
" Hpmu bunyi Bie....! " Ashe menepuk dada Dimas pelan.
Matanya tetap terpejam dan makin meringsek ke tubuh Dimas dengan nyaman.
" Hmmm...! " Dimas juga tak membuka mata. Ia malah meraih tangan Ashe yang berada di dada telanjangnya dan mengenggamnya erat.
Hp Dimas kembali berbunyi. Ashe menepuk dada Dimas lagi. Dimas yang seolah kehabisan tenaga meraih Hp di meja sampingnya.
Dimas : Yaaaaa.....?
Dimas menyahut malas tanpa membuka mata.
Pak Fajar : Kamu dimana DB ?
Dimas : Tidur Pa...
Pak Fajar : Tidur dimana ? Kamu masih di Jogja ?
Dimas : Di Jakarta Pa...
Pak Fajar : Laaaah, di kamar nggak ada...?
Dimas tertawa tertahan dan mulai membuka mata sedikit.
Dimas : Di komplek JAE Pa...
Pak Fajar : Lah terus Ashe mana ?
Dimas : Niiih, di ketekku..
Ashe menepuk dada Dimas.
Ashe : Papa nggak usah sok nyariin aku, Papa kan cuma
perhatian sama mantu kesayangan doang...
Ashe mengumpat pada papanya meski matanya tetap terpejam. Dimas tersenyum mendekatkan Hpnya ke arah Ashe.
Pak Fajar : Hahahaha....! Ada yang cemburu....!
Ashe : Tahuulaah Pa...
Pak Fajar : Kamu lagi ngapain She...?
Ashe : Nggak usaah nanya...
Pak Fajar : Hahahahaha...
Dimas menahan tawanya, ia tahu istrinya kesal.
Dimas : Papa di rumah ?
Pak Fajar : Iyaa. Papa baru sampai ! Besok papa mau ke
Surabaya. Kamu nggak usah kerja dulu, ntar
" macan betina "nya ngamuk..! "
Ashe mendesah kesal.
Dimas : Hanya belum puas saja Pa...
Ashe langsung membuka mata menatap Dimas penuh tanda tanya. Dimas menyunggingkan senyum nakal. Ashe langsung paham dan menepuk lengan Dimas dan membelakangi Dimas.
Pak Fajar : Baiklah...!! Puaskan saja dulu macanmu biar kerjaannya nggak ngamuk... hahahaha...
Dimas : Asiap Pa....!
Pak Fajar : Ya udah, Papa berangkat dulu ya !
Dimas : Iya. Hati - hati. Papa jangan lupa makan. Aku nggak
mau resepsi tanpa Papa.
Pak Fajar : Hahaha... kamu tenang aja. Papa kan yang kerja cuma mulutnya...
Dimas : Iyaaa deh, terserah bos besar aja...
Pak Fajar : Siaaaap.....
Pak Fajar mematikan Hpnya. Dimas meletakkan Hpnya sembarangan dan langsung memeluk Ashe dari belakang dengan tangan nemplok di dada Ashe. Membetulkan selimut mereka.
" Papa kalau telpon nggak tahu waktu... " gerutu Ashe tanpa membuka mata.
" " Macan" nya juga nggak tahu waktuu... " imbuh Ashe menggerutu.
Pasalnya ia merasakan sesuatu berubah karena Dimas memeluknya erat dan menempel rapat.
" Karena macannya tahu itu daging yang enak dan ada label halalnya... " sahut Dimas memainkan tangannya. Begitu lembut bermain disana membuat Ashe nyaman dan tambah mengantuk.
" Aku ngantuk...! " keluh Ashe.
" Tidurlaaah... " Dimas tetap bermain lembut dan makin membuat Ashe nyaman.
Tak lama terdengar dengkuran halus Ashe hingga membuat Dimas tersenyum. Ia mencium kepala Ashe dan mengeratkan pelukannya. Ia ikut tidur lagi. Pasalnya ini masih jam 03 : 00 wib dini hari.
