Perfect Boy

Perfect Boy
67. Nyonya Sapi.



Ashe bergegas ke kamar mandi. Sementara Dimas menuju ruang depan dan minum teh.


" Dim.... ? "


Dimas menoleh,


" Kenapa Pa ? "


" Bujukin Mama dong... "


" Buat apa ? Bikin anak lagi...? "


" Papa nggak mau punya anak lagi...! Papa mau cucu aja... "


" Iyaa....! Lagi proses... " sahut Dimas santai. " Suruh bujukin Mama kenapa ? "


" Papa pingin nginep di Glamping Heha View...! Mama nggak mau... "


" Saat Mama bilang nggak mau, saya bisa bilang apa ? " tatap Dimas.


Pak Fajar menatap Dimas memelas.


" Iyaa...! Nanti aku bilang... ! Tapi Nasrul udah beli tiket tuh... " kata Dimas lagi.


" Batalin...! Palingan belinya juga yang ekonomi...! Belajar ngirit dari mana sih dia itu... ? Ganti bos, kok malah nggak ada pengeluaran. Kamu lagi... belajar minum kopi... " Pak Fajar nyerocos.


Dimas nyengir minum tehnya.


" Duitmu itu nggak bakal habis buat foya - foya... " imbuh Pak Fajar.


" Daripada buat foya - foya. Mending duitnya buat ngebantu orang yang lebih membutuhkan Pa. Aku tahu rasanya nggak makan berhari - hari... "


Jleeb.


Pak Fajar tertegun.


" Ya udah. Papa udah transfer uang ke rekeningmu...! Kamu boleh pakai buat apa aja..! Asal jangan lupa, buatin Papa cucu secepatnya... "


" Ya kali Pa. Semalem dibikin besok lair... " Dimas tak mau kalah.


" Hahhahahaha.... " si mantan Bos Dimas malah tertawa terbahak sambil berlalu.


" Papa mau kemana ? " tanya Dimas melihat Pak Fajar ke arah teras.


" Merayu Mamamu lah... " senyum Pak Fajar.


" Hahhahaha.... " tak urung Dimas tertawa, " Aku jamin nggak bakal berhasil... " seru Dimas.


Pak Fajar menoleh dengan tatapan membunuh. Hilang sudah wibawanya saat di keluarga. Dimas tertawa. Ia mencomot gorengan dan duduk makan. Tak lama, Nasrul muncul bersama Silia.


Ia langsung nyengir begitu Dimas menatapnya.


" Kita cuma jalan - jalan Abang... " cengir Nasrul tanpa di tanya.


" Gue nggak nanya... " sahut Dimas.


" Ekspresinya nanya Pak... " si Assisten ini juga udah bagai teman.


" Jangan panggil gue Pak... " sahut Dimas.


" Hehe...! Mau apa Pak.... ? " Nasrul ngeyel sambil duduk di samping Bosnya.


" Jangan pergi dari hidup gue.... "


" Heeehhh.... " tatap Nasrul bingung pada Bos di sebelahnya.


Dimas tak menjawab.


" Saya loyal Pak Dimas....! Saya kan makan dari Pak Dimas dan keluarga. Jadi seumur hidup saya akan mengabdi pada keluarga Bu Ashe dan Pak Dimas... "


Dimas tak menyahut hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


" Tiket beres....? " tanya Dimas.


" 👌. Kelas bisnis... " sahut Nasrul.


" Kenapa kamu nggak beliin saya pesawat pribadi aja... " celetuk Pak Fajar membuat Nasrul dan Dimas mendelik kesal.


" Papa bikin bandara dulu... " sahut Dimas.


" Kan Papa bisa belii... "


" Ya udah. Beli giih... " Dimas frustasi. Sementara Nasrul terkekeh.


Papa mertuanya punya semua fasilitas yang dia inginkan. Rasanya kereta api dan relnya juga akan ia beli.


" Sudah saya booking Hehanya Pak. Kita berangkat nanti jam 17 : 00 wib. Hanya untuk keluarga ini. Besok pesawat jam 10 : 00 wib. Jadi nggak perlu takut ketinggalan pesawat... " lapor Nasrul.


" Saya mau pesawatnya nungguin saya... " ucap Pak Fajar membuat Nasrul dan Dimas bertatapan.


" Terserah Papa deh ! Apa hasil rakornya...? " tanya Dimas.


" Pesona Papa kan tidak di ragukan... " jawab Pak Fajar sambil duduk.


Ia menyeruput kopi yang di bawa Dema barusan.


Dimas nyengir. Nasrul hanya mengaruk tekuknya Ia kadang merasa heran dengan keluarga satu ini. Super kaya tapi kadang kelakuannya nggak mencerminkan orang kaya.


