
" Udaaaah Sayang....! Aku juga udah nggak pakai daleman.... ! " Dimas menatap ke arah kamar mandi. Tak tega melihat Ashe yang masih di sana.
Perlahan Ashe keluar. Dimas langsung menyambutnya.
" Kamu nggak papa kan ? " senyum Dimas mengelus perut Ashe dengan tangan kanannya. Sementara Ashe mengendus dada Dimas. Ia mengangguk karena merasa tak bau tapi mukanya masih sanggar πππ.
" Apaanya yang nggak papa ? " sunggut Ashe.
" Issshhhh....! Kamu masih ngambek aja...! Nggak kangen apaa ? " kerling Dimas.
" Ngapain kangen...! Pergi aja sono, nggak usah pulang - pulang. Bukannya di sana banyak cewek cantik. Gue udah ngalahin jadi istri AL....! " Ashe ngeloyor aja menuju tempat tidur dan langsung ambruk di kasur.
" Emang kenapa kalau istri AL....? " Dimas menyusul Ashe. Berbaring dan memeluk Ashe yang membelakanginya.
Dimas menciumi leher Ashe dengan gemas.
" Bieeee....! Geli tahu....! " tepuk Ashe menahan kepala Dimas. Namun tetap saja, bukan Dimas namanya. Ia makin ngedusel aja ke leher Ashe. Tangannya udah sigap jadi penyusup. Hingga Ashe meronta dan berbalik badan.
" Bieee....! Ihhh.... geli tahu nggak....! " tahan Ashe di dada Dimas hingga menyisakan jarak untuk mereka.
" Buuu...! Aku jatuh lagi ini lho....! " benar saja, Dimas udah di ujung ranjang. Siaaap ngejengkang ke belakang.
Ashe mengendurkan dorongannya hingga Dimas bisa meringsek dan memeluk Ashe.
" Udah dong ngambeknya...! Nggak lucu tahu...! " peluk Dimas. Sesekali mencium pipi Ashe. Kelewat ke bibir juga.
" Lagian ngapain juga cemburu...! Mereka kan cuma bisa ngelirik aku diam - diam. Sementara kamu bisa menikmati seluruh tubuhku....! " goda Dimas penuh senyum.
" Siaaapa juga yang ngambek....! PD bangettt....! " elak Ashe yang masih tak mau mengakui perasaannya. Jiwanya meronta dengan semua perlakuan manis Dimas.
" Ihhhs, masih aja nggak mau ngaku....! " sentil Dimas di hidung Ashe.
" Bieee......!!!! "
" Apa siiih sayang....? Sabar dong....! Kamu belum dapet kan ? " tatap Dimas lembut membuat Ashe langsung tersipu.
" Tahuuu ahhh....! " Ashe malu dan berusaha membalik badan. Namun Dimas lebih sigap. Ia menarik tubuh Ashe dan langsung membungkam mulut Ashe dengan bibirnya.
" Rapeel ya ! Sebelum puasa ! " ucap Dimas dengan nafas memburu.
Betapa susahnya menahan hasrat saat Ashe sudah di bawah kungkungannya.
" Pelan - pelan dong Bie....! " tahan Ashe karena Dimas mulai menyerangnya. Bahkan Ashe sudah mulai merasakan " macan" bangun dan siap makan.
" Iya Bu. Pelan dan nambah...! " kecup Dimas. Tangannya sudah traveling kemana - mana dan mulai menyoapkan " daging " yang empuk dan sangat lezat. Perlahan, " macan " yang sudah berpuasa cukup lama mulai menikmati santapannya. Ashe dibuat terbuat dan benar - benar menikmati perlakuan Dimas.
" Bentar lagi aku pasti banjir gara - gara kamu....! " tepuk Ashe di pundak Dimas setelah sesi panas mereka selesai. Dimas masih nemplok memeluk tubuh Ashe di bawah selimut dengan mata terpejam.
" Itu bantuan Bu....! " sahut Dimas tanpa membuka mata.
