Perfect Boy

Perfect Boy
50.Cemburu Menguras Bak Mandi



" Gimana mobilnya ? Suka ? " tanya Pak Fajar sambil duduk di kursi di samping Dimas. Saat itu Dimas tengah duduk di teras belakang sendirian memeriksa laporan dari smartphonenya. Semua keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga membicarakan pernikahan Dimas dan Ashe.


Dimas menoleh tersenyum.


" Suka banget Pa. Tapi kayaknya Papa berlebihan deh... " sahut Dimas.


" Itu tidak ada apa - apanya...! Kebaikan Bapakmu tidak bisa di balas dengan harta... "


" Tapi aku juga tidak mengharap imbalan Pa...! "


" Papa tahuu...! Oiya. Papa tetep mengadakan resepsi di sini Dim...! "


" Ashe mau ? "


" Iya. Dia paling mengerti Papa kok... "


" Enak aja. Dia paling ngertiin aku kali Pa... " ralat Dimas.


" Sempruuuullll nih bocahhh.... "


" Hahaha...! "


" Kamu ngapain ? "


" Ngecek laporan... "


" Ya udah, Papa pensiun dini... "


" Emang beneran dah siap kena omel Mama tiap hari...! "


" Belum sih ! "


" Pikirkan ituuu Pa... " tegas Dimas.


" Kamu ini...! Siapkan surat - surat yang di pakai untuk mengurus pernikahanmu... " kata Pak Fajar sambil beranjak.


" Udaah siap. Tadi sama Ashe... " sahut Dimas.


Pak Fajar menunjukkan bahasa isyarat tangan tanda OK sebari meninggalkan Dimas.


Ia bergabung dengan yang lain. Para orang tua sibuk membicarakan persiapan pernikahan. Ashe dan Silia di kamar nonton drakor. Sementara Rozi sibuk ngonline tugas kuliah di kamar.


******


Hampir jam 19 : 00 WIB, Ashe celingukan keluar kamar. Pandangannya menyapu pada orang tua dan calon mertuanya yang tengah ngobrol. Tapi tak ada yang di cariinya. Mendadak Dimas muncul dari pintu teras belakang. Langsung menatap Ashe seolah tahu dia yang di cari. Emang seakan punya mata batin Dimas ini.


Dimas mendekat sambil memasukkan smartphone ke saku celananya.


" Cek gudang Biee... " bisik Ashe begitu Dimas mendekat.


" Ada masalah apa ? Kepala gudang sudah kamu rombak kan ? " bisik Dimas bertanya.


" Iya. Tapi aku rasa, dia masih punya celah...! "


" Mau sekarang ? "


" Iya. Sidak dadakan...! "


" Ya udah. Ambil jaket. Di luar dingin... " kata Dimas mendorong Ashe ke dalam kamar.


Ashe mengambil jaket dan tasnya. Demikian Dimas.


" Kemana Mbak ? " tanya Silia.


" Keluar bentar ya...! " sahut Ashe.


" Pasti Bang Dimas ya yang ngajakin...? "cerca Silia.


Dimas mencibirkan bibir mengejek.


" Abang mau pacaran dulu... " ejek Dimas.


" Weeeek....! Nyebelin loe Bang...! " sahut Silia.


" Tapi kan menyenangkan buat Mbak Ashe... " balas Dimas.


" Aku panggilin Ozen ya...! " sela Ashe kesal karena kakak beradik ini malah berantem.


" Abang Ozen lagi nggak bisa diganggu Mbak... " sahut Silia.


" Ngapain dia...? Seharian aku nggak liat dia... "


" Pdkt sama Dema... " sahut Dimas.


" Mana bisa...! Ngelirik aja udah kamu pelototin.... " sanggah Ashe.


" Kalau sama cewek lain iya. Kalau Dema mah lain... "


" Kok bisaa...? "


" Ya feeling aja. Lagian Dema tidak akan luluh begitu saja. Dia pasti punya syarat lain yang berat... "


" Kok kamu tahuu....? " kenyit Ashe.


" Kan aku bilang feeling...! "


Ashe mencibir. Ia seakan lupa Dimas itu siapa ! Tentu saja, semua orang disekeliling Ashe, Dimas tahu latar belakangnya.


