
Dimas terkejut. Ia membuka mata. Tak ada orang di sekelilingnya Ia mendengar orang bercakap - cakap di belakang dan depan. Dimas bangun. Ia terhuyung ke kamar. Ashe juga tak ada. Ia ambruk di kasur. Namun sesaat menoleh ke arah jam dinding. Udah jam 16 : 00 wib. Dimas duduk mengumpulkan nyawa. Ia mengambil gelas di meja dan minum. Merasa ia telah sadar. Dimas keluar kamar. Ia ke depan dan menengok orang yang tengah membongkar tenda. Hanya ada Bapak dan Papanya serta tukang bongkar dan beberapa tetangga. Dimas berjalan ke arah dapur.
" Isssh... pengantennya baru banguun...! Abis bergadang Pak... ? " tegur Rozi sambil menenteng perabot.
" Hmmmm.... kamu mau kemana ? "
" Balikkin ini ke RT... "
" Sendiri... ? "
" Nasrul di depan nungguin... "
" Ohh...! Jangan di banting di jalan... "
" Enak aja...! Entar pulang gue di pepes sama mamak...! Loe makan sono Bangg... "
" Ehmmm.... " sahut Dimas kembali melangkah ke dapur. Sementara Rozi bergegas dengan bawaannya.
Dimas melihat Ashe tengah menggelap piring bersama Bu Fatimah. Dimas berasa melihat gadis kampung beneran. Dimas tersenyum.
" Anak siapa ini Ma...? " tanya Dimas menggoda.
Bu Fatimah menengadah. Melihat ke arah telunjuk Dimas.
" Tahuu ituuu...! Anak tetangga kayanya... " sahut Bu Fatimah.
Ashe menengadah dengan lirikan tajam. Dimas terkekeh. Mendekat dan mencium kening Ashe tak peduli ada orang lain di situ.
" Habis resepsi, ganti baju terus ilaang... " sungut Dimas.
" Biarin sih.... ! Sekali - kali lepas dari laptop, ganti barang pecah belah... " sahut Ashe. Tangan Dimas kini malah memegang kedua pundak Ashe. Sementara tangan Ashe terus bekerja.
" Hati - hati...! Nanti semua yang kamu pegang jadi pecah dan belah semua... " kata Dimas.
" Kan bisa minta kamu yang beliin... "
" Diiiihhh.... "
Bu Fatimah hanya tersenyum.
" Kamu udah makan Biee... ? " tanya Ashe.
" Belll.... "
" Diiimm.... kumpulin sampah - sampah itu, terus dibakar... " ibu negara muncul.
" Ogaaah...! Itu udah diangkutin anak KKN... " tolak Dimas.
" Kenapa kamu jadi nggak nurut sama Mamak...? " tatap Bu Izun.
" Aku udah ganti majikan...! "
" Siapaa ? " tanya Bu Izun.
" Ashee.... "
Ashe menepuk lengan Dimas dengan pandangan membunuh. Bu Fatimah tertawa. Bu Izun menyerah menyuruh Dimas. Akhirnya anak - anak KKN jadi korbannya.
" Apa Buu...? Emak ini emang udah kayak majikan. Nyuruh mulu kerjaannya... " kata Dimas.
" Sama Ibu kenapa begitu sih ? " tanya Ashe.
" Aku belum makan...! " sahut Dimas.
" Ya udah sana makan Bie ! "
" Kamu udah makan...? " Dimas malah balik tanya.
" Udaah. Kamu makan dulu biar nyawanya kumpul... "
" Ehhhmmm....! " Dimas masuk ke ruang utama lagi.
" Cuci muka dulu Biieee.... " tegur Ashe.
" Udaah segerr liat kamuu.... " sahut Dimas gombal.
" Deeehhh...! Mantu Mama kalau nggak ngombal gatel mulutnya...! " celetuk Bu Fatimah.
" Siapa dulu gurunya Ma... " sahut Dimas setengah teriak sambil mengambil nasi.
