
" Salah siapa kamu mengulur joran ? Kamu memancingku sih...? " keluh Dimas.
" Emang kamu ikan...? " Ashe berusaha menghindar.
Namun tentu saja tak bisa. Dimas sudah terlanjur terpancing dengan umpan Ashe.
Dimas tersenyum sebari menciumi kening dan pipi Ashe bergantian. Ashe menahan dada Dimas dengan menahan geli.
" Terima kasih, untuk pagi yang cerah ini Bu... " tatap Dimas.
Ashe merona di bawah kungkungan Dimas.
" Sama - sama Bie. Tapi aku laperr... " rengek Ashe membuat Dimas sadar istrinya dibuat kelaparan sejak mereka bangun.
" Hehe, iya maaf. Ayo mandi dulu.... " Dimas berguling ke samping Ashe dan meraih celana pendeknya.
Ashe terduduk lemas dengan memegang erat selimut hingga menutup dadanya. Rambutnya acak - acakan.
" Ayooo.... " Dimas menggulurkan tangan.
" Ngggak...! Kamu dulu aja...! Nanti ceritanya bukan mandi... " tolak Ashe.
" Apaaa ? " goda Dimas nakal.
" Tahuuu... "
" Haha... ya udah aku mandi dulu... "
" Hmmm.... " Ashe ambruk ke kasur lagi. Matanya begitu mengantuk dengan dukungan badan yang lemas.
" Buuuuu.... "
" Hmmm.... "
" Udah, sana mandi.... "
Ashe membuka mata dan terduduk lemas.
" Hpmu bunyi terus itu Bie... "
" Kenapa nggak kamu angkat....? "
" Maleees.... " sahut Ashe sambil ngeloyor ke kamar mandi.
Dimas hanya tersenyum menatap Ashe dan segera meraih Hpnya yang kembali berbunyi.
Cukup lama ia berbincang hingga Ashe selesai mandi dan berpakaian rapi.
" Siapaaa ? " tanya Ashe.
" Paaapa... " Dimas mendekat dan memeluk Ashe. Mencium kening dan bibir Ashe.
" Kenapa ? " Ashe mendongak dan membalas pelukan Ashe.
" Heee.... "
" Apaaa heeee.... ? "
" Kayaknya bulan madu kita harus berakhir....! " cengir Dimas.
" Kamu mau disuruh kemana ? "
" Ke Malang....! Ada cabang baru lagi di sana... " tatap Dimas.
" Baiklah. Aku akan belajar jadi istri mafia yang lapang dada... "
" Hahhahaha...! Kau harus bisa berlapang dada...! Kau harus bisa. ambil hikmahnya... "
" Apa hikmahnya...? "
" Kangen padaku... "
" Isssh...! Ayo makan, aku laperr...! Terus kita pulang...! " tarik Ashe.
" Pulang ke mana ? "
" Rumah kamulah...! "
" Kompleks JAE...? " ekor Dimas.
" Nggak...! Depannya....! "
" Hahhahaha...! Oke sayaaang.... "
Dimas mengandeng Ashe masuk ke dalam lift. Mereka turun ke resto hotel. Sarapan untuk keluarga besar Ashe dan Dimas sudah tersedia di sana sejak tadi.
" Kalian kayaknya bukan ngaten baru ? Kenapa baru muncul... " semprot Pak Fajar.
Pak Fajar tengah duduk berkumpul dengan besan.
" Papa jangan berisik. Katanya minta cucu...! " ganti Dimas menyemprot Pak Fajar.
" Aduuuuh..... " Ashe langsung mencubit perut Dimas.
" Hahhaha...! Ok lah. Kamu tahu aja Papa nggak suka lama - lama... ! Sarapan dulu yang banyak. Biar kuat... " ucap Pak Fajar yang langsung didehemi Pak Kibul.
" Papa nih...! Kalau Dimas aja, di belain mulu... " keluh Ashe.
" Ya kamunya aja malas She... " sela Bu Fatimah.
" Malas gimana sih Ma... ? "
" Udaaaah. Ayo makan. Nanti keburu makanannya habis...! " tarik Dimas menuju meja makan.
Ia segera mengajak Ashe makan. Tampaknya Ashe mulai pemilih. Tak mau mengambil nasi. Hanya mengambil sosis sepiring penuh dan bihun.
" 😱😱😱 Kamu makan itu doang Bu...? " tatap Dimas.
" Eheeem... "
" Nggak mau nasi ? "
" Eneg.... " sahut Ashe duduk di depan Dimas.
" Jangan - jangan kamu hamil Bu...? " tatap Dimas lagi.
" Belum tahu, kita nikah belum sebulan Bie... "
" Iya. Dan masih panas - panasnya... " kerling Dimas.
