Perfect Boy

Perfect Boy
79. Kita LDR lagi Sayang...



Lewat tengah malam, Dimas terbangun. Suasana begitu sepi dengan temaram lampu dari luar. Ashe terlihat begitu nyaman di dalam dekapannya meski lengannya kram. Dimas menahan untuk tak banyak bergerak dan menarik selimut untuk menutup tubuh Ashe. Mendadak Ashe mengeliat. Dimas memperhatikan wajah istrinya yang kini mulai berbalik membelakanginya.


Dimas bergerak pelan dan meraih kaos dan mengenakannya. Ia bermaksud melanjutkan packing baju yang tertunda setengah malam karena acara dadakan yang tak bisa di tunda.


" Bieeeee...! " suara Ashe menghentikan langkah Dimas.


" Buuu ? " Dimas menoleh.


Ashe telah kembali berbalik dan menatapnya dengan satu mata. Mata satunya masih meremπŸ˜….


" Kamu mau kemana ? " pertanyaan Ashe membuatnya miris.


Dimas kembali mendekat. Duduk di tepi ranjang, membungkuk dan mencium kening Ashe dan beralih ke bibir Ashe.


" Lanjut packing... ! Kenapa ? " Dimas balik tanya.


" Aku lapeerrr... " rengek Ashe.


" Heeeh....??? " Dimas menahan tawa.


Ashe sadar sempurna dan terdengar mendesah kesal.


" Hehe... ok. Kamu mau makan apa sayang ? "


" Cemilannya masih di rumah JAE ya...? "


" Enggak. Tadi sore udah aku suruh bawa sini semua sama Nasrul. Rumah itu biar di tempati Nasrul aja. Ada sepupunya yang agak rese' yang bikin Nasrul nggak betah katanya... "


" Ehhm...? " Ashe mengenyit dahi. " Sepupunya cewek ? "


" Iyaaa...! Ya udah, aku ambil makanan dulu..! "


" Aku mau mie rebus...! " cengir Ashe nggak enak.


Dimas agak terkejut. Ini jam 00 : 30 wib dan Ashe minta mie rebus.


" Ya udah, aku masakin dulu...! "


" Aku ikut Bie...! "


" B*hya pakai dulu...! "


" Hiiisss....! Kamu juga yang bikin nggak betah di tempatnya... "


" Esssht, nggak pakai B*h saat tidur itu sangat bermanfaat untuk kesehatan... "


" Kesehatan apaaa ? " eyel Ashe, padahal dia memang suka nggak pakai b*h saat tidur.


" Kesehatan tanganku dong...! " kerling Dimas sambil memperhatikan Ashe yang memasang b*hnya.


Dimas segera menarik tangan Ashe keluar kamar dan menuju dapur. Ia mencari mie instan dan mulai merebus air. Sementara Ashe duduk menunggu di meja makan.


Tak lama, mie rebus tersaji di depan Ashe.


" Kamu nggak makan Bie ? " tanya Ashe yang begitu antusias melihat makanannya jadi dan mulai icip meski kepanasan.


" Enggak...! Pelan aja makannya, itu masih panas Bu...! " Dimas mengelap sudut bibir istrinya.


Ashe tak menyahut dan mulai melahap makanannya. Sementara Dimas ikut mengunyah biskuit dan diambil dari rumah JAE. Tadinya, itu dibiarkan saja untuk Nasrul. Namun, Nasrul memilih membawanya karena tahu Bu Bosnya suka ngemil.


" Bieee... habisin...! " Ashe menyodorkan mangkoknya.


Dimas menatap penuh senyum. Udah feeling sejak tadi. Ashe mulai agak rewel soal makan.


" Kenapa emangnya...? "


" Aku kenyang Bie...! "


Dimas tersenyum. Soalnya Ashe pindah mengunyah yang lain meski ia bilang kenyang. Dimas memang tak pernah keberatan menghabiskan apapun yang di makan Ashe. Bahkan terkesan justru sangat memanjakan Ashe.


Selesai makan, mereka kembali ke kamar. Ashe langsung ambruk ke kasur. Sementara Dimas kembali packing dan kemudian menyusul Ashe. Masuk ke dalam selimut dan memeluk erat istrinya.


" Maaf ya, kita harus LDR lagi sayang... ! " bisik Dimas seraya mengecup kening Ashe.


" Nggak papa Bie... ! Aku akan membiasakan diri... " diih, matanya merem tapi mulutnya nyaut.


" Jangan uring - uringan ya...! Aku pulang secepatnya...! "


" Hmmm....! Jangan tertarik cewek lain...! "


" Mana bisa, kan aku udah punya semua yang aku inginkan...! Terima kasih sudah mau menjadi pendamping hidup OB satu ini..! Senangnya bisa meniduri anak Bos setiap saat... Aduuuuuhh.... "


Dimas langsung menjinakkan tangan Ashe yang mencubit pinggangnya.