" Siapa emang gurunya ? " tanya Bu Fatimah.
" Papa.... " cengir Dimas sambil duduk sila di tikar. Mulai makan.
" Heeeeisss...! Kenapa Papa kamu ditiruu... ? "gerutu Bu Fatimah.
" Jangan tanya mereka berdua Ma... " sela Ashe sambil beranjak. Mereka hampir selesai.
Perabotan juga mulai bersih. Nampak Silia dan Dema mulai mengumpulkan taplak - taplak kotor.
" Kalian mau nyuci...? " tanya Ashe.
" Enggak Mbakkk...! Ini mau di loundry aja...! Aku udah capek bangett... " sahut Silia.
Ashe mengiyakan. Bu Fatimah pindah ke depan bersama Pak Fajar. Sementara Ashe duduk mendekati Dimas. Dimas menyuapi potongan ayam fillet dengan tangannya ke dalam mulut Ashe.
" Enggak nggak ? " tanya Dimas.
" Enaaklahh Biee...! Kamu makannya aja lahap begitu... " sahut Ashe.
" Biasanya kamu yang paling cepeet... "
" Cepet apa ? "
" Cepet menghabiskan lauk..! Makan Bu...! Kamu capek kan...? "
" Lumayan sih...! Aku mau nyuci, tapi di belakang masih di pakai buat bersih - bersih... "
" Nanti aja, aku yang nyuci... ! Bajumu habiiis... ? "
" Ehmmm... " Ashe mencomot lauk di piring Dimas.
Dimas meringsek mendekat. Sambil makan, ia juga menyuapi Ashe.
" Malah mesra sekarang daripada pas suap - suapan tadi.... " celetuk Rozi yang mendadak muncul membuat Ashe dan Dimas menoleh.
" Ini natural, tadi formalitaas... " sahut Dimas.
" Bedaaanya apaa... ? "
" Babi sama Kuda.... "
Ashe mengenyit dahi.
" Jadinya apa ? " pancing Rozi.
" Monyeett.... "
" K*****t loe Bang..... "
" Udaaah, jangan berantem aja terusss.... " lerai Ashe.
" Bang Dimas kan aneeeh... " seru Rozi.
" Loe yang aneeeh... " balas Dimas.
" Tuuuuh dicariin camerr gagal....! " kata Rozi membuat Dimas melirik kesal.
" Gue udah nggak ada harapan...! Loe yang masih diharapkan.."
" Ogaaaaahhhhh.... "
" Kenapa ogaaahhh....? Anaknya bidan lho...! Udah PNS noh... "
" Bodooo'... " Rozi kabur ke kamarnya, tapi balik lagi. Ashe menggeleng kepala melihat kakak beradik itu.
" Kenapa nggak jadi ke kamarr ? " mulut Dimas gatel.
" Ingeeet pacaarrr....! Emang Abangg...? "
" Kenapa gue...? " Dimas mencari penjelasan.
" Heeehh.... kalian tuh kenapa sih ? " sentak Ashe sambil menatap dua pria itu.
" Hehehehe....! Nggak papa Mbak....! " cengir Rozi sambil mendekat dan memeluk kepala Dimas.
" Hiiisshhhhhhsss..... " Dimas menepis dengan sikunya. Tetap saja Rozi memaksa memeluk Dimas. Dimas kesal sambil melindungi kepalanya dengan mengangkat kedua tanganknya.
" Iiihhh... sayang Abang dehhh.... " kata Rozi hingga Dimas merasa jijik. Ashe tertawa tertahan.
" Udaaahh... sono cari pacar loe... " sikut Dimas.
Rozi terkekeh. Melepas pelukannya dari Dimas dan berlalu ke arah dapur. Mencari Dema di sana.
Ashe beranjak.
" Sayaaang.... mau ke mana ? " tanya Dimas.
" Aku mau cuci tangan...! Pingin mandi Bie.... "
"Tunggu Buu, aku juga ikut mandi dong... " Ih, si Dimas. Mulutnya memang selalu gatel.