" Mariii sarapan.... " ucap Bu Fatimah setengah berteriak dari arah dapur. Ia membawa mangkuk berisi sayur.


Di belakangnya Bu Izun, Dema dan Silia membantu. Ashe nampak sudah selesai mandi. Ia bergegas ke kamar dan keluar tak lama kemudian. Ashe juga tak segan ikut membantu.


" Ayo sarapan dulu...! " muncul Pak Kibul dari belakang. Ia sudah mandi dan ganti baju rupanya.


Pak Fajar berdiri dan menuju meja makan.


" Lino, Faisal dan Rozi mana ini...? " tanya Pak Kibul karena tak melihat ke tiga orang itu.


" Lino sama Faisal nyuci mobil di depan... " sahut Pak Fajar.


Pak Fajar langsung duduk di kursi. Isyarat yang membuat Bu Fatimah langsung mengerti. Bu Fatimah mengambilkan nasi lengkap dengan lauknya dan menyodorkan pada Pak Fajar.


" Mas Rozi belum bangun Pak... " celetuk Silia.


" Enaaaakk aja.... " mendadak muncul Rozi dari arah belakang. Ia langsung tersenyum manis pada Dema. Dema tersipu malu. Pasalnya Rozi sudah rapi. Entah muncul dari mana dia.


" Dari mana kamu Ozeen ? " selidik Ashe pada adik iparnya.


" Biasa Mbak...! Nebeng mandi... " cekikik Rozi.


" Heeeh, kamu selingkuh ya... " todong Ashe hingga semua mata tertuju pada Rozi.


Rozi langsung pasang muka sebal pasalnya Dema langsung menatapnya.


" Lambemu Mbak... " gumam Rozi.


Ashe langsung menoleh dengan tatapan tajam.


" Loe pikir gue nggak denger loe ngomong apa Peng.... ? " sewot Ashe.


Dimas yang mendengarnya tertawa ngakak.


Rozi langsung melongo kaget.


" Si Abang kayaknya nikah sama dukun... " sahut Rozi.


" Gue emang dukun...! Dukun beranak... " sungut Ashe.


" Udaah...! Kenapa kalian malah berantem sih...? " lerai Bu Fatimah.


Ia tengah meladeni Pak Fajar.


" Lagian Mbak Ashe masak manggil aku Peng sih Ma... " adu Rozi.


" Lebaayyy....! Uwes lek sarapan... " celetuk Bu Izun.


" Wong cen panggilanmu " Peng " kok ra trimo... " sela Pak Kibul menyuap sarapannya.


Rozi manyun dan mengambil makan. Ashe memamerkan gigi senang. Dimas masih terbahak menatap adiknya miris.


" Kamu kok ngelawan Mbak Ashe... " toyor Dimas membuat Rozi makin manyun.


" Ingeeet Peng...! " lirik Ashe.


" Tahuu ahh....! Mbak nggak asyik... " sahut Rozi.


" Ambekan loe bocah... " sahut Ashe.


" Mbaak...! Gue udah punya pacar...! Kenapa loe menjatuhkan harga diri gue...? " protes Rozi.


" Pacar loe kan assisten gue...! Dia nggak butuh harga diri loe... " masih saja Ashe nyaut.


" Abaaaangg.... " teriak Rozi minta pembelaan Dimas.


Nasrul yang sudah duduk makan bersama Silia terkekeh. Dimas tak peduli dan sibuk makan setelah Ashe mengambilkannya.


Ashe sendiri ikut makan bersama Dimas. Tak lama, Faisal dan Lino masuk. Mereka ikut bergabung makan.


" Hari ini Papa mau ke atas situ...! Ada yang mau ikut ? " tanya Pak Fajar yang lagi gila " dolan ".


Tak ada yang menyahut.


" Papa di cuekiin ini ? " ulangnya.


" Ke atas mana Pa ? Jangan ke atas langit lho... " mulut Rozi.


Pak Fajar melempar kulit pisang ke arah Rozi yang sigap mengambil.


" Situ... "


" Situ mana ? Papa jangan kode - kodean sama kita. Sama Mama aja kode - kodeannya ? " sahut Dimas.


" Naik gunung... "


" Gunung siapa ? " Pak Kibul yang nyaut bikin Pak Fajar keki.


" Tahuu ah.... " Pak Fajar sewot.


" Inget udah tua Pa... " ucap Bu Fatimah membuat Pak Fajar manyun.


Pak Kibul tertawa.


" Kamu mau ke Saka ? Itu punya jurangan sapi yang belum lama pindah ke sini... " kata Pak Kibul.