" Kamu demen banget sih, nyubit...! Coba bekerja yang bener dong...! " keluh Dimas membuat Ashe melek dan menatap wajah Dimas yang selalu membuatnya meleleh.


" Aku sudah bekerja dua shift malam ini...! Masak mau tambah shift lagi.. " protes Ashe.


" Iya dong...! Shift satu ini tidak memberatkan kok...! " Dimas meraih tangan Ashe paksa dan langsung menyelipkan ke satu tempat.


Ashe terperangah. Ia begitu risih namun tidak dengan Dimas. Dimas mendekapnya erat hingga Ashe tak berkutik.


" Tetap di sana sampai pagi...! " ancam Dimas yang langsung mengeratkan pelukannya.


Ashe menahan tawa. Yang di tangannya begitu sensitif. Langsung bergerak meronta.


" Jinak ya...! Jangan menerkamku lagi...! Besok aku mau kerja, dan bosmu mau pergi... " kata Ashe nyleneh ditujukan pada yang di tangannya.


" Iya Nyonyyaaaaa... " Dimas yang menyahut. Kembali mengecup kening Ashe denan mata yang sudah tertutup. Mereka tertidur dengan posisi berpelukan.


*****


" Maaf ya, selalu pergi...! " kecup Dimas di kening Ashe.


Mereka berpelukan di kamar saat selesai sarapan. Dimas sudah siap berangkat. Ashe sendiri juga telah siap berangkat kerja setelah sekian lama cuti.


" Iya nggak papa Bie...! " kali ini Ashe lebih tegar.


" Tenang, nanti nyelip lagi... " goda Dimas.


" Ogaaah kalau cuma nyelip...! "


" Terus apaa ? "


" Yaaa prakteklah... " ucap Ashe malu - malu membuat Dimas tak bisa menahan tawanya.


" Otakmu ini apa isinya...? " toyor Dimas pelan.


" Isinya kamulahhh... "


" Haaaha... hmfftp...! Udah jago ngombal sekarang... " senyum Dimas sambil menangkup pipi Ashe. Dimas mencium bibir Ashe.


" Manis sekali...! Jadi pingiiin Bu... "


" Pingin apa ?? "πŸ€”


" Bibir yang lain.... " kedip Dimas.


" Ihhh... " Ashe mencubit pinggang Dimas. " Udah ditungguin Nasrul tuh... " sewot Ashe sementara Dimas masih senyum - senyum menatap wajah istrinya yang merona merah.


Ashe melepaskan diri dari pelukan Dimas.


" Dimmm....! " terdengar Pak Fajar memanggil.


" Tuuhh, udah di panggil Papa..." ucap Ashe.


" Iya Pa...! "


" Udah kekepannya. Udah ditungguin tuh...! Nasrul sampai galau tuh...! Kamu seneng banget nyiksa jomblo...! " seru Pak Fajar.


Dimas keluar menyeret kopernya. Sementara Ashe menenteng tasnya sendiri.


" Dia nggak jomblo Pa...! " ralat Dimas.


" Sendiri berarti jomblo...! " eyel Pak Fajar.


" Papa juga berasa gitu juga ya kalau pergi keluar kota sendiri...? " terkah Ashe.


" Biarin aja She...! Mama masih sabar kok...! " tiba - tiba Bu Fatimah muncul dari arah dapur.


Pak Fajar tersenyum menyambut istrinya.


" Nggak gitulah Ma...! Kan Papa udah keliatan mulai tua... " rangkulnya pada Bu Fatimah.


" Wedeeeh, tumben. Biasanya menolak tua... " sindir Dimas dan Ashe bersamaan.


Pak Fajar langsung menatap anak dan menantunya nanar.


" Bagaimana kalian itu bisa berjodoh...! " gelengnya.


Bu Fatimah tertawa tertahan.


" Itu belum kalau mereka punya anak Pa...! Kamu kayaknya tiap hari di bully...! " ucap Bu Fatimah makin memojokkan.


Ashe dan Dimas tertawa melihat Pak Fajar cemberut.


" Papa itu menang wibawa doang di kantor...! Di rumah nol besar...! " sindir Ashe.


" Mending nol besar, nol kecil tahu She...! " sahut Pak Fajar sambil melirik Bu Fatimah.


" Itukan tandanya Papa cinta dan sayang sama Mama...! " ucap Bu Fatimah.


" Wedeeeeh....! " gelak Ashe dan Dimas bersamaan.


" Benar - benar Buciiit sekali...! " ledek Ashe.


" Nggak usah ngiri Mbak ee... ! Itu sampingmu juga Bucit nggak ketulungan... " sahut Pak Fajar.


" Bucin Pa, Bucin...! Aku masih muda..! " ralat Dimas tak terima.


