Perfect Boy

Perfect Boy
95. Kejutan yang mengejutkan



Ashe berlalu begitu saja. Kesalnya lengkap. Bertemu dengan 2 mantannya sekaligus membuatnya darah tinggi. Gena yang notabene tajir melitir dan mampu menggunakan segala cara untuk memata - matai kehidupan Ashe nya..tanya tak mampu menyentuh jati diri Dimas. Ada belakang layar yang lebih berbelok menjadi loyalis Dimas. Apalagi untuk Adit yang kini masih mengejar Ashe. Ia juga lebih banyak kena tipu muslihat Dimas.


Ashe langsung menghampiri Dema yang sibuk chatting.


" Ayo pulang Dem...! " Ashe berlalu begitu saja.


" Buuu....! Mobilnyaaa....! " pekik Dema.


Ashe menepuk jidatnya. Ia berbalik lagi dan menghampiri security serta menyerahkan kunci untuk membawa mobilnya ke depan lobby. Tak lama, mobil Ashe muncul. Ashe langsung melajukan mobilnya ke kantor.


Ashe turun begitu saja dan meninggalkan kunci pada satpam yang tergesa menyambut Ashe. Dema menjadi bingung dengan tingkah Ashe yang sedari tadi tampak kesal.


Bug...


Aduuuuh....


Pundak Ashe langsung ditangkap seseorang hingga Ashe tak kehilangan keseimbangan.


" Sheee....! Kamu jalan pelan - pelan sih ! "


" Hehe... ! Maaf Pa...! Nggak liat....! Lahhh, katanya Papa ke Surabaya....? "


" Besok pagi. Setelah Papa nonton teater....! "


" Heeh ? Teater ? Teater apaan ? "


" Drama istri ngambek....! " sahut Pak Fajar penuh senyum.


Anita dan Ramzi yang berdiri dibelakang Pak Fajar mengulum senyum. Namun tak berani tertawa.


Ashe langsung mengerut kening. Mendadak sewotnya kumat.


" Siapa juga yang ngambeeek....! " Ashe berlalu cepat dari hadapan Pak Fajar dan sengaja menyenggol bahu Papanya.


" Hahhaha....! " Pak Fajar tertawa yang sengaja dibuat - buat melihat tingkah anaknya.


Para karyawan pun hanya mampu menatap tingkah para atasan mereka tanpa berani berkomentar. Dema langsung meringis takut pada Pak Fajar.


" Maaf ya Pak. Bu Ashe lagi kumat...! " cengir Dema.


" Temukan obatnya...! " sahut Pak Fajar.


" Haaah....? Obatnya susah Pak....! "


" Oiya. Biarin aja. Sabarin aja ya. Nanti obatnya balik sendiri...! Ok. Saya tinggal dulu Dema. Jaga Bosmu biar tetep waras ya....! " pesan Pak Fajar sambil berlalu.


Dema hanya mengiyakan pasrah. Anak dan bapak sama saja, batin Dema menatap kepergian Pak Fajar.


Dema berbalik, masuk ke lift dan menuju ke divisinya. Ashe sendiri kembali menyelesaikan beberapa laporan yang masih bisa ia kejar sore ini.


Ashe meraih remote Ac dan mematikannya. Melirik jam di Hpnya. Saat pukul 16 : 00 wib. Ashe menhela nafas. Badannya terasa mulai dingin. Ia mulai menggigil setiap jam segini. Ashe mengemasi mejanya.


Tak lama ia menelepon Faisal dan meminta di antar pulang.


Ashe : Bang Isal dimana ?


Faisal : Di lantai Presdir....! Kenapa Mbak Ashe ?


Ashe : Minta tolong antar saya pulang dong....!


Faisal : Minta anter pulang ? Kenapa ? Sakit ya ? Ini belum jam pulang....?


Ashe : Iya Bang....! Nggak enak badan....!


Faisal : Ya udah. Tunggu di bawah ya....!