*****
Ashe terbangun saat alarm Hpnya berbunyi. Ashe meraihnya dan mematikannya. Tangan Dimas terasa hangat menyusup di dadanya. Perlahan Ashe menurunkan tangan Dimas.
" Mau kemana Bu...? "
" Kamar mandi Bie... " Ashe beranjak perlahan. Ia menuju kamar mandi. Ia mandi dan menyelesaikan keperluannya.
Dimas ikut bangun juga dan beranjak ke dapur. Mendidihkan air.
" Kamu udah mandi Bu ? "
" Udaah...! Aku bau soalnya... "
" Kamu mau minum teh enggak Bu...? " tanya Dimas begitu melihat Ashe keluar kamar mandi.
Ashe menoleh dan berjalan ke arah Dimas. Dimas menyambutnya dengan merentangkan tangan. Ashe masuk dalam pelukan Dimas. Dimas menyambut dengan senyum mautnya.
" Mauuu...! "
" Mau apaaa ? " tatap Dimas.
" Teeh... "
" Tapi aku mau te***... " issh, mulut Dimas tersenyum smirk.
" Hiiis.... " Ashe menepuk dada Dimas.
" Hahaha....! Ya, udah. Sana ganti baju, kita cari sarapan...! Mau sarapan apa ? "
" Ehhhm.... aku ke pasar. Aku pingin jajanan pasarr... ! Ada motornya ? "
Dimas mengangkat alisnya.
" Aku lupaaaa dimana naruhnya " senyum Dimas.
" Heeeisss, sekarang beneran Presdir... " sindir Ashe.
" Hahaha, maaf Bu...! Nanti aku tanya Nasrul dulu...! "
" Baiklah, aku ganti baju aja dulu ya Bie... "
" Iya. Aku bikinin teh... " usap Dimas penuh perhatian.
Ashe mengangguk tersenyum dan kembali ke kamar. Ia berganti baju. Sementara Dimas menyelesaikan membuat dua gelas teh. Selesai Dimas pun mandi.
" Bajumu Bie... " Ashe menunjuk baju yang sudah disiapkannya.
" Tumbeeen... ? "
" Hiiii.... " Ashe malah menunjuk barisan giginya.
Dimas hanya tersenyum, mengusap kepala Ashe.
" Kamu ngapain ? " tanya Dimas sambil mengenakan bajunya.
" Ini laporan bulanan yang harus keluar print out nya besok Bie... "
" Kenapa udah terima laporan....? "
" Kan ini urgent... "
" Ini lebih urgent... " Dimas menunjuk bagian bawahnya hingga Ashe melengos kesal.
" Apaan sih...? Tadi malem kan udah berapa kali...? Aku juga butuh makanan untuk ngeladenin kamu Bie.... " sungut Ashe manja.
" Hahaha... iya deh...! Makan dulu yang banyak ya...! "
" Terusss....?? "
" Ladenin yang banyak juga...! "
" Deeehhh... " cibir Ashe membuat Dimas tersenyum.
Ting...
Ashe menoleh ke Hp Dimas yang sengaja di taruh diatas kasur di samping Ashe berdiri.
" Siapa Bu ? "
" Nasiruuul.... "
" ????? "
" Nasruuul....! Kenapa kamu suka ganti - ganti nama orang ? " protes Ashe meraih Hp Dimas.
" Motor abang ganteng di dalam garasi...! Tadi malem aku masukin " Ashe membacakan bunyi pesan Nasrul.
Ashe dan Dimas langsung bertatapan. Mereka tertawa bersama.
" Aku beneran Presdir kan ? " kata Dimas.
" Nggak jelas...!! " bangkit Ashe.
Dimas hanya tertawa dan mengikuti Ashe keluar kamar. Dimas menyambar jaket dan menutup bahu Ashe.
" Masker....! " ulur Dimas.
Ashe menerimanya.
