
Selesai makan dan minum obatnya Ashe ke kamar. Badannya terasa menggigil. Ini pukul 16 : 00 wib. Dimas menyelimuti tubuh Ashe dan bersender pada kepala ranjang di samping Ashe.
" Sini aku pijitin Bu !! " Dimas menghadap Ashe.
Ashe mengulurkan sikunya yang ngilu dan menyembunyikan siku satunya lagi. Dimas memijitnya.
" Aku nggak papa Bie, kamu kalau mau balik kerja nggak papa kok " seru Ashe.
Dimas mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Ashe sekilas. Ashe kaget, wajahnya merona merah dan terasa panas.
" Berisiiik...! Udah tidur aja ! " kata Dimas.
Ashe hanya melirik Dimas menyembunyikan wajah. Dimas tertawa tertahan.
" Kenapa ? Mau lagi ?? "
" Nggak... "
" Nggak apa ?? Nggak nolak ?? "
" Maumu... "
" Kamu juga mau kaliii.... "
Ashe mencibir. Dimas beralih memijit lutut Ashe. Ini sudah cukup sore. Dimas sebenarnya ingin pulang berganti baju. Tapi rasanya tak tega meninggalkan Ashe.
" Mandilah Bie...! "
" Aku nggak bawa baju ganti Bu, kecuali Bu mau tidur sama saya yang nggak pakai baju ! " senyum Dimas jahat.
" Kamu mau nyicil sekarang ?? " heran Ashe.
Dimas tertawa. Menoyor kepala Ashe. Ashe cemberut.
" Pikirannya berimajinasi kemana ?? "
" Kemana - manalah "
" Hahahha.... aku nunggu Faisal bawain baju dulu "
Ashe mengenyit dahi.
" Kamu beneran mantu kesayangan kayaknya. Posisiku sudah tergeser"
" Hahhaha... nggaklah "
" Terus kamu balik kapan ?? "
" Besok ya ! " Dimas sedih. Tak ingin meninggalkan Ashe.
Ashe mengangguk sendu.
" Nanti begitu selesai, aku bawa Bu pulang kampung deh. Ketemu mertua "
" Hehhehhe.... " Ashe nyengir. Menutupi rasa sedihnya tak ingin berpisah dari Dimas.
" Mau tidur dirumah ?? " ide Dimas.
" Heeeeh.... "
" Tenang... aku peluk " bisik Dimas nakal.
" Ckk.... mesum ! "
" Aku laki - laki normal Bu "
" Tahu ahhh.... "
Dimas tertawa.
" Ayook... gimana?? "
" Besok kamu kerja "
" Aku ngincer 20 % saham Gena Grop Bu ! " bisik Dimas.
Ashe mendelik.
" Mafiaaa... " umpat Ashe.
" Aku hanya orang dibalik layar Bu. Tahu sendiri siapa eksekutornya "
" Sama saja. Eksekutormu itu hanya nurut kamu "
Dimas tertawa.
" Gimana ?? Ayo pulang ke rumah "
" Bie... aku tuh habis ngamuk di sana ! "
" Mumpung sakit, nanti ngamuk lagi "
" Issssh....! " Ashe menepuk lengan Dimas. Tak urung menyetujui ajakan Dimas.
" Tunggu, aku ganti baju dulu " Ashe menyingkap selimutnya dan berjalan menuju lemari. Mengambil baju yang cukup hangat. Tak lupa ia juga menyiapkan baju ganti. Dimas duduk menunggu di sofa.
Tak lama, Ashe sudah siap. Badannya juga terasa lebih enakkan.
" Kamu mau kemana She ? " tanya Bu Fatimah heran melihat Ashe sudah rapi. Dibelakangnya Dimas mengekor.
" Ke rumah Dimas " sahut Ashe.
" Isssh... kamu nih ya. Lengket melulu. Besok ditinggal berangkat nangis - nangis "
" Nggak papa, yang penting sekarang seneng "
" Ya udah. Jagain Ashe Dim "
" Ya Ma. Maaf ya... lancang bawa putrinya. Selesai kerjaan ini saya orang tua saya kesini "
" Iyaa..! "
Dimas mencium punggung tangan Bu Fatimah. Ashe udah ngeloyor duluan.
" Bie...! Kenapa kamu nggak beli mobil ? " Ashe udah mulai ngoceh.
" Aku sudah beli. Di kampung sana, dipakai Ozi. Sekarang Bubba mau aku beli mobil apa ? Ayo beli ! "sahut Dimas.
