
Malam ini Delia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukkan disebuah klub elit yang biasa dikunjungi para artis. Walaupun sebenarnya malam ini ada take syuting namun Delia tidak perduli dan memilih minuman keras sebagai pelampiasan kekesalan dan kemarahannya pada Adrian.
Beberapa kali Rio mencoba menelpon Delia namun sepertinya ponsel artisnya itu sengaja dimatikan,membuat Rio frustasi menerima amukan dari kru dan pemain film lainnya.
" Delia come on " gumam Rio masih berusaha menelpon Delia tapi tetap saja tak tersambung. Tak ada jalan lain Rio memilih menelepon Adrian,karena pria itulah yang menyita perhatian Delia akhir-akhir ini.
" Halo.." akhirnya terdengar suara Adrian diseberang sana setelah beberapa kali hanya nada tunggu yang terdengar.
^^^" Halo Adrian aku Rio manager Delia,apakah Delia bersamamu sekarang? "^^^
" Delia?? bukankah dia sudah kembali sejak siang tadi? "
^^^" Jika dia sudah kembali aku tak akan menghubungimu Adrian "^^^
" Kau sudah menelepon teman-temannya? "
^^^" Irina dan Vania tidak bersamanya,sementara Elea tidak bisa dihubungi "^^^
" Kau terus coba hubungi dia atau temannya yang lain,aku akan mencari Delia " Rio pun menutup panggilannya. Sementara Adrian kini segera kembali keluar dari apartemennya,karena sebenarnya Adrian baru pulang dari rumah sakit dan bahkan belum mandi atau sekedar membasuh muka.
Walaupun tidak tahu kemana harus mencari Delia tapi Adrian tetap tancap gas menyusuri jalanan ibu kota,sambil sesekali mencoba menghubungi nomor Delia.
*
*
Sementara di klub tersebut Delia kini tengah berjalan sempoyongan mengikuti seorang lelaki yang tampak familiar dimatanya. Walaupun dia sedikit mabuk dia masih ingat betul wajah lelaki itu.
Yah..lelaki itu adalah Barra kekasih Elea. Walaupun kepalanya terasa pusing dan pandangannya kabur Delia tetap memilih mengikuti Barra,karena setahunya Barra bukan pria seperti itu dan wanita seksi yang bergelayut mesra disampingnya tadi bukanlah Elea.
Lelaki yang diikuti Delia memang Barra,seperti biasa saat malam datang Barra akan berubah menjadi play boy yang menjelajahi dan menjajaki keindahan malam. Apalagi siang tadi saat bertemu Elea tak sengaja wanitanya itu menemukan kond*m di mobil Barra,membuat wanitanya itu salah paham dan memilih pergi meninggalkan Barra.
Itulah yang membuat emosi dan rasa bersalah Barra bercampur jadi satu. Memaksa pria itu untuk mencari pelampiasan. Walaupun Mateo mencegah Barra namun apalah daya Mateo hanyalah seorang bawahan bagi Barra.
" Barra aku yakin itu kau,tapi dimana dia sekarang " gumam Delia mengamati pintu-pintu VVIP yang semuanya tertutup rapat.
Delia pun memutuskan mengaktifkan ponselnya,dengan tujuan untuk merekam atau memotret bila dia melihat Barra lagi. Namun baru beberapa saat ponselnya aktif banyak panggilan dan pesan yang masuk,mulai dari Rio yang paling banyak melakukan panggilan,Vania dan Irina yang tak kalah khawatir dan yang paling menyita perhatiannya adalah pesan dan panggilan Adrian yang turut mengkhawatirkannya.
Honey Calling
Notif itu membuat pandangan Delia seketika berbinar dan segera mengangkatnya.
" Delia kau dimana?? " suara Adrian terdengar khawatir membuat Delia menyunggingkan senyumnya.
" Baiklah tunggu aku disana,jangan kemana-mana dan jangan bicara pada siapapun " Adrian menutup ponselnya dan segera tancap gas menuju Galaxy Club yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Delia turun kembali menuju bar,karena dia harus segera pergi saat Adrian menjemputnya nanti,perkara Barra ia memilih untuk melepaskannya dulu. Tapi ia tetap berniat menyelidiki kekasih sahabatnya itu.
