
Deal. Sapi Pak Kibul jadi di beli Jurangan Adil. Bu Izun senang bukan kepalang menerima segepok uang dari Pak Kibul.
" Heees... ! Jadi Jutawan... " ledek Bu Fatimah.
Sejak tadi ternyata Bu Fatimah mencuci baju dibelakang. Ia bahkan sempat ngobrol dengan Jurangan Adil.
" Sttt, diem aja. Nanti kita shooping...! Di pasar...! Hehehe... "
" Beli apa ? Paling beli kangkung... "
' Tahu aja kamu... ! Lagian kamu udah jadi Nyonya kenapa nyuci sendiri...? " tanya Bu Izun.
Bu Fatimah tengah menjemur.
" Lupa nggak bawa pembantu... " sahut Bu Fatimah😱
" Asal jangan lupa bawa Fajar saja... "
" Heeeh bukan...! Atm... "
" Hahhhhahhaaha.... " mereka berdua tertawa kayak orang gila.
Ashe menggeleng kepala melihat tingkah Mama dan Ibu mertuanya.
****
" Keluar nggak Bu...? " tanya Dimas melihat Ashe di dapur. Ia tengah membuat teh.
" Kemana ? " toleh Ashe.
" Kemana kek..! Jalan aja... "
" Ada tujuannya nggak ? Males kalau nggak ada... "
" Beli cemilan aja yuk...! Mumpung belum siang... "
" Naik apa ? "
" Kamu mau naik apa ? "
" Naik motor aja Bie...! "
" Ya udah, buruan pakai baju... " kata Dimas.
" Heeh, dari tadi kamu melihatku telanjang...? " seru Ashe.
" Hehehe...Iya...! Masih kebayang soalnya " cengir Dimas.
" Otak mesum.... " gerutu Ashe seraya berjalan ke kamar.
Dimas sendiri malah mengikuti Ashe dan menutup pintu. Dimas menarik tangan Ashe dan langsung memeluknya.
" Alesannya apa ini ? " terkah Ashe.
" Deeeeh....! Jahat banget pakai nanya alesan...! Alesannya tadi malam belum puas... " sahut Dimas tanpa melepaskan pelukannya.
" Terus kita mau pelukan aja atau jadi keluar ? " senyum Ashe.
" Maunya sih pelukan "
" Capek pelukan kamu pasti minta yang lain... "
" Tahu aja kamu sayaaang... "
" Terusss mau sekarang....? "
" Kamu menantangku...? " tatap Dimas.
Ashe terkekeh. Menepuk lengan Dimas dan minta melepas pelukan. Dimas pura - pura lemas.
" Haaaa... batreku habis, belum di charge... " keluh Dimas ambruk di kasur.
" Lebayyy,... " celetuk Ashe yang tengah mengganti baju.
Dimas langsung membalik badan seketika. Mukanya langsung kecewa.
" Charge dulu kek Bu.... "
" Hiissss.... " Ashe menghentakkan kakinya seraya menoleh Dimas kesal.
Yang dikeselin malah ngekeh aja nggak jelas.
" Kamu mau pakai celana pendek begitu aja Bie...? " tanya Ashe.
" Iyaa...! Biar seksiii.... " kerling Dimas seraya bangun.
" Diiih.... "
" Kenapa ? Emang kamu nggak liat punyaku begitu mulus... " pamer Dimas menaikkan celananya. Memamerkan paha putihnya.
" Hoeeeek.... " ledek Ashe.
" Haaaah....! Kamu kenapa sayang ? Kamu hamil ya...? " buru - buru Dimas menyonsong tubuh Ashe. Memeluk Ashe.
Ashe langsung mendelik kesal. Dimas terkekeh dan mencium bibir Ashe.
Kemudian melepaskan pelukannya.
" Kamu itu sungguh moduss...! " delik Ashe.
" Hahhaha...! " Dimas mengenakan celana panjangnya dan mengambil jaket. Tak lupa dompet dan Hpnya.