" Kamu yang syaratnya beraaat....! " keluh Ashe.


" Apaa ? Enggak ya....! " sahut Dimas.


" Mbak tinggal ya Sil.. " kata Ashe.


" Aku juga udahan Mbak nontonnya. Aku keluar aja...! " sahut Silia mematikan laptop Ashe. Ia ikut keluar bersama Ashe dan Dimas.


" Kalian mau kemana ? " tanya Bu Izun saat melihat Dimas dan Ashe mengenakan jaket.


" Keluar dulu bentar ya Bu... " sahut Ashe sambil mencium punggung tangan Bu Izun.


" Ya udah, hati - hati ya Mbak. Hati - hati Dim... " pesan Bu Izun.


" Iya Mak... " sahut Dimas mencium tangan Bu Izun juga.


" Papa, Mama sama Bapak kemana ? " tanya Ashe.


" Papa sama Bapak lagi keluar...! Mamamu ke kamar mandi... " sahut Bu Izun.


Ashe mengangguk dan mencari Mamanya.


" Maaaaa..... "


" Apaaaa ? "


" Aku keluar bentar sama Dimas ya....! "


" Iya. Jangan malem - malem pulangnya. Bilang sama Dimas jangan ngebut - ngebut... "


" Iyaaa.... " sahut Ashe kembali ke Dimas.


Mereka pergi menaiki mobil baru Dimas lagi menuju gudang. Tentu saja kedatangan Ashe dan Dimas membuat kaget Kepala Gudang yang kini terpaksa patuh. Gajinya hanya di berikan separuh hingga uang yang ia gelapkan terbayar. Ashe tak punya pilihan lain. Dimas memberikan informasi keluarga Kepala Gudang kepada Ashe lewat Pak Argo. Hingga Ashe tak tega memecatnya.


Dimas hanya berjalan pelan dibelakang mengikuti Ashe yang tengah sidak ke semua sisi gudang. Memperhatikan karyawan yang bekerja shift malam. Ashe tak banyak bicara. Tapi begitu di segani oleh karyawan. Berbeda dengan Dimas. Semua karyawan cewek langsung menatapnya penuh sinar terhipnotis hingga Ashe mulai jengah. Apalagi bisik - bisik karyawan cewek mulai mengusik telinga Ashe.


" Itu ajudan Bu Ashe ya...? " terdengar di telinga Ashe.


" Masa ' ajudannya sih ? Ganteng banget lho...! Mana mukanya baby face banget lagi... " bisik satu temannya lagi.


" Aku pingin jadi pacarnya... ! Liat mukanya adem bangeeet...! Langsung meleleh aku... "


" Dia kaya banget kayaknya...! Mana mau ma loe... ? "


" Aku mau dia jadi Bos kita...! Aku siap lembur tiap harii... "


Dimas menggaruk tekuknya. Mulai melihat Ashe kesel tapi ditahan. Masih jaga muka dan wibawa.


" Oke, selamat bekerja...! " kata Ashe sudah tak tahan mendengar Dimas di puji terus.


Ashe langsung keluar dari gudang. Kembali ke kantor manajemen yang berada di depan.


" Siapkan laporan gudang....! Besok pagi saya kroscek... " ketus Ashe.


Cemburunya mulai mencapai puncak. Cs yang berjaga malam juga tak henti memandangi Dimas. Dimas hanya mengekor dengan memasukkan dua tangannya ke saku. Menahan senyum. Makin manis saja mukanya. Ashe hampir melonjak mencium Dimas karena gemas. Hanya saja dia benar - benar kesal.


Kepala Gudang mengangguk mengiyakan Ashe. Ashe pamit. Kepala Gudang menarik tangan Dimas. Dimas menoleh heran.


" Bapak...Pak Dimasss ? " tanyanya dengan agak takut.


" Iya. Kenapa ? "


" Terima kasih Pak. Saya tahu, Bapak yang masih memberi saya kesempatan kerja di sini...! " katanya.


Dimas tersenyum enteng.


" Saya hanya OB Pak, semua yang berhak mengambil keputusan itu Bu Ashe...! " sahut Dimas enteng.


