
" Heyy...kenapa kau makan di ruanganku??" tanya Liam saat memasuki ruangannya dan langsung bersiborok dengan Adrian yang tengah menikmati makanannya.
" Memangnya aku harus makan dimana?" tanpa tahu malu dan merasa bersalah Adrian terus menyantap makan dihadapannya.
" Kau tahu bukan aku tak pernah makan di kantin rumah sakit " imbuh Adrian yang kini menatap Liam yang duduk didepannya.
" Kau bisa makan di ruanganmu bukan,seenak jidatmu saja membawa makanan disini,lihatlah di ruanganku jadi banyak lalat " protes Liam sembari mengayun-ayunkan tangannya ke udara,padahal sudah pasti di ruangannya tidak mungkin ada seekor lalat pun,mengingat semua ruangan dokter di rumah sakit ini harus steril dan selalu dibersihkan setiap harinya.
" Aneh sekali kau,,bisa-bisanya dengan tenang makan disini,sementara Elea tengah menangis meraung bersama Irina " Liam kembali berucap saat Adrian hanya diam menikmati makanannya.
" Elea sudah bangun?"
" Heemm..." Jawab Liam singkat.
" Lalu kenapa kau meninggalkannya?apakah dia masih histeris atau merasa kesakitan mungkin?apakah dia benar-benar trauma padaku atau..."
" Kenapa kau tidak tanya sendiri padanya...??malah menikmati makananmu tanpa tahu malu " Liam memotong rentetan pertanyaan Adrian yang membuatnya kesal.
" Andai dia tak takut padaku,aku pasti sudah merawatnya dengan baik,dan aku makan karena aku harus mengisi energi,apa kau tahu sejak malam itu aku belum memakan apapun " jawab Adrian kembali menyuapkan sesendok besar nasi kemulutnya.
' Terjebak hubungan paksa satu malam dengan sahabat kekasihnya dan dia masih berselera makan?? ' batin Liam masih memperhatikan Adrian dengan tatapan heran.
" Jangan menatapku seperti itu,kau membuat makananku susah tertelan " Adrian kemudian terdiam sejenak seolah menyusun kata-kata yang akan dia ucapkan berikutnya.
" Aku pun tidak berselera makan Liam,tapi aku harus mengisi energi karena tidak mau jatuh sakit selama masa penyembuhan Elea " imbuh Adrian lirih seolah mengerti apa yang dipikirkan Liam.
" Tapi kau memang sudah sakit,,lebih tepatnya di bagian otakmu yang sakit "
Vibrasi ponselnya membuat Adrian urung membalas ucapan Liam,dan lebih memilih membuka layar ponselnya karena memang ia tengah menunggu informasi dari Max. Namun bukanlah Max yang sedang menghubunginya melainkan nama Mateo yang tertera disana.
" Adrian apakah kau senggang siang ini?bisakah kita bertemu?" suara Mateo langsung menyambar saat Adrian menerima sambungan teleponnya. Suara pria itu terdengar tegang dan tergesa-gesa.
" Maaf Mateo tapi aku sedang ada urusan penting,mungkin lain kali,aku berjanji akan segera mengatur pertemuan denganmu " sebenarnya Adrian tidak enak hati menolak ajakan bertemu dari Mateo apalagi Mateo adalah sahabat lama yang jarang-jarang bisa ia temui. Tapi ia tidak ingin fokusnya terpecah selama masa penyembuhan Elea.
" Ini penting Adrian..menyangkut ...nona Elea " Mateo terdengar lirih saat menyebut nama Elea,seolah itu adalah nama rahasia yang yang segan ia sebutkan pada orang asing seperti dirinya.
" Elea??"
" Ya Adrian menyangkut kau,nona Elea dan tuan Barra "
Mendengar apa yang diucapkan Mateo membuat Adrian tertarik untuk tahu masalah apa itu,dan kenapa Mateo yang menyampaikan padanya.
" Adrian,,kau masih disana??" mendengar tak ada sahutan,Mateo mencoba meyakinkan bahwa Adrian tidak menutup sambungan teleponnya.
" Ya...ya..Mateo aku..masih mendengarmu,jadi apa yang akan kau bicarakan?"
" Hemm..datanglah ke Haliand Medical Center orangku akan membawamu padaku "
" Baiklah Adrian,kau akan kesana sekarang " Mateo pun mematikan sambungan teleponnya.