Ashe menatap Dimas tak percaya. Tersenyum jail.
" Beli mobil kayak beli cabe kamu Bie...! "
" Aku malah nggak pernah beli cabe... "
" Terus beli apa ?? "
" Beli hati Bu... "
" Hatiku nggak dijual... "
" Hahhaha... dikasih gratis buat aku "
" Ngarep loe.... "
" Hahhaha... "
Ashe menyerahkan kunci mobil pada Dimas.
" Bu mau beli apa sekarang ? Mau beli mobil, rumah, kapal pesiar atau apalah, ayo...! "
Ashe mendelik kesal.
" Aku nggak butuh semua itu "
" Terus butuh apa ?? "
" Butuh kamu... "
Dimas tersenyum. Rasanya berbunga - bunga digombalin Ashe.
" Gombalan dan sindirannya itu berat sekali "
Ashe tersenyum. Ia masuk mobil begitu Dimas membukakan pintu. Dimas berputar ke kursi pengemudi. Menjalankan mobilnya menuju rumahnya.
****
" Mau turun nggak Bu ? Tuh, mantannya lagi jaga " Dimas menatap spionnya.
Ashe mendelik sebal.
" Apa sih yang nggak kamu tahu, heran aku "
Dimas terkekeh. Memang nampak tiga orang satpam kompleks sedang patroli.
" Sebentar lagi kita di grebek " ucap Dimas.
" Ya diarak warga " imbuh Ashe.
Dimas tertawa. Ia keluar mobil. Menyusul Ashe.
" Pak Dimas... sudah pulang ?? "tanya salah seorang satpam.
" Iya Pak. Ini mampir " sahut Dimas mengangguk.
Ashe melipir, seolah tak mau dilihat orang.
" Sama istrinya Pak ? " tanya satpam itu lagi
" Iyaa... " sahut Dimas seraya menoleh pada Ashe yang tampak tak mau ketahuan. Dimas tersenyum, karena mantan Ashe nampak penasaran dengan Ashe.
" Ya udah kami permisi Pak "
" Ya mari silahkan, selamat berpatroli "
Ketiga satpam itu berlalu. Dimas meraih kunci pintu dibawah pot seraya tersenyum.
" Mantannya penasaran tuh Bu "
" Bodo... "
Ashe langsung masuk begitu Dimas membuka pintu. Dimas hanya tersenyum kecil melihat tingkah Ashe. Ia menutup pintu rumah. Meletakkan tas yang berisi laptop dan beberapa keperluannya. Ia menuju kamar mandi. Sementara Ashe langsung menuju kulkas. Mulutnya ingin mengunyah sesuatu.
Ashe sibuk mendidihkan air karena ia sangat ingin minum teh. Dimas menuju kamarnya. Ia mengambil baju ganti, mengenakan kaos dan celana pendek.
" Bie, kamu mau teh enggak ?? " Ashe berteriak dari arah dapur.
Dimas keluar dan menghampiri Ashe. Tanpa menyahut, ia malah memeluk Ashe dari belakang dan sontak membuat Ashe terkejut dan salah tingkah.
" Sttt.... diem " Dimas membenamkan wajahnya pada ceruk leher Ashe hingga membuat Ashe bergidik ngeri tapi nyaman.
" Apappaaan sih Bie ?? Kamu modusss ya ngajak aku kesini ? "
" Iyaaa.. " Dimas mengerak - gerakkan wajahnya.
" Bieee..... " Ashe kegelian.
" Sumpaaah... kangen tahu Bu " Dimas tak melepaskan pelukannya.
" Aku juga kangen Bie ! " sahut Ashe seraya memegang tangan Dimas.
" Aku ingin minum teh, kamu awas dulu sih. Ntar kecepretan " imbuh Ashe.
Dimas mencium pipi Ashe dan melepaskan pelukannya. Ashe langsung merona. Wajahnya terasa sangat panas.
" Pacaranmu gaya apa sih ? " colek Dimas yang berdiri disamping Ashe.
" TPS.... " Ashe seolah tak terima.
" Apaaa itu ?? "
" Tak Pernah Sentuh... "
Dimas terkekeh.
" Ada ya model pacaran begitu...?? "
" Adaalah.... makanya Adit bisa main kuda - kudaan sama sekretarisnya " umpat Ashe.
Dimas tergelak. Tak menyangka Ashe mengungkit itu.
