
Selesai makan, Dimas dan Ashe kembali ke kantor. Sementara Pak Fajar telah lebih dulu pulang. Ia ingin menemani Pak Kibul dan Bu Izun lebih lama.
Dimas mengantar kembali ke divisi Ashe.
" Nanti aku jemput ya... " pesan Dimas dengan senyum cerah.
Ashe mengangguk membalas senyum. Ia kembali ke ruangannya diikuti tatapan mengoda para karyawannya. Ashe memang tidak hanya sekali punya pacar. Tapi kali ini, Ashe tampak begitu cerah dan bahagia.
" Bu Ashe tak ingin mengenalkannya pada kita ya..? " celetuk seorang karyawan menghentikan langkah Ashe.
Ashe menoleh.
" Baiklah. Nanti aku kenalkan. Sekarang bekerjalah... " sahut Ashe.
" Baik Bu.... "
Ashe masuk ke ruangannya. Sudah hampir jam 15 : 00 wib. Ashe mendesah melihat tumpukan berkasnya. Itu berkas yang harus selesai hari itu. Ashe sudah begitu jenuh. Selesai makan ia sangat mengantuk. Penyakit bawaaan🤣.
Tapi mau tak mau, ia harus menyelesaikan itu sekarang juga.
Ting...
Nama chatnya sudah berbeda.
Bie : Sayang....! Sudah selesai belum ? 😘
Ashe tersenyum.
Bu :: Belummm ! Aku bahkan ingin tidur !
Bie : Haaaaah.....! Kamu ingin tidur denganku ? 😱😱😱
Bu : 🤮🤮🤮🤮👹
Bie : 😤😤😤🙄
Bu : Kamu juga tiap hari tidur denganku !
Bie : Tidur doang, nggak ngapa - ngapain ! 😤
Bu : NGELUNJAAAAAAAAKKKKK.....
Bie : 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bie : Jemput sekarang ya !!!
Bu : Kau mengajakku bolos terus....
Bie : Katanya ngantuk....! Ayo tidurrr....!
Bu : Mau loe...
Bie : Emang....! Aku jemput sekarang....! 😘😘😘😘
Bu : 🥰🥰🥰🥰🥰
Ashe tersenyum. Meletakkan kembali Hpnya. Ia menelpon Dema lewat interkom. Tak lama, Dema muncul.
" Ibu manggil saya....? " tanya Dema.
" Tolong beresin map yang udah selesai dan belum Dem. Saya mau pulang....! " sahut Ashe.
Dema mengiyakan.
" Mainlah ke rumah Dem. Seseorang pasti senang....! " kata Ashe dengan senyum.
Dema tersenyum. Senyum yang berbeda di mata Ashe.
" Iya Bu....! " sahut Dema.
" Kayaknya ada sesuatu nih....? " terkah Ashe.
Dema tersenyum malu.
******
Flashback on.
" Abaaaaang..... " bisik Rozi pelan sebari mendekati Dimas yang tengah membersihkan kandang burung Pak Fajar.
Dimas menoleh penuh tanda tanya. Ia sudah paham dengan sikap Rozi. Jika seperti itu pasti ada maunya.
" Mau apa ? " tanya Dimas.
" Dihhh gitu amat sih ? "
" Terus mau apa ? " Dimas jutek to the point.
" Sttt... jangan kenceng - kenceng sih...! " bisik Rozi melihat suasana dalam rumah.
" Mbak Ashe dimana ? " tanya Rozi lagi.
" Di kamar kan sama Silia...! " sahut Dimas.
" Abang punya nomornya sekertaris Mbak Ashe nggak ? " tanya Rozi.
Dimas menoleh dengan senyum.
" Pegang ini. Aku ambilin Hpnya....! " kata Dimas sambil menyerahkan selang pada Rozi dan berjalan ke kamar Ashe.
" Bu, mana Hpmu...? " tanya Dimas.
Tanpa menoleh dan tanpa pertanyaan, Ashe memberikan Hpnya. Dimas menerimanya dan membawanya kembali ke luar kamar Ashe. Tak ada pertanyaan dari Ashe. Dimas pun tahu no pin Hp Ashe.
Dimas kembali ke tempat semula dan jongkok di samping Rozi yang tengah menyiram kadang burung dan memandikannya.
" Tuh, udah ku kirim...! Yang bener. Jangan macem - macem dengan cewek...! " kata Dimas.
" Dih Bang...! Belum juga PDKT....! Bantuin dong...! " pinta Rozi.
" Nggak mau...! Usaha sendiri.... " kata Dimas sambil kembali meninggalkan Rozi dan mengembalikan Hp Ashe tanpa menghapus chatnya.
******
" Nggak kok Bu....! " sahut Dema malu - malu.
" Nggak papa Dem. Kita juga udah kenal beberapa waktu kok...! " sahut Ashe sambil membereskan berkasnya.