" Apanya yang panas ? " Ashe pura - pura.
" Kamu di pelukaanku... " kedip Dimas.
" Jangan mancing... "
" Hahaha...! Enggak. Tapi ku terkam...! Kamu itu daging yang sangat enak...! " kata Dimas pelan namun membuat Ashe melotot sewot.
" Dasaaar mesum..! "
" Hahaha...! Nggak nyangka bisa nidurin anak Bos sendiri... " Dimas bukan sibuk mengunyah, tapi malah sibuk menggoda Ashe.
" Diem Bie...! Ayo makan dulu...! Nanti bahas tidur menidurinya...! "
" Aku nggak mau bahas kok. Aku maunya praktek langsung aja.. "
" Bie.... "
" Hahhaha... "
Mereka mulai makan. Tak lama, mereka berkumpul bersama keluarga.
" Dim, Ashe , Bapak sama Mamak mau pulang nanti sore ya...! " ucap Pak Kibul.
" Kenapa buru - buru Pak...? " tanya Ashe.
" Kamu kan tahu, Bapak ini perangkat pemerintah dan udah cuti lama.... " sahut Pak Kibul.
" Hoeeeek.... " sela Rozi.
" Ngopo koe ? Koe yo kudu bali, kuliahmu piye ? Gek di rampungke...! " Rozi langsung nyengir karena di semprot Bu Izun.
Bu Fatimah tertawa.
" LDR Mazzeh... " sindir Bu Fatimah tambah bikin Rozi manyun.
" Aku mau nikah aja dulu Ma. Kayaknya nggak kuat kalau LDR... " keluh Rozi.
" Terus assistenku mau kamu bawa kabur gitu...? " sorot Ashe.
" Ya mau gimana ? Udah terlanjur sayang sampai ke hati...! " sahut Rozi.
Pak Kibul menghela nafas panjang menatap Bu Izun. Pak Fajar terkekeh.
" Selesain dulu kuliahmu Ozen...! " tegas Dimas.
Rozi langsung menghela nafas kecewa.
" Gue bukan ngalangin loe mau nikah. Tapi saat saat satu urusan selesai dan masuk ke masalah baru, loe udah siap menghadapinya... " tambah Dimas.
" Papa setuju itu...! Soal rumah dan pekerjaan. Kamu nggak usah khawatir...! " sela Pak Fajar.
" Kenapa kamu malah manjain anak - anakku Jar ? " protes Pak Kibul.
" Ya mau gimana Bang...? Orang aku sayang sama mereka, mereka kan sekarang juga udah jadi anak - anakku... " sahut Pak Fatimah.
" Terus, Papa nggak sayang sama Mama...? "
" Diiiih, Mama malah cemburu...! " sungut Ashe yang langsung diiringi tawa semua.
" Udaaah. Mama tenang aja. Mama itu kesayangan no 1 pokoknya... " kerling Pak Fajar.
" Wedeeeeh... ! Bunciiit tak terbantahkan.... " sungut Ashe yang langsung di senggol Dimas.
" Bodo amat...! Sampingmu itu juga Buncit... " Pak Fajar tak terima.
" Aku masih muda kali Pa... " Dimas tambah tak terima lagi.
" Papa kan tua mempesona.... " sahut Pak Fajar.
" Iya deh. Papa tersayang... " Dimas mengalah. " Bapak mau naik apa ? " tatap Dimas ke orang tuanya.
" Bis aja...! " sahut Bu Izun.
" Nggak Mbak. Naik pesawat aja... " sela Bu Fatimah.
" Aku kemarin udah naik pesawat....! " protes Bu Izun.
" Udah, naik pesawat aja. Duit Dimas nggak bakal berkurang... " Pak Fajar mengetengahi.
" Iya Mak, kita bakal cepet sampai rumah...! " imbuh Rozi.
Akhirnya Pak Kibul dan Bu Izun mengalah. Mereka pulang sore hari dengan naik pesawat lagi. Rozi dan Silia juga ikut pulang, karena izin mereka tentu sudah habis.
******
Pak Fajar, Bu Fatimah, Dimas dan Ashe pulang ke rumah mereka.
" Kalian nggak berencana tinggal di Kompleks JAE kan She, Dim ?" tanya Bu Fatimah saat mereka makan malam.
" Aku ngikut Dimas aja Ma...! " sahut Ashe.
" Aku ngikut Ashe aja Ma...! " Dimas membeo.
Pak Fajar dan Bu Fatimah saling bertatapan menghela nafas.
" Di kolong jembatan juga mau...? " sindir Pak Fajar.
" Asal sama Ashe aku mau...! " sahut Dimas.
" Asal sama Dimas aku juga mau Pa... " Ashe berganti membeo.