Ashe : Iya Bang... ! Oiya Bang...! Aku bawa mobilnya Dimas. Kunci di Cs...! Terus jangan bilang Dimas ya..!


Faisal : Kenapa memangnya...?


Ashe : Bang Isal udah tahu jawabannya nggak usah nanya deh..


Faisal : Hahaha....! Sayangnya nggak bisa Nyonya...! Saya harus


ngomong apa adanya dengan Bos saya...


Ashe : Terserah Loe lah....! Emang nggak asyik loe Bang !


Faisal : Hahhha....! Ya udah tunggu di depan ya...!


Ashe : Ya...


Ashe mematikan sambungan teleponnya. Ia kemudian menghubungi Dema lewat interkomnya.


" Dem, aku mau pulang ya....! Badanku nggak enak banget soalnya ! " kata Ashe sambil kembali beberes setelah Dema di ruangannya.


" Bu Ashe sakit ? Mau dianter ke rumah sakit " Dema menatap Bosnya.


" Ya kaliii, emang saya sekarat...! Di bawa ke rumah sakit segala...? "


Dema memutar bola matanya malas.


" Ya siapa tahu pingin nginep di kamar VVIP karena bingung gimana mau ngabisin duit....! " ledek Dema.


" Kamar saya lebih dari VVIP...! Apalagi ada yang punya....! "


" Siapaaaa ? "


" Kepoooooo.....! " sahut Ashe sambil berlalu dari hadapan Dema.


" Astagfirullah Buuuuuuu.....! " Dema kesal sendiri.


Ashe hanya terkekeh melambaikan tangan meninggalkan ruangannya. Dema menghentakkan kaki dan menyusul Ashe keluar. Kembali ke meja kerjanya.


Ashe turun ke bawah dan menunggu di depan lobby di kawal seorang satpam. Tak lama Faisal muncul dengan mobil Dimas dan mengantar Ashe pulang.


" Mbak Ashe mau sesuatu....? " tanya Faisal saat mereka di jalan.


" Enggak Bang...! " sahut Ashe.


" Beneran. Mas Dimas nyuruh saya nanyain ke Mbak Ashe...! "


" Kenapa dia nggak tanya sendiri...? "


" Laaah.... ! Coba lihat Hp Mbak Ashe....! "


Ashe menghela nafas tapi menuruti ucapan Faisal. Benar saja. Puluhan chat dan panggilan tak terjawab Dimas bertengger memenuhi layar Hpnya. Selesai menelepon Faisal, Ashe memang memasukkan Hp ke dalam tasnya dengan mode hening dan zero notif. Pantas saja.


" Apaa yang ditemukan ? " selidik Faisal sambil terus menjalankan mobilnya.


" Heeeh....! " cengir Ashe.


" Ya ampunn Mbak....! " Heeh " itu jawaban apa coba ? "


" Jawaban takjub....! " sahut Ashe asal.


" Takjub liat gigihnya suami biar istrinya nggak ngambek...? "


" Itu Bang Isal tahuu....! "


" Aku nggak tahu Mbak Ashe. Istriku jarang ngambek...! "


" Kasiaaan....! "


" Laaaahhhh..... " Faisal melonggo mendengar jawaban Ashe.


Sementara Ashe hanya tertawa terkekeh. Ia bersedekap tangan menutupi rasa dingin yang mulai menyergapnya. Ashe masih cuek memandangi layar Hpnya. Dimas masih saja mencoba menghubungi Ashe.


*****


Dimas menghela nafas. Kangen dan keselnya jadi satu. Ia duduk di ruang kerja sementaranya di ruang Kepala Cabang. Dimas meletakkan Hpnya dan bersedekap tangan. Menatap tajam ke arah Nasrul yang masih sibuk dengan laporannya. Nasrul terpaksa menyelesaikan mengecek laporan gara - gara Dimas buntu di ambekin.


" Pakk. Heli masih nanti malam datangnya...! Jangan menatap saya seperti itu....! " Nasrul ciut juga melihat tatapan Dimas.