Ngantuk, penat, capek, nyaman dan puas jadi satu. Dimas makin " lier lier ", apalagi kalau sudah memeluk Ashe. Rasa nyamannya ngumpul membuat tubuhnya benar - benar rileks.
" Bantuan apaan ? " toleh Ashe.
Dimas terdengar mendengkur halus di telinganya. Ashe tersenyum dan mengusap pipi Dimas. Dimas tidur sangat nyaman memeluknya.
" Bie, bentar dong...! Aku ke kamar mandi dulu....! " tepuk Ashe berusaha mengurai pelukan Dimas.
Dimas yang tak membuka mata, namun merenggangkan pelukannya.
" Jangan lama - lama... ! " mulut Dimas terdengar masih bisa meminta saat setengah sadar.
Ashe terkekeh pelan sebari memakai piyamanya. Perlahan turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Bagiannya kewanitaannya terasa tak nyaman. Benar saja, period Ashe mulai lebih cepat akibat perbuatan Dimas.
" Buuuuu....!!!! "
___________
" Buuuuuuuuuuuu.....! "
Ashe di kamar mandi menghela nafas.
" Apaaaaa ??? "
" Buruannnn.....! Aku mau tidur.....! "
Ashe menarik nafas perlahan.
" Buuuuuuuu....! "
" Ya ampuuunnnn....! " Ashe mempercepat kegiatannya dan keluar kamar.
Dengan penerangan lampu tidur jelas sekali Dimas terlelap nyaman. Itu apa namanya kalau bukan tidur, kok masih teriak - teriak, batin Ashe.
" Yang manggil - manggil tadi syetan kali ya...? " gumam Ashe sebari menyusul dalam selimut Dimas.
" SyetaDimas ganteng....! "
Heeeh, Ashe menoleh kaget. Apalagi Dimas langsung menarik dalam pelukannya.
" Narsisss.... " omel Ashe yang jelas - jelas Dimas nggak bakal nyaut. Orangnya udah tidur lagi begitu memeluk Ashe.
Ashe menghela nafas dan matanya mencari - cari Hpnya. Berusaha mengambil dan melihat jam. Sudah jam 01 : 35 wib dini hari. Pantes saja. Ashe menjulurkan tangan mematikan lampu tidur. Ia ikut membuat dirinya nyaman dalam pelukan Dimas.
" Bie....! Pijitin pinggangku dong....! " Ashe seolah bicara pada dirinya sendiri.
Setengah jam sudah Ashe memejamkan mata. Namun sayangnya ia malah tak bisa tidur. Pinggangnya terasa sangat pegal.
Dimas tak menyahut. Ashe menghela nafas di bawah pelukan Dimas.
" Pegel banget ya...? " eeh, ada yang nyaut. Tapi matanya tak melek. Udah ketularan Ashe kayaknya Dimas.
" Hehe...! Iyaaa....! " sahut Ashe.
" Minyak urutnya dimana Bu ? " Dimas membuka mata. Ia merenggangkan pelukannya. Tangannya mengulur menghidupkan lampu tidur di sisinya.
" Biar aku ambil di meja...! "
" Nggak usah...! Aku aja....! " tahan Dimas yang langsung beranjak.
Ashe tersenyum menatap Dimas yang terhuyung ke arah meja dengan bertelanjang dada dan bercelana pendek.
" Miring ke sana. Aku pijitin sini. Tidur tapi ya....! " ucap Dimas sambil duduk di tempat tidur.
Ashe patuh.
" Maaf Bie....! Aku tahu kamu ngantuk banget ya...? "
" Aku udah tidur setengah jam. Lumayan. Itu tidur yang sangat nyaman. Lagian kan, aku pulang kan harus jadi dokter...! " Dimas mulai mengurut pinggang Ashe.
