Perfect Boy

Perfect Boy
55. Pergi Melulu



Ashe mehembuskan nafas panjang sebari menata baju Dimas dalam koper. Ia bahkan lupa bertanya berapa lama Dimas pergi. Pasalnya pernikahan mereka semakin dekat. Ashe tak ingin menangis. Ia kesal tapi juga sedih. Begitu saat Dimas jauh darinya, seolah ada yang hilang dari dirinya. Terdengar pintu kamar terbuka, namun Ashe tak menoleh.


Dimas tersenyum, mendekat.


" Aku hanya seminggu Bu... " kata Dimas.


" Seminggumu itu 15 hari... " sahut Ashe.


" Hahahha...! Mana ada begituuu... " Dimas tahu Ashe kesal.


" Kamu mau ikut...? " imbuh Dimas mendekat. Duduk di samping Ashe yang ndemprok di lantai berasal hambal lembut.


" Enggak.... "


" Kenapa ? Kita bisa nyicil bulan madu... " masih saja Dimas menggoda.


" Kan aku bilang, aku nggak mau dicicil... "


" Oiya... ? " Dimas mendekat dan langsung memeluk Ashe dari belakang. Hingga Ashe kesulitan melipat baju.


" Awas Bie... " Ashe merasa risih karena Dimas mengendus - endus lehernya.


Dimas tak berhenti. Makin jadi. Tangannya juga mulai nakal.


" Bieeee.... " keluh Ashe.


" Kamu wangi sekali sih...? " Dimas masih mengendus - endus.


" Tangannya jangan kemana - mana...! Nanti ada yang bangun tak ada yang bisa niduri... " kata Ashe.


" Kamu kan bisa aku tiduri...? "


" Nggak bisa... "


Dimas mengenyit dahi. Menempel pipinya pada pipi Ashe.


" Aku lagi ada tamuuu.... " ucap Ashe.


" Diiiih.... " Dimas langsung lemas dan ambruk ke belakang.


Ashe menoleh penuh senyum.


" Orang mau pergi nggak di kasih bekal... " sungut Dimas.


" Pergi aja melulu.... "


" Terus aku gimana ini ? "


" Puasaaaa.... "


" Romadhooon emang...? "


" Iyaaaa.... " sahut Ashe santai.


Dimas berguling memeluk pinggang Ashe bak anak kecil.


" Ya ampuuun....! Percuma punya istri... " Dimas mengeluh.


Ashe hanya tersenyum sambil mengusap lengan Dimas. Puas membuat Dimas kesal.


" Sabaaaar ya Pak.... " ucap Ashe.


" Aku tidur sama Nasrul aja malam ini... " kata Dimas masih kesal meski tetap nemplok pada pinggang Ashe.


" Nasrul pulang ke rumahnya... " sahut Ashe.


" Ya udah sama Rozi aja... "


" Palingan entar kamu di tendang Rozi... " balas Ashe.


Dimas mendesah. Benar kata Ashe, adiknya itu emang rese'. Udah berasa kayak rumah sendiri aja disini.


" Ya udahlah....! Tidur sama Bu aja...! Meski cuma bisa meluk doang... " kata Dimas akhirnya.


" Siiiip...! Itu pilihan paling tepat Pak...! "


" Iyalah... ! Masih untung bisa meluk sekarang...! Bisa pegang yang dulu di pamerin tiap malem, tiap pagi...! Bikin pusing... " Dimas malah menggerutu.


" Heeeeh... apa itu? " pancing Ashe.


" Apaaaa ? Jangan pakai piyama... " sungut Dimas.


Ashe tertawa puas.


" Pusing mana ? Mikirin pameran atau perusahaan...? " toleh Ashe.


" Mikirin pameranlah...! Kapan itu bisa dinikmati...? " Dimas mengusap mukanya kasar.


" Hahahhhahahha.... " Ashe malah terbahak.


