Perfect Boy

Perfect Boy
58. Gagal Total



Tengah hari, Dimas, Faisal dan Nasrul sampai di Jakarta. Sopir Pak Fajar menjemput mereka di bandara. Faisal duduk di depan dengan sang sopir. Sementara Nasrul di bangku kemudi dengan Dimas.


" Aku pulang kemana ini ? " tanya Dimas bingung.


" Di kompleks JAE...! " sahut Nasrul.


" Kompleks JAE gimana ? Kamu udah bersihin semuanya... " sahut Dimas.


Nasrul terkekeh.


" Ya udah. Pulang ke rumah saya Pak....! " sahut Nasrul.


" Saking bucinnya sampai bingung sendiri...! Nggak tega ngerjain istriii.... " seru Faisal.


" Biariin aja sih...! " sewot Dimas. " Kamu pulang langsung tancap gas...! Gue menahan kangen ampe ubun - ubun.... "


" Ubun - ubun yang mana itu...? " ledek Faisal.


Dimas mendelik. Menabok kepala Faisal kesal. Faisal tertawa.


" Kamu pikir ubun - ubunku ada berapa ? Kamu itu yang ubun - ubunnya dua... " sewot Dimas.


" Hahahaha....! Ya kan yang satu khusus buat istri Mas... " sahut Faisal.


Nasrul menatap mereka berdua kesal.


" Yang satu, khusus untuk gue tabok Pak... " sahut Nasrul sambil menabok kepala Faisal pelan.


" Hahaha... " Dimas tak bisa menahan tawanya.


" Kamu berani nabok yang khusus buat istrinya nggak ? " tantang Dimas mulai nyleneh.


Faisal langsung menoleh kesal. Ekspresi Nasrul begitu nakal. Sopir Pak Fajar hanya tersenyum karena kelakuan menantu bosnya dan para assistennya itu.


" Bapak berani berapa ? " tantang Nasrul balik.


" Memang kamu mau nawar berapa ? "


" Heeeh... emang saya gigolo... " sewot Faisal.


Nasrul dan Dimas tertawa terbahak.


" Tanpa di bayar pun saya berani Pak...! " ucap Nasrul langsung dengan tangan isengnya. Hanya Faisal lebih cepat menangkapnya.


" Tak bisaaa...! Hanya istriku yang bisa menodaiku... " tahan Faisal tegas.


" Hahahhaa.... " Dimas tertawa. Demikian sopir Pak Fajar.


" Pak Dimas mulai nggak beres.... " umpat Faisal.


Dimas menutup mulutnya menahan tawa.


" Kenapa kalian itu bisa seperti itu sih Pak... " celetuk sopir Pak Fajar.


" Maklum Pak...! Jomblooo kelamaan... " sahut Nasrul.


" Loe aja yang jomblooo... " sahut Faisal tak terima.


" Enakk aja...! Gue punya pacarrr... " Nasrul lebih tak terima.


" Siapa pacar loe ? " tanya Faisal.


" Adiknya Pak Dimas... " Nasrul langsung menutup mulut.


" Ohhhh... udah jadian...? Di rumah Pak Dimas di kampung banyak KKN yang ganteng - ganteng...! Kamu nggak takut di tikung...? " ledek Faisal.


Nasrul cemberut. Dimas menahan tawa.


" Langsung patah hati Bang Isal... " celetuk Dimas.


" Biarin mikiiiir... " ucap Faisal.


" Auuuu ahhhh... " sungut Nasrul.


" Udaaaaah berisiiiiikkk.... " ucap Dimas.


" Bapak juga berisikkk.... " sahut Nasrul berani.


Dimas mendengus kesal.


" Siapa yang siapin keperluanku...? " tanya Dimas.


" Assisten tercinta Mas Dimas lah, siapa lagi...! Kan aku mau nengook anakku..! Ya ampunn...! Udaah 3 minggu, udah beku ini... " gerutu Faisal.


Dimas dan Nasrul bertatapan. Tertawa tertahan.Faisal mulai gesrek juga lama nggak ketemu istrinya.


" Sabaaar Pak...! " kata Nasrul.


" Aku udah nggak sabar Rul...! " kata Faisal.


" Biarin aja Rul...! Kita ngalah sama orang tua... " bela Dimas.


" Kasihan sekali kalian berdua... ! Salah siapa mudaa ?" lledek Faisal.


