
Pak Kibul menatap sekeliling lewat jendela mobil. Di luar sudah terang meski masih cukup pagi. Pikirannya menerawang ke 25 tahun lalu. Semua sudah berbeda, sangat jauh berbeda. Infrastruktur tumbuh dengan cepat. Jakarta bertumbuh dengan singkat. Ini memang bukan pertama kalinya ia menjejakkan kaki di kota ini. Tapi ini sudah sangat lama. Ia menatap Dimas, anak pertamanya itu kini telah tumbuh dewasa. Pikirannya menerawang. Anak yang mengingatkannya tentang banyak kenangan di kota ini.
Pandangan Pak Kibul kembali menatap sekeliling. Ia memperhatikan jalan masuk ke sebuah kompleks perumahan. Bu Izun juga nampak terkesima melihat rumah - rumah mewah yang mereka lewati. Silia juga tak berhenti komentar.
Tak lama, Nasrul membelokkan mobil ke halaman rumah yang tak terlalu besar. Setelah Nasrul mematikan mesin mobil dan membuka kunci pintu semua turun dan menghirup udara. Bu Izun menatap sekeliling.
" Iki ijih sak kompleks Dim ? " tanyanya bingung.
" Iyo, Ngopo ? " sahut Dimas.
" *Kok omahmu iki cilik. Tak kiro seng gede apik mau*.... " keluh Bu Izun.
" Mamak ki mbokyo rasah matre sih. Bersyukur Mak... Dimas wes duwe omah...! " sahut Pak Kibul.
" Tahu nih. Ketularan Bu Minu sih... " sungut Rozi sambil berjalan masuk.
Ia berjongkok mengambil kunci di bawah pot dan membuka pintu.Mematikan lampu dalam rumah. Membuka horden hingga semua tampak terang. Karena memang kompleks JAE dibuat dengan nuasa pedesaan dengan pekarangan di kiri kanan dan depan belakang.
" Mamak pingin omah seng gede ? Yoh, engko tak tukoke. Dingoni yo...! " sahut Dimas.
" Diih Bang....! Ojo nuruti mamak wae to...! " keluh Silia.
" Heeeh.... kui ra arep do mlebu opo ora ? Rasah mikir omah e gede po cilik...! " seru Rozi.
Bu Izun terkekeh. Menenteng tas selempangnya.
" Kan mamak ming pingin. Pingin kan ra dosa... ! Ra go biaya...! " elak Bu Izun seraya berjalan masuk rumah Dimas.
Nasrul yang sejak tadi menurunkan bawaan dari bagasi dan membawanya masuk rumah Dimas hanya tersenyum.
" Kamu cuma akan capek doang Rul. Bentar lagi suruh naikin bagasi lagi itu makanan... " celetuk Rozi.
" Nggak papa Mas, itu kan emang kerjaan saya. Ngelayanin Pak Dimas... " sahut Nasrul.
" Kamu boleh pulang istirahat Rul... " kata Dimas sebari berjalan masuk.
Bu Izun sudah masuk lebih dulu bersama Silia. Pak Kibul berjalan berkeliling rumah melihat - lihat.
" Keperluan Pak Dimas gimana ? " tanya Nasrul.
" Udah gpp. Kamu udah capek...! Nanti ke sini lagi setelah istirahat.. " Dimas menyerahkan kunci motor.
Nasrul mengangguk menerima kunci motor. Ia berjalan ke garasi dan membuka pintu garasi dengan kunci cadangannya. Ia mengambil motor dan pulang ke rumahnya yang sengaja tak satu kompleks dengan Dimas.
Bu Izun dan Pak Kibul duduk istirahat disofa sederhana di rumah Dimas. Rozi yang rajin mendidihkan air untuk membuat teh.
" Maaf yo Dim. Aku ming nguyon lho. Mamak seneng koe wes duwe omah dewe neng kene... " kata Bu Izun seraya memijit kakinya.
Pak Kibul seolah terbawa kenangan masa lalu. Ia lebih banyak diam tapi pikirannya tawuran parah. Lebih parah dari tawuran pelajar.
" Nggak popo Mak. Koe milih o seng endi. Iki kompleks elite. Ngarep mau go omah direktur kabeh...! " sahut Dimas.
" Duit e ono seng arep tok go tuku ? Rasah nuruti cangkeme mamakmu Dim... " kata Pak Kibul.
" Ono Pak....! "
" Mamak ki sok halu e.. " timpal Silia ikut bergabung.
Rozi datang membawa minum. Ia duduk bersila dan ikut nimbrung.
" Juk kapan Bapak lek kon nglamar... ? " tanya Pak Kibul.
