
Mentari pagi telah masuk melalui sela sela tirai kamar Elea,jam di nakas dekat ranjangnya sudah menunjukan pukul 08.00. Dengan gelagapan ia segera bangun dari tidurnya.
" Ya Tuhan bukankah kak Bian berangkat pagi ini " gumamnya segera turun dari tempat tidur dan segera mandi.
Sementara Bian kini sudah duduk manis dimeja makan dengan dua piring nasi goreng didepannya. Bian memang perfeksionis selain tampan dan mapan dia juga lelaki yang mandiri. Jangankan hanya nasi goreng makanan ala jepang dan western pun dapat ia masak dengan rasa yang tak kalah dari resto-resto ternama. Selama tinggal dengan Elea pun Bian lah yang sering memasak san merapikan apartemen Elea.
" Maafkan aku kak harus menyiapkan keperluan kakak sebelum kakak pulang " Elea yang sudah rapi segera duduk didepan kakaknya yang tengah makan.
" Makanlah,aku harus segera berangkat " Bian yang sudah selesai membawa piring kotornya menuju dapur. Elea pun segera makan karena tak mau ditinggal oleh Bian.
" Ingat Ele jaga kesehatanmu baik-baik dan jangan terlalu lama didepan layar " Bian kemabli dari dapur dengan membawa segelas susu untuk Elea.
" Dan juga satu lagi,jangan terlalu dekat dengan pacarmu itu sebelum aku merestui kalian " imbuhnya lagi.
" Jadi kakak sudah mengakui kalau Barra adalah pacarku " Elea tersenyum simpul dengan pernyataan Bian barusan.
" Aku serius Ele...kau hanya tinggal sendiri dan aku tidak mau terjadi sesuatu padamu "
" Iya kakakku sayang...aku akan menjaga diriku baik-baik "
" Cepat selesaikan makan mu,jangan sampai aku ketinggalan penerbangan hanya karena menunggumu makan "
Setelah selesai mereka berdua pun menuju bandara dengan mengendarai mobil Elea. Namun belum juga sampai ditempat tujuan tiba-tiba mobil mereka berhenti.
" Ada apa kak?"
" Entahlah sepertinya bannya kempes,aku akan memeriksanya " ucap Bian turun dari mobil. Dan benar saja ban belakang mobil Elea kempes.
" Ya Tuhan kenapa tidak kakak periksa dulu tadi" Elea mengikuti kakaknya keluar mobil.
" Bagaimana ini,aku bisa tertinggal penerbangan Ele "
" Bagaimana kalau kakak naik taxi,aku akan memanggil montir " Namun beberapa saat menunggu belum ada taxi yang lewat membuat Bian semakin khawatir akan tertinggal penerbangan.
"Emmhh...bagaimana kalah aku menelfon Barra kak?" Elea memberanikan diri memberi saran walaupun sudah pasti kakaknya akan menolak.
" Lebih baik aku ketinggalan penerbangan " jawab Bian dengan sinis.
Beberapa saat mereka menunggu namun tak ada taxi yang berhenti. Ada beberapa yang lewat namun sepertinya sudah membawa penumpang. Tiba-tiba sebuah Mercedes-Benz berhenti didekat mereka. Dan seorang pria berpenampilan rapi turun dari mobil berwarna hitam itu. Dia adalah Adrian yang kebetulan lewat dan melihat Elea sedang berdiri disamping mobilnya.
" Kalian butuh bantuan?" tanya Adrian mendekati Bian. Sementara Bian yang belum menyadari bahwa pria tersebut adalah pria yang pernah merawat adiknya hanya terbengong menatap Adrian.
" Dokter Adrian" walau Elea mengingat wajah dokter tampan itu,namun dia heran kenapa pas sekali dokter itu kebetulan lewat disaat mereka butuh tumpangan.
" Maaf dokter Adrian,saya tidak mengenali wajah anda "
" Sepertinya ban mobil anda kempes,apakah ada ban serep didalam?"
" Ban serep ada dokter,tapi masalahnya saya sedang buru-buru "
" Buru-buru?memangnya anda mau kemana?siapa tahu kita satu arah " Adrian berinisiatif menawarkan diri karena mungkin saja arah tujuan mereka satu jalan.
" Ke bandara "
" Kalau begitu mari saya antar kebetulan arah kita sama "
" Tapi dokter arah bandara masih jauh dari rumah sakit tempat dokter bekerja,kami tidak enak mengganggu waktu dokter " Elea merasa canggung bagaimanapun dirinya dan Adrian tidak sedekat dan lagi pula arah bandara juga masih jauh dari rumah sakit.
" Tidak apa-apa nona Elea,lagi pula jika menunggu taksi di jam sibuk seperti ini akan memakan waktu lama "
" Anda yakin kami tidak merepotkan dokter? " Bian sebenarnya juga sungkan untuk ikut bersama Adrian,namun bila harus menunggu taxi memang memakan waktu lama.