" B*******k emang loe Bang... " sungut Nasrul.


" Pak, antar kita ke rumah Nasrul dulu ya...! Dan jangan bilang sama Bu Ashe kalau saya udah pulang...! " kata Dimas pada Pak sopir.


" Baik Pak. Tadi Pak Fajar juga sudah pesan... ! Mobil Pak Dimas juga saya taruh di rumah Pak Nasrul...!" sahut sang sopir.


" Ya Pak... ! Terima kasih.... " sahut Dimas.


Sopir Pak Fajar membelokkan mobil ke arah perumahan tempat tinggal Nasrul. Nasrul dan Dimas turun. Sementara Faisal diantar ke rumahnya sendiri. Biarkan dia puas reuni dengan istrinya.


****


Nasrul menyilahkan Dimas masuk setelah menurunkan bawaan mereka. Dimas memang tak segan turun tangan. Seorang perempuan tengah baya datang menyambut mereka.


" Ibuku Pak.... " kata Nasrul.


Dimas tersenyum mengulurkan tangan menyalami sang Ibu kemudian mencium tangannya. Nasrul merasa rikuh, pasalnya itu Bosnya malah cium tangan dengan ibunya.


" Saya Wantini....! Ibunya Nasrul...! " katanya memperkenalkan ramah.


" Saya Dimas Bu...! " sahut Dimas.


" Ini Bosku Bu...! " Nasrul memperkenalkan diri.


" Oh ya...! Mari silahkan masuk...! Bos kamu masih muda sekali Rul..." kata Bu Wantini.


" Terima kasih Bu...! " kata Dimas mengikuti Nasrul seraya menarik kopernya.


Muncul gadis muda dengan rambut panjang yang tampak manis dan cantik. Ia tertegun menatap Dimas. Langsung terhipnotis dengan ketampanan Dimas. Dimas langsung feeling nggak enak. Ia memasukkan tangannya dalam saku celana dan menoleh ke arah Nasrul seolah bertanya.


" Adik sepupu saya Pak...! Dia dari Bandung...! " kata Nasrul.


Sang gadis tersipu. Dimas hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Mengikuti Nasrul ke sebuah kamar.


" Rul....! " panggil Dimas saat mereka baru melangkah ke kamar Nasrul.


Nasrul menoleh. Ia seolah mengerti. Nasrul memang assiten kepercayaan Dimas yang sangat dipercaya dan sangat memahami Dimas. Ia tahu Dimas tak nyaman sejak pertama melihat sepupunya.


" Tunggu di sini saja...! Saya cari kunci mobil dulu... " kata Nasrul.


Dimas mengangguk. Nasrul keluar seraya menutup pintu dan terdengar ia menanyakan kunci mobil pada ibunya. Tak lama ia kembali ke kamarnya.


" Ayo Pak...! " kata Nasrul. Ia mengendong tas Dimas dan menarik koper Dimas.


Dimas mengikuti di belakang Nasrul.


" Laah... ini pada mau kemana ? " tanya Bu Wantini bingung. Ia keluar dari dapur membawa minuman di nampan.


" Maaf Bu, tadinya saya mau nginep sini...! Cuma mendadak ada yang penting sekali yang harus saya kerjakan... " elak Dimas.


" Oh, begitu ya...? Ini saya sudah buatkan minum lho... " kata Bu Wantini sambil meletakkan minum di meja.


" Nanti aja Bu...! Ini darurat... " Nasrul nambah alesan.


" Maaf ya Bu...! Saya pamit dulu... " kata Dimas mencium tangan Bu Wantini.


" Oh ya udah...! Nggak papa Mas....! " sahut Bu Wantini.


Dimas tergesa keluar dan masuk ke dalam mobil. Nasrul tengah memasukkan barang bawaan Dimas ke dalam bagasi mobil.


" Maaf ya Pak...! " kata Nasrul seraya memasang sabuk pengamannya. Nasrul duduk di belakang kemudi. Sementara Dimas di kursi penumpang.


" Iya nggak papa...! " sahut Dimas.


" Terus kita kemana ? " tanya Nasrul.


" Pulang ke rumahlah Rul...! Udah gagal total rencananya... " keluh Dimas.


Nasrul tersenyum. Ia menjalankan mobil meninggalkan rumah menuju rumah Pak Fajar.