" Engko mbengi yo Pak...! Saiki ngaso wae. Kamarku dingo wae rapopo. Sisok nek omahe wes duwe seng gede, tak gaweke kamar dewe - dewe.. " ucap Dimas.
Ia mengambil teh dan menyeruputnya.
" Aku tak adus sik. Aku duwe janji....! " Dimas beranjak mengambil handuk di kamar.
" Zeeeen, kalau capekmu udah kelar, tolong kerjakan sesuatu ya...! " kata Dimas setelah mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
" Eheem... Laptopku gek di charge... " sahut Rozi sambil mengunyah makanan.
Dimas mengiyakan sebari berjalan ke kamar mandi. Ia berganti baju. Apalagi kalau bukan baju OBnya. Ia sangat nyaman bergerak dan kemana pun dengan baju itu.
" Kenapa Abang pakai baju itu lagi ? " tatap Rozi.
" Laah, terus suruh pakai baju mana lagi...? " Dimas balik tanya merapikan jaketnya.
" Terserah loe lah Bang...! " sahut Rozi. Ia terus mengunyah cemilan dan matanya kembali pada Hpnya. Mengerjakan materi kuliahnya.
Dimas menyalami kedua orang tuanya dan pamit.
" Zi, nanti beli makan ya ! " pesan Dimas kembali.
Rozi mengiyakan. Dimas ke garasi dan mengambil motornya. Ia tak mungkin membawa mobil. Tujuannya tentu berangkat kerja. Dia sangat tanggungjawab meski hari ini dia telat.
****
Ashe keluar dari ruang manajemen gudang. Ia baru saja berbicara dengan Kepala Gudang. Tentu saja Ashe tak melepasnya begitu saja. Ia tetap mempekerjakan Kepala Gudang tapi dengan gaji dipotong setiap bulan. Itu sebagai kompensasi pelanggaran beratnya. Korupsi yang bagi Ashe tak bisa dimaafkan.
Faisal tersenyum seraya membuka pintu mobil.
" Makasih Sal.... " Ashe masuk dalam mobil.
Tak lama Faisal sudah bersiap di belakang kemudi.
" Langsung pulang Mbak ? " tanya Faisal.
" Iya... " jawab Ashe singkat.
Ia sangat mengantuk meski perutnya sangat lapar. Faisal menjalankan mobilnya. Sepanjang jalan, mata Ashe terhipnotis semua penjual makanan dan baliho segala jenis makanan. Ashe menelan ludah membayangkan kelezatan makanan itu. Bukan masalah duit yang ia pikirkan.
" Mbak Ashe mau makan sesuatu... ? " tanya Faisal.
" Enggak. Iklan biasanya tak sesuai dengan selera lidah. Aku makan dirumah aja... " sahut Ashe.
Faisal tersenyum.
" Baiklah...! "
Ashe memandang keluar jendela. Matanya terasa sangat berat. Tapi ia berusaha menahannya untuk tak tidur. Tapi tak bisa. Ashe terlelap hingga Faisal membangunkannya. Mereka sampai rumah.
Ashe melangkah gontai.
" Assalamuallaikum.... " salam Ashe.
" Waalaikumsalam... " Bu Fatimah menyambut Ashe. " Kenapa lemes begitu, orang mau lamaran juga... " imbuh Bu Fatimah.
" Lemeslah Ma. Aku ngantuk, tapi laper.... " sahut Ashe seraya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tivi.
" Ya udah. Kamu mandi dulu. Terus makan. Nanti baru tidur. Habis itu, nanti tolong ambilin Mama kue di toko roti langganan ya... "
" Ya.... " Ashe beranjak menuju kamarnya.
Mandi ditengah kantuk melanda. Ia bergegas. Keluar dapur dan makan secepatnya. Ashe menengguk minumnya dan kembali ke kamar. Tempat tidurnya melambai - lambai. Ashe langsung ambruk. Sekejab terlelap.
*****
Dimas sampai dikantor lebih dari terlambat. Ia buru - buru menuju ruang ganti dan istirahat OB. Dimas melepas jaketnya dan menaruhnya di loker.
" Kamu enak banget ya Dim. Dapet cuti dan sekarang telat... " suara Pak Isman mengagetkan Dimas.
Pak Isman adalah KaBag Kebersihan di kantor JAE. Ia tak tahu siapa Dimas. Ia hanya tahu Dimas rekomendasi dari Pak Argo.
" Maaf Pak. Tadi saya baru sampai terus berangkat kerja kok... " sahut Dimas.
" Jangan mentang - mentang kamu dibawa sama Pak Argo ya. Jadi kamu bisa seenaknya...! " kata Pak Isman lagi.
