Perfect Boy

Perfect Boy
26. Jarak



" Bu... bangun udah pagi " Dimas mengoyangkan lengan Ashe yang masih tertidur pulas.


Ashe membuka mata perlahan. Nampak Dimas sudah rapi. Ashe mengenyit dahi.


" Jam berapa Bie ?? "


" Jam 04 : 00 Bu... "


" Kamu berangkat sekarang ? " Ashe bangun dari tidurnya.


" Maaf ya Bu... Faisal sudah jemput soalnya " kata Dimas sendu seraya duduk berhadapan dengan Ashe.


" Iya gpp Bie...! Aku yang minta maaf nggak siapin keperluan kamu " kata Ashe.


Dimas tersenyum seraya meraih tangan Ashe. Dan mengenggam tangan Ashe.


" Nggak papa Bu. Yang penting nanti cuciin bajuku ya !! " goda Dimas.


Ashe mendengus kesal namun tak urung tersenyum.


" Iyaaa... "


" Jangan - jangan belum pernah nyuci baju !! " ledek Dimas.


" Enaaak aja.. " Ashe melepaskan pegangan tangan Dimas. Merentangkan kedua tangannya dan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Badan Ashe terasa pegal.


Dimas tersenyum, kali ini ia menarik tangan Ashe dan membawa Ashe kedalam pelukannya.


" Biee... aku baru bangun... " Ashe merasa tak enak.


" Kita tidurnya bareng kok sibuk pingin bebenah " protes Dimas.


Ia melonggarkan pelukannya dan mencium kening Ashe. Kemudian mencium bibir Ashe hingga membuat Ashe kaget.


" Hmmm... bau jigong " ledek Dimas.


Ashe tersungut.


" Punya pacar mulutnya gitu amat sih " sewot Ashe penuh tatapan membunuh.


Dimas tertawa. Ashe mendadak membalas mencium bibir Dimas hingga membuat Dimas tersenyum tak karuan.


" Ihhh... baper " ledek Ashe seraya menyingkap selimut dan beranjak keluar kamar Dimas. Meninggalkan Dimas dengan syok terapinya.


" Nanti ku bales Bu " teriak Dimas.


" Balees aja.... " sahut Ashe dari kamar mandi.


Dimas membereskan tasnya dan ke ruang tamu.


" Bieee.... " teriak Ashe dari dalam kamar mandi.


" Apaaaaa ???? "


" Handuuk dong.. "


Dimas mengenyit dahi.


" Nggak ada handuk, adanya cuma aku yang bisa jadi handuk " masih saja Dimas iseng.


" Bieeee..... " rajuk Ashe.


Dimas tertawa, tak ayal beranjak juga mengambil handuk untuk Ashe.


" Jangan ngintip. Tutup matanya Bie... " pinta Ashe.


" Apasih....?! Rejeki pagi - pagi kok " Dimas kembali duduk disofa. Sibuk dengan gawainya.


Ashe mengendap keluar dan buru - buru berlari ke kamar Dimas. Dimas sengaja tak menatapnya tapi feelingnya jelas saja jalan.


" Nggak usah lari sih... " peringat Dimas.


Ashe tak menyahut. Menutup pintu kamar Dimas dan berganti baju. Sudah bisa dipastikan ia pasti ikut ke bandara.


Dimas menatap Ashe yang keluar kamar dengan pakaian rapi.


" Kita sarapan di luar dulu Bu. Nanti pulangnya sama Faisal ya ? Nanti biar Yidi ambil mobil Bubba dan bawa ke kantor " Dimas udah ceramah aja.


" Iya, tuan CEO " sahut Ashe bersiap.


" Ya sudah. Ayo berangkat Nyonya CEO " senyum Dimas.


Ashe merasa geli mendengarnya. Dimas meraih tangan Ashe dan menuntunnya keluar. Dimas mengunci pintu dan meletakkan pada tempatnya. Benar saja, Faisal menunggu di luar.


Faisal tersenyum begitu melihat Dimas dan mengangguk hormat pada Ashe.


" Mbak Ashe mau ikut ke Kalimantan ? " tanya Faisal begitu merwka dalam mobil.


" Nggak boleh Sal " sungut Ashe.


Dimas hanya tersenyum. Masih sibuk dengan gawainya. Sepertinya ada hal yang lebih penting yang merisaukan pikirannya.


