
Ashe membolak balikan badan hingga membuat Dimas terusik. Perlahan membuka mata dan merengkuh pinggang Ashe.
" Kenapa Bu ? " peluk Dimas.
" Capeeek....! " sahut Ashe perlahan tanpa membuka mata.
Dimas beranjak bangun dan menyalakan lampu.
" Sini aku pijitin... " ucap Dimas mengambil minyak gosok dan kembali naik tempat tidur.
Ashe membuka selimut dan memiringkan tubuhnya membelakangi Dimas.
" Kamu juga capek kan Bie....? " toleh Ashe.
" Aku biasa capek.... " senyum Dimas. " Mau pijit yang mana ? " ucap Dimas nakal dan memijat area dada Ashe dengan penuh godaan.
" Itu bukan mijit namanya Bie... " ucap Ashe kegelian.
Dimas malah menyusupkan tangannya ke dada Ashe.
" Ini apa kalau bukan mijit... ?" Dimas makin jadi prakteknya.
Ashe tengkurap menyurutkan tangan Dimas. Tapi yang namanya Dimas tak akan berhenti sampai di situ.
" Modus banget sih Bie... " kekeh Ashe kegelian, terpaksa membuka mata meski berat.
Dimas terkekeh dan menarik tangannya. Beralih memijit kaki Ashe. Dimas menggosok dengan minyak dan memijat perlahan.
" Yang kenceng Bie... "
" Iyaa Nyonyaaa....! Berasa tukang pijit beneran... "
" Kamu nggak boleh jadi tukang pijit... "
" Kenapa Bu ? "
" Aku nggak mau kamu megang kulit orang selain kulitku... "
" Hahahaha... hpmmmfftt....! Segitunya cemburu... " kecup Dimas di kepala Ashe.
" Iyaaalah....! Kamu ini kan nggak bisa bermuka sadis.... " sahut Ashe.
" Hahhaa... ! Kan aku imut - imut "
" Amit - amit kali... " sungut Ashe membuat Dimas terkekeh.
Ia memijat kaki Ashe lebih keras.
" Yang ada, istri mijitin suami...! Ini malah kebalik... " celetuk Dimas.
" Udah...! Nggak usah protes... "
" Iya Bu Bos.... ! Aku ini kan OB teladan... "
" Teladan bangetlah, mana ada OB berani nyentuh Bosnya... "
" Nyentuhnya dimana - mana lagi ya...? Mau melakukan lagi...? " goda Dimas.
" Heeeeh... ??? "
" Obat capeek Bu...! Nanti capeknya ilang, seneng datang... "
" Hhmmmfft...! Rayuanmu itu emang maut Bie... "
" Heiii.... gimana ?? Jadii...? "
" Jadi apa ? "
" " Ehem - ehem "....? "
Ashe menangkupkan tangannya di kedua telinganya. Wajahnya terasa panas mendengar tawaran Dimas. Meski ini bukan pertama kalinya mereka melakukan itu. Dimas tertawa dan mencium kepala Ashe dari belakang.
" Aku cuci tangan dulu... " Dimas beranjak.
" Kemana ? " tahan Ashe langsung menengadah menatap Dimas.
" Ke kamar mandi.... "
" Bie...! Ikutlah... " buru - buru Ashe turun dari tempat tidur dan memeluk pinggang Dimas hingga Dimas susah berjalan.
" Dasar penakut.... " senyum Dimas.
" Biarinn...! Emang kamu tega biarin istri kamu yang cantik ini diajak nyapu di halaman.... " tatap Ashe.
Dimas tertawa tertahan menatap wajah Ashe gemas. Dimas mendekat dan mencium wajah Ashe sekenanya. Ia membuka pintu kamar dan berjalan ke kamar mandi dengan Ashe membuntuti di belakngnya dengan memegang ujung kaos Dimas.
" Mau pipis nggak ? " toleh Dimas sambil menyalakan lampu kamar mandi.
Ashe nyengir.
" Apa kode nyengir itu ? " heran Dimas.
" Hehe... " sahut Ashe membuat Dimas melongo tak percaya.
Ia langsung paham Ashe tak berani masuk kamar mandi.