Adrian terdiam memikirkan ucapannya Mateo tentang Elea dirinya dan Barra apa yang sebenarnya akan dibicarakan Mateo?ataukah Mateo tahu tentang kejadian dirinya dan Elea? Rentetan pertanyaan mulai memenuhi pikiran Adrian membuat ya memasang wajah bengong yang membuat Liam lebih heran lagi.
" Hey..." Liam mengibaskan tangannya didepan wajah Adrian.
" Tolong tetaplah di ruangan Elea,jangan biarkan siapapun masuk selain aku atau pun Bian "
" Bian??who??" Tanpa menjawab pertanyaan Liam Barra segera keluar dari ruangannya Liam dan menuju ke paviliunnya. Dalam perjalanannya Adrian menghubungi salah seorang karyawannya untuk menjemput Mateo di lobby rumah sakit.
" Hey...kau mau kemana bereskan dulu sisa makan mu..." teriak Liam walaupun tak didengar oleh Adrian karena pria itu sudah keluar dan meninggalkan ruangannya.
Oh...ya tuhan kenapa aku harus terlibat masalahnya yang rumit " gumam Liam memijit pangkal hidungnya. Walaupun Adrian memerintahkannya untuk fokus pada satu pasien saja yaitu Elea namun rasanya pekerjaan Liam bertambah sepuluh kali lipat. Dan entah apa yang Adrian tawarkan pada dokter Rusdi sampai-sampai pria tua itu dengan mudah mengizinkan permintaan Adrian untuk menyewa Liam sebagai dokter khusus untuk Elea.
...****************...
Irina menggenggam erat tangan Elea,baru saja Elea menyelesaikan cerita panjangnya tentang kejadian malam terkutuknya dengan Adrian. Gadis itu masih terisak dalam tangisnya sehingga membuat Irina semakin ikut hanyut dalam kesedihan yang sama dengan Elea.
" Aku bahkan tak sanggup menghadapi Delia,dia pasti akan sangat membenciku Irina " Elea menunduk tak bedaya meratapi ketidak beruntungan kisahnya.
" Tapi Ele..Adrian bilang jika hubungannya dengan Delia memang sudah berakhir "
" Aku tak perduli hubungannya berakhir atau tidak,aku tetap akan menjadi sahabat terburuk bagi Delia " tangis Elea mulai pecah kembali.
Irina memilih tak menjawab Elea,ia kemudian mendekat dan memeluk Elea,berusaha menjadi sandaran ternyaman untuk sahabatnya ini. Walaupun tanpa permintaan Adrian Irina akan tetap bersama Elea,karena dari keempat sahabatnya memang Elea lah yang paling dekat dengan Irina.
Saat Irina terpuruk Elea selalu ada untuknya dan sekarang ketika Elea jatuh di kubangan kesedihan yang mendalam maka dengan senang hati Irina akan bersamanya dan menguatkannya.
" Ele,,apa kak Bian tahu tentang semua ini?" Elea hanya menjawab Irina dengan gelengan kepala.
" Lalu...Barra..??" dengan lirih dan hati-hati Irina mengucapkan nama Barra,ia takut akan lebih menyakiti perasaannya. Elea terdiam bahkan tak ada gelengan kepala sekalipun. Irina malah merasakan pelukan Elea semakin erat dan isakan tangisnya semakin terdengar keras.
" Maaf..maafkan kalau ucapanku menyakitimu Ele..aku tidak lagi.."
" Jangan memberitahunya.." Elea tiba-tiba memotong kalimat Irina.
" Aku tidak ingin Barra tahu,,aku mohon biarlah aib ini hanya ada diantara kita " pinta Elea sembari mengurai pelukan mereka.
" Tentu saja sayangku.." jawab Irina menghapus air mata Elea. Melihat penampilan Elea membuat hati Irina merasa sakit,matanya yang bengkak pertanda gadis pasti menangis sepanjang malam dan bahkan sampai saat ini. Bekas merah kebiruan di leher Elea bahkan tak terlihat seperti jejak cinta pada umumnya,karena tanda kemerahan itu terjadi bukan atas dasar suka sama suka melainkan paksaan menyakitkan dari seorang lelaki,dan bahkan lelaki itu adalah kekasih sahabatnya sendiri.