Ashe melotot kesal.
" Kenapa sih, kalau di suruh mandi bareng nggak mau...? " sungut Dimas bercanda.
" Berisiiikkk.... " sahut Ashe sambil menutup pintu kamar.
" Hehehehe.... " terdengar Dimas malah terkekeh di sana.
Tapi Ashe membuka pintu lagi mendekati Dimas. Dimas bingung. Ashe membereskan makanan dan peralatan kotor di depan Dimas. Dimas tercengang.
"Tumbeeen....? " ucap Dimas.
" Mulutmu kan blooong.... " sahut Ashe sambil membawa peralatan kotor ke dapur. Kemudian menata sisa makanan di meja makan. Menaruh suguhan di meja tamu juga. Dimas masih bersila menghabiskan makanannya sambil menatap Ashe kesana kemari penuh senyum.
" Itu baruu istriku.... "
" Emangnya siapa istri lamamu....? "
" Hmfffft....! Kacau iniii.... ! Kamu ketularan Mamak ya....? " sindir Dimas sambil beranjak.
" Ketularan kamulah sayaaang....! " Ashe mendekat dan langsung mencium pipi Dimas. Dimas kembali tercengang penuh senyum.
" Pingsan akuu.... pingsan akuuuu.... "
" Nggak usah lebayy....! Itu cuma di cium doangg... " lirik Ashe seraya tangan dan kakinya tak berhenti bergerak. Ia masih sibuk beberes.
" Emang mau dikasih apa lagii....? " bisik Dimas seraya menempel pada Ashe dengan tatapan nakal.
Ashe melirik dengan senyum tak kalah nakal.
" Kasih tahu nggak ya...??? Nggak ahhhh....! Biar kamu penasaran... " sahut Ashe sambil meninggalkan Dimas. Berjalan ke dapur sambil merebut piring kotor di tangan Dimas.
" Oklah...! Aku siap terkejut... " senyum Dimas.
Ashe hanya melempar senyum penuh kemenangan.
" Mbaaak....! Mandi dulu sana....! " kata Bu Izun pada Ashe.
" Iya Buu.... " sahut Ashe.
Ashe kembali ke kamar, Dimas membuntutinya.
" Kamu kenapa ngekorrr ? " lirik Ashe.
" Penasaran "
" Dengannn....? "
" Denganmu kejutan tadiii.... " senyum Dimas.
Ashe mendelik kesal. Ia memunguti baju kotor. Dimas iseng senggal senggol lengan Ashe dengan muka nakalnya.
" Apa Bieee....? " toleh Ashe.
" Biar aku yang nyuci. Kamu mandi dulu...! " kata Dimas.
" Iyaaa....! "
Ashe meletakkan kembali baju kotor. Ia ke lemari mencari baju ganti dan handuk. Sementara, Dimas malah rebahan di kasur.
" Jangan tidurr Bieee...! "
" Iyaaaa....! " sahut Dimas.
Dimas bangun lagi. Sementara Ashe keluar kamar dan pergi mandi. Tak lama, Dimas keluar merendam baju kotor. Ia mencuci baju dengan mode tercepatnya. Bahkan Ashe selesai mandi, Dimas pun tinggal menjemur saja. Ashe heran, namun ia juga akhirnya gantian yang menjemur baju dan Dimas mandi.
******
Malam hari, keluarga Pak Kibul dan Pak Fajar berkumpul selesai makan malam. Dimas udah kelimpungan. Rebahan tak tentu di tikar. Tapi, si Ibu negara mengeluarkan sesuatu menggunakan karung. Itulah saatnya mereka membuka angpau kondangan.
Dimas mendengus kesal saat Ashe menepuk dan menyuruhnya bangun. Rozi jadi tukang nulis, Dema jadi bendahara. Sementara yang lain bertugas membuka amplop. Dimas udah mulai ogah - ogahan membuka amplop. Badannya rasanya betul - betul berasa remuk. Udah di ujung capek. Namun karena bercandaan dari keluarganya ia berhasil bertahan.