" Kamu itu harusnya lebih takut aku terkam Bu... " ucap Dimas membuka pintu kamar mandi dan mengisyaratkan Ashe masuk.
" Aku lebih suka kamu terkam... " jawaban Ashe sungguh diluar dugaan Dimas.
Dimas tertawa dan menutup pintu kamar mandi. Ashe langsung pede buang air kencing tanpa peduli Dimas. Dimas menghela nafas dan mencuci tangan.
" Jangan nelen ludah gitu Bie ! " celetuk Ashe membuat Dimas melirik tak berdaya.
" Kamu itu selalu membuatku terjerumus...! Tanggung jawab lho... " sahut Dimas.
" Iyaaa...! " ucap Ashe. Ia selesai.
" Kamu keluar dulu Bu...! Aku buang air kecil ... " kata Dimas.
" Nggak mau... " ngotot Ashe membuat Dimas menahan tawa.
Terpaksa Dimas konser dengan Ashe membelakanginya. Tak mau melihat Dimas.
" Udah ngerasain juga, masih aja nggak mau liat... " celetuk Dimas menggoda.
" Takut nggak kuat... " sahut Ashe.
" Nggak kuat apa ? " Dimas pura - pura polos.
" Nggak kuat menahan diri... "
" Diihh...! Nggak papa sayang...! Jangan di tahan, dikeluarin aja... " mendadak Dimas berbisik di telinga Ashe membuat Ashe merinding.
Wajah Ashe terasa panas dengan jantung berdebar. Dimas tertawa penuh godaan sebari membuka pintu kamar mandi dan mereka kembali ke kamar.
Dimas naik ke tempat tidur setelah mematikan lampu. Menyusupkan tangannya ke dada Ashe. Bermain lembut di sana.
" Tanganmu ini kenapa sekarang jadi nakal sekali... ? " keluh Ashe.
Dimas tak menyahut. Makin memeluk erat Ashe dan mengendus - endus leher Ashe.
" Aku minta pertanggungjawaban...! Salah siapa ngasih tontonan tengah malem... ? "
" Nonton bioskop enaknya juga kalau gelap... " celetuk Ashe membuat Dimas menatapnya aneh di temaram lampu.
" Kamu belajar dari mana sih ? " heran Dimas.
" Otak mesummu itu bikin aku terkontaminasi... " Ashe membalikkan tubuhnya. Kini ia memeluk erat tubuh Dimas. Membuat Dimas dilanda frustasi. Dimas menatap wajah Ashe dengan senyum cerah. Kemudian mengecup kening Ashe. Beralih ke bibir Ashe.
" Ini manis sekali... " ucap Dimas menatap Ashe.
" Ada yang lebih manis lho Bie.. " sahut Ashe.
" Apaa itu...? "
" Rahasia... "
" Percuma..! Rahasiamu itu udah kebongkar... " Dimas mengeratkan pelukannya dan mencium bibir Ashe bertubi - tubi dengan tangan yang sibuk bekerja. Ashe meronta ronta kegelian akibat ulah Dimas. Sudah, tak ada lagi. Dimas membongkar rahasia Ashe beberapa kali malam ini.
" Masih mau nambah nggak.. ? " bisik Dimas tersenyum. Mengecup kening Ashe yang ada di pelukkannya.
Sudah menjelang pagi.
" Sudah, aku sudah lemes Bie... " peluk Ashe erat sambil memejamkan mata.
Dimas tersenyum. Mengusap rambut Ashe. Semenit kemudian, Ashe tampak tertidur lelap dalam pelukkannya. Dimas tersenyum dan membetulkan selimut mereka. Dimas ikut memejamkan mata.
*****
Dimas mengangkat pelan tangan Ashe yang memeluknya erat dan mencium kening Ashe pelan. Ashe tertidur sangat pulas. Dimas berisut dan membetulkan selimut Ashe. Ia kemudian mengambil baju dan celananya. Mengenakannya tanpa menimbulkan suara. Dimas memutar bola mata mencari baju Ashe. Setelah melihat, ia memungutnya dan meletakkannya tak jauh dari Ashe. Dimas mengambil handuk, membawanya keluar kamar dan menutup pintu. Ia menuju ke kamar mandi.
" Dim, Ashe mana ? " tanya Bu Fatimah yang tengah membantu Bu Izun memasak.