" Kapan Ibu mau nikah ? " tanya Dema.
" Secepatnya.... " kekeh Ashe.
Dema tersenyum.
" Selamat ya Bu...." kata Dema
Pintu terdengar di ketuk dan muncul Dimas dari balik pintu dengan senyum.
" Udah diapelin tuh Bu...! Saya permisi dulu ya...! " goda Dema penuh senyum.
" Kenapa buru - buru...? " tanya Dimas.
" Nggak papa Pak....! " sahut Dema menyisih keluar dan menutup pintu.
" Kenapa Dema....? " tanya Dimas seraya berjalan mendekati Ashe.
" Harusnya aku yang nanya....! " sahut Ashe.
Dimas mengangguk - angguk sambil memperhatikan Ashe yang beres - beres. Ingat biasanya dia yang membereskan itu.
" Kamu tahu jawabannya kan ? " Dimas malah balik tanya.
" Iya...! " kata Ashe.
Dimas membantu Ashe dan memakaikan blazzer Ashe.
" Kita pulang ? " tatap Dimas.
" Kenalan dulu sama karyawan divisiku... " sahut Ashe.
" Baiklah.... " angguk Dimas.
Ia berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk Ashe. Semua karyawan divisi itu menoleh saat Ashe dan Dimas muncul. Dimas tersenyum. Semua berdiri mengangguk.
" Haloo semuanya. Saya Dimas Bagaskara. Selamat bekerja dan jika sudah selesai, atau ada urusan yang mendesak. Silahkan boleh pulang...! " kata Dimas.
" Terima kasih Pak...! " sahut mereka.
Ashe menoleh dengan tatapan tak percaya dengan apa yang dikatakan Dimas. Padahal ia sendiri kadang lebih nyleneh dari Dimas.
" Siapaa yang lembur dan tak korupsi, bulan ini ada tambahan tunjangan... " tambah Ashe.
Semua bersorak.
" Terima kasih Bu. Pak Dimas dan Bu Ashe memang cocok... " kata dalah satu dari mereka.
" Halaaaah....! Itu klisemu doang.... " sahut Ashe.
Ia nyengir.
" Nggaklah Bu...! Beneran deh... " sahutnya dengan tanda peace di udara.
" Baiklah, kami permisi ya...! " kata Dimas melambaikan tangan dan menggandeng Ashe diiringi bisikan - bisikan dari para karyawan.
" Ada acara mampir nggak ? " tanya Dimas sambil menoleh pada Ashe yang menggeleyot padanya saat mereka menunggu lift terbuka.
Tak peduli karyawan menatap mereka. Mereka sudah tak bisa jaga image lagi.
" Nggak Bie...! Kita pulang aja...! " sahut Dimas.
" Tapi aku ini beli Mazda warna hitam metalic...! " celetuk Dimas.
" Nggak usah saingan sama A - Bin...! " ledek Ashe.
" Ada aku dan A - Bin...! Kamu pilih mana ? " tanya Dimas nyleneh.
" Aku bukan perebut pacar orang...! Jadi kamu tahu jawabannku...! " sahut Ashe.
Dimas terkekeh. Mengacak rambut Ashe hingga sewot.
" Jadi gimana ? " tanya Dimas.
" Apaanya yang gimana ? "
" Mazda - nya ? "
" Ya udah. Tapi nggak sekarang ! " kata Ashe.
" Serius... ??? "
" Iyaaa. Nanti pasti Papa jual mobilnya satu biar Mazda- mu bisa masuk garasi... "
" Aku belum bilang Papa... "
" Tapi udah nyindir...? "
" Udaaah sih tadi.... " kekeh Dimas.
" Terus bilang apa ? "
" Baru ngelirik aku doang...! "
" Liat aja....! Duluan Papa yang beli atau kamu yang beliii....! Soalnya kodemu itu bisa jadi luar biasa. Beda kalau aku yang ngode... "
" Hahahhahaa.... " tawa Dimas membuat semua menoleh.
" Hisssssh..... " senggol Ashe.
Mereka sudah sampai lobby. Mobil sedan hitam Ashe dengan Nasrul dibelakang kemudi muncul. Dimas membukakan pintu untuk Ashe sebelum ia sendiri masuk mobil. Selama perjalanan, Ashe dan Dimas mulai kisruh soal gaun pengantin.
Dimas menoleh sinis. Nasrul mengintip dari kaca spion.
" Kamu inii, cewek atau bukaaan....? " sungut Dimas.
" Kamu pikir apaaa ? " sinis Ashe tapi sangat menggemaskan bagi Dimas.
" Kamu mau warna apa ? "
" Putihlahhh.... " sahut Ashe.
" Papaa tak bisa menuruti keinginanmu Bu....! " kata Dimas.
