One Night With You

One Night With You
Pertanggungjawaban?



" Kau sebenarnya tidak perlu datang setiap hari,aku baik-baik saja " ucap Elea saat melihat sahabatnya itu membuka beberapa bungkusan makanan yang ia bawa.


' Baik-baik saja dia bilang?! ' batin Irina memperhatikan Elea yang duduk sembari memeluk bantal di sofa besar yang tak jauh dari area pantry. Dilihat dari fisiknya saja sudah sangat terlihat kalau Elea sedang tidak baik-baik saja. Badannya yang mulai kelihatan lebih kurus dan juga lingkar hitam di bawah matanya menandakan sahabatnya itu tidak dalam kondisi baik-baik saja.


" Makanlah,,kau terlihat seperti kurang gizi " Irina meletakkan pizza dan pasta yang dibawanya di atas meja. Namun Elea hanya diam menatap Irina yang kemudian duduk di depannya.


" Kak Bian tidak di rumah? "


" Memangnya kau pernah melihat kakakku di rumah saat siang hari? " tanpa menjawab pertanyaan Irina,Elea malah mengajukan pertanyaan retoris yang sudah jelas jawabannya.


" Kalau dia selalu sibuk seperti ini kapan jodoh akan datang padanya? " Irina berdecak.


" Jodohnya selalu datang tapi saat dia tidak di rumah " mendengar perkataan Elea membuat Irina tersenyum penuh arti.


" Jadi kau sudah menganggap aku jodohnya kak Bian?? kau mengizinkannya?? " dengan senyuman yang lebih merekah Irina mendekat dan duduk di sebelah Elea.


" Cobalah meluluhkan nya kalau kau bisa " jelas saja ucapan Elea membuat Irina menekuk kembali mukanya. Irina jelas tahu seperti apa dinginnya seorang Biantara Maulana,selama dia mencoba mendekati Bian selama itu pula ia hanya mendapat kekecewaan karena Bian hanya menganggapnya sebagai seorang adik.


" Jadi ... Apakah Delia sudah kembali? " tanya Elea setelah beberapa saat terdiam. Dari banyaknya pemberitaan di semua media tentang hilangnya Delia,membuat Elea cukup tahu apa yang membuat artis cantik itu menghilang tanpa jejak. Irina hanya menggeleng menjawab pertanyaan sahabatnya.


" Apa menurutmu Delia sudah tahu tentang semuanya?tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu? " Elea benar-benar khawatir apa yang di pikirkan Delia tentang dirinya,Delia pasti salah paham padanya. Beberapa kali Elea mencoba menghubungi Delia namun nomornya tidak aktif. Sebenarnya dia ingin menemui Delia secara langsung,ingin minta maaf dan menjelaskan semuanya.


" Jangan pikirkan itu Ele "


" Apa yang harus aku lakukan Irina? " seperti biasa kedua mata Elea langsung berkaca-kaca saat membahas masalah ini,entah apa yang ada dalam pikirannya dia selalu memposisikan dirinya sebagai tersangka dan Delia sebagai korbannya,padahal jelas-jelas dirinya juga dirugikan dalam hal ini.


Irina hanya dapat memeluk Elea untuk membuat sahabatnya itu tenang,menyalurkan energi positif nan hangat melalui pelukan yang selalu ia berikan saat mereka bertemu. Walaupun pelukan itu tak seberapa penting namun apa lagi yang dapat dia lakukan untuk membantu Elea,karena Elea selalu menolak saran Irina yang mencoba meyakinkan Elea untuk menerima pertanggungjawaban Adrian.


Irina sama sekali tidak membenarkan tindakan pemerkosaan yang dilakukan Adrian,namun bukankah dengan bertanggung jawab lebih baik untuk Elea dari pada Adrian pergi begitu saja.


" Ele .. " Irina mengurai pelukannya. Dia terdiam sejenak menata kata-kata yang akan ia ucapkan pada Elea.


" Jika seandainya Adrian bukan kekasih Delia,apakah kau akan menerima pertanggung jawabannya?apakah kau akan setuju untuk menikah dengannya? "


Deg