
Setelah acara kelonan 2 hari alias bolos. Ashe dan Dimas sepakat berangkat kerja. Ashe bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan juga keperluan Dimas. Pak Fajar dan Bu Fatimah belum kembali. Pak Fajar mengurus perusahaan di Surabaya dan ke Kalimantan menggantikan Dimas monitoring. Dan Pak Fajar selalu pergi bersama Bu Fatimah.
" Buuuu.....!!! " Dimas menepuk kasur di sampingnya dengan masih memejamkan mata.
Sayang yang dicari tak ada. Dimas membuka mata. Kamar tampak sunyi namun hidung Dimas mencium bau harum. Dimas tersenyum dan meraih Hpnya. Semalem setelah Ashe tidur, Dimas tanding main game dengan Pak Fajar via online. Mereka sudah sangat lama tak bertanding. Tentu saja, Dimas masih menjuarai setiap permainan. Namun setidaknya sudah membuat mertuanya senang.
Melihat jam sebentar di Hpnya, Dimas bangun dari tempat tidur an ke kamar mandi. Ia hanya buang air dan mencuci muka. Kemudian keluar kamar menuju dapur.
" Kamu masak apa ? " peluk Dimas dari belakang.
" Masak yang enak dimakan ! " sahut Ashe berusaha menghindari gesekan dari kumis Dimas yang mulai tumbuh. Rasanya begitu geli di lehernya. Apalagi Dimas sengaja menggeseknya di leher Ashe.
" Geli Bieee, kumisnya nih cabutin dulu " protes Ashe membuat Dimas terkekeh.
" Nanti kamu yang cabutin. Bau masakanmu membuatku lapar banget Bu...! "
" Kamu sudah mandi ? "
" Nunggu mandi bareng kamu ?" goda Dimas mencolek pinggang Ashe iseng.
" Hiiiiihhhh....! Udah duduk sana. Bentar lagi ini mateng ! Sarapan terus berangkat kerja ! Aku bisa nginep di kantor kalau kebanyakan libur ! " Ashe mengecup pipi Dimas yang masih setia nemplok padanya.
" Kamu berhenti kerja ajaa Bu ! "
" Terus aku suruh ngapain dirumah ? "
" Nunggu aku pulang kerja "
" Enak aja. Ntar ujungnya q cepet keriput di rumah, cepet tua. Terus kamu lihatnya cewek cantik mulu di kantor. Ntar kamu terus nggak mau pulang liat nenek genderuwo di rumah... " cerocos Ashe membuat Dimas melirik aneh.
" Ya udah kerja aja " sahut Dimas malah menggeratkan pelukannya dan memejamkan mata. Lebih tepatnya tak mau berdebat dengan Ashe.
" Duduk sana Bie ! "
" Hmmm...! " Dimas melepas pelukannya dan duduk menunggu Ashe di meja makan. Ashe menyiapkan sarapan dan teh manis untuk Dimas. Menu sederhana tapi sangat mengiurkan bagi Dimas. Apalagi yang masak Ashe. Meskipun hanya udang tepung, kentang dan telur puyuh balado, tahu tempe goreng.
" Kamu mau mandi dulu apa makan dulu Bie ? " Ashe ikut duduk di hadapan Dimas. Dimas sedang meniup - niup tehnya.
" Makan dulu, kamu udah laper kan ? " Dimas tentu sangat tahu Ashe.
Ashe mengambilkan nasi lengkap dengan lauknya kecuali udang. Dimas alergi udang.
" Terima kasih sayang...! "
" Kembali kasih ! " senyum Ashe membuat Dimas gemas dalam hati. Rasanya ingin mencium bibir itu.
" Makan yang banyak. Oiya, Papa sama Mama pulangnya mungkin agak lama Bu ! "
" Iya aku tahu ! "
" Tahu dari mana ? "
" Kamu semalem telpon sama main game kan ? " sungut Ashe.
" Hihi..! Aku kan nggak cuma pingin nyenengin kamu aja...! " toel Dimas.
" Huuuu... "
Dimas terkekeh. Mereka segera menghabiskan makan dan bergegas membereskan meja makan bersama - sama. Dimas dan Ashe bergantian mandi. Mereka memutuskan berangkat kerja dengan satu mobil.
Di lobby kantor Ashe mulai tersungut kesal. Bagaimana tidak, pesona Dimas dengan bajunya membuat semua karyawan wanita memandang kagum pada Dimas. Dimas yang tanpa senyum pun manis dan sangat melelehkan.