" Heeeee..... " Ashe menghela nafas. Ia sudah menduga.
" Ya udahlah. Di sini resepsi aja...! Tapi akadnya di kampung aja ya... "
" Siaaap Nyonyaaa....! Kamu itu emang paling ngerti bikin kepo orang....! " senggol Dimas.
" Apa sih senggal senggol, ntar suka lhooo.... "
" Emang udah sukaaaa....! Cinta malaaaaah.... "
" Hiiiiissssssh....! Kasian Nasrul tuh....! "
" Gpp, dia udah biasa jadi pohon perindang.... " sahut Dimas
" Emang Nasrul pohon beringin...? "
" Iyaa. Buat neduh saat kita pacaran... "
" Hoeeeeeek.... "
Nasrul hanya tersenyum.
" Nggak papa Bu...! Selama kenal, baru sekarang soalnya kesampaian punya pacar dan langsung jadi calon istri...! Pak Dimas berkerja keras untuk mendapatkan Bu Ashe dengan menahan selama 2 tahun....! "
" Buuuuuuukkkkkk..... " Dimas menepuk keras bahu Nasrul.
" Jangan buka rahasia....! " omel Dimas. " Banyak yang mau jadi pacar gue Rul...! Cuma gue ogaaaahhh....! "
Nasrul cecikikan. Ashe tertawa senang.
" Apaaa siihhh...! Gue 2 tahun menahan diri, situ gonta ganti pacarrr.... " gantian Ashe kena omel Dimas.
" Enaaaaak ajaaa lho....! Meski ganti pacar, gue itu masih bungkusan plastikkk....! SEGEEEELL....! Pacaran dilirik doang.... " Ashe malah tak terima.
" Haahhhahahhahaha.... " Dimas malah tergelak.
" Nyariii cuma buat pameeer kalau reuni sihhh.... " imbuh Dimas.
" Hiiiiiihhhhhh..... " Ashe menepuk bahu Dimas keras.
Dimas mengusap bahunya dan mencoba mengalihkan Ashe.
" Adaaaa tukang roti bakar tuhhh....! " tunjuk Dimas.
" Nggak mau....! Aku ingin makan lauk dari padang.... "
Dimas mendelik tak percaya.
" Jangaaan....! Mama di rumah udah masakkk....! " cegah Dimas.
" Soook tahu....!!! "
" Berani apaaaa ? Kalau benar mau ngasih apaaa ?? " tantang Dimas.
" Aku beliin dasi selusinnn....! Kemarin aku beliinya baru berapa doang....! " Ashe menutup mulut.
Dimas mengenyit dahi, menatap Ashe.
" Katanya Papa yang beli....? " tanya Dimas langsung menarik tangan Ashe dari mulut Ashe.
Ashe nyengir. Bak maling tertangkap basah.
" Aku tanya siapa yang belii...? " tatap Dimas.
Ashe kembali nyengir. Dimas mendesah, ia sudah tahu jawabannya.
" Lama - lama aku tidur ditumpukan baju....! " keluh Dimas.
" Harus di pakaiiiii.... ! Anggap itu itu gantiin uang yang aku rampok di supermarket waktu itu..." paksa Ashe.
" Kalau aku tak mau....? "
" Harus mauuuu.... "
" Maksaaaa.... "
" Biariinn....! Kalau enggak mau, aku balikin ke tokonya... "
" Mana mau tokonya...? "
" Harussss mauuu....! Aku nggak mau rugii...! Ini manajemen bisnisss.... "
" Matreeee.... "
" Biariiiin....! "
Tiiiiiiin..... tiiiiinnnn...
Klakson yang dibunyikan Nasrul menghentikan perdebatan tak jelas dua bosnya yang makin nyleneh itu.
" Kenapa Rull...? " tanya Dimas.
" Ada mobil ngalangin....! " sahut Nasrul.
Ashe dan Dimas menatap ke depan. Mereka sudah sampai halaman rumah Pak Fajar.
" Ya udah turuuun....! " kata Dimas sambil membuka pintu mobil.
Ashe mengikuti juga. Mereka berdua saling mengamati mobil yang terparkir dan menghalangi Nasrul masuk garasi.
Ashe menatap Dimas penuh senyum. Menyenggol lengan Dimas dengan penuh godaan. Dimas sendiri hanya nyengir.
" Mantu kesayangaaaaan.....! Hahahahhhhaha.... " Ashe langsung meninggalkan Dimas yang membuntutinya.
" Asssallamuallaikum.... " salam Ashe hingga semua orang menoleh ke arah Ashe dan Dimas.
" Waalaikumsalam...! " sahut semua.
" Kalian sudah pulang ? " tanya Bu Fatimah.
Ashe mengiyakan dan mencium tangan Mamanya, Pak Kibul, Bu Izun dan Pak Fajar. Dimas melakukan hal yang sama.
