
Delia kini tengah mengotak atik ponselnya,beberapa hari setelah makan malam itu Adrian mulai sulit dihubungi. Pesan yang ia kirimkan pun hanya dibaca dan tidak dibalas.
" Hey..." Ia tersentak kaget saat ponselnya tuba-tiba diambil oleh seseorang,fan ternyata orang itu adalah Rio managernya.
" Cukup Delia..benda ini merusak konsentrasi mu " omel Rio mengantongi ponsel Delia.
" Kembalikan Rio .. "
" No...aku akan menyita benda ini sampai kau selesai take "
" What...??"
" Gara-gara benda bodoh ini kau harus mengulang dan terus mengulang adegan mu..kau tidak kasihan dengan mereka yang harus yang sudah bekerja sungguh-sungguh?? Kau hanya perduli dengan benda bodoh mu ini " Delia hanya terdiam. Karena memang benar akhir-akhir ini Delia kurang fokus dan sering terlambat menuju lokasi syuting. Tentu saja ketidak fokusan itu membuat kru dan para pemain ikut merasakan dampaknya.
" Rio..bolehkan aku cuti sampai Adrian menikahi aku? " gumam Delia merasa frustasi terhimpit antara sikap dingin kekasih ya dan tuntutan pekerjaannya.
" What..??are crazy?? " Delia tak menjawab memilih pergi meninggalkan managernya itu.
*
*
*
( Dimana sayang..? ) - Sweetheart
^^^( Di butik Vania,do'i lagi fitting baju )^^^
( Pap dong sayang,aku pingin lihat wajah kamu,atau aku voice call ya )
^^^( Gak mau sayang,gak enak sama yang laen ada Irina juga,masak lagi kumpul malah VC'an )^^^
( Aku kesana ya? )
^^^( Besuk aja ketemuan sekalian makan siang ya )^^^
( Okeelah..janji ya,besuk aku jemput )
" Chatting sama siapa sih asik bener? " tanya Vania keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun yang sangat cantik.
" Waow...you look beautiful.." Elea mendekat tak menjawab kalimat Vania sebelumnya.
" Look at you .. " seru Irina yang baru saja keluar dari toilet.
" Gimana cocok gak gue pake pas lamaran? " Vania berlenggok berputar memperhatikan penampilannya di kaca besar full body itu.
" Perfect " Ucap Elea dan ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Irina.
" Kalian harus dateng,harus pokoknya "
" Pastilah..acara bersejarah gitu " Elea.
" Artis ibu kota cem mana dah di info kan do'i??" Irina.
" Aman .. dia bakal ngajak lakiknya " Vania.
" Akhirnya go publik juga " Irina.
" Lu aja yang belom tahu " Elea.
" Laah..makanya kasih tahu gue..buruan " Irina.
" Besok malem juga tahu " Vania.
" Lu ngajak Barra Le? " Irina.
" Iyalah..bapaknya anak-anak harus dibawa terus " Elea.
" Lha trus gue sendirian gitu..miris banget gue " Irina.
" Makanya cepetan cari jodoh,gausah jual mahal kalau perlu diskonin 90% " Vania.
*
*
*
*
Malam ini Barra masih di club melampiaskan carut marut pikirannya. Entah mengapa ada kekhawatiran pada hubungannya dengan Elea. Ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya.
Membuatnya tidak fokus bekerja dan ingin sekali menemui wanitanya itu. Namun siang tadi ia mendapat penolakan dari sang dara membuat kegelisahannya semakin menjadi-jadi.
" Anda sudah banyak minum tuan " ujar Mateo menghentikan Barra yang hendak menuangkan bir. Hanya kepala sekretaris sekaligus orang kepercayaan Barra itulah yang berani mendekati Barra disaat pria itu sedang mabuk seperti saat ini.
" Kau berani melawanku Mateo? "
" Bukan seperti itu tuan,tapi anda sudah mabuk berat sedangkan besuk pagi ada rapat pemegang saham " Barra yang sudah sangat mabuk mulai oleng saat beranjak berdiri.
" Siapa bilang aku mabuk??bahkan aku masih ingat kalau kau adalah MA TE O.." sentak Barra sampai hampir terjatuh,namun segera dipapah oleh Mateo.
" Sebaiknya anda segera pulang tuan " ujar Mateo memapah Barra namun pria itu memberontak dan mendorong Mateo.
