas menoleh penuh senyum.


" Salah siapa diajak jalan sama suaminya nggak mau...! Maunya ngamar melulu... " ledek Dimas.


Ashe tersungut.


" Awas aja loe... " umpat Ashe.


" Awas apaaa ? " Dimas mendekat dan menangkup dua pipi Ashe dengan tangannya. Dimas mencium bibir Ashe lembut.


" Aku inginnya juga mengurungmu di kamar saja ! Menyembuhkan lemah, letih , lesumu itu. Tapi mumpung kita di kampung.... " tatap Dimas.


Ashe tersenyum.


" Bawa duit yang banyak... " kerling Ashe mengedipkan sebelah matanya membuat Dimas klepek - klepek.


" Tidaaak... ! Aki akan bawa rantai saja... " goda Dimas.


Ashe melotot, " Buat apa ? "


" Biar " anjing betina " ku jinak... "


Ashe langsung membabi buta memukuli Dimas dengan penuh kekesalan. Dimas tertawa - tawa saja tanpa menghindar. Toh pukulan Ashe tak ada artinya juga. Hingga Dimas mendekap Ashe dan menciuminya bertubi - tubi.


" Bie... ya ampunn ! " keluh Ashe kewalahan namun tak digubris Dimas.


" Aku jadi pingin Buu... " bisik Dimas nakal membuat Ashe melotot.


" Nggaaak.... "


" Kenapa ? Dosa lho nolak suami.... "


" Alibii.... "


" Kok alibi ? "


" Kamar mandinya itu dibelakang.... "


" O.... "


" Buruan...."


" Buruan ngapain ? " Ehem ehem " ...? "


" Nggaaakk....! " pelotot Ashe membuat Dimas terpingkal. Muka kesel istrinya sungguh menyenangkan.


" " Ehem ehem " lah, bentar doang... " bujuk Dimas.


" Rayuan setanmu tak akan mempan... " Ashe berdiri hendak melangkah. Tapi tangannya masih tetap di gelayuti Dimas.


" Jadi jalan - jalan nggak Bie...? " tatap Ashe.


" Enggak....! Aku mau gelayutan aja... "


" Heeeh... emang kamu monyet ? "


" Iyaa...! Dan kamu adalah pohon tempatku berlindung paling nyaman... "


" Ya ampun Bie....! Kok kamu nggak ada romantis - romantisnya sih...? " Ashe gemas sendiri.


" Siapa yang bilang aku nggak romantis.... ?"


" Aku barusaan.... "


Dimas berdiri dan langsung mencium muka Ashe lengkap. Ashe terkekeh - kekeh menahan dada Dimas.


" Jadi enggak Bie ? " tatap Ashe.


" Jadi bikin anak... ? "


Ashe mendengus kesal sekali.


" Aku bahagia sekali melihatmu kesal dan cerewet... hahhaha..." tawa Dimas .


" Suami model apa itu ? "


" Model " RASKIN "


" Haaaah.... model apa ? "


" Raskin...! Romantis, asyik, setia, kaya, intelektual, dan nan tampan... "


Ashe tertawa tertahan mendengarnya. Nggak jadi kesal.


" Tukang ngada - ngada.... "


" Itu nggak ngada - ngada sayang...! Saya ada tahu nggak...! " Dimas kembali mencium bibir Ashe.


" Udah, ayo...! Jadi pergi nggak...? Kelamaan gombal ntar kamu berubah jadi buaya... "


" Kok buaya...? "


" Buaya kelaparan.... "


" Egggggg.......? "


" Buaya laper liat ayam.... "


Dimas mengerut. Namun tersenyum dan kembali memeluk Ashe makin erat.


" Emang bener sih, aku rasanya pingin " nyaplok " kamu sekarang... " bisik Dimas menciumi pipi Ashe.


Ashe kegelian dan berontak. Ia meraba kantong celana belakang Dimas.


" Mana dompetnya....? "


" Diih, matre banget sih... " tatap Dimas.


" Kamu cari duit buat siapa ? " kecup Ashe pada bibir Dimas.


Dimas langsung merona.


" Baiklah, ayo pergi sebelum kewarasanku hilang. Mau naik mobil atau motor... " kata Dimas.


" Terserah. Yang penting bawa duit banyak... "


Dimas melongo namun tak dapat menahan tawanya.


****


Mereka akhirnya berkeliling menggunakan mobil di seputaran wisata Jogja. Bukan cuma Ashe dan Dimas yang pergi. Begitu tahu pasangan pengantin baru itu akan jalan - jalan. Semua jadi panik. Panik ingin ikut piknik. Apalagi sang calon adik ipar Dimas. Sibuk mengurutkan daftar tempat yang akan di kunjungi dengan Silia.


Dimas dan Ashe bertatapan dengan raut entah bagaimana bisa di baca. Mereka yang tadinya ingin pergi jadi yang lain ribet.


" Yang deket aja Rul.... " kata Ashe.


" Mana itu Bu Ashe ? " toleh Nasrul.


" Mahaloka Residence aja... "


" Nggak mau, disana makan gorengan doang sama liat sawah... "


" Ribeet loe ya, udah ngalahin bos loe sekarang.... " sungut Ashe.


Dimas terkekeh melihat istrinya sewot.


" Ke sana liat sawah Bu Ashe...! Tuh, samping rumah juga sawah... " Nasrul masih aja ngeyel.


" Mulut loe tuh ya...! Nggak bisa menghargai destinasi wisata... " semprot Ashe.


" Saya kan menghargai destinasi cinta Bu... " mulut Nasrul sudah menyerupai Bosnya.


" Udah, kita ke Ketep Pass aja...! Mama mau belanja sayur... " sela Bu Fatimah.


" Engko gunung Merapi ne njebluk... " timpal Bu Izun.


Dimas membulatkan matanya.


" Mamak norak.... " sahut Rozi.


Pak Kibul hanya tertawa.


" Kemana jadinya....? " Dimas minta penegasan mereka jadi kemana.


" Terserah kamulah Bie... ! Yang penting bawa duit banyak... " Ashe masih saja ngipret duit.


" Mata duitan... " sungut Dimas namun tak marah.


" Udah, ayo pergi...! " Pak Fajar malah sudah siap dan berjalan keluar rumah. " Deal, Ketep Pass...! Mampir Ambarawa " lambainya Pede. Lino siap mengawal di belakangnya.


" Pulangnya mampir Mahaloka, makan gorengan... " kata Ashe menyusul papanya. Menyindir Nasrul.


" Deal Nasrul....! Siapkan banyak uang...! Nyonyamu akan ngamukk.... " susul Dimas juga.


" Pak Dimas kali yang kerjanya ngamuuk.... " elak Nasrul membuat Dimas menoleh tajam.


Nasrul cekikikan. Ia emang udah nggak ngerasa hubungan Bos dan karyawan. Di luar jam kerja mereka akan jadi teman, musuh dan keluarga.


****


Dari Author,


Thanks buat semuanya yang udah selalu setia dan memberi semangat author yang selalu oleng ini.


Jangan bosen membaca dan kasih like banyak - banyak. 😍😍😍😍