" Dokter apaaa ? "
" Dokter anaklah....! "
" Haaaah....! "
" Laaah... tadikan udah aku suntik....! Secepatnya akan sembuh...! "
" Sembuh apaan ? Orang malah berdarah - darah....! "
" Ohhh....! Berarti dosis suntikannya perlu di tambah ituuu....! "
" Auuuu ahhhh....! "
" Hahhaha.....! Nggak sekarang Bu, nantilah....! " Dimas mengecup kepala Ashe. "Udah tidur, nanti aku nyusul....! "
" Yang kenceng....! "
" Apanya ? "
"Mijitnya....! "
" Mijit yang mana ? "
" Mana aja, terserahhhh....! "
" Haha....! Yang ini....! " sengaja Dimas menyenggol dada Ashe dengan sikunya.
Ashe tak kalah iseng. Ia langsung menyambar tangan Dimas dan memeluknya erat. Bahkan diselipkan di kedua paha Ashe. Hingga Dimas langsung ambruk menimpa Ashe.
"Waduuuh....! Tanganku berdarah....! " celetuk Dimas.
" Biariiin aja. Tadi suruh tidur, malah di bercandain mulu....! " sungut Ashe tanpa melepaskan tangan Dimas.
Dimas tertawa dan memeluk Ashe.
" Baiklah. Tidurlaah....! " Dimas kembali mengecup kepala Ashe,
" Pijitiiin Biee....! " rengek Ashe.
" Lepasin tangannya....! " bisik Dimas.
Ashe melepas tangannya. Dimas mengurut pinggang dan sekitar area perut Ashe perlahan hingga Ashe nyaman dan tak dapat menahan kantuknya. Ia terlelap. Dimas menyudahi pijitannya dan membetulkan selimut Ashe. Ia ikut menyusul. Ashe tidur.
*****
" Bieeeeee.....!! "
Tak ada sahutan. Ashe membuka mata dan melihat sekeliling. Dimas sudah tak ada di sampingnya. Ashe mengeliat dan meraih Hpnya. Udah berasa kayak ratu aja sekarang. Udah jam 06 : 30 wib.
" Deeehh...! " Ashe membuka selimut dan menuju ke kamar mandi. Ia menunaikan hajatnya tapi tak cuci muka, apalagi mandi π€¦ββοΈ. Ashe keluar kamar mandi dan langsung keluar kamar. Di otaknya terbayang makanan di meja makan yang akan membuatnya melek.
" Maaaa.....! Dimas kemana ? " cecar Ashe begitu melihat Bu Fatimah tengah menyiapkan sarapan seperti biasa.
" Haaaah.....! Dimas siapa ? "
Ashe menghela nafas.
" Dimas mantu Mama lah....! Memangnya siapa lagi ? "
" Mama nggak yakin udah punya mantu...! "
" Kenapa ? "
" Kamu itu udah kayak cabe - cabean noh...! Cuci muka dulu kenapa She....! "
" Ya ampun...! Bagaimana begitu bisa punya suami yang manjain kamu....? "
" Terus Dimas di mana Ma...? "
" Di Malaang....! "
" Laah masak dia pergi lagi...! Tadi malam udah pulang....! "
" Mama nggak tahu...! Mama belum liat...! Lagian kamu tumben inget suami....! "
" Kenapa emang....! "
" Nanti Mama kasih kaca...! Suami kamu pasti syok liat penampakan kamu...! "
" Isssh....! Mamaa....! " Ashe kembali menjejal makanan ke mulutnya.
" Astagfiruullah Ashe....! Kamu cuci muka...! Mandi sana...! Udah bangun siang...! Kamu nggak liat itu suami kamu lagi jemurin..! "
" Haaah....! Jemurin apaan ? "
" Duuiit....! "
" Dihh, dimana Ma...! Aku mau minta....! " Ashe langsung ngacir ke belakang. Tempat pencucian baju. Benar saja, Dimas tengah menjemur baju di sana dan ngobrol dengan Pak Fajar yang nampak lagi mandiin burung.
Berasa suami - suami takut istri beneran π. Ternyata di rumah megah ini nggak berlaku jabatan pimpinan perusahaanπ.
" Bieeee....! "
Dimas langsung menoleh dan tersenyum lebar. Pak Fajar ikut menoleh.
