
Ashe selesai mengambil kue di toko langganan Bu Fatimah. Ia keluar dan mengendarai mobil menuju arah pulang. Namun ia ingin mampir dulu ke supermarket. Ashe ingin cemilan. Sekedar menghilangkan stres dan mengumpulkan nyawa hanya ada satu penolongnya. Memamahbiak. Bahkan ciuman Dimas pun masih belum ampuh untuk membuat Ashe terkoneksi 100 %.
Ashe keluar menenteng sekantong cemilan. Tadi parkiran penuh. Kini hanya tinggal mobilnya dan beberapa motor yang tersisa. Ashe menuju mobil. Sekilas matanya menangkap sepasang suami istri duduk didepan supermarket. Ashe mengenyit dahi. Ada sesuatu yang menyelinap di hatinya. Pikirannya penuh tanda tanya. Ia menatap sepasang suami istri yang nampak berbincang namun Ashe menangkap kebingungan mereka.
Ashe menyimpan belanjaannya dan mengikuti kata hatinya kedua. Masuk mobil dan menyalakan mesin. Namun sejenak ia mematikan mesin mobilnya lagi. Kata hati pertama Ashe menang. Ia turun mobil dan menghampiri sepasang suami istri itu.
" Assallamualaikum...! Bapak sama Ibu bukan orang sini ya ? " tanya Ashe lembut dengan badan sedikit membungkuk.
Sepasang suami istri itu menengadah. Menatap Ashe. Mereka langsung berdiri. Karena sedari tadi tak ada yang menyapa mereka.
" Iyaa Mbak...! Kami nggak tahu jalan pulang. Hp kami mati...! Nggak bisa telepon anak untuk jemput...! Bahkan lupa bawa uang...! " sahut sang istri.
Sang suami menunjukkan Hpnya yang mati.
" Maamak sih, biasanya koe seng ngawa duit kok... " senggol sang suami.
Ashe tersenyum. Sekilas ia familiar dengan bapak itu.
" Bapak sama Ibu sama sekali nggak inget alamat anaknya ya...? " tanya Ashe.
" Enggak Mbak. Kami baru dari kampung tadi pagi...! " sahut sang suami.
" Iyaa. Tadi niatnya mau jalan - jalan malah ilang... " si istri menimpali.
" Tadi kami udah pinjem charge di dalam, tapi petugasnya nggak punya...! Ada counter tapi kita malah dikira mau nyuri... "
" Ya ampun. Bapak inget no hp anaknya nggak ? " tanya Ashe kembali.
" Enggak... " kata si Bapak.
Ashe termenung sejenak.
" Ya udah, tunggu sebentar ya Pak, Bu... " kata Ashe yang kemudian masuk kembali ke supermarket. Ia membeli teh dalam botol dan juga roti.
Sesaat ia kembali.
" Pak, Bu. Ikut saya saja ya. Nanti saya pinjamin charge. Nanti bisa telepon anaknya untuk minta jemput... " kata Ashe.
Suami istri itu berpandangan. Ashe tersenyum.
" Saya nggak berniat jahat Bu. Ayo, ikut saya. Rumah saya agak jauh dikit. Nanti kalau hpnya nggak dicharge, gimana Bapak sama Ibu mau pulang...? "
Mereka tersenyum dan mengangguk. Ashe refleks mengandeng tangan si Ibu dan menuntunnya ke arah mobil Ashe. Ashe membukakan pintu dan menyuruh mereka masuk.
" Pak, Bu. Ini makan dan minum dulu. Sekedar penghilang haus...! " kata Ashe saat sudah di dalam mobil.
Ia menyerahkan kantong plastik yang tadi dia beli.
" Terima kasih Mbak....! Kamu baik sekali. Coba kalau anak saya belum punya calon. Pasti akan saya jodohkan sama anak saya... " kata si Ibu.
Suaminya menyenggol lengan istrinya.
" Mamak ki...! " katanya.
Ashe hanya tersenyum.
" Saya ikhlas menolong Bu. Lagi pula saya sudah punya calon... " sahut Ashe.