Ashe menunggu dengan membetulkan rambutnya.
" Ayokk... " Dimas mengulurkan tangan. Ashe menyambutnya. Mereka pergi naik motor keluar kampung menuju jalan raya.
****
Ashe sibuk memilih snack di tukang jualan di sebuah pasar. Dimas bersedekap tangan menunggu di belakangnya.
" Aku mau itu...! " tunjuk Ashe.
Dimas mengikuti telunjuk Ashe yang mengarah pada tukang mie ayam.
" Kenapa hidungmu bisa tahu kalau itu mie ayam enak ? " heran Dimas.
" Feelingg.... " sahut Ashe.
" Heeeh...! Sungguh Bu Ashe... ! Aku pesan sekarang aja ya... " ucap Dimas sambil menyerahkan dompetnya pada Ashe.
Ashe menerimanya meski bengong. Aku kan CEO,, hee, duitku belum berkurang.
Dimas berjalan ke arah tukang mie ayam dan memesan. Ashe selesai dan membayar belanjaannya dengan uangnya sendiri. Ia kemudian menyusul Dimas.
*****
Tengah hari mereka berdua pulang. Dimas masuk dan menenteng belanjaan mereka. Ashe nggak cuma beli cemilan, tapi juga beli buah - buahan.
" Kalian dari mana ? " tanya Bu Izun begitu Ashe masuk rumah.
" Beli jajan Bu... " sahut Ashe.
Bu Izun melonggok ke arah Dimas yang baru masuk dan menenteng belanjaan. Dimas langsung meletakkannya di meja tamu.
Dimas langsung duduk berselonjor kaki di kursi ruang tamu.
" Kamu kok ngajak Dimas belanja Mbak. Dia pasti khilaf... " ucap Bu Izun.
" Kan nurun dari emak... " sahut Dimas.
Ashe hanya hanya tersenyum dan masuk kamar meletakkan tasnya. Ia kemudian keluar lagi. Membuat minum untuk Dimas.
" Papa jadi ke puncak Saka...? " tanya Dimas begitu Pak Fajar muncul.
" Jadi...! Ini udah mau berangkat. Mana Ashe...? " tanyanya.
Ia dan Bu Fatimah udah rapi. Pantesan Mamak rapi, batin Dimas.
" Lagi bikin minum...! " sahut Dimas.
Nasrul dan yang lain juga udah rapi.
" Papa sama Mama mau kemana ? " tanya Ashe yang muncul membawa minum untuk Dimas.
" Masih penasaran sama mantu yang nggak jadi dulu... " ledek Pak Kibul.
" Ngawurrr....! Orang aku mau tunjukin mantu beningku padanya... " sanggah Pak Fajar yang langsung di sambut tawa yang lain.
" Aku udah bosen di pamerin melulu sama Papa...! " sewot Dimas.
" Terus kalian nggak mau ikut...? " tatap Pak Fajar.
" Pak Dimas sama Bu Ashe mau di rumah saja Pak. Tak mau diganggu... " celetuk Nasrul.
" Ehemm... ehem.... " dehem Dimas.
Nasrul langsung mengangkat tangannya membentuk tanda V dengan senyum paling manisnya.
" Laporan laporan... " sindir Dimas.
" Siap Pak Bos....! " sahut Nasrul.
****
Thanks banyak - banyak 😍😍😍 buat yang selalu setia menanti update Q 🤭
Jangan lupa tinggalkan jejak,
Biar authornya berasa di lempar sendal, jadi cepet beranjak🤗🤗
*****
" Gimana ? Mau ikut nggak ? " tanya Pak Fajar lagi.
" Kita baru masuk Pa... " sahut Ashe sambil duduk.
Semua orang sudah bersiap pergi.
" Ayolah...! Kan Papa lagi bahagia banget... " ucap Pak Fajar.
Dimas menatap Ashe. Mereka malah saling pandang.
" Ya udah, yuk ikut... " kata Dimas yang langsung di cemberuti Ashe.