" Saya nggak tahu kalau sepupu saya dateng...! Maaf ya, Bapak jadi nggak nyaman....! " kata Nasrul.


" Ya udah nggak papa. Batal sudah rencananya. Siapkan akomodasi ke Jogja. Tanyakan ke Dema untuk Bu Ashe... "


" Siap Pak...! Nanti kayaknya ada yang balas dendam nih...! " kekeh Nasrul.


" Apaaa ? " delik Dimas.


" Nggak keluar kamar ampe besok saya dobrak...! Hahhaha... "


" K*****t loe ya....! Awas aja kalau iseng...! Tikungan buat Silia gue tembok loe....! " ancam Dimas.


" Hahhahahaha..... Kalau tikungannya di tembok, berarti kesempatan hanya untuk saya dong...! " sahut Nasrul.


" Berisik kamu...! Berjuanglah sampai payahh... "


" Aku yakin, Silia seperti abangnya yang ganteng di belakangku ini. Memegang komitmen cinta pertama.... ! Hahahha... "


Dimas manyun tapi tak melakukan kekerasan. Nasrul terkekeh melihat ekspresi Bosnya lewat kaca spion.


Tak lama, mereka sampai rumah Pak Fajar. Dimas langsung berlenggang turun dan masuk rumah. Meninggalkan Nasrul yang penuh senyum karena berhasil membuat Bosnya kesel. Dimas mengucapkan salam. Bu Fatimah muncul dari belakang menjawab salam Dimas.


" Laaah.... kamu kok pulang diem - diem aja...? " sambut Bu Fatimah.


" Iya Ma...! Biar jadi kejutan buat Ashe...! " sahut Dimas sambil mencium tangan Bu Fatimah.


" Rencana aslinya gatot Buu... " celetuk Nasrul yang muncul membawa bawaan Dimas.


" Heeeeeh....! " Bu Fatimah mengenyit dahi tak mengerti.


" Jangan bilang Ashe kalau aku pulang ya Ma...! " kata Dimas.


" Rencana apa emang ? " tanya Bu Fatimah.


" Membuat Bu Ashe kesel hingga hari pernikahan... " celetuk Nasrul.


" Tapi ada yang tak kuat... " imbuh Nasrul.


" Ada aja kalian ini...! " sahut Bu Fatimah.


" Kamar Bapak dimana ? " tanya Nasrul.


Dimas menunjuk kamar Ashe.


" Itu kamar Bu Ashe. Bapak ngaku - ngaku aja... " sahut Nasrul.


Dimas melirik tajam mengayunkan kakinya hendak menendang Nasrul. Nasrul terkekeh seraya menghindar. Bu Fatimah tertawa.


" Kalian baru sampai kan ? Makan terus istirahatlah ya...! Kalau perlu apa - apa minta Bik Tum. Mama lagi ribet di belakang... "


" Ya Ma... " sahut Dimas menuju kamarnya.


****


Ashe masih duduk di mejanya. Ia menyelesaikan berkasnya tanpa sadar hingga jam berapa ini. Ashe menatap ponselnya. Tumben sekali. Hpnya sampai sesiang ini diam diri dan tak ada Dimas yang sibuk mencarinya. Ashe penasaran. Ia menekan tombol hijau. Namun Dimas malah merijecknya. Ashe. mengkerut kening. Sebuah pesan mendadak masuk.


Bie : Bentar sayaaang.... ! Aku lagi rapat 😘😘😘😘😘


Ashe tersenyum. Meletakkan kembali Hpnya dan melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu, Nasrul lagi di strap di kamar oleh Dimas.


" Bapak maunya gimana ? Jangan jadi abg labil dong Pak...! Kalau mau ngerjain Bu Ashe ya harus tega...! Susah sih...! Bapak ini gudang perhatian sih... " Nasrul malah yang ngomelin Dimas.


" Emang iblis loe itu ya....! Kerjanya menghasut muluuu... " Dimas berkacak pinggang.


" Hahhahaha.... ! Ya udah. Mau saya anterin ke Bu Ashe sekarang...! Bapak udah kurus tuh nggak ketemu Bu Ashe 3 minggu... " si Nasrul mulutnya ketularan Dimas.


" Aku nggak mau ketemu Bu Ashe di kantor... "


" Maunya dimana ? Di hotel....? Saya reservasikan.... "


Dimas mendelik kesal.