Kepala Gudang mengangguk hormat.


" Bekerjalah yang baik Pak. Rejeki itu datang mengalir terus dari hal yang baik...! Belajarlah dari kesalahan Bapak...! " kata Dimas. " Ingat anak dan istri di rumah... "


" Baik Pak... " Kepala Gudang mengangguk hormat.


Dimas menyusul Ashe. Menahan tawa melihat Ashe bersedekap dengan muka ditekuk. Dimas mencolek dagu Ashe penuh senyum.


" Setaaan lewat juga takut sama Buuu....! Mukanya menyeramkan... " ledek Dimas.


" Iyaa. Kamu sama para fansmu itu aja. Yang cantik - cantik... " sungut Ashe.


" Hahhhahhahahha.... " Dimas tergelak.


" Kenapa ketawa ? Ada yang lucuu...? "


" Adaaa....! Wanita yang cemburu sangat lucuuu.... " goda Dimas.


" Baduttt kalah sama wanita yang cemburu buta...! "


" Kenapa kamu memanggilku " wanita " ? Apa aku setua ituu dari para gadis jomblo itu ? "


Dimas terperangah. Kali ini tawanya makin jadi hingga perutnya sakit. Ashe makin cemberut. Dimas sangat gemas melihat " wanita " di depannya itu. Dimas mendekat dan mencium bibir Ashe. Ashe menahan tubuh Dimas.


" Isssshhh....!" tahan Ashe.


" Bukannya Bu dari tadi ingin menciumku kan...?" cenayang Dimas kumat lagi.


Ashe mendengus menahan malu.


" Ini tempat umuuum....! " wajah Ashe merona.


" Kamu maunya tempat sepi melulu... " keluh Dimas.


Ashe tersenyum.


" ' Wanita tua ' ini kalau senyum jomblo lewattt.... " goda Dimas.


" Iyaaa...! Lewat doang...! ' wanita tua ' tetap di sini... " sahut Ashe.


Dimas tertawa. Menarik tangan Ashe dan membukakan pintu mobil.


" Kita mau kemana dulu...? " tanya Dimas saat ia mulai melajukan mobilnya.


" Kita pulang aja...! " sahut Ashe.


Dimas menoleh sejenak tak percaya.


" Mau ngapain pulang...? Pulang juga percuma. Belum sah...! Kalau udah sah, aku juga mau nggak pergii... " ucap Dimas yang dibalas pukulan ringan di bahu Dimas.


Dimas terkekeh.


" Ok. Aku ingin habiskan uangmu....! " kata Ashe.


Dimas tersenyum.


" Baiklah....! Mari habiskan tebaran debuku... " kata Dimas.


" Debuuu ??? "


" Iyaaa. Bonus kan beda, gaji beda...! "


" Hedeeeeehhh......! "


" Tapi kamu nggak dapet semuanya Bu... "


" Emangnya aku matre...? "


" Matre bangeettt..."


" Huuuuuh.... "


" Haahahhhaha.... " Dimas melajukan mobilnya ke sebuah mall.


Tak lama mereka sampai. Mall penuh karena memang masih sore. Ashe mengeleyot Dimas.


" Mana maskermu ... ? " tanya Ashe.


" Buat apa ? "


" Telingaku panas mendengar semua cewek memujimu... "


" Hhahahhha....! Cemburumu menguras kalii..! " Dimas menjitak kening Ashe.


" Bak mandiiii.... " sahut Ashe sambil meringis kesakitan tapi makin mengeleyot tubuh Dimas.


" Kalau sudah nikah, kau akan ku kurung di kamar...! " bisik Dimas penuh senyum.


Ashe melirik Dimas jengah.


" Untung belum nikah.... " sahut Ashe.


Dimas menjitak kening Ashe lagi gemas. Ashe hanya meringis.


" Kamu KDRT... " keluh Ashe.


" Itu KDRT cintaa... "


" Mana adaa...? "


" Adaaa...! Kamu mau nonton Bu....? " tanya Dimas.


Hidung Ashe mencium aroma yang sangat menggoda perutnya.


" Kita nonton di rumah saja...! Aku ingin mencari yang menusuk hidungku... " sahut Ashe.