" Jika merepotkan saya tidak akan menawarkan diri tuan Bian " senyum Adrian mengembang menandakan dokter muda itu benar-benar tulus ingin menolong mereka.
" Sungguh lucu kita satu alumni tapi tidak saling kenal "
" Mungkin karena kita beda kelas dan beda tingkatan tuan Bian "
" Panggil saja Bian "
" Baiklah kalau begitu anda juga tidak perlu memanggil saya dokter panggil saja Adrian "
Merekapun kembali mengobrol bernostalgia tentang guru-guru mereka sewaktu SMP,sementara Elea hanya terdiam di kursi penumpang sembari ber chatting ria dengan Barra. Sesekali Elea melirik mereka yang sepertinya semakin akrab,bahkan mereka tertawa bersama entah apa yang mereka tertawakan. Tawa itu menularkan senyum pada Elea,karena biasanya Bian adalah tipe pria dingin kaku,jangankan untuk terbahak seperti saat ini tersenyum pun jarang Elea lihat walaupun Bian adalah kakaknya sendiri.
" Andai saja kak Bian bisa seakrab dan sedekat ini dengan Barra " ucap Elea yang hanya disuarakan dalam hati.
Tak terasa merekapun sampai di bandara. Setelah check in Bian bersiap masuk ke pintu keberangkatan.
" Dokter Adrian terimakasih sudah mengantarkan kami " Sementara Adrian hanya tersenyum. Adrian kekeh ikut masuk dengan alasan tak tega jika Elea pulang naik taxi sendirian. Walaupun sebenarnya ini masih pagi dan aman-aman saja untuk naix taxi sendiri. Dan Bian meng'iya'kan saja karena rasa khawatir kalau nantinya Elea akan dijemput oleh Barra.
" Jaga dirimu baik-baik Ele,minggu depan aku akan kembali ke Jakarta "
" Ingat jangan sering-sering menemui Barra " imbuh Adrian kali ini sedikit berbisik karena tak ingin dokter Adrian mendengarnya. Namun suara peringatan Bian masih juga terdengar sayup oleh telinga sang dokter.
" Barra bukankah itu nama kekasih Elea,kenapa malah kakaknya melarang bertemu " batin Adrian dalam hati.
" Iya kakakku,sekarang masuk lah " Bian kemudian memasuki pintu keberangkatan. Adrian dan Elea pun berlalu meninggalkan bandara.
*
*
*
" Dokter Adrian sebenarnya saya bisa pulang sendiri naik taxi " Elea mulai berucap setelah sebelumnya mereka hanya terdiam didalam mobil yang sudah melaju meninggalkan bandara itu.
" Tidak apa-apa noma Elea kebetulan jadwal saya kosong pagi sampai siang ini "
" Jadi anda ingin ke bengkel dulu atau langsung pulang?" imbuh Adrian.
" Sepertinya ke bengkel saja dok,karena setelahnya saya harus ke tempat editor saya "
Adrian pun mengarahkan mobilnya menuju bengkel yang disebutkan Elea,suasana kembali hening. Elea tak tahu harus membahas apa karena merasa canggung hanya berdua dengan dokter tampan itu.
" Oh ..ya ngomong-ngomong sudah berapa lama nona Elea berteman dengan Delia?"
" Panggil saja Elea dokter "
" Baiikk...kamu juga bisa memanggilku Adrian,bukankah rasanya lebih nyaman " Adrian tersenyum menatap Elea,bukankah ini awal yang bagus untuk lebih dekat dengan gadis yang diam-diam selalu ia pikirkan itu.
" Okee..dokter..eh..Adrian maksudku " Elea terbata-bata karena belum terbiasa memanggil Adrian tanpa embel-embel dokter.
" Jadi apakah kau bersahabat dekat dengan Delia?karena Delia jarang menceritakan sahabat-sahabatnya saat bersamaku "
" Kita bersahabat sejak kuliah,sebenarnya bukan hanya aku dan Delia masih ada lagi dua teman kami "
" Jadi seperti genk ya.." Adrian tertawa ringan.
" Mungkin bisa dibilang begitu,..sore ini kita janjian bertemu anda bisa ikut untuk lebih dekat dengan teman-teman Delia,pasti dia senang "
" Anda..??"
" Kau...maksudku kau "
Merekapun banyak berbincang selama perjalanan menuju bengkel,walaupun obrolan itu banyak dimulai oleh Adrian dan Elea hanya menjawab secukupnya. Elea belum terbiasa akrab dengan mantan dokternya ini. Karena itulah Elea lebih banyak diam dan bersuara hanya ketika menanggapi Adrian saja.