" Waah, beruntung sekali calonmu Mbak. Kamu cantik dan baik sekali... " puji si Ibu.
" Hehe... biasa saja Bu... " sahut Ashe sambil menjalankan mobilnya.
*****
" Sudaaah... tenang dulu Dim. Lino dan Ramzi juga udah bantu nyari kok... " kata Pak Fajar.
Dimas duduk di ruang tivi nampak gelisah. Ia ingin ikut mencari orang tuanya. Tapi Pak Fajar menyuruhnya untuk diam dan membiarkan ajudan Dimas dan ajudannya yang bekerja.
" Baru juga mau lamaran, udah ilang aja " gerutu Dimas.
Pak Fajar terkekeh.
" Mau lamaran atau enggak, kamu tetep nikah sama Ashe. Tetep mantu Papa... " sahut Pak Fajar.
" Gimana ? Udah ada kabar belum...? " Bu Fatimah muncul membawa minum.
" Belum Ma...! " sahut Dimas.
Bu Fatimah menepuk pundak Dimas.
" Nanti pasti ketemu... " kata Bu Fatimah.
Dimas mengangguk.
Pak Fajar menghubungi Ramzi yang memimpin pencarian orang tua Dimas. Namun, Ramzi mengatakan belum juga menemukannya. Tak lama, terdengar suara mobil masuk. Pak Fajar dan Dimas tergesa melihatnya. Rozi turun bersama Silia.
" Assalamualaikum... " salam Rozi sambil mencium tangan Pak Fajar.
Silia meniru Rozi. Pak Fajar mengerut dahi.
" Ini yang paling kecil Om... " kata Rozi seolah mengerti.
" Oiya....! Ini adik kalian. Cantik sekali kamu nak...! Siapa namanya ? " tanya Pak Fajar ramah.
" Silia Om... " sahut Silia.
" Ayo masuk dulu. Ada Tante di dalam... " kata Pak Fajar sambil menuntun Silia masuk.
Dimas dan Rozi mengikuti dibelakangnya.
" Ma, ada tamu nih... " panggil Pak Fajar.
Bu Fatimah muncul dengan senyum. Rozi mencium tangan Bu Fatimah.
" Siapa ini ? " tanya Bu Fatimah.
Silia tersenyum dan mencium tangan Bu Fatimah.
" Silia Tante. Adiknya Mas Rozi... " ucap Silia.
" Kakak loe Rozi doang.... " celetuk Dimas.
" Hehehe... adiknya Abang Dimas juga... " kekeh Silia.
Bu Fatimah tersenyum. Merengkuh bahu Silia.
" Ohh, ini adiknya Dimas dan Rozi. Pasti kamu nyesel punya kakak mereka ya... ! Baduuung.... " sindir Bu Fatimah.
" Hehehe... iya Tante. Mereka usil... " sahut Silia mulai berani karena Bu Fatimah begitu hangat.
" Emaaang... " provokasi Bu Fatimah melihat Rozi dan Dimas kesel.
Pak Fajar menghela nafas.
" Papa mau minggir, sebelum kena sasaran.... " kata Pak Fajar.
Rozi dan Dimas.
" Tante masak nggak ? Aku laper. Dari bangun tidur belum makan. Kesel nyariin Bapak sama Mamak nggak ketemu - ketemu. Udah tua, kenapa bisa ilang juga ? Apa mereka nggak bisa baca tulis ? Mereka kan dukuh ? Heeedeeeeh.... gimana coba....? " cerocos Rozi.
Pak Fajar dan Bu Fatimah tertawa.
" Tante yakin, nanti kalau orang tua kamu ketemu. Kamu bukannya meluk nangis - nangis. Tapi kamu omelin.... ! "
" Iyaaaa.... "
" Ya udah sana makan. Silia diajak.... " kata Bu Fatimah.
" Punya adik kok nggak ada akhlak... Loe itu malu - maluin sih Ozeeen " keluh Dimas sebari duduk.
" Bang, gue nggak tahu kenapa ya..? Kalau disini tuh, urat malu gue putus...! Beda kalau di tempat orang ! Urat malu gue nyambung lagi.. " sahut Rozi panjang lebar.