" Masih tidur Ma.... " sahut Dimas.
" Kenapa nggak kamu bangunin. Mama sama Papa mau pulang duluan lho... " imbuh Bu Fatimah.
" Iya. Nanti aku bangunin Ma. Ashe susah tidur kalau malam... " elak Dimas.
" Susah tidur apa susah tidur ? " kenyit Bu Fatimah.
Dimas mengaruk tekuknya. Diam - diam ngeluyur ke kamar mandi.
" Udah Fat. Biarin aja..! Kamu nggak liat ada jemuran ikan teri noh.... " timpal Bu Izun menunjuk ruang tamu dengan ekspresi wajahnya.
Pak Fajar, Pak Kibul, Lino , Faisal dan Nasrul persis jerengan ikan asin. Belum ada yang sadarkan diri.
" Kemarin tingkahnya aja pada kayak abg. Sekarang semua encok... " sungut Bu Fatimah.
Bu Izun hanya terkekeh. Ia menyeduh teh dalam teko sebelum akhirnya menuangkan dalam gelas.
" Silia dan Dema juga belum bangun Mbak...? " tanya Bu Fatimah sebari menata piring.
" Aku suruh ke pasar beli gorengan... " sahut Bu Izun.
Mulut Bu Fatimah membulat. Hari masih pagi memang. Bu Fatimah beralih ke depan dan menyapu halaman. Tak lama, Dema dan Silia pulang. Mereka memyiapkan gorengan yang mereka beli dan menghidangkannya di ruang tamu bersama teh.
Pak Kibul bangun lebih dulu dan pergi ke kandang. Ia masih punya cuti 2 hari lagi. Jadi agak lebih santai. Pak Fajar tak lama juga bangun. Di susul Lino dan Faisal. Kemudian Nasrul dan Rozi. Pak Fajar bergegas ke kamar tamu di rumah Pak Kibul. Ia pergi mandi meski cuaca begitu dingin. Melihat Pak Kibul di kandang sapi, Pak Fajar malah ikutan nimbrung dan ngobrol.
Jangan tanya yang muda - muda ini. Mereka seolah punya rutinitas sendiri.
Nasrul jelas langsung menyeruput teh. Tak beda jauh dengan Rozi. Matanya hanya akan melek saat mulutnya mengunyah. Faisal lebih tertib. Ia bangun dan mandi. Sama seperti Lino. Mereka berdua lebih siap setiap saat dibutuhkan. Mungkin karena mereka sudah berkeluarga. Jadi lebih tertib.
Nasrul celingukan mencari Pak Fajar. Ia ke depan tapi tak ada. Hanya melihat Bu Fatimah menyapu halaman Nasrul bergegas ke belakang.
" Sil, liat Om Fajar nggak ? " tanya Nasrul.
" Ok. Terima kasih " senyum Nasrul pada sang pacar. Ia masih sempat mrngenggam tangan Silia hingga membuat Silia tersenyum malu.
Nasrul menghampiri Pak Fajar yang langsung menatapnya sinis. Pura - pura.
" Kalau kamu mendekat itu baunya nggak enak.." sungut Pak Fajar.
" Itu bau tai sapi kali Pak... ! Bukan bau saya... " elak Nasrul.
" Hehehe...! Kenapa Rul ? " senyum Pak Fajar.
" Bapak mau pulang kapan ? " tanya Nasrul.
" Sini... " rangkul Pak Fajar.
Pak Kibul tersenyum melihat tingkah Pak Fajar yang pasti ada maunya.
" Kenapa Pak ? " lirik Nasrul kesal.
Bos besarnya pasti ada maunya.
" Saya mau nyobain Glamping Heha Ocean View. Mumpung masih di sini. Semalem aja... " bisik Pak Fajar.
Nasrul melirik Bos Besarnya kesal.
" Nanti Ibu marah... " sahut Nasrul.
" Kan nginepnya juga sama ibu... " kedip Pak Fajar membuat Nasrul jengah.
" Ya sudah. Saya booking in... " ucap Nasrul akhirnya. " Ngantennya di booking juga nggak ? " imbuh Nasrul.