" Kenapa kamu tidak bisa mempercepat...? "


" Pak. Cargo ada masalah teknis administrasi. Sementara Heli jemputan Bapak dalam perawatan rutin...! "


" Kenapa bisa ada masalah administrasi ? Apa kesalahan pihak kita ? Emang nggak bisa naik pesawat...? "


Nasrul menengadah menatap Dimas. Sepertinya rindu Bosnya udah di ujung ubun - ubun. Dari tadi Nasrul melihatnya begitu gelisah.


" Bukan pihak kita Pak. Mereka yang salah mencantumkan jumlah. Jadi kita kroscek ulang....!" Nasrul berusaha sabar.


" Saya reservasi tiket dulu....! " Nasrul beranjak. " Ngemil dulu biar nggak spaneng....! " Nasrul menyodorkan plastik yang berisi keripik ke hadapan Dimas dengan cengiran.


Dimas tak merubah posisinya. Mulutnya tak biasa ngemil. Ia sangat berbeda dengan Ashe yang harus terus menggiling.


" Paak....! " Nasrul kembali dan duduk di depan Dimas.


" Kalau nggak enak di denger, nggak usah bicara...! "


Nasrul langsung menghela nafas.


" Saya nggak akan bicara....! " Nasrul meraih kembali ipad Dimas yang sejak tadi digunakan untuk menyelesaikan laporan.


" Apaaaa ? "


" Katanya nggak usah bicara....! "


" Buruan ngomong....! "


" Jadwal pesawat jam 22 : 00 wib, itu VIP. Heli akan jemput jam 20 : 00 wib malam. Mau pilih yang mana ? Atau mau naik kereta nanti jam 18 : 30 wib, tapi sampai rumah besok pagi...! "


" Mau ngapain sih Pak, cepet - cepet...? "


" Kepooooooo ?? "


" Hedeeeeeeeeh......! " Nasrul memutar bola mata malas tapi tak tersinggung.


Memang begitulah Dimas. Nasrul sudah khatam dengan sikap Dimas.


Dimas melirik jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ia kembali mengutak atik Hpnya. Namun menyerah juga akhirnya. Istrinya yang ngambek tak butuh rayuan, tapi eksekusi.


" Udah selesai belum laporannya ? " Dimas meletakkan Hpnya. Percuma saja rasanya membujuk istrinya. Ini perlu tindakan nyata.


Nasrul menyodorkan ipad pada Dimas. Dimas memeriksanya dengan seksama. Ia mengangguk puas dengan kinerja Nasrul.


" Apa aku sudah pantas jadi Presdir....? " bangga Nasrul.


" Kamu itu assisten yang tiba - tiba ngelunjak setinggi langit. Awas ntar ketabrak pesawat loe ya.....! " sahut Dimas.


" Hahhhahaha.....! Entahlah....! Aku bosan....! Aku sudah tidak bisa tunduk hormat patuh padamu Pak Bos....! " cengir Nasrul.


" Hahhhaha....! Derita Loeee.....! " Dimas dengan cekatan merapikan mejanya membuat Nasrul menatapnya tak percaya.


" Nggak usah gitu juga kali ngeliatnya...! Aku ini OB....! Sadaarrr....! " Dimas seolah mengerti apa yang ada di pikiran Nasrul.


" Ya...! Cepat kerjakan...! Yang bersih. Saya tidak mau ada sedikitpun debu yang tersisa...! " Nasrul malah duduk santai dengan besedekap tangan dengan gaya Dimas.


Dimas kesal dan melempar blazzernya ke muka Nasrul. Nasrul tertawa terbahak. Ia akhirnya bangun dan membantu Dimas. Ia meraih tas gendong yang berisi semua peralatan kerja Dimas.


" Jasnya mau di pakai nggak ? " tawar Nasrul.


" Enggak....! "


" Itu terlalu seksi tahu nggak...! gumam Nasrul yang terdengar jelas di telinga Dimas.