" Iya deh, Papa ngalah. Biar kamu seneng...! " sahut Pak Fajar.


Pak Fajar memutar bola mata malas. Bu Fatimah menahan senyum. Sementara Ashe langsung manja mengeleyot lengan Dimas.


" Ya udah Pa, aku berangkat dulu....! " pamit Dimas mengulurkan tangan. Mencium punggung tangan berganti pada Bu Fatimah. Mereka mengantar ke mobil. Nasrul yang sedari tadi gabut memeluk mobil bergegas menganbil koper Dimas dan memasukkan ke bagasi.


" Hati - hati Dim...! " pesan Bu Fatimah dan Pak Fajar.


" Iya Pa, Ma...! " sahut Dimas.


Dimas menoleh ke Ashe yang sedari tadi mengenggam tangannya.


" Hati - hati bawa mobilnya ya Bu. Ada Bang Isal dan Yidi yang siap setiap saat...! " pesan Dimas.


" Kamu yang harusnya siap setiap saat...! " sindir Ashe.


" Iyaa. Aku juga siap setiap saat meski jauh..! " Dimas mencium kening Ashe hingga Pak Fajar mendehem. Tapi mereka berdua seolah tak bergeming.


" Aku berangkat ya... ! " pamit Dimas.


Ashe mengiyakan dan mencium tangan Dimas.


" Pa, Ma, titip Ashe ya...! " pamit Dimas lagi.


" Iya. Kamu nggak titip aja, Papa sama Mama jagain kok...! Tenang aja...! "


Dimas mengangguk dan masuk mobil. Ashe mmelambaikan tangan. Pak Fajar menyuruh Nasrul untuk membawa mobil dengan baik.


****


Ashe sendiri pamit ke kantor. Demikian juga Pak Fajar. Meski satu kantor. Ashe lebih memilih untuk berangkat sendiri. Pak Fajar tentu dengan sopirnya.


Ashe turun dan langsung menyerahkan kunci pada satpam yang berjaga di pintu utama. Sejenak Ashe menatap gedung yang hampir ditinggalnya cuti. Dengan perlahan ia melangkahkan kaki masuk ke lobby utama. Beberapa karyawan mengangguk penuh hormat pada Ashe.


Ashe membalasnya dengan senyum.


" Selamat datang Bu Ashe. Selamat menempuh hidup baru...! " sorai pegawai di divisi Ashe. Mereka menyambut Ashe dengan wajah suka cita. Seorang pegawai perempuan datang membawa buket bunga.


Ashe tersenyum menyambutnya.


" Terima kasih semuanya...! " ucap Ashe haru.


Ia tak menyangka karyawan di divisinya begitu perhatian.


" Terima kasih sudah bekerja dengan baik. Semoga kalian selalu sehat dan semoga pekerjaan kita semakin lancar dan juga maju...! " imbuh Ashe.


" Amin Bu... "


Ashe kemudian berjalan ke ruangannya di ikuti Dema. Dema langsung menumpuk berkas - berkas pekerjaan di meja Ashe.


" Terima kasih Dem. Kamu sungguh luar biasa... " sindir Ashe.


" Iya Bu, dilihat saja dulu. Saya sudah aturkan jadwal untuk Ibu... " Dema meyodorkan map keramatnya. Ashe tersenyum melihatnya.


" Ok. Panggilkan Pak Argo dulu... "


Dema mengiyakan dan keluar ruangan Ashe. Ashe mendesah kesal. Menatap sekeliling dengan nanar. Pandangannya tak ada yang lain selain bayangan Dimas. Ruangan yang terasa penuh kenangan dengan Dimas. Ashe meraih Hpnya.


Bu : Aku kesel tiap masuk ruangan ini πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“


Ting


Bie : Kesel kenapa sayang ? "


Bu : Inget kamu...! 😀😀😀


Bie : Laaah, inget suami kok kesel...! Baru juga sejam Bubba sayaang...! 😘😘


Bu : Tahuuu ah...


Bie : Diiih ngambekk...! Vc ya... πŸ™πŸ™


Bu : Nanti aja Bie, lagi manggil pak Argo...


Bie : πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜” ok, kirim selfie...


Bu : Nggak demen selfie...


Bie : Sekali aja sih...


Bu : Nggak punya pose bagus...


Bie : Gpp, yang penting pelayanan memuaskan.. πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Bu : 😱😱😱😱


Bie : Diiih, serius juga. Klau nggak mna mungkin nambah terus..


Bu : πŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈ


Bie : Buruan selfie...


Bu : Tukang maksa...


Bie : Nggak tuh, buktinya kamu sukarela dan menikmti 😍😍😍


Bu : πŸ€›πŸ€›πŸ€›πŸ€›


Bie : Aku merindukan tonjokanmu Bu, aplagi pelukanmu πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Bu : πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„


Bie : Jangan gitu dong, dosa tahu ! Ini kan suami kamu...