Ashe ingin tidur siang, ia begitu ngantuk dan pegal. Efek lemburan Dimas mulai berasa🤭🤭.
" Ya udah, aku ganti baju dulu... " kata Ashe sambil beranjak.
Menuju kamar.
" Papa duluan aja, nanti kita nyusul pakai motor... " ucap Dimas.
" Bener ya...? Kita semua pergi duluan...! Awas kalau nggak nyusul... "
" Iyeee Paapaa... " sahut Dimas.
" Bawa motornya jangan ngebut lho Dim... " pesen Bu Fatimah.
" Ya masak aku nuntun sih Ma... " sanggah Dimas nyengir.
Bu Fatimah melongo. Rasanya ingin memukul kepala mantunya itu.
Dimas mengangkat tangan minta ampun seraya menebar senyum.
Semua orang pergi. Dimas menyusul Ashe ke kamar. Ashe tampak sedang memilah baju saat Dimas menyenggol dagunya.
Ashe menoleh kesal melihat Dimas yang langsung duduk di tempat tidur.
" Kenapa kamu iyain...? Orang aku pingin tidur... " ucap Ashe.
" Pingin tidur atau pingin ditiduri...? " goda Dimas penuh senyum.
" Moduuuus loe Bieeee.... "
" Wkekwkkwk... ! Gerak cepat aja, terus mandi dan nyusul mereka... ! Tengah hari bolong begini ngajakin ke sono sih Papa...! Bayi tua, maunya diturutin melulu... " rayu Dimas setengah mengerutu.
Ashe menoleh tak percaya.
" Kamu juga bayi tua, maunya nyusu melulu... " sewot Ashe.
" Wkekwkkwkk.... ! Kan nutrisi siang hari... ! Ayolah...! Tadi pagi udah nggak mau... "
" Ya bayangin aja. Tadi malem udah berapa kalii... ? " sungut Ashe.
Ia masih saja memilah baju yang mau di pakai.
" Habis bikin nangih sih Bu... " kerling Dimas.
Ia mencolek pinggang Ashe. Namun kemudian menarik tangan Ashe hingga ambruk di sampingnya.
" Saakit tahu Bie... ! Nanti sariawan... " Ashe menutup mulutnya.
Bibirnya terasa panas digigit Dimas.
" Maaf, gemes tahu nggak... " ucap Dimas kembali mencium bibir Ashe lebih pelan.
Bahkan tangannya pun lebih nakal. Namun, Ashe tak bisa menolak pesonanya.
****
Sejam berlalu, dua manusia di rumah itu masih menikmati siang panas mereka. Sepertinya lupa kalau mereka di tunggu.
" Dimas sama Ashe nggak jadi nyusul ini ? " tanya Pak Kibul.
Ia tengah menikmati suasana sambil makan siang dengan anggota keluarganya.
" Nasrull....? " panggil Pak Fajar.
Padahal Nasrul duduk di depannya.
" Iya, Bapaaak...? " sahut Nasrul yang tengah menikmati makannya.
" Telepon mereka, mau nyusul atau di tinggal...? " perintah Pak Fajar.
" Siap Pak.... " Nasrul mengeluarkan Hpnya dan keluar mencari tempat.
Hanya menyisih, dan mengetik pesan. Ia tahu apa yang sedang di lakukan Bosnya. Jadi Nasrul hanya miscall kemudian mengirim pesan.
Drrrrtttt....
Dimas buyar. 🤭🤭🤭
" Siapa ? " tanya Ashe masih dibawah Dimas.
" Biarin aja...! " Dimas melanjutkan kembali yang tertunda hingga ia dan Ashe selesai.
Dimas meraih Hpnya dengan keadaan polos. Menelepon balik Nasrul.
Nasten : Pak Bos, mau nyusul nggak ? Kita udah mau cabut dan
ke Sungai Mudal...!
Big Bos : Ogaaaah....! Bu Ashe nggak mau nyusul. Dia malah tidur !