" Aku harus menemui Elea dulu .. kau tahu rumahnya bukan,bawa aku kesana "
" Tapi tuan nona Elea tidak akan senang melihat keadaan anda sekarang "
" Oh..ya??benarkah??tapi kenapa dia tidak senang bukankah aku calon suaminya " Barra menerocos dengan tubuh oleng sempoyongan. Mateo tidak tahan lagi dengan paksa ia memapah Barra untuk meninggalkan club. Bagaimanapun tuannya itu kini sedang mabuk dan tidak mungkin membawanya pada Elea,bisa-bisa Barra akan membunuhnya jika dia sadar nanti.
Mau tidak mau Mateo harus membawa Barra ke apartemen miliknya. Karena Barra pernah berpesan kalau dia sangat mabuk sampai tidak sadar maka Mateo harus membawanya ke apartemen milik Mateo. Dia tidak mau ada orang lain apalagi orang-orang dimansion keluarganya tahu betapa buruknya kelakuan Barra. Memang hanya Mateo lah yang memegang kartu AS Barra. Mateo tahu semua tentang Barra luar dalam,tentang Barra yang gemar mabuk-mabukan,tentang Barra dan siapa saja wanita-wanita malam yang sering menemaninya. Dan tentu saja Mateo tahu tentang hubungan Barra dan Elea juga perangai malaikat yang ditunjukkan Barra ketika bersama Elea.
Singkat cerita kini mobil Mateo sudah berada diarea parkir apartemen,saat membuka pintu mobil tiba-tiba Mateo mendengar suara pria yang memanggil namanya. Suara yang sangat familiar untuknya.
" Mateo benarkah itu kau?" ucap seseorang itu mendekati mobil Mateo.
" Adrian??sedang apa kau disini?" tanya Mateo sedikit heran melihat teman kuliahnya itu.
" Ya tuhan kau benar-benar Mateo sahabatku " seru Adrian kemudian memeluk Mateo. Ia tak mengira akan bertemu kembali dengan sahabat yang sudah lama tak terdengar kabarnya itu. Mateo pun membalas pelukan Adrian dengan hangat dan erat mengingat sudah lamanya mereka lost kontak dan tak pernah bertemu sejak Adrian melanjutkan pendidikan di luar negri.
" Kau tinggal disini? " tanya Adrian mengurai pelukan mereka.
" Iya..dan kau?sedang apa kau disini,tak mungkin kan seorang Adrian tinggal di apartemen seperti ini " apartemen Mateo memang bukanlah apartemen elite sehingga tidak mungkin seorang Adrian yang notabene putra konglomerat tinggal diapartemen ini.
" Aku sedang menemui pasienku,,oh ya...aku harus punya nomormu " jawab Adrian seraya memberikan ponselnya,Mateo pun mengetikkan nomornya dengan senang hati.
" Baiklah Adrian aku harus segera masuk,aku bersama bosku sekarang " ucap Mateo melirikkan matanya pada Barra yang sudah teler di kursi penumpang.
" Oh..mau ku bantu,sepertinya dia tidak mungkin berjalan sendiri " Adrian yang melihat kacaunya penampilan lelaki didalam mobil itu tahu bahwa si pria sedang mabuk.
" Terimakasih bro,tapi aku sudah terbiasa dengan kelakuannya " balas Mateo dengan wajah santai,dia jelas tidak mau merepotkan Adrian saat pertemuan pertamanya dengan sahabat lama itu.
" Kau yakin.."
" Ehemm.." Mateo mulai mencoba mengeluarkan Barra dari dalam mobil.
" Baiklah kalau begitu,aku pulang dulu bro "
" Okee..jangan lupa segera hubungi aku " ucap Mateo mendongak dari mobilnya dan Adrian hanya mengangguk pasti.
Adrian pun segera berjalan menuju mobilnya.
" Hati-hati tuan Barra " kalimat Mateo seketika membuat langkah Adrian terhenti.
" Barra??apakah Barra kekasih Elea??" batin Adrian,rasa penasarannya membuat Adrian menoleh kembali kearah Mateo. Terlihat Mateo sedang berusaha memapah pria yang disebut bosnya itu.
Jelas sekali bos Mateo itu sedang mabuk,tapi apakah benar pria bernama Barra itu adalah Barra yang sama dengan kekasih Elea. Tapi mungkinkah kekasih Elea adalah seorang pemabuk.
Adrian masih memandangi Mateo dan Barra yang kemudian menghilang memasuki lift. Adrian memilih menepis kecurigaannya,karena mungkin saja mereka hanya memiliki nama yang sama. Dia segera memasuki mobilnya dan meninggalkan apartemen itu