Kini Dimas berani mengandeng Ashe dengan mesra.
" Cemburumu membuatku hampir kebakaran " bisik Dimas sebari masuk ke lift.
" Kau akan ku bakar beneran " sahut Ashe membuat Dimas tertawa geli.
" Aku antar ke ruanganmu dulu Bu " tangan Dimas langsung menekan tombol lift untuk berhenti di ruangan Ashe.
" Kenapa kita tidak ke ruanganmu dulu ? Aku ingin lihat ruang Presdir itu ada wanitanya atau tidak ? " tatap Ashe tajam.
" Heeiiiihhhh....?? " Dimas menatap Ashe tak percaya. Namun segera ia menutup lift dan menekan tombol menuju ruangannya sendiri.
Begitu keluar, mereka langsung di sambut Faisal.
" Ya ampuun yang habis setoran, kiraiin lupa ngantor ! " ledek Faisal dari meja kerjanya.
" Gagal total...! " sahut Dimas.
Ashe langsung menoleh tak terima.
" Apanya yang gagal...? Dirumah kita ngapain ? Di parkiran mall ngapain ? Terus di Ciater kita ngapain ? " cecar Ashe yang langsung bikin Dimas menggaruk kepalanya. Mati kutuu 🤣🤣.
" Haaaahhh di parkiran mall ? " Faisal bertanya dengan raut aneh. " Emang nggak ada tempat lain Bos ? " Faisal menahan tawanya.
" Heeeiiis Bu....! Ayo masuk aja. Nanti kamu terkontaminasi Bang Isal ! " Dimas langsung meraih pundak Ashe dan membawanya masuk ke ruangannya. Terdengar Faisal tertawa di buat - buat. Dimas langsung mengepalkan tangannya ke arah Faisal. Tentu saja, Faisal tak ada takut - takutnya.
Ruangan Dimas sangat luas dibanding dengan Ashe. Padahal Pak Fajar dulu menawarkan ruangan itu untuk Ashe. Namun Ashe menolaknya karena tidak mau bekerja sendirian.
" Nahhh... Ayo duduk ! " Dimas mendudukkan Ashe di kursi kebesarannya. Sementara ia duduk di meja menghadap Ashe.
" Gimana ? Mau pindah di sini atau tetap mau di ruangan sana ? " Dimas membetulkan anak rambut di kening Ashe.
" Aku di sana saja. Di sini nanti hanya bekerja untukmu ! "
Dimas mengerutkan kening.
" Apaa ituu ? "
" Entaaah... " pipi Ashe merona membuat Dimas menahan tawa dan melepas jasnya.
" Mau apa kamu ? " tatap Ashe tajam karena Dimas turun dari meja dan melepas blazzer Ashe.
" Memakanmuu... " bisik Dimas membuat Ashe bergidik ngeri. Kalau benar, tentu saja Ashe yang akan memakan Dimas 😒.
" Hahahaha....! " Dimas tertawa dan menukar jasnya ke badan Ashe.
" Kalau Bu nggak mau seruang denganku, setidaknya baumu tetap ada di sini ! " Dimas memaksa Ashe berdiri dan ia yang mengambil alih kursinya. Ia pun mendudukan Ashe di pangkuannya. Dimas mencium lembut pipi Ashe. Hembusan nafas hangat Dimas begitu terasa.
" Aku di sana saja Bie. Toh kita masih satu gedung kok..! "
" Ok...! " Dimas kembali mengecup bibir Ashe.
Ashe menahan dada Dimas.
" Kenapa ? "
" Rencana di otakmu pagi ini harus gagal total...! Aku nggak mau karokean... "
" Hahaha... iya.. iya. Di sini paling cuma ada Anita. Tapi itukan sekertaris Papa. Kamu tahu sendiri, Faisal ada di depan " Dimas seolah tahu apa yang di pikiran Ashe.
" Iya, aku tahu Bie...! Aku balik ke bawah ya ! Kelamaan disini ntar dikirain mesum ! "
" Bawaaah mana ? " kerlip Dimas.
" Tau ahhh... " Ashe berusaha bangun dari pangkuan Dimas dengan wajah merona.
Dimas terkekeh.