Dimas menatap bajunya sekilas. Ia mengenakan kemeja putih pres body yang di gulung hingga lengan.


" Issssh....! " Dimas meraih blazzer di tangan Nasrul dan langsung mengenakannya.


Cctv Nasrul lebih membahayakan.


" Jangan bilang kamu udah kirim foto ke Bu Ashe....? "


" Hehe....! Maaf...! Bu Ashe itu lebih mengerikan ketimbang Pak Dimas....! " cengir Nasrul.


" Haaaaahhhh.....! Pantesan aja gue dicuekin ...! " keluh Dimas sambil berjalan keluar ruangan. Nasrul terkekeh.


Pak Imam dan Darian langsung berdiri menyambut Dimas. Di luar mereka nampak membahas pekerjaan.


" Pak Dimas jadi pulang hari ini...? " tanya Pak Imam.


" Jadii. Laah wong udah rinduu berat seberat tronton yang suka di larang di jalanan....! " celetuk Nasrul yang langsung di toleh Dimas.


Pak Imam dan Darian tertawa.


" Syirik aja loe....! " balas Dimas.


" Jadi Pak. Saya Pamit ya...! Darian saya juga pamit ya...! Selamat bekerja....! Mohon maaf jika ada tindakan atau ucapan yang kurang berkenan. Saya mohon maaf setulus - tulusnya...! Sampai bertemu lagi...! " Dimas menyalami Pak Imam.


Pak Imam menyambut uluran tangan Bosnya.


" Sama - sama Pak. Terima kasih juga untuk kepercayaannya. Saya tunggu monitoringnya Pak...! Hehe...! " ucap Pak Imam.


" Siaaap Pak....! " sahut Dimas penuh senyum.


" Hati - hati di jalan ya Pak...! " gantian Darian yang menyalami Dimas.


" Siaaap Yan...! Kalau ada apa - apa, silahkan langsung hubungi manusia di belakang saya...! " sambut Dimas.


Nasrul yang merasa langsung pasang muka ajerehe🙁🙁.


Pak Imam dan Darian tertawa mendengar mendengarnya. Mereka kemudian mengantarkan Dimas dan Nasrul ke lobby.


*****


Setiba di rumah di Kompleks Hutan Anugrah, Dimas langsung ke kamar. Mencari baju ganti dan bergegas ke kamar mandi.


" Loe nggak prank lagi kan Nasrul Aminudin Wakad ? " Dimas memastikan sebelum masuk ke kamar mandi.


" Enggakk Bapaaaaak eee....! Mandi sono yang bersih. Semprot bajunya yang wangiiii....! Mabukkk dah gue....! "


" Bodoooooo.....! "sahut Dimas bergegas masuk kamar mandi.


Ia buru - buru mandi.


" Pak, mau makan apa ? " terdengar Nasrul berteriak dari depan kamar mandi.


" Mie kuahhh....! " sahut Dimas.


Nasrul berdecih. Orang dia pingin nasi bungkus di depan, Bosnya malah minta bikin mie.


" Tapi saya pingin nasi bungkus di warteg depan Pak....! " protes Nasrul.


" Terus kenapa masih nanya dan berisik aja sih ! " sahut Dimas.


" Mau lauk apa ? "


Dimas menghela nafas.


" Terserah Rul.....! Yang penting gue makan...! " D imas menahan kesalnya. Sementara Nasrul tertawa senang. Secepat kilat ia pergi ke depan dan beli nasi bungkus.


Sementara Dimas menyelesaikan mandinya dan berpakaian rapi. Ia mengemas yang perlu dibawa pulang lebih dulu dalam tas gendongnya. Kali ini udah mulai doyong dan nggak konsekuen. Harusnya masih seminggu lagi di Malang. Dimas mengepak seperlunya. Sisanya nanti akan di bawa Nasrul belakangan.


" Pak.... makan dulu....! Nanti keburu malem... ! " Nasrul terdengar berteriak dari depan.