" Ketawa aja terussss.... "


" Sabar buat ntar Pak.... "


" Entar kapan ? "


" Malam pertama...! "


" Yakiiiin...? "


" Nggak janji juga sih...! Kalau tamunya datang lebih cepat ya sabaaaaarrr laggiiii.... " kata Ashe.


Dimas kembali lemas. Mendesah kesal diiringi kekehan Ashe.


" Apa yang mau kamu bawa besok...? " tanya Ashe.


" Biasa Bu....! Bajunya jangan banyak - banyak... "


" Kamu pergi sama siapa ? "


" Nasrull... "


" Katanya Nasrul kamu suruh pulang kampung.... ? "


Dimas mengenyit, tak ingat itu. Mendadak ia mendengar suara Nasrul di luar. Dia pasti baru pulang dan kini tengah mengantar Silia. Dimas langsung bangun dan setengah berlari keluar kamar Ashe diiringi tatapan bingung Ashe.


****


" Rulll.... "


Nasrul menoleh mengenyit dahi. Hatinya langsung kesal melihat bosnya memanggil.


" Kenapa Pak...? Pasti nggak ngenakin ini... " kata Nasrul manyun.


" Emanng.... "


" Kenapa Pak ? "


" Kamu ikut aku ke Kalimantan besok... "


Nasrul langsung lemas. Dimas tersenyum.


" Cinta itu butuh perjuangan dan duit... " bisik Dimas.


Nasrul mendesah kesal. Tapi juga menyadari Dimas tak bisa pergi tanpa membawa dirinya. Nasrul akhirnya tersenyum. Toh, semua akomodasi dia juga yang mengurusnya.


" Pak Dimas betul...! Perjuangan saya masih panjang...! Tak bisa langsung menikah besok kayak Pak Dimas... " kata Nasrul.


Dimas mengangguk penuh senyum.


" Itu kamu pinter... "


" Kalau saya nggak pinter, Pak Dimas mana mau jadiin saya assisten... " sahut Nasrul.


" Tahu aja kamu...! Ya udah, kamu mau pulang atau tidur sini...? "


" Kenapa ? Bapak mau tidur sama saya...? " Nasrul malah balik tanya menggoda Bosnya.


" Ogaaaah....! Gue mau tidur sama Ashe aja...! " sahut Dimas berbalik. Masuk ke kamar Ashe diiringi tawa Nasrul. Mana mungkin Nasrul pulang, orang Pak Fajar langsung manggil dia buat ikut main karambol lagi.


****


Dimas masuk kamar Ashe lagi. Ashe sudah selesai membereskan koper Dimas. Dimas langsung rebahan di kepala ranjang. Tangannya meraih dompetnya.


" Terus siapa yang jadi ikut kamu ? " tanya Ashe sambil duduk di depan Dimas. Mengikat rambutnya yang hanya sebahu.


" Nasruul...! Faisal kasihan...! Kalau ntar istrinya lairan nggak ada yang nemenin... " sahut Dimas meletakkan dompetnya. Berisut mendekati Ashe dan mengambil alih mengikat rambut Ashe. Ashe hanya tersenyum.


" Ini ATM dan credit cardku Buu...! " kata Dimas menyerahkan dua kartu itu bersamaan.


" Buat apa ? " kenyit Ashe.


" Itu nafkahku secara lahir...! Batinnya kan belummm.... " senyum Dimas membuat Ashe membulatkan matanya.


" Terus kamu gimana ? " tak urung Ashe bertanya juga.


" Aku punya sendiri...! " Dimas menunjukkan kartu lain yang berjejer di dompetnya.


" Deeeh... pamerrr....! Secara...! Si Tuan tajir melintir... " sahut Ashe.


" Kan kamu Nyonya tajir melintirnya... " balas Dimas penuh senyum.


" Kan aku juga punya uang sendiri Bie... "


" Itu kan uang kamu...! Itu dariku... " peluk Dimas.


Ashe tersenyum.


" Terima kasihhh.... " Ashe mencium pipi Dimas yang membuat Dimas kelimpungan dan ambruk di kasur.