" Aku anterin... "
" Nggak usahhh. Ntar pada julid mulutnya ! "
" Enggak. Aku anterin ! " paksa Dimas membetulkan jasnya yang cukup kebesaran. " Mereka kan udah tahu aku suami kamu. Beneran kamu nggak mau disini ? "
" Iyaaa...! "
" Nasrul ke Jogja ketemuan sama Kiwil " Dimas bicara seolah menjawab penasaran Ashe.
" Mereka seriusan ? "
" Ehmmm...! Datang sendiri melamar sendiri "
" Kamu serius Bie ? Terus diizinin ? "
" Heeem "
" Aku penasaran lagi deh " tahan Ashe di pintu.
" Kamu terlalu banyak penasaran " kecup Dimas di bibir Ashe.
" Isshhh, kau ini selalu sajaa...! " tahan Ashe di dada Dimas.
" Nanti aku cerita soal keluarga Nasrul. Tapi nggak sekarang. Ok ? "
" Kamu emanng cenayang sejatii " pukul Ashe pelan.
Dimas terkekeh, " Itu biar kamu nggak macem - macem "
" Bodo amat, kamu yang tanda tangan ARASA dan menyetujui Gena Line tetap bertahan. Kamu yang tanggung jawab"
" Bang, saya anter Ashe dulu ya ! " pamit Dimas pada Faisal yang duduk di depan laptopnya.
" Kenapa nggak dipenjara di dalam ? Baru sebentar lhoo ! " sahut Faisal.
" Aku bukan tahanan Bang Isal " sungut Ashe.
" Iya aja, tahanan cinta ! "
" Hisss Abang inii...! "
" Okk...! Hati - hati....! " senyum Faisal.
" Jangan senyum ke istri guee... " celetuk Dimas.
" Hedeeeeehhhh.....! Buciin loe ! Jangan lama di sana...! Nggak pakai ml... ! Kerjaan Pak Presdir udah nungguin lho "
" Kalau mau ml udah dari tadi di dalem kaliii.... "
" Hiiiisss....! " Ashe melotot memukul lengan Dimas. Dimas hanya nyengir.
Faisal tersenyum melambaikan tangan pasangan itu masuk lift.
****
Dimas mengantarkan Ashe ke divisinya sendiri. Begitu masuk divisi Ashe, semua karyawan Ashe langsung berdiri dan menyapa pasangan itu.
" Jangan banyak senyum ke cewek ! " tatap Ashe tajam begitu mereka masuk ke ruang Ashe.
" Iya sayang ! Kamu juga. Kenapa divisi kamu cowoknya ganteng - ganteng dan masih muda ? "
" Mereka anak magang ! "
" Dulu perasaan nggak banyak dan bahkan tak ada anak magang "
" Perasaanmu aja Bie ! Itu yang bisa magang kesini kan cuma dari yang terbaik dari divisi lain "
" Tapi mereka ganteng - ganteng "
" Ckk... Nanti mereka aku cakarin biar mukanya ancur "
" Punggungku kali yang kamu cakarin ! Emang perlu ya nyakar ? "
" Astaga Bie. Itu mau dibahas di sini ? " Ashe membulatkan mata jengah.
" Kalau perlu iya ! "
" Itu privasi kita di kasurrr. Jangan bahas di sini ! "
" Bahas dimana ? "
" Di kasurrrrr ! "
" Hahahhaahahha... "
" Hisssss.... "
" Iya....iyaaa! Ya udah, aku balik ke atas. Nanti makan siang aku samperin ! " ucap Dimas mencium kening Ashe. " Aku tunggu bisa balik ke atas tubuh kamuu"
" Hedeeeehhhh"
" Deaallll ?? "
" Ok. Oiya ! Pakai jasmu ! Kamu terlalu seksi ! " Dimas menelisik penampilannya. Memang sih, setelannya cukup ngepres di body .
" Aku tampan kan ? " nyeleneh Dimas saat Ashe kembali memakaikan jasnya.
" Tampanmu hanya untukku. Aku tidak mau ada cewek berfantasi liar saat melihat tubuhmu"
" Harusnya aku yang berkata begitu Bu ! "protes Dimas.
" Aku tidak seksi Bie ! "
" Siapa yang bilang ? Apa kau tidak tahu, para pria - pria itu membicarakanmu ? "
" Tak usah pedulikan mereka ! Mereka hanya penasaran " Ashe mencium pipi dan bibir Dimas.
" Pergilah bekerja, aku butuh dana segar dari kantongmu " dorong Ashe.
Dimas yang masih menikmati sisa ciuman Ashe terkekeh.