" Kamu pikir kamar ini buat aapa ? " delik Dimas membuat Nasrul terkekeh.


" Terus jadinya gimana ini ? " cecar Nasrul.


" Ya udah. Susul Bu Ashe...! Kamu makan dulu sana. Aku mau mandi... " kata Dimas mengusir Nasrul.


Nasrul mengangkat tangan penuh hormat. Tak berhenti bercanda. Dimas mengacungkan tinjunya hingga Nasrul terburu kabur menahan tawa.


Ashe memimpin rapat terbatas di divisinya. Semua tanggung jawabnya di serahkan pada Pak Argo, sang manager. Ashe memilih untuk mengambil cuti. Ia ingin istirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan dan fokus pada acaranya sendiri. Pernikahannya tinggal 3 hari lagi. Ia dan Dimas malah masih ngulik dokumen kerja yang tak ada habisnya.


Ashe membereskan mejanya di bantu Dema. Mendadak Hp Dema berbunyi.


" Bu, maaf sebentar ya...! " kata Dema.


Ashe mengiyakan. Dema berjalan keluar dari ruangan Ashe dan menerima telepon.


" Siapa Dem...? " tanya Ashe.


" Oh... ibu saya Bu....! " bohong Dema, padahal yang telepon Nasrul.


Ashe terdiam sejenak sambil terus membereskan dokumennya.


" Semua sudah siap kan Dem ? " tanya Ashe.


" Siap Bu. Tinggal berangkat saja. Baju juga sudah di packing dan Rozi sudah konfirmasi dengan perias di sana. Semua beres Bu... " sahut Dema.


" Kamu juga sudah beres dengan Rozi...? " goda Ashe.


" Apa sih Bu....? " Dema tersipu.


" Sudah ada kemajuan belumm...? " Ashe tambah meledek.


" Isssh, Bu Ashe... " sewot Dema.


Dema tersenyum simpul.


" Cepat naikkin status levelnya ? " kata Ashe.


" Emang siaga bencana ? Suruh naikin level...! "


" Siaga bencana cinta ! "


" Emang Bu Ashe...! Aku kan cuma nunggu Rozinya aja...! Masak cewek duluan...! " sewot Dema.


" Tenang aja kamu. Rozi itu cuma nunggu lampu ijo...! "


" Dariiii...? "


" Dari pacarku yang super gantenglah.... "


" Hoeeeek.... "


" Lah, kamu nggak percaya...! Aku tergila - gila. karena saking gantengnya.... "


" Hoeeeek.... hoeeeek.... hoeeeek.... "


" Nggak sopaaan loe sama Bos loe....! "


" Bosku lagi nggak waras.... "


" Kan obatnya belum pulang ! "


" Masaaak....??? "


" Terussss.....! "


" Ya udah, sebahagia Ibu aja dah.... "


"Iyalah. Inget....! Kamu besok dateng pagi - pagi ya ke rumahku... " kata Ashe.


" Suruh ngapain ? Dobrak Ibu....?" tanya Dema.


" Kenapa saya musti di dobrak....? " Ashe balik tanya.


" Ya siapa tahu Ibu tidurnya sungguh terlelap...? "


" Nggak jelas kamuuu....! "


Ashe mengemasi tasnya. Ia bersiap pulang. Dema cemas.


" Ibu mau langsung pulang ? " tanya Dema.


" Iya. Kenapa ? "


" Nggak papa Bu....! " sahut Dema meraih Hpnya. Mengetik sesuatu. Ashe mengenyit dahi. Curiga.


" Kenapa kamu cemas begitu ? Ibumu sakit...? " tanya Ashe.


" Enggak Bu...! "


" Ya udah, saya pulang dulu ya....! "kata Ashe seraya meninggalkan Dema.


Dema menatap Ashe. Ia kesal. Kesal pada yang dia chat dan di telpon nggak nyambung.


******


Nasrul duduk menikmati makan sambil chat dengan Dema. Namun mendadak Bu Fatimah memanggilnya. Nasrul meninggalkan meja makan dan Hpnya begitu saja. Bergegas menuju tempat dimana Bu Fatimah memanggilnya.