" Kamu tanya sama Bosmu...! Yang penting saya... " dorong Pak Fajar pada bahu Nasrul pelan.
Ia kembali menghampiri Pak Kibul yang tertawa terkekeh.
" Dasar bandel kamu ya.... " umpat Pak Kibul.
Pak Fajar hanya ngengir.
Nasrul menggeleng kepala masuk kembali ke dalam rumah dan bergegas ke teras. Berjongkok di depan Bu Fatimah yang tengah nyapu.
" Sampah kok segede ini... " Bu Fatimah pura - pura menyapu Nasrul.
Nasrul terkekeh di depannya sambil searching dengan smartphonenya.
" Apaaa Rul...? Siapa suruhanmu...? " Bu Fatimah to the point.
" Hee... Baapak.... " cengir Nasrul.
" Mau apa Bapak...? " kenyit Bu Fatimah.
" Ini....
.... " Nasrul nyengir.
" Kenapa gambarnya ? " Bu Fatimah pura - pura nggak tahu.
" Bapak minta nginep di sini... " ucap Nasrul. " Saya sudah booking tempat... " imbuh Nasrul sambil menunjukkan kembali Hpnya.
" Papa ini ada - ada aja sih...! Dimana dia ? " sungut Bu Fatimah.
" Iya aja sih Bu. Nanti saya diomelin Bapak.... " cegah Nasrul.
Bu Fatimah menoleh.
" Bosmu itu Dimas, bukan Bapak.... " sungut Bu Fatimah membuat Nasrul hanya menggaruk kepala. Tak ada tempat cari pembelaan. Dimas belum keluar lagi dari kamar. Kayaknya sedang sibuk dengan sesuatu. π
Bu Fatimah tersungut menuju kandang. Bu Izun yang berpapasan menatapnya heran. Pak Kibul langsung mengkode Pak Fajar dengan isyarat matanya begitu melihat istri sahabatnya itu datang. Pak Fajar hanya terkekeh merentangkan tangan ke arah istrinya yang tersungut.
" Kenapa sayang...? " sambut Pak Fajar membuat Pak Kibul geli.
" Apaan sih ? Buat apa ngajak ngineep...? Kita balik ke Jakarta dulu buat ngadain resepsi, habis itu terserah Papa.... "
******
Dari Author,
Ada yang kangen dengan Dimas dan Ashe ββββ.
Author juga kangenπππ
Hanya saja, si thor" ini bener" lagi oleng π. Bukan oleng nggak punya ide, cuma oleng hal lainπ€π€. Maaf ya, pembaca yang setia, authornya lagi diklat, dan masih sebulan lagi kelarnyaπ€π.
Tetap setia tunggu author ya... π€π€π€
******
" Yaelah Ma, semalem aja....! Siapa tahu kita bisa nambah momongan... " rayu Pak Fajar merangkul istrinya dengan mengedipkan mata genit.
Bu Fatimah meliriknya sinis. Si tukang rayu ini memang begitu memanjakannya dan suka bertingkah aneh. Tak inget umur rasanya.
Pak Kibul yang lagi nyorok kotoran sapi hanya tersenyum - senyum.
" Ogaaah...! Mama maunya momong cucu... " sahut Bu Fatimah.
" Yaudaah...! Bikin aja ya... " kerling Pak Fajar membuat Bu Fatimah enek.
" Udaah sih Pa...! Ashe sama Dimas aja yang glamping...! Mama nggak mau... " Bu Fatimah menepis tangan Pak Fajar.
" Ya deh, tapi pijit ya.... " kerling Pak Fajar.
Bu Fatimah mendengus kesal seraya meninggalkan Pak Fajar. Pak Kibul sengaja tertawa keras hingga Pak Fajar menoleh dengan menunjukkan muka cemberutnya.
" Abg tua rayuannya tak mempan... " ledek Pak Kibul.
" Isssh, kamu Bang....! Aku kan juga masih perkasa... " elak Pak Fajar.
" Perkasa tapi lawannya tak mau juga sama aja. Leyoooottt.... " ejek Pak Kibul..
" Enaaak aja...! Fatimah mana bisa menolak pesonaku.... " " elak Pak Fajar.
" Hoeeeek..... " ledek Pak Kibul.
Pak Fajar mencibikkan bibirnya.