" Siniii.....! " lambai Dimas.
Ashe memburu ke arah Dimas yang langsung mendekap dalam pelukannya.
" Papa di sini kaliii....! Masak pagi - pagi udah harus ngerayu Mama buat " mijit "...! " sindir Pak Fajar.
" Laaah, ada Papa ternyata...! Katanya ke Kalimantan....! " balas Ashe tanpa melepas pelukannya. Dimas tersenyum.
" Ya deh. Yang dunia milik berdua...! Papa mau minggat aja...! " Pak Fajar ngeloyor menenteng kandang burungnya.
" Minggat sono yang jauhhhhhh....! " Ashe malah provokator.
Dimas tertawa tertahan sambil menabok mulut Ashe pelan.
" Mulutnya nih ya....! " Dimas mencium bibir Ashe. Ia merapikan rambut acak - acakan Ashe dengan kedua tangannya.
" Gimana ? Udah enakan badannya ? " tatap Dimas.
Ashe mengangguk.
" Kenapa kamu jemurin sendiri...! Kenapa nggak bangunin aku...? "
" Itu pertanyaan yang nggak perlu di jawab Bu. Sekarang kamu mandi dulu...! Buruan. Nanti gantian mandinya. Sekalian aku cuci...! " Dimas mengecup kening Ashe.
" Bieeee....! " mata Ashe mendadak berkaca - kaca.
Dimas memahami sesuatu. Ia memeluk erat Ashe dan mencium kening Ashe.
" Aku yang akan manjain kamu Bu...! Aku udah di rumah....! Maaf bikin nangis mulu ya...! "
" Itu karena aku kangen dan nggak tahu kamu pulang. Aku jadi ngerasa bersalah. Jadinya aku kesel dan ngambek...! "
" Iya. Aku tahu tukang ngambekk....! " toyor Dimas di kening Ashe.
Ashe jadi cemberut.
" Haha...! Udah mandi sana Bu...! Jelek banget siiih...! "
" Hikss... emang situ ganteng....? "
" Gantenglah...! Bahkan ada yang sampai ngeces liat aku...! "
" Ya udah. Kalau gitu, kamu pergi aja sono sama yang suka ngeces liat kamu...! " Ashe meronta dari pelukan Dimas dan berjalan masuk ke fumah.
" Emang, hari ini aku rencananya mau ngajakin dia jalan...! "
" Bodooo....! "
" Buuuu....! Itu nembus...! " goda Dimas.
Ashe terus berjalan tanpa menyahut refleks menutup bokongnya dengan kedua tangan. Nggak mungkin dia nembus, orang tadi udah ganti celana luar dalam. Dimas tertawa terkekeh. Ashe tak akan bisa kesal padanya. Dimas menyelesaikan menjemur baju yang tinggal sedikit.
" Kenapa pantatnya di tutupin She...? " mulut Pak Fajar tak kalah iseng. Ia baru muncul dari teras belakang.
" Celananya sobek...! " elak Ashe.
" Heeeh tunggu... ! "
" Apa sih Paaa....? "
" Masih ada drama po hari ini.... ? Hahaha....! "
" Auuuuh ah....! Mama....Papa belum cuci tangan tuh...! " teriak Ashe yang melihat Pak Fajar hendak mencomot makanan.
Bu Fatimah langsung menampel tangan Pak Fajar.
" Papa habis megang ayam kan ? " pelotot Bu Fatimah membuat Pak Fajar langsung nyengir dan ngacir ke dapur.
" Ashe...! Buruan cuci muka atau mandi sana...! Dimas mana ? " cerocos Bu Fatimah.
" Ehhh, Ma...! Kita makan duluan saja. Terus kita berangkat...! Biar kita cepet punya cucu....! " Pak Fajar selesai cuci tangan dan kini duduk di kursi makan.
Ashe yang tadinya hendak masuk kamar menoleh.
" Papa....! Itu pakai proses...! Proses Pa....! " protes Ashe.