Dewa bohong mengibarkan bendera penuh kemenangan.
Nasten : Ya sudah, saya mengerti kok.... Hehe...
Big Bos : Kampreeeett loe....
Ashe menendang bokong Dimas dengan tatapan mendelik. Dimas mengerlingkan matanya nakal.
Dimas melempar Hpnya ke kasur dan bergegas mencium Ashe kembali.
Ashe menahan dada Dimas dengan menatap wajah Dimas.
" Mau ngapain ? " delik Ashe.
" Nambah... " kerling Dimas nakal.
" Mumpung nggak ada orang... " kata Dimas sukses membuat Ashe melotot tak percaya.
" Bie...! Gue udah berasa kayak PSK tahuu nggak ? " tatap Ashe.
" Iyaaa...! Kamu PSK nya, aku pengusaha kayanya... hahaha... "
" Set deh ahhhh..... " kesal Ashe meninju dada Dimas.
Dimas terkekeh mencium kening Ashe.
" Sekarang jadinya gimana ? " tatap Dimas lembut.
" Udaahan. Kakiku udah lemes, badannku remuk semua... " Ashe berusaha menarik selimut menutupi dadanya.
" Laaaaah.... " Dimas ambruk di samping Ashe. Ashe secepat kilat menyambar bantal menutupi bagian tubuh Dimas dengan wajah terasa panas.
Dimas terkekeh.
" Bagaimana kamu bisa sangat mesum seperti itu... " delik Ashe.
" Itu karenamu... " colek Dimas penuh godaan.
" Heeeissss.... " sewot Ashe.
" Diih... nggak percaya...! Dulu aku itu kalem... super kalem ! Nggak bakal noleh kalau cuma lihat wanita. Tapi begitu melihat kamu, aku langsung terkontaminasi... " sahut Dimas.
" Enak aja...! Emang aku radiasi...? "
" Iya. Radiasi yang membuat otakku konslet... "
Ashe mendengus kesal. Ia susah payah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ashe mencari bajunya yang tak betah di pakai. Buru - buru mengenakannya. Dimas memperhatikannya dengam sorot penuh nafsu.
Ashe melirik kesal hingga Dimas terbahak. Ashe melempar celana Dimas.
" Cepat pakai, sebelum singamu itu bangun lagi... " gerutu Ashe.
" Gimana nggak bangun, dia lihat " daging " yang empuk dan super lezat... " goda Dimas.
" Tahuu ahhh... " Ashe meninggalkan Dimas sebari menyambar handuk.
Ashe pergi mandi. Dimas tertawa tertahan menatap Ashe pergi. Ia mengenakan celananya dan keluar kamar. Mencari minum.
Drrrrttttt
Smartphone Dimas berbunyi. Papa, gumam Dimas.
Dimas : Ya Pakk...
Yang di seberang agak gregetan saat disapa pakai bahasa formal.
Pak Fajar : Kamu hilang di mana ?
Dimas : Negeri atas angin...
Pak Fajar : Sudah terbang ke sana berapa kali ?
Dimas : Mau 3 kali nggak jadi...
Pak Fajar : Kenapa ?
Dimas : Pramugarinya nggak ada...
Pak Fajar : Pilot payaahhh...
Dimas : Daripada saya dipamerin di mantu gagal, mending
terbang bersama pramugari...
Pak Fajar : Hahhahahaha.... Susul di Heha saja..
Dimas : Tergantung....
Pak Fajar : Sama apa ?
Dimas : Pramugari cantiknya maunya di awan atau di lauttt...
Pak Fajar : Apaaa iniiii....?
Ya sudah, jangan sampai kebanyakan, ntar
gemeteran lututnya...
Dimas : Enak ajaaa....! Papa kali....
Pak Fajar : Hhaaahhahhaha...
Pak Fajar menutup teleponnya dengan derai tawa. Keluarganya menatap Pak Fajar heran. Pak Fajar langsung cuek dan memasukkan kembali Hp ke dalam saku celananya.