" Iyaaa ! Nanti aku transfer uang yang banyak. Tapi di pakai ! "
" Tidaak mau ! Aku hanya mau makai kamu aja "
" Heeeehhhh 😱😱😱😱"
Ashe tersenyum. " Tunggulah seminggu lagi ! " bisik Ashe dan berhasil mengeluarkan Dimas dari ruangannya.Dimas tersenyum penuh arti.
Hingga ia keluar, Dimas masih tersenyum seendiri membuat para karyawan di divisi Ashe yang kepo langsung ciut saat Dimas mengedarkan pandangannya. Pak Argo sajalah yang berani menyapa Dimas.
Dimas kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan banyak pekerjaan yang numpuk. Demikian juga Ashe.
****
Saat makan siang,
" Kemana sih Mas Dim ? " tatap Faisal yang sejak tadi setia duduk di kursi di depan meja Dimas.
Dimas tampak buru - buru mematikan laptopnya. Banyak berkas yang berserakan di meja Dimas, namun Dimas enggan membereskannya.
" Cari makan ! "
" Sendiri ? "
" Iyaa. Bang Isal makan saja sendiri ya ! " Dimas langsung bangkit dari kursinya dan berlalu.
" Kayak orang kebelet kawin aja sihh loe ? "
" Emanggg ! " sahut Dimas yang langsung menghilang di balik pintu.
" Emang kalau punya Bos lagi bucin akut. Yang sejak tadi setia disini di cuekin aja " gerutu Faisal yang kemudian membereskan laptop dan meja Dimas.
Dimas tidak langsung ke ruangan Ashe. Ia berbelok ke pantry di lantainya.
" Pak Dimas, ngapain ? Ada yang bisa dibantu ? " sapa Yidi yang kaget melihat kedatangan Dimas yang tiba - tiba. Demikian juga beberapa karyawan lain.
" Enggak pa - pa. Cuma mau nganti baju doang ! " sahut Dimas langsung menuju lokernya diikuti tatapan heran para anak buahnya yang dulu adalah teman kerjanya.
Dimas menganti baju OB secepat mungkin dan melipat kemejanya.
" Pak Dimas mau ngapain ? " tatap Yidi heran.
" Mau beli makan ! " sahut Dimas.
" Mau saya beliin ? " tawar Yidi.
" Nggak usah. Aku akan beli sendiri " Dimas menyambar kunci motor di lokernya dan pamit pada semua yang ada.
Dimas bergegeas turun. Ia tak lewat lobby melainkan pintu belakang ke basement motor. Motornya terparkir disana. Segera ia melaju dan menuju resto padang. Dimas membeli 2 bungkus nasi padang dengan satu bungkus lauk ekstra. Tak lupa ia juga mampir ke mini market membeli air mineral. Dimas kembal ke kantor dan langsung menuju ruang Ashe.
" Bieeeee ? " Ashe mendongak kepala kaget karena tiba - tiba pintu terbuka dan muncul Dimas dengan tentengannya. Ashe dibuat melongo tak percaya dengan penampilan Dimas.
" Bajumu kemana ? " cecar Ashe tak henti menatap Dimas yang meletakkan bungkusan di meja tamu Ashe.
" Hehe....di pantry " Dimas mendekat dan mengecup kening Ashe. " Ayo makan dulu, nanti di lanjut lagi " tarik Dimas sontak membuat Ashe beranjak dari kursinya. Laptop dan berkas di biarkan berserakan begitu saja di meja Ashe.
" Aku cuci tangan dulu "Ashe ke kamar mandi di ruangannya. Ashe segera kembali dan duduk di sofa di samping Dimas.
" Kamu tadi beli makan sendiri Bie ? "
" Iyaaa "
" Terus kenapa masih pakai baju ini lagi ? "
" Nyaman saja. Tak ada yang ribet saat aku keluar dengan pakai baju ini. Lagian aku tidak ada jadwal rapat atau keluar kok"
" Ya ampun ...! Kamu bikin aku pusing tahu nggak ! "
" Pusing lagi besok kalau nggak ketemu aku ! "
" Kamu mau kemana ? "
" Keluar kantor doang ! Udah ayo dimakan " Dimas menyodorkan bungkusan nasi untuk Ashe.
" Awas aja kalau keluar kota lagi ! Nggak ada jatah makan buat " macan " mu itu " Ashe tersungut kesal.
" Ya ampuuunnn.....! Pusing banget kalau itu " keluh Dimas membuatnya membulatkan mata tak percaya.