Dimas keluar lebih dahulu setelah mematikan semua lampu. Ia berjalan ke garasi dan benar saja, ada motor Dimas di sana.
Ashe berdiri di teras depan dan menatap ke jalanan. Suasana luar mulai terang. Seperti biasa depan rumah Dimas mulai rame dengan ibu - ibu yang belanja. Mereka menatap penasaran ke arah rumah Dimas.
Ashe bersedekap tangan dan berpaling, berusaha mengalihkan perhatian dari ibu - ibu. Membetulkan jaket dan maskernya.
" Kunci pintu Nyonyaaa....! " titah Dimas pelan.
Ashe mengiyakan dan mengunci pintu.Menaruh di tempat biasa. Mereka keluar dengan berboncengan diikuti pandangan dan bisik - bisik para ibu.
" Nganten baru nggak usah jadi ratu julid... " sindir Dimas begitu melewati para ibu - ibu itu.
Ashe menepuk bahu Dimas.
" Nggak usah mengungkit macan tidur... " sahut Ashe.
" Macannya itu sensitif tahu nggak...! "
" Macanmu... "
" Hahhahaha.... "
*****
Nasrul bengong, duduk ngelangsar bak pengemis di teras. Sudah 2 jam menunggu. Nasrul hampir frustasi. Dua bosnya ini tak ada yang bisa di hubungi. Pak Fajar sudah meneleponnya berkali - kali untuk feeting baju resepsi dua hari lagi. Tapi kini dua bos muda yang lagi kasmaran itu masih saja belum muncul.
Nasrul terlentang kesal. Sudah hampir jam 09 : 00 wib.
" Ya ampuuun...! Kemana sih mereka ! Ya kali mereka berdua di culik...! " gerutu Nasrul kesal.
Berkali - kali mengecek Hpnya.
" Gue bisa di retek Tuan Besar ini.... " Nasrul masih aja mengerutu.
Sesaat, Faisal datang. Nasrul langsung duduk di tempat. Faisal datang menghampiri.
" Kenapa ? " tanya Faisal.
" Kayaknya gue bakal dipecat... " keluh Nasrul.
" Astagfirullahaladzim... " Nasrul menepuk jidatnya. Lupa kalau dia itu pintar.
Bagaimana tidak, Nasrul terpilih oleh Dimas dari sekian banyak calon assisten yang di rekomendasikan Pak Fajar. Dimas hanya melihat sekilas saja pertama tanpa melihat cv. Cv itu kepo keduanya Dimas.
Nasrul mengeluarkan Hpnya dan mengutak utik sesuatu. Sesaat ia tersenyum dan kembali rebahan di lantai. Faisal tersenyum menatapnya.
" Apaaa ? " senyum Faisal.
" Aku pikir mereka di culik pesaing bisnis... "
" Ya eloo...! Loe yang pinteran dikit kenapa ? Adik ipar kok dikibulin mulu...! Nyawa loe kan taruhannya... " omel Faisal.
" Diiih, kenapa gue yang diomelin mulu... ? Loe kan juga bertanggung jawab Bang Isal..." Nasrul bela diri.
" Bentar lagi juga diomelin... " Faisal ikut duduk di lantai. Diteras tak ada kursi buat duduk. Sengaja.
Benar saja, Dimas dan Ashe muncul dengan berboncengan motor.
" Kenapa kalian ? Berantem...? " sapa Dimas sambil melepas helmnya.
Ashe juga melepas helmnya dan berjalan mengikuti Dimas.
Nasrul langsung duduk lagi.
" Loe kemana sih Bang....? Telpon gue nggak diangkat - angkat ? Loe ngebiarin gue dibunuh Tuan Besar ya... " Nasrul langsung ngomel.
Lupa siapa yang diomelin.
Ashe tertawa terbahak. Dimas cuek.
" Bodo amaat... " Dimas mengambil kunci dan melewati Faisal dan Nasrul.