Sementara itu, Dimas bukannya mandi meski ia sudah bertelanjang dada. Pak Fajar tiba - tiba meneleponnya. Dimas terpaksa melaporkan pekerjaan dulu sebari mencari jam tangannya. Ashe meletakkannya di meja tempat mereka nonton. Dimas duduk di sofa sambil berbicara pada Pak Fajar. Hampir sejam. Dua orang perencana kejutan untuk Ashe ini seolah lupa karena situasi yang mereka jalani sekarang.


Ashe mengenyitkan dahi saat masuk ke garasi rumahnya. Mazda Dimas terparkir di sana. Kepala Ashe penuh tanda tanya. Ashe parkir begitu saja dan langsung turun dari mobilnya. Tanpa mengucapkan salam, ia masuk. Kecurigaannya memuncak. Ia mendengar seseorang berbicara dari kamarnya.


Ashe bergegas menuju kamar. Seseorang dengan wajah cerah dan penuh senyum menoleh meski ia masih berbicara di sambungan telepon saat Ashe membuka pintu.


" Siapa kamuuu....? " sungut Ashe berkacak pinggang pura - pura marah.


" Heeeh...! Kamu nggak inget...! Aku ini selingkuhan kamu...? Suami kamu pergi ke Kalimantan kan ? " sahut Dimas sambil berdiri. Bersedekap.


" Terus kamu mau ngapain ke sini...? " tanya Ashe.


" Minta jatahlah...! Mumpung suami kamu pergi...! " goda Dimas.


" Najis loe Bie....!! " senyum Ashe.


Ia langsung menghambur ke arah Dimas yang merentangkan kedua tangannya penuh senyum. Ashe langsung masuk ke pelukan Dimas. Mereka berpelukan erat. Tak peduli Dimas yang bertelanjang dada.


Dimas mencium kening Ashe. Ashe menengadah. Dimas beralih mencium bibir Ashe lembut.


" Kenapa nggak bilang kalau pulang ? " tanya Ashe masih dalam pelukan Dimas.


" Tadinya aku juga nggak langsung pulang ke rumah. Cuma ada insiden... " sahut Dimas.


" Insiden apa ? " kerut Ashe.


" Nanti aku cerita ! Kenapa kamu kurusan...? " Dimas memegang pundak Ashe dan melihat tubuh Ashe bak melihat barang dagangan.


" Mikirin suami nggak pulang - pulang....! " sungut Ashe.


" Udah, biarin aja suami kamu itu...! Yang penting kan ada akuuu... " senyum Dimas mengoda. Mencium bibir Ashe cepat.


Ashe mendelik.


" Hissss.... ! " sungut Ashe.


" Kenapa ? Nggak suka dicium...? Mau minta yang lain ? " Dimas selalu gatel tak menggoda Ashe.


" Apaaan sihh Bie... ? " Ashe meronta karena Dimas memeluknya erat.


Dimas. mendengus - dengus tak jelas di pipi Ashe membuat Ashe kegelian.


" Bajumu kemana ? " Ashe memukul dada Dimas pelan.


" Kita nggak perlu pakai baju....! " kerling Dimas yang langsung mengangkat tubuh Ashe. Ashe jadi merinding sendiri mendengar perkataan Dimas.


" Heeeeeehhhh....! Mau ngapain Bie...? " tepuk Ashe.


" Stttttt.... diem aja. Jangan teriak - teriak...! Ntar suami kamu pulang...! Bisa berabe ntar... " kata Dimas sambil meletakkan Ashe ke tempat tidur. Melemparnya lebih tepat.


" Aduuuuuuhhhhh.....!! " Ashe mengeluh.


Dimas langsung menindih Ashe dan menatap wajah Ashe.


" Kamu mau ngapain ? Kesambet apa di pesawat...? " tepuk Ashe pipi Dimas.


" Kesambet kamulah...! Makanya liat kamu jadi kayak orang kesurupan....! " senyum Dimas mendekat dan mencium kening Ashe. Kemudian mencium hidung Ashe.


Ashe memejamkan mata saat Dimas mencium bibirnya.


" Paaaaaak......! Jadi nyusulll Buu Ash..... " Nasrul langsung shock.


Dimas menoleh kesal. Nasrul muncul di pintu kamar Ashe mendadak.


" Maaaf.... maafff.... " Nasrul langsung salting dan menutup pintu.


" Hahhahaa.... " Ashe menutup mulut menahan tawa.


" Haiissss....! Gagal lagii.... " sungut Dimas.