Pak Fajar menghela nafas.
" Kalian ngerjain Papa...? " sewot Pak Fajar.
"Hahaha....! Iya... iya. Kita tinggal di sini...! Lagian Ashe sama siapa kalau aku pergi Pa...? " sahut Dimas.
" Kamu jadi berangkat besok...? " tanya Pak Fajar.
" Jadi Pa...! "
" Kamu nggak papa di tinggal She ? Atau mau ikut...? " tanya Bu Fatimah.
" Aku di rumah Ma. Ada yang harus aku kerjakan... ! Lagian aku harus membiasakan diri jadi istri mafia" sahut Ashe.
" Heeeh, emang Dimas mafia...? " kenyit Bu Fatimah.
" Bukan...! Cenayang...! " sewot Ashe.
" Terus kenapa kamu nggak makan nasi ? " tatap Pak Fajar pada piring Ashe yang bersih tanpa nasi hanya potongan ayam bakar.
" Eneg Pa.... " sahut Ashe yang membuat Pak Fajar dan Bu Fatimah bertatapan hingga mereka saling lempar senyum ke Dimas.
" Kenapa ngeliatnya seperti itu sih Pa, Ma...? Udah kayak tersangka aja...! " Dimas langsung protes di tatap mertuanya.
" Emang tersangka kamu...! " sahut Pak Fajar.
" Tersangka ngamilin anak orang...! " imbuh Bu Fatimah.
" Kalau anak sapi ya aku jual Ma... "
Ashe langsung melotot ke arah Dimas yang malah cengegesan mengangkat dua tangannya berbentuk tanda " v " .
" Kamu jangan sensi kalau mau di tinggal pergi ! " senggol Dimas.
" Enggak tuh...! " elak Ashe.
Padahal emang kesel juga. Ia rasanya tak rela berpisah dengan Dimas.
" Booong....! "
" Dosa dong... ! " sahut Ashe.
" Udaah. Lagian Dimas kerja, bukan cari cewek lagi...! " lerai Pak Fajar yang sudah mengakhiri makannya.
Bu Fatimah malah sudah membawa piring kotor mereka ke dapur. Dimas juga beranjak cuci tangan.
" Aku belum selesai Ma....! " rengek Ashe.
" Iya. Udah makan aja...! " sahut Bu Fatimah setengah berteriak dari dapur.
" Aku ngobrol dulu dengan Papa. Kamu selesain makan dulu ya Bu... " kata Dimas yang diiyain Ashe.
Dimas langsung menuju teras belakang di mana Pak Fajar tengah duduk santai.
Ashe menyelesaikan makannya dan membantu membereskan meja makan. Kemudian pindah ke kamar dan membereskan kamarnya. Memilah baju kotor dan melipat baju - baju bersih.
Meski banyak kesibukan, tapi Ashe bisa bergerak dengan cepat dan tentu bekerja cepat.
*****
" Astagfiruullah...! " Ashe mengelus dada begitu keluar kamar mandi menganti baju dengan piyamanya.
" Laah kenapa ? Kayak liat setan aja...? "
" Abisnya kamu dadakan di situ...! " Ashe duduk di sofa di sebelah Dimas.
Dimas langsung menyambut Ashe ke dalam pelukannya. Mencium kening dan berlanjut ke bibir Ashe.
" Kamu sengaja ya ? " bisik Dimas menatap Ashe.
Ashe mengenyit dahi.
" Sengaja kenapa ? "
" Jangan pura - pura Bu... " tangan Dimas mulai nakal.
" Bie....! " Ashe menahan tangan Dimas.
" Piyamamu ini selalu merobohkan pertahananku... " tetap sja tangan Dimas nakal.
" Bie... ini masih sore....! " Ashe gemas sendiri.
" Nggak papa biar puas...! " Dimas makin nakal.
" Ya ampun Bie... ! " Ashe mencoba meronta.
Tapi tetap saja, bukan Dimas namanya. Dimas malah makin mengeratkan pelukannya dan keisengan tangannya hingga Ashe kegelian.
" Pelan dong Bie...! Yang bener aja sih, jangan rusuh...! " kata Ashe karena piyamanya udah berantakan.
" Buat bekal Bu...! " Dimas mengecup bibir Ashe.
" Berapa hari di sana...? " Ashe mulai menikmati tangan Dimas karena Dimas kini bermain lebih lembut.
" Seminggu...? "
Ashe mendesah kesal. Dimas menatapnya.
" Berasa LDR lagi ya...? Tapi kali ini lebih menyiksa ya...? " cengir Dimas.
" Aku akan susah tidur...! " keluh Ashe.
" " Macan" ku kelaparan seminggu... " balas Dimas.