" Kenapa Bie ??? " Ashe curiga.


Dimas menoleh, memberikan gawainya untuk memberi kesempatan Ashe membaca chatnya. Ashe mengenyit dahi. Mencoba mencerna apa isi chat Dimas.


" Terus gimana Bie ?? "


" Bapak sama Ozi yang sedang menanganinya. Hanya saja aku pasti diburu polisi "


" Serahkan saya Mas. Mas harus kerja dengan tenang " celetuk Faisal dibalik kemudi.


" Papa eh... Pak Fajar tahu Sal ?? " tanya Dimas.


" Nanti saya lapor dulu Mas "


" Ok Sal. Makasih ya ! "


" Ya Mas, saya pastiin Nasrul. dan Lino selalu di samping Mas"


" Iya Sal... "


" Ckk... ck... ck... Bos. besar loe udah ganti ya Sal ? " ledek Ashe.


" Iyalah Mbak " senyum Faisal.


Ashe mencibir. Dimas menatap Ashe dengan senyumnya. Faisal mencarikan tempat untuk bisa makan sepagi itu. Ashe dan Dimas sarapan sebelum lanjut ke bandara.


****


Ashe tak melepaskan gengaman tangannya pada tangan Dimas. Terus nempel tak ayal membuat Dimas tersenyum.


" Sabaar ya Bu... " bisik Dimas.


Ashe kali ini cuek. Makin nempel pada Dimas layaknya abg yang baru jatuh cinta.


" Ckkk.. berasa pacaran sama anak SMA "


" Kenapa ?? Nggak suka ditempel ?? " dengus Ashe tanpa bergeser sesenti pun.


Dimas terkekeh.


" Nggak sih. Suka aja diliatin orang ! " sahut Dimas.


Ashe menatap sekeliling. Benar saja, orang - orang memperhatikan mereka berdua. Ashe cuek.


" Bodo amatlah. Bahkan aku nggak kapok juga LDR... " sahut Ashe.


Dimas tertawa. Ia sendiri malah melingkarkan tangannya pada pinggang Ashe dan mencium kening Ashe.


Ashe tersenyum.


" Rasanya aku lebih sedih kali ini "


" Kenapa sedih ? Aku hanya pergi kerja. Ok ?? "


Ashe mengangguk. Tak sadar ia makin merapat pada Dimas. Memeluk dan terisak. Dimas mengusap pundak Ashe.


" Hey... kenapa nangis ?? Jangan - jangan saya pacar ke sekian yang pertama ditangisi ya ? " goda Dimas.


Ashe mengangguk ditengah isakannya.


" Bu mau ikut ?? " tawar Dimas tak tega.


Ashe menggeleng dalam pelukan Dimas


" Kalau gitu jangan nangis. Aku jadi nggak tega terbang "


" Emang loe burung ?? "


" Aku bukan burung, tapi miara burung " kelakar Dimas.


" Apaan sih ?? " Ashe memukul dada Dimas pelan.


Tak ayal kesal juga dengan gurauan Dimas.


" Hahaha... "


Ashe melepaskan diri dari pelukan Dimas. Dimas mengusap air mata Ashe.


" Udah gede kok cengeng " ledek Dimas.


" Bodooo '... " sewot Ashe membuat Dimas tersenyum.


" Istriku memang galak " tepuk Dimas.


" Kapan jadi istri ?? " sungut Ashe.


Dimas menatap Ashe tak percaya sebari mengenyit dahi.


" Nyindir muluuu.... " toyor Dimas membuat Ashe mendelik kesal.


Dimas tertawa. Mencium kening Ashe.


" Pulang sama Faisal ya, jangan mampir - mampir. Jangan lupa makan " ceramah Dimas.


" Berisik loe kayak nenek - nenek... " sahut Ashe.


Dimas kembali menoyor kening Ashe pelan seraya mencibir.


" Dibilangin jugaaaaa..... "


Ashe nyengir. Kembali mengelayut lengan Dimas. Dimas melirik jam tangannya. Saatnya untuk pergi. Ia menatap Ashe.


"Iya, kamu berangkat sana " kata Ashe.


Dimas mengangguk . Kembali mencium kening Ashe dan memeluk Ashe.


" Maaf ya, selalu ditinggal - tinggal " bisik Dimas.


