Perfect Boy

Perfect Boy
17. Kontrak Masalah



Dimas duduk menyilangkan kakinya sebari memainkan Hpnya. Nasrul menyiapkan berkas Dimas.


" Pak Dimas, semua sudah siap ! Bapak mau sarapan dulu ? " tanya Nasrul.


" Tunggu Bapak dulu Rul ! " sahut Dimas.


" Ya Pak ! "


Tak lama muncul Pak Fajar dan ajudannya. Dimas mencium punggung tangan Pak Fajar. Pak Fajar tersenyum melihat wajah Dimas yang nampak sumringah.


" Kapan kamu sampai ?? " tanya Pak Fajar sambil duduk.


" Hampir tengah malam Pak ! "


" Padahal ada penerbangan pagi lho, jadi kamu bisa istirahat ! "


" Saya memilih tidak istirahat Pak " cengir Dimas.


Pak Fajar tertawa.


" Apa segitu lengketnya Ashe ? "


" Ya, saya bahkan sempat ingin membawanya kemari ! "


" Anak ituuuu.....! Tapi saya senang..! Terima kasih Dim ! "


" Tidak perlu begitu Pak ! "


" Kamu sudah sarapan ? "


" Nunggu Bapak. Padahal saya sudah laper dari tadi ! "


" Hahahha.... salahmu ! Sudah, ayo makan ! "


Pak Fajar berdiri menuju restoran hotel. Mereka makan di sana. Nasrul, Lino dan ajudan Pak Fajar makan juga, tapi di meja lain. Setelah itu mereka pergi ke tempat pembangunan projek baru Pak Fajar. Projek yang belum selesai dalam setahun ini karena indikasi mark up dari Group Gena.


*****


Ashe memasuki lobby kantornya. Semua orang menunduk hormat. Ashe hanya tersenyum membalasnya. Dema mengikutinya masuk ruang kantor. Amel sudah diberhentikan oleh Ashe perhari ini karena kinerjanya yang lambat. Dema meletakkan setumpuk berkas. Ashe duduk di kursinya. Tak ada gelas teh di mejanya.


" Yidi ijin Bu ! " kata Dema.


" Ya, apa jadwal saya hari ini ? " tanya Ashe.


Dema membacakan jadwal Ashe.


" Sudaah Bu ! Ada yang diperlukan ? " tanya Dema.


" Tidak, sudah cukup. Kamu boleh keluar Dem ! "


" Baik Bu ! "


Dema keluar dari ruangan Ashe. Ashe menyalakan laptopnya. Mulai memeriksa laporan keuangan dan surel masuk. Kemudian ia membuka berkas yang di bawa Dema dan memeriksa. Kemudian memberi tanda tangan untuk berkas yang di perlukan.


Perlahan, Ashe membuka lacinya. Mengambil berkas pemutusan kontrak kerja sama dengan Gena Line. Ashe membacanya kembali. Lama dipikir, akhirnya ia menandatangani juga berkas itu.


Kenapa juga kontrak bermasalah ini dulu gue tanda tangani, gerutu Ashe.


Ashe kembali menarik laci dan menyimpan kembali kontrak kerja sama itu. Ashe beranjak, keluar ruangan dan memanggil Dema. Dema mengiyakan. Ia sudah tahu maksud Ashe. Mereka menuju ruang meeting.


*****


" Apa yang kamu temukan Dim ? " tanya Pak Fajar.


Dimas yang masih menatap laptopnya menoleh pada Pak Fajar.


" Banyak mark up nya Pak ! " sahut Dimas.


" Kumpulkan buktinya ! "


" Siap Pak ! "


Pak Fajar tersenyum.


" Ingaat Ashe !! "


" Isssh... saya kerja bukan cari muka buat dapetin Bu Ashe Pak. Saya cari uang ! "


" Hahhahaaha.. kamu ini ! Uangmu kurang ? Butuh berapa kamu ?? "


Dimas nyengir.


" Jangan gitu sih Pak. Saya nggak dibayar juga saya loyal sama Bapak ! "


" Sampai kapan kamu mau manggil saya Bapak ? "


" Iya Pa....! "


" Hahhaha...! Sudah. Kerja yang bener. Saya pingin pulang ! Kangen sama mama "


" Yaelaaah.... udah tua juga ! " gurau Dimas.


Pak Fajar menjitak kepala Dimas.


" Saya ini masih josssss....! Enaaak aja kamu ! "


" Hahhahhaha....! Jangan sampai Bu Ashe punya adik. Saya nggak mau momong....! "


" Ya ampuuuun.... kamu ini bener - bener mantu kurang ajar ! " toyor Pak Fajar.