" Apalagi Gena, bilangnya cinta - cinta. Dinikahi, istrinya digarap juga "
Dimas tertawa lebih keras seraya menatap Ashe yang tengah membuat teh. Tak menyangka Ashe sedongkol itu.
" Sabaar.... Nanti kita main kuda - kudaan juga " Dimas mengusap lengan Ashe dengan pandangan menggoda.
Ashe mendelik dengan tatapan membunuh. Dimas tertawa.
" Setelah kita nikah ya ?? " Dimas mengambil teh untuknya. Membawanya ke ruang tamu. Dimas duduk menyalakan tivi. Ashe menyusulnya. Duduk disamping Dimas.
" Maaf ya Bu, harus meninggalkanmu lagi " ucap Dimas.
" Aku sudah biasa... "
" Aku bukan orang biasa... "
Ashe mengenyit dahi menatap Dimas. Dimas menoleh dengan senyum mautnya. Ia meraih bahu Ashe dan menyandarkan pada bahunya.
" Terima kasih sudah menerima cintaku... "
" Hmmm.... "
" Hmmmm doang ?? Kayak nggak ikhlas amat ?? "
" Ikhlas Bie... " tangan kanan Ashe meraih tangan kiri Dimas dan mengenggamnya. Memainkan jari - jari Dimas.
" Habiskan tehnya, terus obatnya diminum. Kita harus tidur Bu ! Besok saya penerbangan pagi "
Ashe mengangguk. Membenarkan duduknya. Dimas mengusap rambut Ashe perlahan. Mereka menghabiskan minum teh dan cemilan. Tak lama, Dimas beranjak mengunci pintu. Ashe sudah berbaring nyaman dikasur Dimas.
Namun, kali ini Dimas tak membawa kasur lantai. Begitu semua lampu dimatikan dan menyisakan lampu tidur, Dimas berbaring di samping Ashe. Ashe kaget dan langsung menutupi dadanya dengan selimut. Menatap Dimas dengan pandangan penuh tanda tanya.
" Kenapa ngeliatinnya gitu amat ?? "pandang Dimas.
" Kamu tidur sini ?? " tanya Ashe.
" Iyaa lah, tidur mana terus ?? " Dimas masuk dalam selimut yang sama dengan Ashe. Meletakkan kepalanya di bantal.
" Biasanya dibawah " Ashe merasa canggung karena kasur Dimas pas untuk berdua.
" Pingin tidur dengan Bu " sahut Dimas santai.
Ashe melirik dengan pandangan aneh. Dimas tertawa. Ia langsung memiringkan tubuhnya dan menarik Ashe dalam pelukannya. Ashe kaget tapi tak menolak.
" Tiduuur... " ucap Dimas sambil merem.
" Bagaimana bisa tidur dengan jantung berdebar - debar seperti ini ? "
Dimas membuka mata dan menatap Ashe.
" Kenapa ?? Serangan jantung ??? " Dimas malah mengejek Ashe.
" Jangan bilang pacaran juga nggak pernah pelukan " imbuh Dimas makin ngejek.
Ashe sengaja mencubit perut Dimas hingga Dimas mengaduh kesakitan.
" Kalau jadi cenayang tuh kira - kira. Jangan kalau ngomong suka bener aja " umpat Ashe.
Dimas tertawa.
" Pantes pacar Bubba kabur semua " ledek Dimas lagi.
" Bodo amat. Gue maunya yang terima aku apa adanya. Masak pacaran juga udah di sambi icip aja. Ogah gue... "
Dimas terkekeh.
" Bukan icip itu Bu, disuntik vaksin itu "
" Diiiih..... "
Dimas tertawa. Mendekatkan wajahnya pada Ashe dan mencium bibir Ashe kilat. Kemudian mencium kening Ashe. Ashe merasa jantungnya makin berdebar. Pipinya panas dan terasa merona.
" Sudaah tidur....! Sebelum sesuatu yang lain bangun " kata Dimas.
" Appaaan sih Bie ??? "
" Hahhhaha.... Selamat malam Bu. Tenang aja. Saya tunggu malam pertama kok "
Ashe terdiam. Masih dipelukan Dimas. Tak menyahut ucapan Dimas. Dimas memejamkan mata. Tak lama terdengar dengkuran halus Dimas. Ashe menatap OB berwajah tampak yang tengah memelukknya itu. Nampak lelah. Ashe berusaha memejamkan mata. Ia pun tertidur di pelukan Dimas.