Ashe mengangguk dalam pelukan Dimas. Sesaat mereka menikmati moment itu. Faisal menatap kedua orang yang sedang kasmaran itu seraya menggeleng kepala.


Dimas melepas pelukannya.


" Saya berangkat ya Bu "


Ashe mengangguk. Dimas meraih tasnnya. Berjalan seraya melambaikan tangan pada Ashe. Ashe tertegun menatap Dimas hingga tak terlihat lagi.


Faisal menghampiri Ashe.


" Ayo Mbak kita pulang " ajak Faisal.


" Ayo Sal... " Ashe melangkah lebih dulu diikuti Faisal.


****


" Ashe.... "


Baru beberapa langkah, seseorang memanggil Ashe. Ashe dan Faisal menoleh. Faisal langsung bersiaga di samping Ashe. Ashe cuek meski berhenti dan menunggu orang yang memanggilnya.


" Tadi itu siapa ?? Kenapa kamu mesra sekali dengannya ? Sepertinya kamu sudah sangat lama bersama dengannya ? "


" Calon suami... " sahut Ashe santai.


Kali ini tak ada lagi gentar dihatinya. Sakit hati dipermainkan dibelakang telah mendominasinya. Membuat Ashe kesal sendiri melihat orang di depannya.


" Sejak kapan kamu punya calon suami ? Atau jangan - jangan kamu hanya menghindariku saja ? Kamu selingkuh di belakangku ?? "


Ashe mendelik kesal, melotot tak percaya. Padahal Gena jelas saja sudah nikah dan *** - *** dengan wanita lain tanpa sepengetahuan Ashe.


" Itu nggak penting buatmu Mas "


" Ashe... aku akan memperjuangkan cintamu lagi.... "


" Nggak perlu Mas....! Lebih baik Mas Gena urusin istri Mas saja. Saya sudah bahagia dengan hidup saya... "


" Ashe.... "


" Sudahlah Mas...! Tak perlu bicara lagi. Saya sudah terlambat " kata Ashe seraya berlalu meninggalkan Gena.


Gena hendak menarik tangan Ashe, namun buru - buru Faisal menepisnya dengan tatapan tajam. Gena mengalah dan membiarkan Ashe pergi diikuti Faisal. Gena hanya memandangnya.


****


Di Bandung, Kharisma tengah menikmati pijat di salon kecantikan langganannya. Tubuhnya terasa lelah setelah bertempur dengan Gena semalam suntuk. Gena seolah tak ada habisnya memberikan sensasi luar biasa pada tubuh Kharisma. Entah bagaimana, Gena tak bisa membendung hasratnya saat bersama Kharisma. Hanya saja, Gena belum mengijinkan Kharisma ikut ke Jakarta karena renovasi rumah Gena belum selesai.


****


Ashe muak di dalam mobil yang disetirin Faisal. Kini mata elang Dimas juga memberi laporan pada Ashe sesuai perintah Dimas. Hingga Ashe mengetahui berbagai informasi, termasuk soal Gena dan Kharisma.


" Mbak.... " panggil Faisal yang sejak tadi memperhatikan Ashe dari spion.


" Hmmm....!! "


" Mas Dimas itu sudah sangat lama jatuh cinta sama Mbak Ashe.. "


" Sok tahuuu.... "


" Heeedeeeeh....!! Mbak Ashe nih dibilangin kok ! Makannya dia ngejar karirnya untuk posisi setinggi mungkin. Tapi otaknya juga nyampai sih... " cengir Faisal.


" Kamu ini sok tahuuuuu..... "


" Diiih... ngeyel ya !! " Faisal seolah tak ada takutnya dengan Ashe.


" Hahahaaha....! Kamu itu temen deketnya juga atau mata elangnya juga ? "


" Hehehehe.... Mbak Ashe tahu aja.... "


" Issssh.... " dengus Ashe.


" Hehehe.... Tenang aja. Mas Dimas berbeda dengan yang lain Mbak. Walau jauh jangan ragukan dia " ceramah Faisal.


" Makasih Sal . Kamu bisa cepetan dikit nggak....? Lama - lama kamu kayak Bosmu...! Berisiiiik.... " gerutu Ashe.


Faisal tertawa. Ashe menatap keluar jendela. Assisten Papanya ini juga tak bisa ditebak. Seolah semua kendali JAE kini malah ada di tangan Dimas.