Dimas tak menyahut tapi berjalan keluar menuju ruang makan. Nasrul langsung membungkam hidungnya.


" Kenapa loe? " sengit Dimas.


" Bang....! Itu parfum sebotol di pakai semua....? " baunya begitu menyengat di hidung Nasrul.


" Takuut nanti ilang sampai rumah....! "


" Astagfirulllahaladzim....! Ya Allah ya Robbi....! " keluh Nasrul seraya mengangkat nasinya dan kabur dari hadapan Dimas.


Dimas cuek saja. Ia mulai fokus makan dengan pikiran tertuju pada sang pujaan hati yang belum kelar ngambek. Sesekali Dimas melirik layar Hp yang masih saja sepi.


*****


" Loe kenapa sih ngeleyot mulu...! Itu knapa tebel banget maskernya ? Emang gue bau....! " cerocos Dimas saat mengantarnya kembali ke kantor JAE Kacab Malang.


" Bauuu bangeeeet....! " sahut Nasrul.


Dimas langsung melirik tajam ke arah Nasrul disampingnya yang sibuk fokus ke jalanan.


" Beneran...! Sumpaaah....! Loe bua parfum Pak...! Aku jamin Bu Ashe mabuk kepayang....! "


" Tapi gue nggak ngerasa bau tuh...! Cuma bau wangi doang....! " elak Dimas.


" Tahuuuu laaaah.....! Terserah loe aja Bang....! " Nasrul pasrah dan menjalankan terus mobilnya ke kantor dengan berkali - kali menahan nafas.


*******


Baru berasa " mak liyep " sebentar setelah berjuang merasakan menggigil. Ashe langsung mengerut kening. Kepalanya mendadak pusing diiringi " mulek " di perutnya.


" Hoooooeeeeek......!" Ashe langsung spontan meski tak ada yang keluar dari mulutnya.


Ashe bertanya - tanya. Di tengah kamarnya yang gelap, kenapa ada yang melingkarkan tangan di perutnya. Ashe langsung waspada dan mendorong orang yang tidur di sampingnya dengan kencang.


" Aduuuuuuuhhh sayaaaaang.....! "


Teriakan yang suaranya familiar di telinga Ashe.


" Bieeeeee ???? " Ashe langsung menyalakan lampu tidur di sampingnya.


Bergegas Ashe bergerak ke sisi ranjangnya.


" Iyaaa....! Ini akuuu....! " Dimas berusaha bangun dari lantai dengan susah payah.


" Kamu ngapain di situ...? " Ashe mengulurkan tangan membantu Dimas bangun seraya menahan senyum.


Ia melihat Dimas meringis kesakitan. Namun mendadak Ashe menutup hidungnya dan tak sengaja melepas pegangannya hingga Dimas kembali jatuh ke lantai.


" Aduuuuuh Buuuu....!!! " Dimas berasa dianiaya sungguhan.


" Kamu bau apa sih ? " Ashe masih saja menutup hidungnya dan membiarkan Dimas terkapar di lantai. " Parfum berapa botol ini kamu semprot....! Ya ampunn Bie....! Hoeeeeeek.....! " Ashe malah berlari ke kamar mandi.


Dimas terperangah. Perlahan ia berusaha bangun sendiri. Terhuyung karena pinggang dan sikunya sakit. Dimas menghidupkan lampu dan menyusul Ashe ke kamar mandi.


" Kamu nggak papa sayang....? " tanya Dimas tak tega.


Ia hendak mendekat.


" Kamu ganti baju dulu...! Semua sampai daleman dalemanmu....! Kamu bauuu banget...! Aku pusing....! Hoeeeek....! " tahan Ashe.


" Bau apaa sih ? Orang wangi ngini....! " protes Dimas.


" Bieeeee....! "


" Iyaaaaa.....! " Dimas berbalik.


Ia menuju lemari dan melucuti semua bajunya. Berganti baju rumahan.