" Kalian itu disini saja sih ! Papa suka liat kalian berantem.... " celetuk Pak Fajar.
" Mama juga iyaa. Jadi rame rumah ini. Nggak cuma ditinggal main PUBG mulu ma Papa.... " tatap Bu Fatimah tajam pada Dimas.
Dimas nyengir.
" Iyaaa Ma.... " sahut Dimas.
Pak Fajar menahan tawa. Dimas menggaruk tekuknya yang tak gatal. Memikirkan ucapan Rozi yang menurutnya ada benarnya juga. Bagaimana orang tuanya bisa hilang ? Mereka orang yang paling dituakan satu pedukuhan. Kalau warganya tahu, apa nggak malu mereka.
*****
Sesaat mereka terhening. Suara mobil masuk garasi rumah Pak Fajar mengusik mereka.
" Ashe itu yang pulang.... " kata Pak Fajar.
Ia hafal dengan suara mobil Ashe. Benar saja, Ashe masuk sebari mengucapkan salam dan membawa tentengan. Membawa roti yang tadi disuruh ambil oleh Bu Fatimah.
Yang didalam rumah membalas salam Ashe dan menatap ke arah Ashe yang nampak menunggu sesuatu.
" Ayo Pak, Bu. Masuk....! " kata Ashe.
" Assalamuallaikum.... " salam mereka.
Tiga anak ini yang sejak tadi menatap Ashe terperangah. Apalagi Rozi. Langsung meninggalkan kursinya dan memastikan telinganya tak salah dengar.
" Bapaak.... Mamaaaak.... " pekiknya. Antara sewot, kesel dan kaget.
Ashe bingung. Dimas dan Silia juga kaget. Tapi yang lebih kaget lagi, sepasang suami istri yang punya rumah dan yang baru ditemukan Ashe ini. Mereka berpandangan tak percaya.
Pak Fajar dan sang Bapak bertatapan nanar. Pak Fajar yang sedari tadi duduk begitu melihat sepasang suami istri ini langsung berdiri menjingkat tak percaya.
" Abaaaang.....???? " pekik Pak Fajar.
" Fajaaaaar.... " sahut sang Bapak.
Pak Fajar memburu ke arah lelaki yang masih berdiri agak jauh darinya. Menubruknya dan menangis tersedu - sedu dalam pelukan lelaki itu.
Anak - anak jelas saja kebingungan. Tak tahu apa hubungan mereka.
Ashe mendekati Dimas. Dimas menatap Ashe dan merangkul pinggang Ashe. Entah apa yang ada di pikiran mereka.
Bu Fatimah mendekati suami dan tamu tak terduganya itu. Matanya juga tampak berkaca - kaca. Ia dan sang Ibu berpelukan pula. Seolah mereka melepas rasa rindu mereka masing - masing.
*****
Author lelah mengetik. Silahkan pembaca yang setia halu dulu dengan lanjutan ceritannya. Author mau berkebun dulu 🤣🤣🤣.
Biar penasaran. 🤗🤗🤗
*****
Pak Kibul memeluk erat Pak Fajar. Yang dipeluk masih saja tersedu - sedu. Seolah tak ingat mereka punya anak yang sudah dewasa dan tengah menonton drama mereka.
Pak Fajar melepas pelukannya. Menghapus air matanya. Pak Kibul tersenyum.
" Abaaang apa kabar ? Kenapa pergi begitu saja...? " masih juga Pak Bos ini bercucuran air mata meski ia berusaha menahannya.
Pak Kibul tersenyum.
" Aku tidak pergi kemana pun. Aku selalu di hati kamu...! " sahut Pak Kibul memegang kedua lengan Pak Fajar.
Pak Fajar menghapus air matanya lagi. Menoleh pada Dimas dan Ashe yang kebingungan penuh tanda tanya.
" Ini Bapak sama Ibu kamu Dim ? " tanya Pak Fajar.
" I- i - y -aaa.... " baru kali ini Dimas terbata menjawabnya.
Ia tak bisa berpikir jernih saat Pak Fajar memanggil Bapaknya dengan sebutan " Abang ".
Pak Fajar tersenyum.