" Jurangan sapi....? " ucap Ashe dan Pak Fajar bersamaan.


" Hoo, kui gek piral neng kene.... " sahut Bu Izun.


" Mamak noraaak.... " mulut kurang ajar Rozi kambuh.


" Viral Mak.... " sela Silia.


" Hayo kui... "


Bu Fatimah tertawa. Dimas menatap Ashe yang masih makan di hadapannya. Ia hanya tersenyum. Tentu tahu sesuatu.


" Apa sih Bie...? " Ashe risih di tatap Dimas.


" Kenapa sekarang jadi nyebelin...? " sungut Ashe.


" Enggaklah. Kejutann... " senyum Dimas. " Minummu mana ? "


Ashe menunjuk dengan ekspresi mukanya. Ashe menyelesaikan makannya. Demikian juga juga.


Ashe membantu membereskan meja makan dan ikut mencuci piring.


*****


" Assalamualaikum.... "


" Waalaikumsalam....! " sahut Pak Kibul. Ia tengah duduk di teras bersama Pak Fajar, Nasrul, Faisal dan Dimas.


Seseorang turun dari motornya dan melepas helm. Pak Fajar langsung terkejut melihat siapa yang datang. Ia langsung menatap Dimas. Dimas tersenyum.


" Itu yang punya puncak Saka Pa... " bisik Dimas membuat Oak Fajar menatap tak percaya.


Orang itu tersenyum dan menyalami Pak Kibul. Ia juga cukup terkejut saat akan menyalami Pak Fajar.


" Pak Fajar....? " kejutnya.


" Heeeh.... Jurangan Adil...! " senyum Pak Fajar keki.


Dimas hanya tersenyum.


" Apa kabar Pak ? " tanya Jurangan Adil.


" Alhamdullilah baik...! Bagaimana kabarmu juga ? "


" Saya juga alhamdullilah baik Pak. Tidak mennyangka ketemu di sini ! "


" Kalian udah saling kenal ? " tanya Pak Kibul heran.


" Eeeh, sudah Pak... " sahut Jurangan Adil gelagapan.


" Oh, begitu rupanya... " mulut Pak Kibul membulat. Tapi tak curiga.


" Kok Pak Fajar ada di disini...? " tanya Jurangan Adil.


Pak Fajar menatap Dimas yang hanya tersenyum.


" Saya baru menikahkan anak saya. Ini rumah besan saya ! " kata Pak Fajar.


" Ooh, benarkah ? Mana menantu Pak Fajar ? " senyum Jurangan Adil.


" Ini... " tunjuk Pak Fajar pada Dimas.


Jurangan Adil langsung menoleh pada Dimas yang tersenyum. Jurangan Adil mengulurkan tangan yang langsung disambut Dimas.


" Adil... "


" Dimas Pak.... " Weeek, si Dimas manggil Bapak. Iyalah, orang dari muka udah keliatan tuanya sama dengan Pak Fajar. Model begini mau dijodohin Ashe, diih.


Dimas menoleh Pak Fajar yang langsung pura - pura buang muka.


Dasar menantu kesayangan, sebentar lagi aku di olok sampe habis, batin Pak Fajar.


" Selamat ya...! " kata Jurangan Adil.


" Terima kasih Pak...! " senyum Dimas.


" Oiya Apak Kibul, aku mau liat sapinya...? Mana yang mau di jual... " Jurangan Adil seolah menarik diri.


Bagaimana tidak. Menantu Pak Fajar begitu bening.


" Ayo, kita ke belakang... " ajak Pak Kibul.


" Sebentar ya Pak Fajar, saya mau lihat sapi dulu... " pamit Jurangan Adil.


" Oh, ya silahkan.... " sahut Pak Fajar.


****


Jurangan Adil mengikuti Pak Kibul ke belakang.


" Papa nggak salah...? " senggol Dimas seraya tersenyum.


Senyum penuh ledekan.


" Diem ahh.... " lirik Pak Fajar.


Nasrul dan Faisal hanya memperhatikan mereka. Tak berani berkomentar. Mereka juga tahu siapa Jurangan Adil.


Meskipun Dimas tahu, tapi Dimas sendiri belum pernah ketemu langsung Jurangan Adil.


" Hahhahaha....! Selera Papa agak nggak berkelas... " sindir Dimas.


" Diiih....! Kamu itu kan lagi Papa karbit biar mateng dulu... " elak Pak Fajar.


" Biar ganteng.... " ralat Dimas, " Atau biar lebih berkelas sesuai kriteria Papa...? "


" Diiimmm....! Papa nggak sampai mikir ke situ...! Papa nggak membedakan miskin kaya. Tapi kan Papa nggak bisa nikahin kamu begitu saja dengan Ashe dulu... " bantah Pak Fajar.


