Perfect Boy

Perfect Boy
51. Digitalisasi pikiran



Setelah puas membuat pengunjung lain berbisik membicarakan plus iri pada dua sejoli itu. Ashe dan Dimas beranjak. Meski kenyang, Ashe masih ingin melipir. Tapi bukan di dalam mall. Sepanjang jalan, matanya tak berhenti jadi pengawas trotoar. Dimas tersenyum.


" Aduuuh, perutku keteken seatbelt... " keluh Dimas.


" Heeleeeh. Itu cuma satu porsi hokben... " sahut Ashe.


Dimas terkekeh.


" Kamu ngeliatin apa sih...? Rugi kalau nggak ngeliatin aku lhoo.... "


" Nanti aku pingin kalau liat kamu muluuu... " sahut Ashe tanpa menatap Dimas. Masih menatap keluar.


" Pingin apa ? " pancing Dimas.


" Pingin ngurung kamu di kamar...! Tak ingin membagi ketampananmu pada gadis lain... "


" Hahhhahahahhha....! Baiklah, gadisku...! Aku akan jadi OB lagi biar nggak ada yang melirikku... "


" Tampangmu tak bisa di klamuflase... "


" Terus aku harus gimana ? Aku bukan bunglon Bu...! "


" Terus apa ? " toleh Ashe.


" A - Bin.... Heeee.... " cengir Dimas.


" Badanmu doang yang mirip Binbin... "


Dimas terkekeh. Melajukan mobilnya ke rumah Ashe. Tak lama mereka sampai. Pak Kibul dan Pak Fajar sudah ada di rumah.


" Dari mana kalian ? " tanya Pak Fajar.


" Keluar bentar Pa... " sahut Dimas sambil mencium tangan Pak Fajar dan kemudian Pak Kibul. Berganti Bu Fatimah dan Bu Izun. Ashe mengikutinya.


" Kenapa cuma sebentar ?" tanya Bu Fatimah.


" Ashe udah kenyang..." sahut Dimas asal.


Ashe mendengus. Mereka ikut duduk dengan mereka. Mengeluarkan Hpnya yang sejak tadi berbunyi karena pesan chat masuk.


" Oiya Dim, She, kita udah sepakat. Pernikahan kalian bulan depan. Satu bulan lagi. Akad dan resepsinya di kampung. Tapi Papa juga ingin ngadain resepsi di sini...! Gimana ? "


Dimas menoleh pada Ashe.


" Gimana Bu...? " tanya Dimas.


" Ya udah...! Aku ngikut aja...! "


" Kenapa cuma ngikut...? Kamu nggak ingin jadi ratu ribet ? "


" Hiis...! Gue nggak mau ribet...! "


" Niat nggak nikah sama aku ? "


" Hiih, niatlah Bie. Karena saking niatnya, makanya aku ingin mempermudah kamu dengan nggak banyak ribeet... "


" Kamu memang the best... ! The best segala hal... "


" Hiii... " Ashe memamerkan barisan giginya.


Kedua pasang orang tua mereka menatap keduanya bingung. Kedua anak mereka ini tak jauh beda dengan Pak Fajar dan Pak Kibul.


" The best lagi kalau nyidir orang...! "


" Deeeh, kamu ini muji apa ngejek...? "


" Dua - duanya...! " Dimas nyengir.


" Baiklah. Nanti Bapak daftarin pernikahan kalian langsung setelah pulang dari sini ! " imbuh Pak Kibul.


" Nanti soal seserahan, biar Mama yang urus...! " kata Bu Fatimah.


" Ya Ma. Nanti biar dibantu Nasrul dan Rozi.... " sahut Dimas.


" Baaaaaaaang..... " mendadak terdengar suara Rozi setengah berteriak muncul di pintu kamar yang ditempat. Wajahnya khas bangun tidur. Semua menoleh pada Rozi, tapi yang di toleh tak sadar dia di mana.


" Kenapa ? " sahut Dimas.


" Bagi duit dong... "


" Buat apa ? "


" Beli makan ? "


Dimas mendesah kesal. Anak itu pasti ngelindur karena tidur sore. Pak Fajar dan Pak Kibul tertawa. Bu Izun sudah siap mau ngamuk. Bu Fatimah tertawa.