" Maaf Pak... " Dimas menunduk hormat.
" Oiya. Saya dengar kamu dekat dengan Bu Ashe. Jangan macam - macam Dim. Kamu itu cuma OB...! Saya tak mau kamu mencoreng muka saya. Apalagi membuat saya tak senang.."
" Ya Pak...! "
" Gaji kamu saya potong ya buat bulan ini. Kamu ini banyak sekali absennya... " ucap Pak Isman seraya berlalu.
Dimas hanya mengiyakan karena teleponnya berbunyi. Dimas mengambil Hp dari sakunya. Itu Pak Fajar. Dimas menatap Pak Isman yang telah hilang dari pandangan matanya.
Dimas : Ya Pa...?
Pak Fajar : Kamu dimana ?
Dimas : Diruang ganti OB. Habis diomelin... hehe.
Pak Fajar : CEO diomelin kok diem aja.
Dimas : Seragam saya OB... Pappaa....
Pak Fajar : Hahhahaha.... cepat kemari !
Dimas : Ntar saya dipecat...
Pak Fajar : Halaaaah....
Dimas : Gaji saya baru dipotong Pa....
Pak Fajar : Biariiiin aja. Debit dan Kreditmu itu banyak. Gaji itu cuma buat
kamuflase kamu aja...
Dimas : Emang saya bunglon...?
Pak Fajar : Iyaaa. Cepeet ke sini Bunglon....
Pak Fajar : Buruan...
Dimas : Iyaaaa....
Dimas mematikan telepon dan meletakkan kembali ke sakunya. Ia menuju lift ke lantai Pak Fajar. Dimas berbelok ke dapur kantor dan membuat teh.
" Pak Dimas.... ??? " Yidi kaget melihat Dimas.
Dimas tersenyum.
" Iyaaa. Kenapa ?? "
" Kapan balik ? Biar saya saja yang bikin...! " kata Yidi tak enak.
" Tadi pagi. Sttt... diem aja. Ntar ketahuan Pak Isman.... " bisik Dimas.
" Pak Dimas habis diomelin ya ? " bisik Yidi.
Dimas mengangguk.
" Kenapa Bapak nggak bilang aja sih ? Saya nggak enak jadinya. Bapak kan harusnya bukan disini tempatnya... " kata Yidi.
" Belum saatnya Yidi. Kamu tenang aja. Saya baik - baik saja dan amaaan... "
Dimas menyelesaikan membuat tehnya.
" Saya ketemu Pak Fajar dulu Yidi. Lanjutkan kerja... " kata Dimas seraya tersenyum.
Yidi mengangguk tersenyum. Dimas membawa nampan menuju ruangan Pak Fajar.
Dimas mengetuk meja Anita.
" Mau ketemu Bapak Mas ? " senyum Anita.
" Iyaaa... " sahut Dimas.
" Masuk saja. Bapak nungguin... "
Dimas mengucapkan terima kasih dan mengetuk pintu sebelum masuk. Pak Fajar memperhatikan Dimas yang meletakkan cangkir teh di mejanya.
" Appaa ini ?? Sogokan ?? " kerut Pak Fajar.
" Iyaa. Secangkir teh bisa membuat kita bicara... " sahut Dimas seraya mencium tangan Pak Fajar.
Pak Fajar tertawa.
" Kamu bisa aja...! Kapan kamu sampai ? " tanya Pak Fajar.
" Sejam yang lalu kali Pa...! " sahut Dimas seraya duduk di kursi depan Pak Fajar tanpa disuruh.
" Ini nggak ada sianidanya kan ? " Pak Fajar mengangkat cangkirnya dan meniupnya.
" Adalah. Biar usus Papa langsung korosi dan nggak tertolong lagi. Saya jadi pemilik JAE.... " sindir Dimas.
" Tapi enaaak... " Pak Fajar menyeruput tehnya.
" Enaklah Pa. Buatanku udah dikasih jampi - jampi.... "
" Diiiih.....! Anak durhaka loe.... ! Mana oleh - oleh buat Papa...? "
" Masih dirumah Pa....! "
" Jam berapa dateng ke rumah ? Mama udah Papa suruh belanja. Kita makan - makan... " kekeh Pak Fajar.
" Habis magrib ya Pa... ! Tapi jangan syok dengan isi bagasi saya Pa... " keluh Dimas.
Pak Fajar tertawa.
" Nggak papa. Papa siap menampung apapun. Apalagi yang dari kampung. Dari besan pula... "
Dimas terkekeh.
" Papa kenapa panggil aku ? "
" Cuma pingin ketemu kamu doang... " senyum Pak Fajar.