" Ini orang tua kamu yang ilang Ozeeen ??? " toleh Pak Fajar.
" Iyaa Om. Udah tua kok ilang.... " anak durhaka ini malah ngomel.
Pak Kibul dan Bu Izun terkekeh.
" Kamu nemu di mana Ashe ? " kini gantian Ashe yang disasar pertanyaan Pak Fajar.
" Di depan al*****t Pa.... " sahut Ashe bingung. Nampaknya pikirannya sama dengan Dimas. Ashe mengeratkan pegangannya pada lengan Dimas.
" Terima kasih. Kamu sudah menemukan mertua kamu sendiri... " ucap Pak Fajar membuat semua bingung.
Kali ini Pak Kibul dan Bu Izun juga bingung. Dimas dan Ashe berpandangan.
" Apa maksud kamu Jar ? " tanya Pak Kibul.
Pak Fajar terkekeh.
" Ayo duduk dulu Bang, Mbak Zun. Aku ini tamu sekarang di sini. Yang punya rumah sudah pulang... " kata Pak Fajar membuat anak - anak ini makin tak mengerti.
" Papa... saya bingung beneran lho. Apa yang aku tahu ? " tanya Dimas.
Pak Kibul menoleh.
" Kok koe manggil Fajar " Papa " Dim ? " Pak Kibul bingung.
Pak Fajar tersenyum.
" Anakmu itu mantuku Bang ! " sahut Pak Fajar.
" Heeeh....?? Mantu gimana ? " tak kurang 1 poin pun bingungnya Pak Kibul. Malah nambah 10 poin.
" Dimasss....." Bu Izun ingin ngomel. Tapi Bu Fatimah membawanya duduk.
" Udaaah. Ayo duduk dulu makanya... " tuntun Pak Fajar.
Pak Kibul mengikuti tarikan tangan Pak Fajar. Dimas dan Ashe ikut duduk. Rozi sedekap masih kesal tapi penasaran juga. Silia juga duduk. didekat Bu Izun.
" Siapa yang mau jelasin...! Mama atau Papa aja ? " tanya Pak Fajar pada istrinya.
" Papa aja....! " sahut Bu Fatimah.
" Baiklah....! Sebelumnya. Rozi, kasih tahu Nasrul dulu. Bapak sama Mamakmu udah ketemu...! "
" Ya Om....! "
" Papa....! "
" Ya Paa.... "
Rozi mengambil Hpnya dan menghubungi Nasrul.
" Kenalin dulu Bang. Itu Ashe, anakku satu - satunya...! " tunjuk Pak Fajar pada Ashe yang duduk disebelah Dimas.
Pak Kibul dan Bu Izun menatap Ashe.
" Aku tadi pingin punya mantu kayak Mbak Ashe... " celetuk Bu Izun.
Dimas menepuk jidatnya.
" Kalau Dimas mantumu... berarti Mbak Ashe mantu kita Bu.... " timpal. Pak Kibul.
" Iyaaa.... " sahut Bu Fatimah.
Pak Kibul dan Bu Izun berpandangan.
" Alhamdullilah.... " ucap mereka berdua kompak.
Dimas menatap jengah.
" Nahhh lho.... makannya jangan cuma banggain Muning doang.... ! Apa dia itu...? " sewot Rozi.
Ashee menatap tajam Rozi. Rozi langsung mengkerut.
" Opo to koe ki...! Kuliah terus. Kapan koe duwe pacar ? " semprot Bu Izun.
" Mamaaaak. Tahu nggak siapa yang biayain kuliahku...? Aku bisa dibunuh tahu nggak kalau pacaran ? Mamak nggak ketemu aja, aku dicekek juga....! " omelan Rozi ngalahin Maknya.
Pak Fajar dan Bu Fatimah tertawa. Kelakuan Rozi ceplek dengan Bu Izun.
" Ozeeeen..... " lerai Pak Fajar.
" Iyaaa Paa.... " sahut Rozi langsung diem.
" Sudah Pa. Jelasin, kenapa Papa meluk Bapak ampe nangis - nangis begitu ? " tanya Dimas masih penasaran.