" Zi, kalau mau makan di dapurr.... " kata Bu Fatimah.


Rozi mengerjap. Ia sadar dimana.


" Mama kenapa nggak bilang...? " ucap Rozi.


" Ozeeen ini mabuuk apa sihh ?? " sungut Ashe." Otakmu udah overload kayaknya ! " sungut Ashe.


" Iya Mbak...! Perlu revitalisasi... " sahut Rozi sambil berjalan ke meja makan.


Art keluarga Pak Fajar menghampiri dan menawarkan kopi. Pak Fajar ikut kesal.


" Revitalisasi...??? Pasaaar apa Zenn ?? " kenyit Ashe.


" Nggak jelasss... " imbuh Dimas.


" Kamu kesambet apa sih di kamar ? " tanya Pak Fajar.


Rozi terkekeh.


" Wong nek kakean turu sore yo bingung ngono kui... " Bu Izun mulai keluar bahasa nasionalnya.


" Berisiiik Mak.... " sahut Rozi.


Ia udah bak raja di rumah itu. Bagaimana tidak, matanya saja belum terbuka sempurna tapi ia sudah ada yang melayani.


" Baiklah, karena Bapak juga perlu persiapan. Bapak sama Mamak akan pulang cepat.. " kata Pak Kibul.


" Kenapa buru - buru Bang....? " kata Pak Fajar.


Pak Kibul menatap Pak Fajar tajam. Pak Fajar nyengir.


" Aku ingin mengundang reuni teman - teman...! " kata Pak Fajar.


" Nanti sekalian resepsi kalau mau reuni...! Kamu cuma ingin pamer aja... " jitak Pak Kibul. Pak Fajar meringis.


Dimas mendengus melihat sikap Bapaknya. Ashe langsung menyenggol bahu Dimas.


" Kegemaran jitak kok nuruun... " sungut Ashe membuat Pak Kibul tertawa.


" Papa kamu memang perlu dijitak biar berkembang Mbak... " sahut Pak Kibul.


" Kamu juga perlu dijitak, biar nggak cemburuan... " ucap Dimas.


" Kamu itu yang cemburuan... " Ashe tak terima.


" Kamu juga lebih cemburru... " sahut Dimas.


" Biariiin... "


" Heeeeh...! Kamu ganti baju dulu sana...! Terus tidur, persiapan ngamuk besok... " sindir Dimas.


Ashe mencibir, namun beranjak juga. Ia menuju kamar.


****


" Nanti uangnya aku transfer Pak..! Rozi suruh ambil ya...! " kata Dimas.


" Iya Dim. Maaf ya, Bapak nggak bisa lama. Nanti kamu siap - siap pulang aja.." kata Pak Kibul.


" Iya...! "


" Soal keuangan serahkan sama Papa... " kata Pak Fajar.


" Iya. Tuan Direktur... " ledek Pak Kibul.


" Main remi Bang...? " tawar Pak Fajar.


" Kita manah saja...! Taruhan ayam jagomu itu buat di potong... " dalih Pak Kibul membuat Pak Fajar cemberut.


" Nggak mau....! Aku belum mau korban.... " sungut Pak Fajar.


Pak Kibul tertawa. Tapi mereka juga beranjak ke ruang panahan di belakang.


Dimas beranjak. Namun berbalik lagi, tak melihat adiknya yang paling kecil.


" Dimana Silia Mak ? " tanya Dimas.


" Di kamarr...! Sibuk ngechat... " Rozi yang menyahut.


Dimas menuju kamar yang di tempati Mamak dan Silia. Sementara Bapaknya suka tidur pindah - pindah. Kadang sama Rozi kadang di sofa. Terlalu bingung karena rumah itu sangat besar.


" Will.... " Dimas melongok ke dalam kamar.


Silia yang tengkurap di kasur nampak sibuk dengan chatnya menoleh.


" Kenapa Bang...? " tanya Silia.


" Kamu ngapain ? " Dimas balik tanya. Tetap di pintu.


" Nggak papa. Cuma wa nan ! "


" Sama siapa ? "


" Temen...! "


" Cowok atau cewek ? "


" Egggg... "


" Ehmmm.... "


" Siapa ? "


" Cuma temen Bang... " Silia tampak takut.