Ia begitu tak berkutik dengan tangan kanannya yang kini jadi menantunya.


" Hahha...! Aku percaya Papa. Kenapa begitu ketakutan sih...? " ledek Dimas.


Pak Fajar melotot tak percaya. Ia menjitak kepala Dimas.


" Astaga Papa.... " keluh Dimas.


" Salah siapa ngerjain Papa...? " sungut Pak Fajar.


Dimas tertawa.


" Nanti aku anterin ke puncak Saka... " kata Dimas setengah berbisik.


" Dimaassss..... "


" Pa, kita tamu di sana.... " ucap Dimas sambil berlalu masuk. Mencari Ashe yang kini tampak duduk dengan Silia, Rozi, Dema dan Bu Izun.


" Sopo kae mau Dim....? "tanya Bu Izun.


" Mantan Ashe....! " sahut Dimas sambil duduk mengeser Ashe.


Ashe menatap Dimas seraya mengenyit dahi.


" Heeeh, siapa ? " krnyit Ashe.


" Mantanmu....! " ulang Dimas seraya menatap Ashe penuh senyum.


" Boong kamuu....!! " sahut Ashe.


" Diiih, nngggakk percaya...! Coba lihat sana... " ucap Dimas.


" Bakul sapi Mbak...! Ya kali mantan Mbak Ashe bakul sapi... " celetuk Rozi sambil memainkan game tebak kata di hpnya bersama Dema.


" Heeeeehh....! Bakul sapi....? " Ashe langsung konek ke seseorang.


Menoleh pada Dimas yang seolah duduk nempel dengannya yang kini penuh senyum menggoda.


" Issssh.... " Ashe buang muka kesal.


" Kamu itu dulu kerjanya apa sih ? " omel Ashe yang jelas tertuju pada Dimas.


" OB lah Bu.... " sahut Dimas.


" Seragammu yang OB... " sewot Ashe.


" Ayo ketemu dia... " ajak Dimas.


" Ogaaahhh.... "


" Kenapa ? Coba kamu mau sama dia dulu...! Kamu jadi Nyonya Juragan lho... "


" Nyonya apa ? Nyonya Sapiii....? "


" Haaaaaahhh....? Serius itu bakul sapi mantan Mbak Ashe ? " toleh Rozi kaget.


" Ngawurrr....! Siapa yang pacaran sama dia... ? " sungut Ashe.


" Dia bukan mantanku... " imbuh Ashe.


" Jangan mau Mbak. Udah tua... " celetuk Bu Izun.


" Ibuuuuu....... "


" Level Mbak Ashe, tak terduga... " Rozi menggeleng kepala.


Bu Izun, Dema, Silia dan Rozi tertawa. Kecuali Dimas. Ia hanya tersenyum sebari mengacak rambut Ashe.


" Orang dia itu temen Papa. Dateng - dateng langsung ngelamar mau di jadiin istri. Istri simpenan lagi... " curhat Ashe.


" Untung kamu nggak mau Bu. Coba kalau mau, kamu pasti disimpen di kandang...Hahahaha.." goda Dimas.


" Bieeeee.... " sewot Ashe.


Dimas tetap tertawa. Dimas memang sangat senang menggoda Ashe.


" Tadinya aku cukup penasaran ! Liat langsung lebih menjawab penasaranku... " kata Dimas.


" Kamu tuh kebanyakan penasaran ! Kayak arwah... " sungut Ashe.


" Mau coba temuin...? " tawar Dimas.


" Ogaaah.... "


" Mamak aja yang temuin. Terima uangnya...! Bapak jual sapi kan ? " Bu Izun beranjak.


" Mamak nek masalah duit no 1..." celetuk Rozi.


" Yo ben...! Emang koe ra butuh duit ? " tanya Bu Izun.


" Butuh juga koe ra bakal nyepreti Mak... "keluh Rozi.


" *Engko tak grujuki Zen... "


" Wegaaaah*....! " sewot Rozi.


" Sok jual mahal loe.... " toyor Ashe.


" Harga diriku tuh mahal Mbak. Mbak Ashe aja yang sok nawar murah... " sahut Rozi.


" Biariiin.... "


" Loe sekarang minta duit nggak sama gue. Udah ada Menteri Keuangan. Jadi baik - baik loe... " nasehat Dimas.


Rozi bengong menatap Ashe dan Dimas.


" Jangan ngarepin duit dari orang...! Kerja biar dapet duit ! " gantian Dema nyeramahin Rozi.


" Yang boleh minta duit cuma aku... " seru Silia tiba - tiba.


" Hhedeeeeeeh.... " keluh Rozi.