" Iyaaa....! Tapi Papa kan juga jadi ngerasa bersalah...! Baru nikah, Dimas udah Papa suruh pergi...! "
" Udah biasa....! Papa kan tukang nyuruh π.... ! " sahut Ashe.
" Emaaaang....! "
" Ashe... Papa....! " lerai Bu Fatimah.
Ashe langsung kabur ke kamar, sementara Pak Fajar langsung duduk patuh.
" Dim... ayo sarapan...! " ajak Pak Fajar begitu melihat Dimas masuk ke rumah.
" Iya Pa. Aku mandi dulu ya...! Papa sama Mama makan dulu aja...! Takutnya kelamaan nunggu kita...! " sahut Dimas.
" Emang kalian mau bikin anak dulu ? "
" Hisss....! " Bu Fatimah malah tampak geram dengan pertanyaan Pak Fajar.
" Haha...! Nggak bisa Pa...! Lagi di portal...! " senyum Dimas.
" Laah...! Puasa dong kamu...! Pulang nggak dapet apa - apa...! "
" Sttt... tenang aja. Tadi malem udah dapet. Cuma kekencengan ngoboknya. Makanya banjirnya lebih cepat datang... ! " bisik Dimas perlahan di telinga Pak Fajar.
" Baguss kalau gitu...! Hebaat kamuuu...! " Pak Fajar balas berbisik.
" Hebaat apanya ? Hebat puasanya ? "
" Semangat 45 nya ! "
Bu Fatimah hanya menggeleng kepala melihat tingkah suami dan mantunya itu.
" Heeee... masih pagi....! Kenapa yang dibahas itu...! " Bu Fatimah menatap mereka berdua tajam.
" Justru kalau pagi tuh enaknya begitu Maaaa.....! " sahut Dimas dan Pak Fajar bersamaan.
Bu Fatimah membulatkan mata.
" Astagfirrullahaladdziiiiim....! Suami sama mantu kok sefrekuensiii....! "
" Hahahahhahha....! " Dimas dan Pak Fajar tertawa bersamaan.
" Udah sana kalian mandi ! Mama nggak mau, meja makan Mama kalian sentuh sebelum kalian mandi...! " omel Bu Fatimah.
" Mama galak kayak Ashe Pa....! " ucap Dimas sambil berjalan ke arah kamar.
" Emaaang....! Kamu baru tahuuu....! " sahut Pak Fajar sambil berisut juga dari kursi makan. Ia setengah berlari menuju kamarnya.
Sekian menit kemudian Dimas dan Pak Fajar sudah hilang di balik pintu kamar mereka masing - masing.
******
" Buuuuu.....! Laaaah kok kamu udah rapi...! Wangi...? Mau kemana ? " Dimas langsung menghampiri Ashe yang tengah mematut diri di depan cermin. Dimas memeluknya dari belakang dan ngedusel ke leher Ashe.
Bau wangi Ashe sangat menggoda Dimas.
" Laah ya kerja....! " Ashe menepuk pipi Dimas.
Dimas tak menyahut malah sibuk dengan leher Ashe.
" Ihhh, apaan sih ini Bie....! Geli tahuuu....! " Ashe menggelinjang.
" Wangiiii Buuuu....! "
" Aku lagi dapet Bie...! Tuh...! Udah ada yang berontak pingin masuk kandang....! " Ashe merasakan perubahan tubuh Dimas.
" Aku jadi nggak waras deket kamu Bu....! " Dimas melepaskan diri.
Kepalanya mendadak posing. Posing atas bawah. Ashe terkekeh. Ia mengusap kepala Dimas. Entahlah, ia mendadak begitu gemas dengan rambut Dimas.
" Pingin bikin anak aja harus sabaaarrrr mulu....! " Dimas ngeloyor pergi ke kamar mandi.
" Ikutiiiii prosesnya Biiiiiieeeee....! "
" Kamu pikir tanda tangan kontrak.....? " Dimas terdengar menyahut dari kamar mandi. Ashe terkekeh.