" Kenapa harus dirumah...? "


" Biar bebas melakukan pelampiasan...! "


Dimas mengkerut keningnya sebari mengimbangi langkah Ashe yang mulai cepat ke arah foodcourt.


" Gawaaat kamu ini Buu...! Sebenarnya aku juga ingin nyicill... "


" Aku tak bisa di kredit...! Harus kontan, chase.... "


Dimas terkekeh. Ashe memesan makanan. Dimas mengeluarkan dompetnya dan membayar. Mereka kemudian mencari tempat duduk.


Makanan datang. Ashe melahapnya. Dimas mengikuti makan meskipun tak secepat Ashe.


" Pelanlah dikitt...! kata Dimas.


" Hmmmm.... " sahut Ashe dengan mulut penuh.


Dimas hanya tersenyum. Mendadak matanya menangkap sesorang yang nampak menuju foodcourt. Dimas pindah duduk ke samping Ashe.


" Kenapa ? " kerut Ashe.


" Aku mendadak cemburu melihat mukanya... ! " sahut Dimas santai.


Ashe kebingungan sebari mengedarkan pandangan ke area sekitar. Kemudian melanjutkan makan dengan sikap sesantai Dimas.


" Hanya mantan, Pak Presdir... " kata Ashe.


" Tetap saja aku cemburuuu... "


" Weeeeehhh....! " Ashe menyuapkan sepotong udang ke mulut Ashe.


" Haaahhh.... enak sekalii...! Sudah lama aku tak makan hokben... " imbuh Ashe dengan penuh ekspresi.


" Nyonya Presdir mau makan hokben aja kok kayak orang ngidamm.. " sahut Dimas.


" Lebih baik ngidam daripada cemburu... " sindir Ashe.


Dimas menatap Ashe.


" Serius pingin ngidammm....?? " tatap Dimas.


" Isssshhh....! Otakmu pasti udah halu kemana - mana... " dorong Ashe dengan sikunya.


Dimas terkekeh. Kembali makan.


" Aku juga ingin melihatmu hamil... " kata Dimas pelan.


" Hissssh.... " lirik Ashe tajam membuat Dimas mengangkat dua jarinya.


*****


" Asheeee..... " seseorang membuat Ashe dan Dimas menengadah. Menatap ke arah orang yang memanggilnya. Dimas langsung menunduk kembali, sibuk makan.


" Boleh gabung...? "


Ashe menyenggol Dimas. Dimas mengangkat muka mengiyakan.


" Pak Dimasss... !! " kagetnya.


Dimas hanya tersenyum.


" Duduklah...! Mari makaan...! " kata Dimas.


Adit agak canggung.


" Pak Dimas pacarnya Ashe ? " tanya Adit.


" Iya...! " sahut Ashe singkat.


" Ohh, kalau begitu selamat ya...! " sahut Adit.


" Ngasih selamatnya nanti aja kalau resepsi... " mulut Ashe mulai tak terkendali oleh rem.


Dimas hanya menahan senyum. Padahal ia yang cemburu tapi Ashe yang dongkol.


" Apakah aku benar - benar tidak punya kesempatan Ashe ? " Adit mulai melenceng.


" Kesempatanmu hanya bekerja sama dengan JAE Grup...! Kamu tahu, hanya tandatanganku yang laku di surat kontrak kerjasama. Jangan sampai kamu tertipu... " ketus Ashe.


Adit terdiam. Menatap sekilas Dimas yang berwajah cerah itu. Adit mengiyakan dan pamit. Dimas menatap kepergian Adit menahan senyum.


" Jangan sampai kamu tertipu... " tiru Dimas membuat Ashe menatap kesal.


" Puaaaaasssss.....! " sungut Ashe.


Ia menghabiskan makanan dan meneguk minumnya. Dimas tertawa senang.


" Sudaaah.... ! Ayo pulanggg.... " ajak Ashe membuat Dimas melotot. Pasalnya mulut Dimas sedang mengunyah. Ashe tersenyum.


" Baiklaaah....! Habiskan sayaaang.... " kata Ashe membuat Dimas klepek - klepek tak karuan. Membuat beberapa pengunjung menatap mereka jijik. 😁😁😁