One Night With You

One Night With You
PART 50



Bian yang masih gusar dan belum dapat memejamkan matanya memilih mendatangi kamar Elea. Dibukanya pintu kamar itu sepelan mungkin agar tak mengganggu adiknya yang mungkin saja sudah tertidur.


Ia mendekati ranjang dimana tubuh mungil adiknya terbaring disana. Matanya terpejam damai walau terlihat masih basah,ia yakin sebelumnya Elea tengah menangis dan kemudian tertidur. Hatinya terasa sesak membayangkan betapa menyedihkan apa yang dialami adiknya selama beberapa hari ini,dan yang lebih menyakitkan ia tidak mengetahui semuanya dan tidak bisa berbuat apa-apa.


' Kenapa aku tidak boleh memenjarakan bajing*n itu Ele? ' gumamnya dalam hati tanpa berani menyentuh atau bahkan lebih mendekat pada adiknya.


Sore tadi ia dan adiknya berdebat tantang hal ini,setelah mengetahui semuanya Bian berniat menuntut dan memenjarakan Adrian,entah berapa tahun hukuman yang akan diterima pria itu ia tak perduli,yang jelas pria itu harus menerima hukuman atas kejahatannya. Namun Elea menolak keinginan kakaknya,ia tidak ingin menuntut Adrian,Elea tahu latar belakang keluarga Adrian dan bukanlah hal mudah untuk menjebloskan Adrian yang memiliki kekuatan besar dibalik keluarganya. Elea juga merasa apa yang menimpanya adalah aib dan ia tidak mau aibnya tersebar luas dan juga akan berdampak pada karir kakaknya.


' Aku hanya ingin melupakan semua ini kak,tolong jangan ungkit masalah ini lagi ' masih jelas kata-kata Elea yang diucapkan disela isakan tangisnya.


Tapi dirinya tak bisa hanya diam setelah mengetahui semuanya,adik kesayangannya telah dirusak oleh pria yang bahkan dianggapnya asing. Sementara Elea sendiri memintanya untuk tidak mengungkit hal ini,bahkan Elea ingin pergi jauh dari ini semua,ia ingin pulang ke Bali dan tidak akan kembali ke kota ini lagi.


Lalu pria itu,pria brengs*k itu kini bebas tanpa mendapat hukuman apapun?


Sementara Ele harus menanggung bebannya sendiri? Bian bermonolog dengan dirinya sendiri.


Sebuah pergerakan kecil dari ranjang menyita perhatian Bian,Elea mengubah posisi tidurnya dari tidur miring meringkuk kini terlentang. Bian bisa melihat lebih jelas wajah pucat adiknya dibawah remang remang sinar bulan.


Bila malam-malam biasanya adiknya sering begadang untuk menuliskan ide-ide ceritanya menjadi sebuah novel,kini pemandangan itu mungkin tak akan dia lihat lagi,jangankan untuk menulis cerita indah nan bahagia,cerita hidupnya saja kini telah hancur tanpa mampu ia perbaiki.


' Malangnya dirimu Ele,pria itu harus bertanggung jawab Ele,pria itu juga harus merasakan kepedihanmu ' tekad Bian masih menatap lekat ke arah Elea yang pulas dalam tidurnya.


Bian pun keluar dari kamar adiknya,entah dirinya bisa atau tidak malam ini,padahal esok ada persidangan yang harus ia tangani.


...****************...


Pagi-pagi sekali Elea sudah menyiapkan roti bakar dan nasi goreng untuk sarapan dirinya dan Bian,dia tahu kakaknya setiap pagi selalu menyempatkan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktifitas.


Bian keluar dari kamarnya sudah berpakaian rapi seperti biasanya.


" Aku memasak nasi goreng untukmu kak " ucap Elea yang kini sudah duduk dan menyantap roti bakarnya.


" Kenapa cuma satu?kau tidak makan? "


" Jangan cuma makan roti Ele,lihatlah kau tampak kurus kering seperti itu "


" Memangnya kak pernah melihat aku gemuk? "


Bian tak menjawab pertanyaan adiknya,memang dari masa kecil sampai sekarang Elea tidak pernah terlihat memiliki tumpukan daging berlebih ditubuhnya,dan di dalam hati ia senang melihat senyum dibibir adiknya itu. Sudah beberapa hari ini senyum itu tak terlihat disana,senyum yang mungkin akan jarang ia lihat di hari-hari selanjutnya.


" Kak ... " Bian reflek menatap Elea dengan menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


" Setelah persidangan ini kau akan kembali ke Bali kan? " sesaat Elea terdiam sembari melihat ekspresi kakaknya.


" Bolehkah aku ikut denganmu? " imbuhnya kemudian,namun kini tatapan matanya tertunduk tak mampu menatap sorot mata kakaknya.


Lama Bian terdiam tanpa menjawab Elea,diletakkannya sendok dan garpu dengan pelan seakan dirinya sudah mulai kehilangan nafsu makan ,dia kembali merasa sesak dalam tarikan nafasnya,adiknya adalah korban dan yang paling terluka karena masalah ini tapi kenapa justru adiknya juga yang harus menghindar tanpa melawan,itulah yang dipikirkan Bian sekarang.


" Kakak tidak akan kembali ke Bali Ele " Elea langsung memusatkan perhatiannya pada Bian.


" Tidak sampai kau mendapat keadilan " imbuhnya sebelum Elea sempat bertanya alasan yang membuatnya mengurungkan niat pulang ke Bali.


" Kak ... kita sudah bahas .. "


" Jika dia tidak mendapat hukuman penjara,setidaknya dia harus bertanggung jawab padamu Ele "


" Kakak kita sudah membahasnya ... bagaimana mungkin ada pernikahan kalau tidak pernah ada cinta "


" Kalau dia tidak mencintaimu kenapa dia melakukan itu Ele?!! " Elea tersentak kaget saat mendengar nada bicara Bian yang tiba-tiba meninggi.


" Bagaimanapun juga pria itu harus bertanggung jawab Ele,dengan cara apapun " ucap Bian kemudian meninggalkan meja makan. Ia menyambar jas dan tasnya dan tak mengatakan apapun sebelum akhirnya benar-benar keluar dari apartemen Elea.


Sementara Elea sendiri hanya bisa menangis dengan keputusan kakaknya,dia hanya ingin melupakan semuanya walaupun berat. Tapi kenapa kakaknya itu justru memiliki pemikirannya sendiri,bagaimana mungkin Adrian menikahinya dengan statusnya sebagai kekasih Delia sahabatnya. Bagaimana mungkin dirinya akan membina rumah tangga tanpa adanya cinta yang menjadi pondasi utamanya.


Elea menutup mulutnya menahan isakan tangis yang hampir keluar,rasanya sudah lelah ia menangisi kerumitan nasibnya.