" Bilang aja kamu emang manja sama Fatimah.... " mulut Pak Kibul tak berhenti mengoda besannya itu.
" Buruan soroknya...! Ayo sarapan... "Pak Fajar mengalihkan pembicaraan.
" Kibuulll.... " sungut Pak Kibul meledek.
" Fajar.... " yang satu juga tak mau ngalah.
Entahlah, apa maksud mereka. Mereka tertawa terbahak.
*****
Ashe mengeliat karena merasa lengannya sedikit dingin. Perlahan membuka mata. Mengedarkan pandangan, Dimas tidur memunggunginya. Ashe bergerak, Dimas menoleh penuh senyum. Tak tidur rupanya, tangannya memegang smart phone.
" Bangun Nyonyaaa.... " Dimas membalik dan mengusap anak rambut di kening Ashe.
" Jam berapa Bie.... ? "
" Jam berapa pun aku akan selalu mencintaimu.... " ucap Dimas seraya mengecup bibir Ashe. Ashe menatap Dimas speachleees sementara Dimas tersenyum sungguh manis.
" Kamu sengaja ya, tidur nggak pakai baju...? " kerling Dimas menggoda. Padahal, dia sendiri yang membuat Ashe tak berpakaian.
" Tauuu ah... " Ashe merasa malu dan menyembunyikan mukanya di bawah selimut.
Dimas tersenyum menarik selimut Ashe.
" Mau nambah lagi ya... " mulutnya Dimas sungguh.
" Isssh... " Ashe langsung memunggungi Dimas.
Dimas tertawa terkekeh. Ia tahu Ashe tersipu malu.
" Ini suamimu lho...! Bukan orang lain... " goda Dimas.
" Ya kali, aku tidur sama laki lain.... " sungut Ashe membuat Dimas terbahak.
Dimas bangun dan duduk, ia mengambil baju Ashe yang tertindih olehnya.
" Nih, pakai bajunya Bu...! " ulur Dimas.
Ashe membalik badan mengulurkan tangan mengambil bajunya. Dimas masih tersenyum. Wajahnya menyembunyikan sesuatu yang bisa di terka Ashe.
Ashe duduk dan memegang erat selimut hingga dadanya.
" Dalemannya mana Bie ? " tatap Ashe.
" Morning kisss.... " yang ditanya malah nyaut yang lain. Memajukan bibirnya.
Ashe mendengus kesal. Dimas mengedip - ngedipkan matanya genit. Ashe mencium bibir Dimas singkat. Tapi jangan tanya, Dimas langsung menyambar tekuk Ashe dan mencium Ashe dalam dengan tangan jauh lebih nakal.
Sesaat, Dimas melepas ciumannya dan tersenyum menatap Ashe seraya memamerkan daleman Ashe. Ashe. menyambarnya dengan wajah manyun.
" Nakaaal kamuuu.... " ucap Ashe membuat Dimas terkekeh.
" Madep sana Bie...! Aku pakai baju dulu... " imbuh Ashe.
" Nggak mau...! Sini aku pakein... " ucap Dimas mengambil baju dari tangan Ashe.
" Entar ada orang masuk lho... " Ashe khawatir sambil melongok pintu.
" Aku sudah mengunci pintu sayang...! Antisipasi...! Siapa tahu kamu mau nambah nutrisi saat bangun pagi... " sahut Dimas.
Ashe mendelik. Mulut suaminya itu memang tak pernah bisa berhenti mengodanya.
Dimas menyingkirkan selimut Ashe dengan paksa. Ia menelan ludah. Perlahan memakaikan ** Ashe. Ashe tersenyum tertahan.
Baju atasan Ashe kelar.
" Udah, sini aku pakai sendiri... " ucap. Ashe mempercepat memakai bajunya. Dimas menatap Ashe tak berkedip.
" Rasanya aku selalu dihipnotis olehmu Bu... " Dimas ambruk di kasur.
Ashe menepuk pantat Dimas.
" Kamu udah mandi belum... ? " tanya Ashe.
" Udaahh.... "
Ashe berjalan ke lemari dan mengambil baju ganti serta handuk. Ia membuka pintu dan keluar. Dimas langsung bergegas bangun dan mengikuti Ashe.