" Ya Alllah... kenapa aku selalu bersabarrr.... " umpat Dimas.


" Hiiish....! Baru dicium aja udah nggak karuan...! " sungut Ashe. Beranjak menyimpan kartu dari Dimas di dompetnya.


Ashe langsung menggeser posisi Dimas dengan tubuhnya. Menyelimuti dirinya.


" Kamu mau tidur ? " tatap Dimas tak percaya.


" Iyalah...! Aku ngantuk...! " Ashe berbalik dan langsung memeluk Dimas. Membuat Dimas langsung membeku.


Dimas memejamkan mata meski tak mengantuk. Tak berani bergerak. Ada sesuatu yang terasa hangat menempel di sikunya. Sesuatu yang membuatnya frustasi. Dimas menoleh pada Ashe yang telah memejamkan mata.


" Jangan menyiksaku Buuu.... " rengek Dimas pelan. Pasalnya Ashe makin meringseng padanya.


Ashe tersenyum mesti matanya terpejam.


" Kenapa kamu tegang sekali....? " tanya Ashe.


" Hiiihiihii... " Ashe melepas pelukannya. Merasa kasihan dengan Dimas.


" Orang lain tuh seneng kalau di peluk pacarnya...! Kamu malah bak batu... " Ashe memunggungi Dimas.


Dimas tersenyum.


" Kalau aku bergerak, berarti aku harus mandi malam ini...! Kau tega sekali... " sungut Dimas.


" Hahahhaa.... " Ashe malah terbahak.


" Dasaaaaarrrrr.... " umpat Dimas bangun.


" Hahhahaha.... "


" Udahhh tidur...! Mertuamu berangkat pagi besok...! " kata Dimas.


" Kamu mau kemana ? " toleh Ashe.


" Ke Jepang...! " sahut Dimas. Ia mencium kening Ashe dan membetulkan selimut Ashe. Berisut turun dari tempat tidur.


" Hmmm...! Jangan malem - malem... " sahut Ashe.


" Iya...! Aku bawa Hp ya... " kata Dimas.


" Ehmmm.... "


Dimas tersenyum. Ia mematikan lampu kamar Ashe dan menutup pintu kamar. Dimas keluar menuju " Jepang ". Tempat para pria yang tak bosan main karambol itu. Dimas ikut bergabung dengan mereka.


*****


Dimas dengan malas membuka mata. Baru 5 menit dia terlelap. Suara pergerakan Ashe membuatnya kembali terjaga. Dimas memutar badan dan memeluk Ashe.


" Kenapa ? " tanya Dimas.


" Pinggangku pegeel...! Perutku sakit... " sahut Ashe.


Dimas membuka mata. Meraih Hp untuk melihat jam. Jam 01 : 25 wib. Dimas menyalakan lampu tidur.


" Sini aku gosokin minyak... " kata Dimas. Ia bangun dan membuka laci meja. Ashe menyimpan peralatan minyak gosok di sana.


Dimas kembali dan duduk di belakang Ashe. Mulai memijat pinggang dan perut Ashe perlahan.


" Udah enakan belum....? " tanya Dimas.


" Lumayan Bie.... " sahut Ashe tetap membelakangi Dimas.


Dimas kembali berbaring dan tetap memijat pinggang Ashe hingga Ashe terlelap lagi. Dimas memeluk Ashe dari belakang dan kembali tidur.


****


" Ibu hati - hati di jalan ya...! " peluk Ashe saat Bu Izun berpamitan.


" Iya Mbak...! Kamu juga baik - baik di sini ya...! Sampai ketemu nanti.." sahut Bu Izun.


Ashe mengangguk. Ia merasa sedih karena keluarga Dimas kembali pulang kampung. Beberapa hari, rumnya sangat ramai karena kehadiran mereka. Ashe mencium tangan Pak Kibul.


" Bapak pulang dulu ya Mbak... " pamit Pak Kibul.