Dimas terdiam. Hatinya menerka seseorang. Kemudian berbalik pergi meninggalkan Silia. Menuju kamarnya, kamar Ashe.


****


Dimas melepas kaosnya sebarangan begitu menutup pintu. Ia seperti lupa itu kamar siapa meski itu sebenarnya itu rumahnya. Dimas meletakkan jaketnya. Ia mengerutkan kening. Kamar Ashe memang luas dilengkapi dengan ruang baju sendiri meski tak terpisah oleh sekat. Dimas melihat lemari baru lagi.


" Buuu....! "


" Hmmm.... " sahut Ashe dari kamar mandi.


" Kayaknya ada lemari baru lagii...? " tanya Dimas sebari mendekat kearah lemari dan membukanya. Dimas terperangah. Isinya baju lelaki semua. Dimas langsung refleks ke otaknya itu bajunya semua.


" Iya. Itu bajumu semua...! Nanti ada tukang yang bikin sekat...! " sahut Ashe dari dalam.


Ashe keluar dari kamar mandi. Dimas menoleh dan langsung memalingkan muka. Menghela nafas.


" Kenapa ? " tanya Ashe bingung sebari mendekati Dimas.


" Sampai kita nikah, aku akan ke pindah rumah ke kompleks JAE dulu aja Bu... " sahut Dimas tanpa menatap Ashe, mengenakan kembali kaosnya.


Ashe bingung.


" Kenapa ? Ada masalah apa ? " Ashe tambah bingung.


" Aku tak kuat.... " Dimas tetap tak mau melihat Ashe. Malah berbalik memunggungi Ashe.


Ashe menatap dirinya sendiri. Ia hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dan kaos yang cukup tipis. Ashe tersenyum.


" Ya sudah...! Soalnya pikiranmu udah traveling kemana - mana ! Halumu udah mulai nggak jelassss... " sindir Ashe menuju sofa favorit.


Dimas mendesah berat, melirik Ashe.


" Ya Allah, kenapa cobaanku begitu berattt... ! Malam ini kenapa juga sangat dingin dan aku butuh kehangatan..." ucap Dimas mengeluh.


Ia ingin sekali memeluk dan mencium Ashe. Tapi pikirannya bener - bener nggak jernih begitu melihat Ashe keluar kamar mandi.


" Anggep aja ngerjain tesis Pak... " sindir Ashe lagi menahan tawa.


Dimas mengaruk tekuknya.


" Ujian tesisku tak merobohkan semangatku... " sungut Dimas.


" Hahahhaha....! Waah, perlu di pertanyakan ini...! Kamu malah tidak semangat melihattku...! "


" Tidaaaaak.... " Dimas bergegas ke luar kamar Ashe sebelum hilang kendali.


Ashe tertawa melihat sikap Dimas.


****


Dimas keluar kamar dan menuju kamar Rozi berada. Rozi yang sibuk didepan laptop menoleh begitu Dimas membuka pintu. Dimas langsung masuk dan menjatuhkan diri di kasur.


" Kenapa Bang....? " tanya Rozi.


" Nggak papa...! " sahut Dimas sambil memejamkan mata. Matanya tertutup tapi pikirannya masih melekat pada Ashe.


Rozi mencolek bahu Dimas.


" Kenapa nggak tidur di kamar Mbak Ashe ? Diomeliin...? " tanya Rozi.


" Enggak...! "


" Terus kenapa ? Biasanya lengket...! "


" Nggak papa... "


" Diiih... Abang...! "


" Dah dieeemmm.... "


" Heeeish....! Aku akan cari tahu...! " Rozi hendak beranjak.


" 5 juta aku transfer... " cegah Dimas.


" Aku tak menerima uang tanpa kerja. Tak ada gaji tanpa keringat... "


" Huuuhhh.... "


" Kenapa ? "


" Pikiranku lagi nggak beres. Kedinginan... "


Rozi mengkerut sejenak. Mencerna maksud abangnya. Rozi terbahak setelah mengerti. Dimas menatapnya tajam.


" Seeettt dah ya.... " omel Dimas.