" Bagaimana kamu bisa menemukan Dimas ? " kata Pak Kibul setengah menggerutu.
Pak Fajar bahkan jauh lebih dekat dengan besannya itu ketimbang dirinya.
" Aku tak sengaja meliriknya... " sahut Pak Fajar seraya berlalu.
Kini mereka telah sampai pelataran Sungai Mudal. Nasrul dan Faisal tengah mengantri untuk tiket mereka.
" Meliriknya....? " kenyit Bu Izun.
" Iya. Meliriknya di lampu merah...! " ucap Pak Fajar yang langsung di senggol Bu Fatimah.
" Kenapa ? " tatap Pak Fajar heran pada istrinya.
" Sudah masa lalu...! Dimas sudah melewati tahap itu... " kata Bu Fatimah.
" Dia tidak pernah melupakan tahap itu Fat... " celetuk Bu Izun.
" Dimas tidak pernah cerita apa pun kesulitannya. Dia akan menghadapinya dengan semua kenekatannya... " imbuh Pak Kibul.
Pak Fajar tersenyum ke arah Pak Kibul.
" Kamu tahu Bang, dia itu lebih senang berseragam OB....! " kekeh Pak Fajar. " Dan suka menghilang... "
" Kamu pikir Dimas hantu.... " gerutu Bu Fatimah.
Drtttttttt...
Pak Fajar melihat Hpnya. Sinyalnya masih nyantol dengan baik. Ia mengenyit dahi.
***Pak Fajar : Kenapa ?
Dimas : Berhenti membicarakanku Papa...
Pak Fajar : Hahhahhahaaha.....! Nikmati saja harimu, sebelum
aku pisahkan kalian.... hahahaha
Dimas : Papa terkutuk...
Pak Fajar : Hahahahhahha***....
Pak Kibul, Bu Izun dan Bu Fatimah menatap Pak Fajar kesal. Mereka sudah tentu feeling dengan siapa Pak Fajar bicara. Apalagi, mereka berdua memang tak jelas dengan banyak bahasa kode.
****
" Siapa Bie ? " tanya Ashe muncul dari belakang. Ia telah selesai mandi.
" Si Papa Mertua... " sahut Dimas menoleh. Ia memasukkan Hp ke sakunya dan menyodorkan teh pada Ashe.
Ashe menerimanya dan minum perlahan karena panas. Dimas membetulkan rambut Ashe yang memang belum di sisir.
" Kamu mandi dulu Bie... " ucap Ashe seraya meletakkan gelasnya.
Ia menyerahkan handuk pada Dimas yang masih bertelanjang dada.
" Kenapa kamu mandi nggak bawa aku Bu ? " tanya Dimas.
" Buat apa Bie ? " Ashe menangkupkan tangannya pada pipi Dimas.
Dimas mendekat dan mencium bibir Ashe.
" Buat gosokin kamu.... " bisik Dimas dengan mata nakalnya.
" Diiih... lamaaa.... " keluh Ashe.
" Kamu suka yang lama atau yang cepet...? " masih saja Dimas menggoda.
Ashe nampak berpikir.
" Suka yang lama sih.... Hfffpppt... " Ashe menutup mulutnya.
Dimas tertawa renyah mencolek dagu Ashe.
" Hiiisss... " hindar Ashe.
" Lapeerrr nggak Bu ? " tanya Dimas.
" Aku udah laper dari tadiiiii....! Kamu menguras tenagaku.... "
" Siaaap. Mau makan apa ? Tenagaku penuh kok...! Kan habis ngecharge... " goda Dimas.
Ashe mendelik kesal. Bagaimana Dimas bisa begitu mesum saat bersamanya. Berbanding terbalik saat di hadapan orang. Sungguh penuh wibawa.
" Telur geprek... " kerling Ashe.
" 👌. Tunggu aku mandi... " Dimas berlalu kekamar mandi di belakang.