Tanpa menunggu lama Adrian sampai dan langsung menemukan keberadaan Delia. Tanpa basa basi lagi dia segera melepas blazer nya dan memakaikannya pada Delia.
" Ayo pulang " ucapnya memapah Delia meninggalkan tempat yang sangat ia benci itu. Sebagai dokter tentu saja Adrian menerapkan pola hidup sehat jangankan alkohol rokok pun tak pernah ia sentuh. Delia hanya pasrah dan mengikuti langkah sang kekasih.
Sesampainya diluar klub tepatnya diarea parkir sebenarnya Adrian melihat Mateo sedang duduk di kursi kemudi sebuah mobil,pria itu terlihat memijit pangkal hidungnya. Namun karena keadaan Delia seperti itu Adrian memilih tak menyapa Mateo dan langsung menuju mobilnya.
" Ttunggu honey...bagaimana dengan mobilku " ucap Delia setelah duduk di mobil Adrian.
" Aku yang akan mengurusnya " Adrian segera tancap gas meninggalkan klub itu. Dalam perjalanan menuju apartemen Delia Adrian tak lupa menghubungi Rio agar pria itu tak lagi khawatir.
*
*
*
Saat ini diapartemen Elea gadis itu belum juga dapat memejamkan mata. Sekelebat bayangan tentang kejadian sing tadi membuat hatinya sakit. Bagaimana bisa kekasih yang sangat ia cintai bisa menyimpan benda seperti itu di mobilnya.
Flashback On
" Masuklah dulu sayang..aku harus menerima panggilan Mateo " ujar Barra saat mereka baru saja keluar dari resto tempat mereka makan siang tadi.
Sementara Barra menelepon diluar Elea memilih memainkan ponselnya,namun sialnya baterai ponselnya habis. Elea membuka laci mobil Barra berharap ada charger,namun dirinya dibuat kaget dengan benda yang ia temukan didalamnya.
Beberapa buah kond*m berserakan didalam laci,ada pula lipstik yang ia yakini bukan miliknya. Dan yang paling membuatnya syok adalah foto Barra yang tengah tertidur pulas di pelukan seorang wanita dan hanya selimut tebal yang menutup tubuh keduanya. Tanpa meminta penjelasan Barra Elea memilih keluar dari mobil Barra dan menghentikan taxi,sedangkan Barra yang melihat kekasihnya tiba-tiba naik taxi reflek langsung mengejarnya namun dirinya kalah cepat.
Saat kembali ke mobilnya barulah Barra sadar kalau Elea telah melihat harta karun di dalam laci mobilnya. Barra yang panik langsung memutar kemudinya menuju apartemen Elea,sesekali ia mencoba menghubungi Elea berharap gadis itu mau mendengar penjelasannya.
Sesampainya diapartemen ternyata Barra sudah sampai disana. Pria itu berusaha menahan Elea dan menjelaskan apa yang ia lihat di mobil tadi. Barra berkilah barang-barang itu adalah milik temannya yang semalam meminjam mobil. Dan foto tak seronok itu diambil sebelum Elea dan dirinya menjalin hubungan.
Tentu saja Elea tak mudah percaya penjelasan Barra. Ia memilih memasuki apartemennya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya seakan kelu dan suaranya seakan hilang ditelan tangis yang tak dapat ia bendung.
Tubuhnya merosot luruh kelantai,hatinya hancur luar biasa tangisnya pun semakin menjadi. Walaupun Barra masuk menggedor pintu dan meneriakkan namanya,tapi Elea tak bergeming.
Flashback Off
Dan disinilah Elea sekarang,dengan mata sembab dan hati yang hancur tak karuan. Walau rasanya lelah dan lemas namun matanya tak kunjung terpejam,bayangan-bayangan momen romantisnya dengan Barra seakan menari-nari menertawakan kemalangannya kini.