Ashe mengangguk mengiyakan. Silia dan Rozi mencium tangan Ashe. Tampak Bu Izun berpelukan dengan Bu Fatimah. Pak Kibul berpelukan dengan Pak Fajar.


" Sudaaah...! Kalian itu sekarang besanan...! Nggak usah lama - lama pelukannya... " celetuk Rozi membuat dua pasang orang tua itu melotot ke arahnya. Bu Izun dan Pak Kibul siap menerkamnya.


" Heeeh... inget...! Mata uang rupiah bisa cair hanya olehku.... " ancam Rozi.


" Oiya...! Abangg....! Blokir aja tuh ATMnya... " sela Ashe membuat Rozi nyengir. Dimas terkekeh sebari memeluk bahu Ashe.


" Ya sudah...! Kami semua pamit ya...! Sampai ketemu nanti...! " pamit Pak Kibul.


Dimas mencium tangan Bapak dan Mamaknya.


" Hati - hati Pak...! Mak...! " kata Dimas.


" Iya Dim. Kamu juga hati - hati ya kerjanya...! Jagain Mbak Ashe...! " sahut Bu Izun.


" Iya Mak...! " Dimas membukakan pintu mobil.


Silia dan Rozi pamitan pada Pak Fajar, Bu Fatimah,dan Ashe. Nasrul tersenyum saat Silia pamit. Lino akhirnya yang di tugaskan ikut pulang dan membantu persiapan pernikahan Dimas di kampung.


" Bang, aku pulang dulu ya... " Rozi memeluk Dimas.


Dimas menepuk pundak Rozi.


" Hati - hati bawa mobilnya ya...! " sahut Dimas.


Rozi mengangguk. Melepas pelukannya pada Dimas dan mencium tangan Dimas. Silia juga memeluk Dimas dan mencium tangan Dimas.


" Lino...! Siap bertugas...? " toleh Dimas pada Lino.


" Siap Pak...! " senyum Lino.


Dimas mengangguk. Melambaikan tangan saat Rozi menjalankan mobilnya. Demikian juga Pak Fajar dan Bu Fatimah.


" Hati - hati ya Bang...! " lambai Pak Fajar.


" Sampai ketemu lagi Mbak... " imbuh Bu Fatimah.


Pak Kibul dan Bu Izun membalas lambaian tangan Pak Fajar dan Bu Fatimah sebari mengiyakan.


" Pak Dimas....! Saatnya berangkat... " goda Nasrul.


Dimas menoleh sebari melotot. Nasrul terkekeh. Ashe berjalan masuk ke rumah mengikuti Bu Fatimah.


" Papa mau tidur lagii... " seru Pak Fajar.


" Kenapa tidur lagi...? Ayamnya itu diurusin... ! Kerja...! Udah berapa hari bolos melulu....? " semprot Bu Fatimah.


Dimas tertawa keras dibuat - buat. Pak Fajar langsung lemes sambil berjalan ke belakang. Ini memang masih sangat pagi.


" Mama kejam sekaliii... " gerutu Pak Fajar.


" Itu tanda sayang Papa...! " sahut Dimas di belakang Pak Fajar.


" Papa kan ngantuk Dim...! " kata Pak Fajar.


" Siapa suruh bergadang melulu... ?" kembali semprotan nyamuk sang istri beraksi.


Dimas terkekeh. Ashe hanya tertawa melihat Papanya kena omel.


" Kasih makan ayam dan burungnya Dim... " kata Pak Fajar.


" Jangan Dim....! Kamu tidur lagi aja...! Kamu kan mau berangkat juga... " celetuk Bu Fatimah membuat Dimas tertawa senang. Namun membuat Pak Fajar manyun.


" Liat aja kamu Dim....! Ashe lebih galak dari Mama kamu... " kata Pak Fajar.


" Apaaaa ? Kenapa aku di bawa - bawa... ? " Ashe yang duduk di meja makan tak terima.


" Hahaha... ! Bapak pulang, sekarang nggak ada yang belaiin... " kata Dimas.