" Hahahhaaha...! Aku akan mengunci pintu supaya Abang tidak melakukan tindak asusila... "


" Loe yang asuuuu.... "


" Asusila Abaaaanggg...! Otak loe ya...! Kena racun Mbak Ashe...! Nggak bisa mikir jernih. Di restart ulang sono Bang...! "


" Emang otak gue komputer... ?"


" Lagian punya pikiran kok udah jauh kemana - mana ! Lagian kenapa sih...? Bentar lagi juga nikahh... "


" Justru karena mau nikah itu...! " keluh Dimas menutup mukanya dengan bantal. Mencoba tidur.


" Aku akan bikin program untuk digitalkan otakmu itu Bang..! Biar mikirnya normal... " sindir Rozi kembali ke depan laptop.


" Bahasamu beraaaat...!!! Lagian gue itu normal... Loe aja yang ndesit...! Otakmu yang nggak nyampai Ozeeeen.... "


" Otak gue nyampai kali Bang...! Cuma gue males loe pelototin mulu... "


" Tuh tahu ! "


" Apalagi Mbak Ashe, gue pasti dicekik "


" Heeee ! Selesain kuliah loe ! Baru mikir yang lain "


" Nikah dulu makanya, baru mikir yang lain " balas Rozi.


Dimas mendengus melempar bantal ke kepala Rozi. Rozi menghindar.


" Sampai kapan loe depan laptop Ozeeen ? "


" Bentar lagi kelar ini Bang ! Abang tidur aja ! "


" Heeh...! Kamu pulang bawa mobil. Istirahat yang cukup ! "


" Iya. Siapa yang ikut aku pulang ? "


" Nasruuul ! "


" Bang... "


" Hemmmm.... "


" Nasrul itu umurnya berapa ? "


" Kenapa nanya...? "


" Nggak papa...! "


" Dia seumuran denganmu kayaknya ! Cuma dia pinter dan ulet bekerja... "


" Emang gue nggak pinter ya... "


" Banyak oonnya... "


" Diiiih.... "


" Heeehhh... " Dimas beranjak.


" Mau kemana ? " buntut Rozi mengekor dengan sudut matanya.


" Balik ke kamar...! Disini nggak bisa tidur "


" Kamar siapa ? "


" Mbak Ashe... " sahut Dimas dengan nada aneh.


" Awas aja loe kalau bertindak asusila... " ancam Rozi.


" Bodoo'... "


" Oiyaaa...!!! Sini tunggu bentarrr.... " Rozi beranjak dengan tangan mengepal. Seolah mengenggam sesuatu.


Dimas menunggu sebari membalik badan. Panasaran juga. Rozi langsung menempelkan telapak tangannya pada jidat Dimas dengan keras hingga Dimas meringis sambil memegangi jidatnya.


" Udaah tuh...! Otakknya udah aku restart ulang... " kata Rozi santai tanpa peduli abangnya yang kesakitan.


" Dasar adik nggak punya akhlak loe ya...! Nggak ada moral..." sungut Dimas.


" Hahaha....! P4 sudah lama dihapus Bang ! Makanya aku buta moral. Bukannya tak ada yang berani menyentuhmu Pak Presdir ..? "


" Adalahh....! "


" Aku nggak nanya kalau Mbak Ashe...! " sungut Rozi berbalik lagi ke mejanya.


Dimas mengelus - elus dahinya dengan mulut manyun.


" Makan tuh laptop loe...! Jangan pacaran... " gantian Dimas yang mengancam seraya membuka pintu.


" Mana 5 jutanya ? " toleh Rozi.


Dimas yang hendak menutup pintu membalik lagi, berdiri di pintu.


" Lihat Hp loe...! Hitung nolnya berapa itu ? " kata Dimas.


Kali ini ia menutup pintu agak keras sebari meninggalkan Rozi. Rozi terkekeh. Buru - buru melihat M - bankingnya. Matanya terbelalak. Menghitung nolnya dengan bingung. Saking bingungnya ia bahkan menulis di kertas dan mencari pertolongan. Pertolongan yang nggak bakal maki - maki dia seperti abangnya. Siapa lagi kalau bukan Mbah google 😂.