" Alhamdullilah, ini cukup buat beli mobil baru chas... " kata Rozi seraya menengadahkan tangannya.
Mereka selesai menghitung angpau. Uang sudah tertata rapi. Sampah bekas amplop juga dibereskan.
Pak Kibul langsung menatapnya. Nasrul tertawa terbahak melihat ekspresi Pak Kibul. Faisal hanya tersenyum.
" Enaaak wae...! Koe kui wes duwe mobil anyar...! Duit e arep tak go njago lurah.." sungut Pak Kibul membuat Pak Fajar ikut tertawa.
" Laah, hubungane opo ? Pilur yang sportif Pak...! Ra isin po ! Pilur kok go duit...! Kene duit e...! " Rozi langsung menyambar semua gepokan uang.
" Kayaknya kalian ini musuh yang cocok ya... " tawa Pak Fajar.
" Tahu Pa....! Sama Bang Dimas aja, aluus, kalem...! Giliran aku, di musuhin mulu... ! Inget, rupiah cair hanya olehku" sungut Rozi.
" Nggak usah bawa - bawa gue....! Gue nggak di rumah....! " sahut Dimas sengit.
" Siapa yang musuhin kamuu...? " cerca Pak Kibul.
" Bapak.... "
" Uwesss....! Koe ki jan, ribet wae... " lerai Bu Izun.
" Bapak yang ribeettt... " ledek Rozi.
" Ozeeeenn.... " tatap Bu Fatimah.
" Hehehe... iya Ma.... " senyum Rozi memaksa.
" Diiih....! Yang anak Mama itu siapa sihh....? " mulut Dimas gambreng juga.
" Mama jitak juga kamu ya Dim... " ancam Bu Fatimah.
" Hehehe....! Iya deh, anak Mama...! " sahut Dimas mengalah.
" Anak Papa juga deh... " bela Pak Fajar.
" Kui, seneng to, duwe wong tuo loro...? " kata Pak Kibul.
" Aku jadi punya adik bandeel... " sela Ashe.
" Hhehe... peace Mbak...! Aku nggak bandel deh... ! Nanti aku dijadiin rendang... " ucap Rozi.
Dimas menatap Ashe yang hanya mendengus kesal mendengar kata Rozi. Dimas tertawa. Ia ambruk lagi di tikar.
" Tidur sana Pak...! " celetuk Nasrul.
Dimas menoleh dengan tatapan tajam. Kesal dipanggil " Pak ". Faisal tertawa.
" Abang Rul.... Abaanggg....! " Faisal mengingatkan Nasrul.
Nasrul nyengir kuda. Pak Kibul, Pak Fajar , Bu Fatimah dan Bu Izun saling tatap. Mereka kemudian tertawa bersamaan seolah tahu kode dari Faisal.
" Oh... ada anak mantu cowok di sini... " sindir Pak Kibul.
" Mantu cewek juga ada kali... " Rozi angkat bicara membuat Ashe menahan tawa.
Pak Fajar tertawa terbahak melihat Pak Kibul nyengir menatap Bu Izun.
" Awak e dewe ganti momong putu 3 nek iki Mak.... " keluh Pak Kibul.
Bu Fatimah menatap penuh godaan pada Bu Izun.
" Anakmu udah jadi 6 sekarang Mbak... " goda Bu Fatimah.
" Ngerti ngono, mau rasah di bongkar tendane. Tak dadekke manten kabeh sisan... " sahut Bu Izun.
" Asyiiiikkkk.... " sahut Rozi dan Nasrul bersamaan. Mereka malah kegirangan.
Dema dan Silia menatap mereka berdua. Sementara yang lain tertawa terbahak.
" Wes jan anakku wes gede kabeh... " kata Pak Kibul.
" Hahaha....! Udah, istirahat...! Jangan mikirin anak teruss...! Atau kamu masih ingin nambah Bang...? " gida Pak Fajar.
Pak Kibul langsung membulatkan mata ke arah Pak Fajar.