" Bapak istirahat saja. Begitu bukti terkumpul. Silahkan eksekusi ! " kata Dimas.


Pak Fajar mengangguk, menepuk bahu Dimas.


" Terima kasih sudah menjadi garda depan saya ! "


" Jangan gitu Pa. Ini hanya sedikit yang bisa saya lakukan. Papa yang membuat saya seperti ini sekarang. Saya yang harus berterima kasih ! "


Pak Fajar tersenyum.


" Jangan lama - lama. Papa yang pingin pensiun dan momong cucu ! "


" Ntar darah tinggi Pa ! " gurau Dimas.


" Tahu ah Dim...! "


" Hahhaha....! "


" Ngomong ma kamu tuh kayak ngomong sama Ashe ! "


" Hahhaha... bercanda Pa ! "


Pak Fajar meninggalkan Dimas seraya melambaikan tangan. Dimas masih tinggal di kantor perusahaan logistik. Sebentar lagi dia ada monitoring. Dimas menghubungi seseorang. Mereka berbicara serius.


*****


Ashe menyelesaikan meetingnya dan pergi ke kantin kantor dengan Dema. Mereka makan siang di sana.


Ting...


Hp Ashe berbunyi...


Dimas : Bu, jangan lupa makan siang ya ! Saya hari ini agak sibuk. Jadi


baru bisa vc malem ya...


😘😘😘😘


Ashe : Hmmmmm.....


Dimas tersenyum. Jawaban Ashe mencerminkan bentuk protes.


*D**imas : Ini urgent. Gena grop mark up projek Pak Fajar. Saya sedang*


mengumpulkan bukti...


Ashe : Baikah, aku tidak akan merajuk.


Dimas : Kontraknya sudah ditanda tangani ?


Ashe : Ya...


Dimas : Mungkin Gena sudah kembali...


Deg,


Ashe mencoba menetralkan keadaan. Mengingat kembali kejadian waktu di hotel. Ia mengajak Dema kembali ke kantor. Sampai di sana. Ia mengirim surel ke Gena dan memberikan surel pemutusan kotrak kerja sama serta mengirim berkas aslinya.


Drttttttt....


Telepon dari Gena.


Gena : Ashe, ada apa ini ? Kenapa tiba - tiba ada pemutusan kontrak kerja


sama ? Apa karena saya tidak pernah menghubungi kamu...???Atau


karena kejadian waktu itu ??


Ashe : Salah satunya iya, tapi kan Mas Gena tak terlalu rugi banget. Kami


*b**ayar denda kok*.


Hati Ashe bergetar. Ia memang sempat mencoba membuka hati untuk Gena. Tapi Gena seolah menginjak harga dirinya. Meski kadang Ashe mencoba menepis dan memaafkan Gena. Tapi kini semua tertutup. Kini dirinya sendiri malah membuka hati selebar - lebarnya untuk Dimas. Meski status Ashe dan Gena masih pacaran.


Gena : Saya tidak memikirkan ganti rugi. Bisakah kita bertemu ???


Ashe : Kapaaaan ???


Hati Ashe kembali bergetar. Tapi mulutnya seolah tak mampu mengumpat Gena. Berbeda jika berhadapan dengan Dimas, mulut Ashe seolah lancar menghujani kata - kata.


Gena : Baiklah. Saya sudah di Jakarta. Bisa kita makan sekarang ?


Ashe : Nanti setelah jam 15 : 00 wib, saya ada janji temu.


Gena : Baiklah. Saya kirim alamatnya ya..


Ashe : Yaa...


Ashe mematikan sambungan teleponnya bersamaan Dema masuk dan memberi tahu ada tamu. Ashe menyuruh Dema menyilahkan tamu masuk. Dan itu ternyata dari pengaju moda transportasi pengganti Gena Line. Mereka sepakat menandatangani kontrak. Ashe mengerutu dalam hati begitu rekanan bisnisnya pergi. Hidupnya begitu memusingkan.


Ashe bersiap. Bersiap mental menghadapi pesona Gena yang memang dewasa dan mapan dari golongan elite atas. Tak beda jauh dengan Ashe sebenarnya, hanya Ashe tak suka masuk kehidupan sosialita yang serba mewah. Ashe lebih suka hal - hal sederhana dan menyenangkan hatinya.


" Dema, saya keluar ada perlu dan saya langsung pulang ! " pamit Ashe.


" Baik Bu ! " angguk Dema.


Ashe menuju lobby. Satpam membawakan mobilnya hingga depan kantor. Ia mengangguk hormat seraya membukakan pintu. Ashe mengucapkan terima kasih dan melajukan mobilnya menuju restoran tempat janjiannya dengan Gena.