" Kenapa kamu cemberut Dim...? " tanya Pak Kibul melihat muka Dimas ditekuk. Pak Fajar menatap Dimas menahan senyum. Ia sudah paham kenapa Dimas seperti itu.
" Encooooook..... " sahut Dimas memegang pinggangnya.
" Heeeeh....! Encok kenapa ? Kamu jatuh Dim...? " tanya Bu Fatimah khawatir.
" Enggak Ma....! Pinggangnya kesenggol Mazda.... ! Hahhahaha.... " celetuk Ashe.
Dimas nyengir.
" Niiih. Urut pakai ini.... " kata Pak Fajar sambil melempar kunci pada Dimas. Dimas sigap menangkapnya.
Pak Kibul melempar bantal ke muka Pak Fajar.
" Kamu ini manjain Dimas teruuussssss....! "
" Nggak papa Bang....! " sahut Pak Fajar.
" Mantu kesayangan itu kodenya luar biasa....! Besok aku naik Mazda...! " ledek Ashe penuh senyum.
Dimas melirik tajam Ashe.
" Udah cobain sana ? Kalau nggak suka, bisa di tuker...! " kata Pak Fajar.
Dimas menatap Ashe. Ashe hanya tersenyum.
" Cobain Bie.... " imbuh Ashe.
" Aku spechlesss....tapii aku ingin mencium Papa sekarang juga...! " kata Dimas seraya berjalan ke arah Pak Fajar duduk. Ashe langsung menariknya.
" Nggaaaaaak usaaaaah....! " cegah Ashe.
" Hahaha....!" Pak Fajar tak bisa menahan tawanya kali ini.
" Hiiiissss....! " pelotot Pak Kibul.
" Adaaa yang bucinn....! " ledek Pak Fajar.
Bu Izun dan Bu Fatimah hanya menggeleng melihat kelakuan suami dan anaknya.
" Makasih Pa...! " kata Dimas sambil mengikuti tarikan tangan Ashe.
******
Sore itu, Dimas menjajal mobil barunya mengelilingi kompleks JAE. Ashe ikut dengan terpaksa karena Dimas .
" Sumpahhh deh, nggak ikhlasss bangeeet... " umpat Dimas cemberut. Menghentikan mobil barunya di depan rumahnya di kompleks JAE.
" Hahahhhahhhahhaha..... " Ashe malah tergelak. Memegang kedua pipi Dimas dengan gemas.
" Gue nggak punya recehh... " Dimas pura - pura sewot.
" Warna merah atau biru juga nggak papa kok... " sahut Ashe membuat Dimas menahan senyum.
" Atau ATM.... " imbuh Ashe.
Dimas tak dapat menahan tawanya. Ia melepas seat bell dan mendekat. Mencium bibir Ashe.
" Impasss......! Ini lebih berharga dari pada biru atau merah...! Mau turun nggak ? " tanya Dimas.
Ashe yang tersipu hanya mengangguk. Tak pernah berhasil membuat Dimas marah.
Dimas membuka pintu mobil. Ashe ikut turun dan langsung mengeleyot Dimas. Dimas tersenyum menoleh sambil mengacak rambut Ashe. Dimas mengambil kunci di tempat biasa. Ia membuka pintu dengan susah payah karena Ashe lengket padanya seperti anak umur 3 tahun.
" Nggak kebayang kalau punya anak bagaimana inii....! " seloroh Dimas.
Ashe tak peduli. Tetap lengket hingga mereka masuk rumah baru Ashe melepaskan diri.
" Kamu nyari apa Bie...? " tanya Ashe sebari duduk di sofa ruang tamu.
Ia melihat Dimas masuk kamarnya.
" Nyari mahaaar.... " sahut Dimas.
" Alhamdullilah.... " terdengar Ashe menyahut.
Dimas tersenyum. Ia membuka lemari dengan kuncinya. Lemarinya memang selalu dikunci.
Dimas mengambil tas dan membereskan surat - surat pentingnya. Ashe masuk kamar dan duduk di kasur Dimas. Memperhatikan Dimas.
" Aku kira sudah diberesin Nasrul...! " kata Ashe.
" Hanya beberapa baju saja. Lemari ini selalu terkunci sayaannggg....! " sahut Dimas sambil menoleh.
" Kamu mau tinggal di sini lagi Bie...? " tanya Ashe pelan.
" Tidak Bu, nanti ini akan di kosongin dan buat orang lain. Tahu sendiri mertuaku galakk...! Dia tidak akan membiarkanku tinggal di sini, tapi tega menyuruhku pergi jauh... "
" Hahhaha.... ! Iya tahuu...! Galak sekali emang mertuamu... "
Ashe mendekat dan membantu Dimas. Mereka beberes apa yang perlu di bawa Dimas. Setelah itu mereka kembali pulang kerumah Pak Fajar.