" Bikin saja, aku sudah tak mau punya anak... " bisik Pak Kibul.
" Samaaaa.... " sahut Pak Fajar pula yang kemudian diiringi derai tawa mereka berdua.
Semua menatap ke arah dua pria setengah baya itu jengah.
" Bapak sama Papa mulai miring ... " ucap Rozi sambil bangkit dan membopong uang tunai yang telah dia masukkan dalam kantong kresek.
Rozi ke kamar, ia ahli dalam menyimpan uang. Meski menyimpan dalam kamar, ketika di geledah pun tak akan ada yang bisa menemukan uang simpanannya.
" Aku juga mau tidurr... " kata Dimas beranjak.
" Ke kamar mandi dulu nggak Bu ? " imbuh Dimas bertanya. Ashe mengiyakan dan ikut berdiri mengikuti Dimas.
****
Dimas menutup pintu kamar dan sengaja menguncinya. Di luar semua juga bersiap tidur. Silia tidur dengan Dema. Rozi, Faisal, Nasrul dan Lino sengaja mengelar kasur di ruang utama.
" Tutup mata Bie, aku mau ganti piyama... " kata Ashe.
" Kenapa harus tutup mata...? " si mulut ngeyel mulai lagi.
Ashe melirik Dimas yang penuh senyum nakal dan kini rebahan di kasur seraya menatap Ashe yang membuka pintu lemari.
" Hehe... iya deeh.... " ucap Dimas.
Ia memunggungi Ashe dan menutup mukanya dengan bantal. Ashe mengganti bajunya cepat.
" Sudah belummm...? " tanya Dimas.
" Sudaah... " sahut Ashe sambil meringsek ke tempat tidur.
Dimas membuka bantalnya dan menoleh pada Ashe yang kini berbaring di sampingnya. Dimas berbaring menghadap Ashe.
" Apa kejutannya Bu ? "
" Heeeeh....??? "
" Katanya mau ngasih kejutan ? "
" Diiih, masih aja yaa... ! "
" Malam pertama ini lhoo.... "
" Puasaaa.... "
Dimas memutar bola matanya malas dan pura - pura pingsan. Ashe terkekeh. Merapat dan memeluk badan Dimas. Mencium ketiak Dimas hingga Dimas tertawa kegelian dan membuka mata. Menahan Ashe dengan memegang dahi Ashe.
" Buuu... ya ampuun...! " kekeh Dimas.
Ashe hanya tertawa sambil tetap memeluk Dimas.
" Kenapa ? Kangen ya....? " tatap Dimas.
" Eheem...! Beberapa malam kamu ngilang mulu... "
" Maaf...! Orang di susul udah tidurr... "
" Kan aku capek Bie...! "
" Iyaa....! Aku matiin lampu dulu.... "
Ashe melepas pelukan Dimas dan membiarkan Dimas bangun untuk mematikan lampu. Namun terlebih dulu mengganti dengan celana pendek dan melempar kaosnya. Lampu temaran membuat kamar mereka tak terlalu gelap. Dimas naik ke tempat tidur pas - pasanya menyusul Ashe.
" Geser Bie, nanti aku jatuh tahuu.... " ucap Ashe membetulkan selimutnya.
Hawa dingin terasa menusuk.
" Sini peluukkk....! "
Dimas menarik Ashe ke dalam pelukannya dan membetulkan selimut mereka. Terdiam, tak ada suara. Hanya suara binatang malam yang terdengar.
" Biee... "
" Hmmmm..... "
" Kenapa sepi sekalii.... ? "
" Namanya juga di kampung...! " Dimas mencium kening Ashe, kemudian bibir Ashe. Mereka berpandangan dalam temaram lampu.
" Tidurlaahh Buuu....! " kata Dimas menyusupkan tangannya.
Ashe mengelinjang kegelian.
" Ini tuh ngalangi aja sih.... " sungut Dimas mulai ribet dengan tangan bekerja. Menarik sesuatu dan begitu berhasil langsung melemparnya sembarang arah.