" Pak, tolong kira - kira dong nyiksa saya...! Masak ada pengantin mau resepsi ilang... " kojot Nasrul.
" Gue udah tua nggak mungkin ilang.... " sahut Dimas cuek dan duduk begitu saja.
Faisal hanya tersenyum.
" Si Bos ini... " keluh Nasrul tanpa beranjak.
" Syukur loe di kerjain.... " ledek Ashe sambil berjalan masuk.
" Sumpah, saya nggak ada wibawanya sama Pak Dimas...! Saya udah bukan bawahan lagi... " sendu Nasrul.
" Lebay loe... " senyum Faisal.
" Tahuuu tuh ! Udah kebanyakan drama kayak Kiwil... " timpal Dimas.
Nasrul memanyunkan bibirnya. Seiring waktu, mereka sudah tak bisa bersikap formal lagi. Lupa bawahan dan atasan.
" Pak Dimas, keselamatan Bapak itu ada di tangan saya...! Itu tanggung jawab saya... " Nasrul masih saja.
" Di tangan Tuhan kalii... " sahut Dimas.
Faisal tertawa. Nasrul mendesah kesal di eyel Bosnya terus yang nggak mau ngalah.
" Kalian bertiga tuh sama gilanya... " ucap Ashe.
" Aku lebih gila dari mereka Bu... " ralat Dimas.
" Kamu gila... ? "
" Iya. Gila karena mencintaimu... " kerlip Dimas nakal.
Ashe tersungut digombali Dimas. Faisal dan Nasrul mendadak pura - pura tak ada di sana.
" Pergi kapan untuk feeting bajunya Rul ? " Dimas berdiri di pintu.
" Sekarang... " sahut Nasrul.
" Laporan mana ? "
" Bang Isal...! " tunjuk Nasrul.
" Siaap. Sudah masuk surel...! Dicek dulu Mas sambil jalan... "
" Kenapa kamu malah perintah aku...? " tatap Dimas pada Faisal. Mulai ikut kena prank.
Faisal bengong. Nasrul terkikik.
" Kan itu sudah bukan ranah saya Mas...? " bela Faisal.
" Oiya....? "
" Haaaaah.... "
" Hahahha... udah ayo berangkat. Nih, kunci mobil. Gue juga pingin jadi Bos yang punya assisten dan pengawal beneran.. " lempar Dimas.
Nasrul dan Faisal bengong.
" Kita emangnya apa sih ? " tanya Faisal bingung.
Nasrul juga sama bengongnya hanya menatap Faisal tanpa menjawab pertanyaan Faisal.
" Buuu, ayo Buu....! " panggil Dimas berbalik lagi.
Ashe tengah duduk di dalam. Ia malas keluar saat di kompleks JAE.
Dimas menarik tangan Ashe dengan senyum lebar.
" Kalau tak nyaman di sini, kita bisa pulang... " kata Dimas.
" Coba jangan baca suasana sih... " kekeh Ashe.
" Kamu pasti pingin ngamukk kan di sini... ? "
" Sok tahu Bie... " Ashe menyambut tangan Dimas.
Mereka keluar. Ibu - ibu yang suka nongkrong dan ngibah di seberang rumah Dimas memperhatikan mereka tapi tak berani bersuara.
****
Nasrul dan Faisal mengantar sekaligus mengawal Dimas dan Ashe feeting baju. Setelah itu mereka cek lokasi resepsi. Nasrul tak mau kehilangan jejak. Ia sudah begitu pusing dengan tingkah Bosnya yang akhir - akhir ini mulai nyleneh dan suka ilang.
Selesai, mereka kembali mengantar Dimas dan Ashe kembali ke kompleks JAE.
" Bu.... " tarik Dimas saat mereka masuk rumah.
Nasrul dan Faisal masih di depan.
Ashe menoleh.
" Peluuk dong....! Sehari ini belum pelukk.... " Dimas merentangkan tangan.
Ashe tersenyum di sudut bibirnya. Pelan tapi pasti masuk dalam pelukan Dimas. Dimas mencium kening Ashe.