" Pulang juga macanmu bisa - bisa akan puasa.... "
" Heiii.... " Dimas memutar bola matanya malas, langsung lemes membayangkan Ashe pas pulang Ashe lagi tutup portal. " Aku ke kamar mandi dulu, nanti dilanjut lagi... " kedip Dimas genit sambil beranjak.
Ashe meraih Hpnya. Beberapa pesan dari Dema masuk ke Hpnya sejak tadi. Besok Ashe juga sudah mulai masuk kerja.
" Bie, kamu mau di siapin baju sekarang ? " tanya Ashe setengah berteriak.
" Nanti, aku aja Bu...! " sahut Dimas.
Sesaat Dimas keluar kamar mandi dengan celana pendek dan kaos krem yang tampak membuatnya mempesona. Wajahnya seolah makin bertambah bersinar terkena air. Ashe sampai melongo tak sengaja melihat Dimas.
" Heeeh, ngeces tuh... " toel Dimas di dagu Ashe.
Refleks Ashe mengelap ujung bibirnya hingga membuat Dimas tergelak.
" Kamu kesambet Bu ? " Dimas meraup muka Ashe.
Ashe tersadar.
" Enggak...! " sewot Ashe sadar di kerjain Dimas.
" Terus kenapa ngeliatin aku segitunya...? Aku sangat ganteng ya...? " peluk Dimas dan mengecup kening Ashe.
" Aku heran aja, kamu setelah kena air kok beda banget...! "
" Beda gimana ? " kenyit Dimas.
" Ya cling...! Nggak kayak aku, kena air nggak kena air sama saja, burem.... " keluh Ashe.
" Hisssss....! Siapa yang bilang...? Emang kamu bisa menilai diri kamu sendiri...? " tatap Dimas pada Ashe yang masih dalam pelukannya meski agak berjarak.
Mereka berdiri di samping tempat tidur.
" Kamu tiduran dulu Bu, aku siapin apa yang mau aku bawa...! " kata Dimas.
" Aku nggak boleh nyiapin ya...? "
" Bukan nggak boleh...! Biar kamu nggak kecapekan...! "
" Ok. Aku emang udah capek, ditinggal pergi melulu...! " sahut Ashe nyleneh sebari beranjak naik ke kasur.
" Tenang, aku bawain oleh - oleh... " kerling Dimas sambil menarik kopernya.
Rasanya memang berat pergi meninggalkan Ashe.
" Kenapa kalau aku pergi kamu nggak mau ikut sih Bu ? "
" Biar kamu keliatan bujang terus... "
" Diiih...! Mantan bujang kali, kan udah kamu perawanin...! " goda Dimas.
" Biarin, biar nggak ada yang doyan... "
" Hahhaha....! Iyalah, yang doyan harus kamu doang Bu...! Tanggung jawab lho, kalau udah bikin ketagihan itu... "
Ia mulai mencari baju di lemari. Ashe kembali bangun dan duduk di tempat duduk di depan lemari. Mengawasi Dimas yang sibuk memilah baju.
" Aku tungguin kamu dulu Bie...! " kata Ashe sendu, seperti biasa ia selalu begitu saat di tinggal Dimas pergi.
" Iya... " Dimas sempat - sempatnya beranjak dan mengecup kening Ashe.
" Nanti banyakin bekalnya ya...! " Dimas mengedipkan alisnya.
" Heeeh.... "
" Jangan hah heh hah heh...! Orang dimintain bekal juga... "
" Apa bekalnya...? Nasi apa roti...? "
" Susu, daging, apem, paha.... "
" Hiiiiih....! " Ashe langsung menghantam bahu Dimas dengan tubuhnya. Melingkarkan tangannya pada leher Dimas dan membuat Dimas hampir tersungkur. Ashe malah asyik nemplok pada punggung Dimas.
" Sabar dong Bu, bentar lagi...! " elus Dimas di pipi Ashe yang menempel di pipinya.
" Hmmmm.... "
" Kamu ini ya...! Udah tahu " macan " ku itu sensitif, kamu nyiapin daging enak mulu Bu... "
" Biar macannya gemuk dan sehat... " cuek Ashe.
" Astaga....! " Dimas langsung membalik dan mencium bibir Dimas.
Ia mengangkat tubuh Ashe ke kasur mereka.
" Bentar... " kedip Dimas yang bergegas mengunci pintu dan mematikan lampu secepat kilat.
Ashe tersenyum melihat tingkah Dimas. Entahlah, mereka berdua memang demen pancing memancing tak kenal waktu. Bahkan " macan " Dimas suka " tandhuk " alias nambah makan hingga benar - benar kenyang dan membuat Ashe kewalahan menyajikan daging. 😜