" Aduuuh. Lebih nggak jelas dari Bu Ashe nih... "
" Hehehe....! Emang nggak boleh liat mantu Papa....! " kekeh Pak Fajar.
" Udah liat kan Pa....? " seru Dimas seraya beranjak.
" Mau kemana kamu ? " kenyit Pak Fajar.
" Kerjalah Pa....! "
" Heeeh.... kamu itu CEO....! "
" Di sini OB Papa.... "
" Hedeeeh... kamu tuh harusnya yang duduk di kursi ini. Gantiin Papa....! Papa kan juga pingin pensiun. Santai di rumah, momong cucu dan berduaan sama Mama kamu.... "
" Aku nggak mau Pa.... "
" Kenapa nggak mau ? "
" Papa ini nambah kerjaan Mama... "
" Apaaaaa ?? "
" Ngomelin Papa...! "
" Kok bisa...! "
" Bisalah. Coba bayangkan, Papa duduk manis dirumah tiap hari. Diladenin Mama. Terus Mama kecapekan, uring - uringan. Papa pasti denger Mama ngomel mulu. Apalagi kalau nggak ngasih duit... "
Pak Fajar berpikir.
" Iya juga ya. Mana kalau Mama ngomel nakutin lagi.... "
" Iyaaa kan ? "
" Ya udah, Papa nggak jadi pensiun dinilah. Sono kamu...! Nanti kalau kamu udah dipecat Isman. Kesini kamu..." usir Pak Fajar.
Dimas terkekeh.
" Sebentar lagi aku dipecat Pa... "
" Anita sudah siapkan ruangan kamu...! " sahut Pak Fajar santai.
Dimas mencium tangan Pak Fajar lagi.
" Pamit Pa... " kata Dimas.
" Iyaa. Kamu nggak mau ketemu Ashe...? " tanya Pak Fajar hingga membuat Dimas kembali menoleh.
" Sumpaash. Aku bakaaaal di pecat beneran.... " sungut Dimas.
" Hahahaha..... " Pak Fajar terbahak.
Dimas tersungut sebari keluar dari ruangan Pak Fajar.
******
" Pak, yuk mlaku - mlaku ndelok - ndelok omah apik mau... " Bu Izun mulai bosan di rumah Dimas.
Di kampung, biasanya dia udah ngelayap kemana - mana. Susah untuk duduk diam. Diamnya hanya saat mengikuti kaderan atau pelatihan saja.
" Arep ngopo ? Ora juk njaluk tuku lho... " sahut Pak Kibul.
" Oralah Pak. Aku wes nyaman neng kampung yo...! " ucap Bu Izun.
Pak Kibul tersenyum.
" Yo ayo. Wong cah - cah yo do turu kok...! " ucap Pak Kibul.
" Nostalgia Pak... " senyum Bu Izun.
Pak Kibul tertawa.
" Nek nyasar piye engko ? Jakarta wes berubah okeh Mak....! "
" Hpne digawa Pak....! "
" Yo wes yo gek menyang..... " Pak Kibul berdiri. Mengantongi Hp yang batrenya udah ngasih tanda merah.
Ia lupa mencharge. Bu Izun juga berdiri mengikuti Pak Kibul. Tanpa membawa apapun karena Bu Izun terlalu pede Pak Kibul mengantongi dompet. Sementara sang suami juga lebih pede karena istrinya biasanya gudang duit🤣🤣.
Mereka keluar rumah tanpa pamit. Pak Kibul tak lupa menutup pintu. Mereka berjalan menyusuri jalanan kompleks. Melihat rumah - rumah mewah para direktur Fajar Grup.
" Koe mbiyen ngopo ra gelem neng kene Mak... ! Omah e seng dikeke aku kan gede...! Mewah malah... " ucap Pak Kibul seraya mengandeng istrinya menyusuri jalan.
" Kan aku ming manut koe Pak...! Opo pilihanmu, nyatane aku yo urip seneng... "
Pak Kibul terkekeh.
" Nek wong kampung ngerti omahe dewe yo geger mbiyen. Wong kere kok iso duwe omah apik. Dikiro ngepet engko awake dewe... " kata Pak Kibul.
" Nginggu tuyul 3 yo Pak, awake dewe... " sahut Bu Izun.
Pak Kibul tertawa. Ingat tuyulnya yang kini sudah dewasa semua. Mereka terus berjalan sebari melihat rumah - rumah yang kian mewah. Tak sadar mereka mulai sampai jalan besar. Lalu lalang kendaraan nampak ramai. Namun Pak Kibul dan Bu Izun terus berjalan. Tak berpikir mereka semakin jauh.