" Kamu jangan ngamuk di rumah, aku mau monitoring sebentar... "
" Emangnya aku psikopat... ? "
" Hehe...! Bukan gitu, itu mata musuh udah siapkan senjata noh di depan... "
Ashe tertawa.
" Apalagi mantanmu tuh, mulutnya lemes kayak mak - mak pkk, mulutnya segede drum.... "
" Hahhahaaha.... kenapa kamu perhatian sekali sih...? "
" Kamu baru tahu kalau aku perhatian... ? " kedip Dimas. Menatap Ashe.
" Enggak juga sih ! " senyum Ashe.
" Ya udah, aku pergi dulu Bu...! Kamu jangan kemana - mana... "
" Enggak. Aku mau kerja... "
" Kamu harusnya yang aku kerjain... "
" Diih apaan sih ! Gantian kali kalau malem... "
" Haha...! Ya udah... "
" Kamu nggak ganti baju...? " tanya Ashe.
" Aku tidak mau terlihat tampan dan berduit. Jadi aku akan berlaku seperti gembel.... "
Ashe mencibir. Dimas tersenyum dan mencium bibir Ashe singkat.
" Tukang nyolong... " gerutu Ashe.
" Aku emang suka nyolong. Apalagi nyolong yang ini... " toel Dimas ke dada Ashe hingga membuat Ashe melotot kesal.
Dimas tersenyum mengusap rambut. Sekali lagi mencium kening Ashe.
" Oke. Aku pergi ya. Sebelum nanti aku nyolong yang lain..." kedip Dimas nakal.
Ashe yang masih dalam pelukan Dimas wajahnya mulai panas. Topik Dimas selalu saja berujung di ranjang. Dimas melepas pelukannya dan berjalan keluar. Ia menghampiri Faisal dan Nasrul. Berangkat monitoring beberapa cabang.
Sementara Ashe menutup pintu. Ia tak mau keluar rumah. Mulutnya sedang malas berdebat dengan siapa pun, apalagi ibu - ibu kompleks rumah Dimas.
Jadi setelah Dimas pergi, Ashe membuka laptop dan mulai kembali menerima laporan dari Pak Argo.
" I see your monster, I see your pain. . . "
Ashe melirik Hpnya. No tak di kenal masuk. Ashe membiarkannya saja.
" I see your monster, I see your pain .. "
Hpnya kembali berbunyi dengan nomor yang sama. Ashe masih fokus di depan laptopnya.
" I see your monster, I see your pain.... "
Ashe masih saja cuek. Berbunyi sekali lagi hingga Ashe merasa terusik.
Bie : Sayaaaangg...
Bu : Haaaaah, kenapa ?
Bie : Kenapa lama banget ngangkatnya....?
Bu : Lagi BAB....
Bie : Booooong...
Bu : Hahhhahaha.... maaf....!!
Bie : Mau makan apa sayaaang ?
Bu : Hokben...
Bie : Siaaaap....! Minumnya apa ?
Bu : Kamu kerja di restoran sekarang Bie ?
Bie : Hahaha... Iya. Buruan pesen. Ini mau delivery tahu nggak...
Bu : Es jeruk....
Bie : Nggak ada....
Bu : Air kaliiii....
Bie : Hahahhaha....! Iyaa. Kamu lagi ngapain ? Masih selesain laporan ?
Bu : Masih Bie....
Bie : Nggak keluar....?
Bu : Aku lagi males berantem...
Bie : Masya Allah... jangan berantem mulu...
***Bu : Hehe... aku mengikuti alur saja Bie....!
Bie : Aku nggak mau waktu aku pulang kamu lagi jambak - jambakan sama ibu - ibu kompleks...
Bu : Nggak janji....
Bie : Hedeeeeeh.....
Bu : Hehehehe....
Bie : Ya udah, aku beli dulu hokbennya...! Tunggu ya sayang***...