Bu : Ya jelas, kamu hanya milikku seorang...


Bie : Wedeeeeh... posesif apa satelit ?


Bu : Satelit yg posesif🀭🀭


Bie : Selfi buruan...! Kangen ini... ! Nggak mau vc... "


Bu : Astagfirullah, bukan nggak mau, nih ada p. Argo.


Bie : No alesan...


Bu :



Bu : Daaah, puas Loe....??


Bie : Puas apa ? Orang nggak ngerasain apa - aapa ? 🀣🀣


Bu : πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ‘ŠπŸ‘ŠπŸ‘Š


Bie : 😁😁 😘😘😘😘😘


Bu : Bentar ya, ada p. Argo nunguin...


Bie : Ok sayang 😘😘😘😘


Ashe meletakkan Hpnya. Pak Argo telah duduk beberapa saat di depan Ashe dan mulai memberikan laporan. Sejauh ini, Ashe memang tidak menemukan permasalahan di perusahaan. Ia hanya perlu banyak monitoring saja. Namun, tetap saja. Pak Argo tampak menghela nafas lega begitu keluar dari ruangan Ashe.


" Bu, di tunggu Pak Fajar rapat di hallroom...! " ketuk Dema di depan pintu.


Ashe yang sibuk dengan berkasnya menengadah. Agenda hari ini memang cukup padat untuknya. Apalagi saat Dimas pergi. Ia perlu monitoring bahkan sampai ke stageholder.


" Iya Dem...! Tunggu sebentar...! " Ashe menutup berkasnya.


Kemudian meraih Hpnya dan buku catatannya. 🀣🀣 Ashe masih senang mencatat sendiri di atas kertas. 🀭.


Ashe beranjak. Dema mengikuti di belakangnya. Mereka masuk lift turun ke bawah. Menuju hallrom. Sesampai di sana semua sudah berkumpul, dan hanya menunggu Ashe.


Ashe melempar senyum sebari mengucapkan salam. Ia mengambil tempatnya. Pak Fajar memulai rapat. Ashe mencuri pandang pada yang hadir. Ternyata hanya kepala divisi dan kepala cabang.


Semua memaparkan laporan perkembangan dari cabang masing - masing dan permasalahan dari divisi mereka. Ashe rapi mencatatnya meski dengan tulisan tak ubahnya cakaran ayam dan hanya bisa di pahami Ashe sendiri.


" Terima kasih untuk semua laporan yang sudah masuk hari ini. Saya inginkan setiap permasalahan apapun yang menyangkut urusan perusahaan agar bisa masuk dalam laporan Humas selain laporan resmi dalam rapat bulanan. Saya tidak melarang apabila ada kerabat, saudara, teman bila ada kesempatan untuk bergabung dengan JAE Grup, silahkan bergabung. Saya tekankan HRD untuk transparan bukan hanya soal kualifikasi, namun lebih ke arah training.


Tapi ingat, setiap ada celah yang memungkinkan untuk tindak KKN, tolong berhati - hati dan berpikir ulang untuk melakukannya.. Diam saya adalah kekejaman saya " saran Ashe yang lebih dominan mengancam.


Pak Fajar hanya mengangguk tersenyum. Menantu dan anaknya sudah klop tak ada bandingannya. Sama - sama diam tapi otaknya berjalan.


" Baik. Terima kasih Bu Ashe untuk masukkannya. Karena Presdir kita sedang dinas keluar kota. Jadi semua permasalahan akan di tampung oleh Nyonya Presdir. Acara hari ini kita tutup. Terima kasih dan selamat siang...! " pembawa acara menutup agenda rapat siang itu.


Semua anggota rapat bubar. Paling akhir adalah Ashe dan Pak Fajar.


" Kamu masuk sehari udah galak...! " sindir Pak Fajar sambil berjalan di samping Ashe.


" Dikiit Pa...! "


" Belum ketemu yang lain...! " tambah Pak Fajar meledek.


" Belum akan dalam waktu dekat ini...! "


" Oiya. ARASA siapa yang bawa...? GG Grup sepertinya mulai berbenah...? "


" Ihhh... Papa kenapa sih ? Sengaja bikin kesel ya...? " sewot Ashe.


" Mumpung mantan pacarmu lagi ngajakin LDR, kapan lagi Papa bisa ngebuly kamu...! Kalau ada mana bisa ? " ucap Pak Fajar sambil ngeloyor pergi.


Ramzi dan Anita yang berjalan di belakang Pak Fajar menunduk menahan tawa.


" Astagfirullah... Papa...! " kesal Ashe.


" Hahhaha....! Mau maksi bareng nggak ? Mumpung ayang beb lagi nggak ada... " ucap Pak Fajar.


" Ogaaaah....! " sungut Ashe.