Ujungnya ia mengikuti Pak Fajar juga ke belakang. Tempat ayam dan burung piaraan Pak Fajar. Bahkan sekarang tambah kolam gurami dan lele. Entahlah, saat koleganya sibuk hobi golf, Bos satu ini sibuk dengan piaraannya.


Ashe kembali ke kamar. Sarapan pagi telah tersedia sejak tadi subuh. Bahkan Bu Fatimah sibuk membungkuskan makanan untuk bekal orang tua Dimas di jalan.


Ashe memasukkan laptop dan beberapa keperluan Dimas. Juga menyiapkan baju yang akan di pakai Dimas juga. Tak lama Dimas masuk dan menutup pintu. Ia langsung memeluk Ashe dari belakang.


" Minum air putih yang banyak, biar pinggangnya nggak sakit dan mensnya lancar... " kata Dimas seraya memijat lembut pinggang Ashe.


Ashe tersenyum.


" Iyaa...! "


" Terus jangan sering - sering ketemu Adit...! Faisal akan standby selama aku ke Kalimantan... "


" Iya Tuan Presdir baweeeellll.... "


Dimas mencium pipi Ashe. Ashe berbalik dan memeluk Dimas. Dimas mengusap rambut Ashe.


" Jangan terlihat ganteng di sana...! Kalau perlu jangan mandi.... " omel Ashe menutupi sedihnya.


" Weeehhh....! Repottt iniii.... " Dimas terperangah meski tertawa.


" Aku nggak mau gantengmu dinikmati para gadis - gadis... " sungut Ashe.


" Baiklah " wanita " pencemburu... " Dimas mengacak rambut Ashe dan mencium kening Ashe.


" Ingaaaat...! Wanita pencemburu ini menuntut tanggung jawab... "


Dimas mendelik tak percaya menatap Ashe.


" Kamu hamiiil...? " tuduh Dimas.


" Issssssh....! Memangnya kamu sudah membuatnya.... " tepuk Ashe.


Dimas nyengir.


" Gimana mau bikin...? Orang " kresek - kresek " melulu.... " sungut Dimas menggoda Ashe.


Hanya dengan banyak membuat Ashe kesal, Ashe tak akan terlalu sedih di tinggal Dimas. Meski itu ditinggal kerja.


" Itu pertahanan paling ampuhh... " elak Ashe.


" Huuuuuh.... alesaaaan.... " keluh Dimas.


" Udah sana mandi....! " dorong Ashe di dada Dimas.


" " Sarapan " dulu dong Buu.... " manja Dimas.


" Tadi udah....! "


" Itu iciip... "


" Definisi icip kamu itu apa sih....? " keluh Ashe.


" Banyak alesan ya.... " tarik Dimas hingga Ashe betul - betul menempel pada dirinya. Dimas mencium kening, hidung dan bibir Ashe.


" Haaaaah....! Nikmat sekali sarapan pagi ini... " kata Dimas dengan ekspresi yang membuat Ashe mendengus kesal meski hatinya berbunga - bunga. Dimas memang super perhatian dan lembut pada Ashe. Meski mulutnya kadang lebih tak karuan, tak bisa berhenti menggoda Ashe.


*****


Ashe memeluk erat Dimas saat Dimas hendak masuk mobil. Dimas kembali memeluk Ashe dan mencium kening Ashe. Pak Fajar langsung di tarik Bu Fatimah masuk rumah karena tak ingin mulut suaminya berulah.


Faisal duduk dibelakang kemudi penuh senyum. Nasrul pura - pura cuek karena tak ingin Ashe mengamuk.


" Aku berangkat dulu ya Bu...! Hati - hati bawa mobilnya...! " pesan Dimas.


Ashe mengangguk dengan muka sendu. Namun tak ingin menangis. Dimas mengusap kepala Ashe sebelum masuk mobil. Ashe melambaikan tangan begitu Faisal menjalankan mobilnya hingga mobil hilang dari pandangan Ashe.